Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Bersama Rupiah Ekonomi Bertahan

Menghadapi tekanan mata uang Amerika Serikat, intervensi Bank Sentral membuat rupiah tak melemah terlalu dalam. Indikator ekonomi yang positif juga menjadi modal untuk menjaga kepercayaan.

Bagi importir mainan, bulan-bulan ini merupakan saat yang tepat untuk kulakan ke negeri Cina. "Loh, tak takut oleh kurs dolar yang sedang mengganas?" Sekjen Asosiasi Mainan Indonesia, Eko Wibowo Utomo, mengaku tak terlalu risau. Kegiatan impor harus dilakukan sesuai dengan jadwal. Proses administrasi dan standar nasional Indonesia (SNI) juga telah selesai. ''Sekarang barang-barang itu sedang masuk. Harga barang juga sudah di-hedging sebelumnya,'' tutur Eko.

Dengan hedging, nilai kurs sudah disepakati sebelumnya sehingga ketika dolar akan menyentuh Rp 14.000 tidak berdampak signifikan. Kalau pun ada barang yang terkena kenaikan dolar, lanjut Eko, masih bisa ditoleransi. Jadi, para importir mainan tak berencana untuk menaikkan harga. ''Paling makan margin. Kalau menaikkan harga kan sensitif,'' katanya kepada kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA.

Mainan, ujar Eko, merupakan barang musiman. Sebab itu, kadang-kadang para importir lebih baik mengambil margin tipis tetapi barangnya cepat laku. Dengan cara begitu, cash flow tidak terganggu untuk proses selanjutnya. Impor mainan, paling banyak berasal dari Cina. Indonesia mengimpor 70% mainan, seperti mobil-mobilan, boneka, aneka mainan elektronik, dan mainan berbahan plastik lainnya hingga sepeda roda tiga dari Cina.

Tak pelak lagi, pengusaha Indonesia memang harus pintar-pintar melihat situasi dan mewaspadai tingkah laku mata uang. Rupiah, misalnya, pernah melemah secara signifikan pada 2013 dan 2015. Pada 2013, rupiah melemah dari Rp9.000 ke 12.000 per dolar. Pada 2015, rupiah kembali anjlok sampai menyentuh angka Rp15.000 per dolar.

Namun berbeda dari sekarang, pelemahan rupiah kali ini berdurasi relatif panjang. Pada Jumat lalu, misalnya, rupiah diperdagangkan di angka Rp13.893 pada sesi penutupan. Kemudian kembali melemah 0,14% atau 20 poin di Rp 13.913 per dolar pada Senin lalu. Kondisi ini berlangsung selama dua pekan belakangan. Bahkan, tren pelemahan rupiah terjadi sejak Januari lalu. Meski demikian, rupiah masih dianggap tangguh bila dibanding dengan mata uang lain.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, menyebut rupiah yang terdepresiasi sebesar 0,88% terhadap dolar sepanjang April ini bukanlah yang terburuk dibandingkan depresiasi mata uang negara lain. Ia mencontohkan, secara month to date, per 26 April 2018, mata uang Thailand terdepresiasi hingga -1,12%, ringgit (Malaysia) - 1,24%, dan rupee (India) -2,4%.

Rupiah tetap bertahan berkat intervensi bank sentral yang menggelontorkan cadangan dolar ke pasar. ''Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar,'' kata Agus.

Memang benar, akibat intervensi ini, cadangan devisa yang tergerus dalam tiga bulan terakhir mencapai US$6 milyar atau sekitar Rp83 trilyun jika dihitung dengan kurs saat ini. Hingga akhir bulan lalu, cadangan devisa hanya US$126 milyar. Jumlah, cadangan devisa di atas US$ 100 milyar ini diklaim masih kuat untuk menahan pelemahan mata uang yang berkepanjangan.

Namun, anggota Komisi XI DPR-RI dari Fraksi PKS, Ecky Awal Mucharam, menyatakan bahwa kondisi moneter dalam negeri saat ini memperlihatkan kegagalan pemerintah dalam mengoptimalkan investment grade yang diraih tahun lalu. Selain itu, utang yang selama ini dibelanjakan, tidak menggerakkan ekonomi. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang medioker di antara negara-negara emerging market.

Pemerintah pun dianggap tidak berhasil memacu pertumbuhan sebagaimana yang dijanjikan saat kampanye dan pada awal pemerintahan, yaitu 7% per tahun. ''Kondisi ini diperparah oleh banyaknya proyek yang bersifat turn key project. Kita tidak mendapatkan nilai lebih. Bahkan tenaga kerjanya pun didatangkan dari Cina,'' katanya lagi.

Di sisi lain, defisit transaksi berjalan terus terjadi selama tiga bulan pertama 2018. Begitu pula dengan neraca perdagangan. Aliran arus barang akibat skema turn key project tadi memperparah hal tersebut.

Menurut Ecky, melemahnya nilai tukar rupiah patut diwaspadai. Sebab, hal itu akan berdampak pada melonjaknya beban pembayaran utang pemerintah dan swasta yang menggunakan dolar. Saat ini utang pemerintah yang memakai valuta asing sekitar US$ 109 milyar. Hal tersebut tentu akan membebani APBN.

* * *

Dalam konferensi pers pada Kamis lalu, seperti dilaporkan Annisa Setya Hutami dari GATRA, Agus Martowardojo menyatakan, pelemahan rupiah selama beberapa pekan ini merupakan imbas dari penguatan tajam dolar yang dipicu meningkatnya imbal hasil (yield) surat berharga Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed fund rate sebanyak tiga kali pada 2018.

Kenaikan yield dan suku bunga Amerika tersebut dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi Amerika, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Selain itu, juga akibat meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika dan Tiongkok.

Menurut peneliti Bank Indonesia, Tri Winarno, ketakberdayaan mata uang negara-negara berkembang terhadap dolar merupakan konsekuensi dari keberhasilan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperbaiki perekonomian negerinya, yang kini pertumbuhannya di angka 2,3%. Keberhasilan itu, di antaranya karena reformasi pajak. Trump memangkas pajak korporasi dari 30% menjadi 19%. Hal itu tentu saja meringankan perusahaan-perusahaan dalam negeri dalam bersaing dengan korporasi asing.

Selain itu, Trump juga pemberlakuan tax amnesty baru-baru ini, yang membidik duit perusahaan multinasional. Kebijakan tersebut juga berdampak signifikan. Menurut Tri, dalam hitung-hitungan otoritas pajak di Amerika Serikat setidaknya terdapat US$ 2,5 trilyun duit perusahaan multinasional Amerika yang ada di luar negeri.

Selama ini, duit tersebut tak pernah pulang karena pengenaan pajak yang tinggi. ''Dengan tax amnesty perusahaan multinasional mendapat keringanan pajak siginifikan, jika mereka mau memulangkan duitnya,'' kata Tri.

Dengan potensi duit yang besar itu, aliran dana pun tak akan berhenti masuk ke Amerika. Dengan duit itu pula, ancaman Cina melepaskan surat utang Amerika Serikat hingga US$ 1,7 trilyun akibat dampak perang dagang, tak menakutkan lagi bagi Trump.

Di sisi lain, otoritas moneter (The Fed), juga mulai menjalankan kebijakan uang ketat. ''Kalau ada yang bilang bisa tiga kali kenaikan suku bunga acuannya, saya malah meramalkan bisa empat kali,'' kata Tri.

Adanya tight money policy ini didasarkan beberapa indikator. Seperti kenaikan upah sejak Februari, yang memicu inflasi sehingga ada ekspektasi kenaikan suku bunga nominal untuk menjaga tingkat suku bunga riil agar tidak melonjak.

* * *

Akibat perekonomian Amerika yang lebih baik, investor asing pun mulai meninggalkan pasar emerging market--termasuk Indonesia--dan mengalihkan duitnya balik ke Amerika. Pasar surat utang yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia pun terkena dampak. Catatan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, investor asing per 8 Maret lalu hanya memegang surat utang negara (SUN) sebesar Rp831,78 trilyun. Sebelumnya investor asing di SUN mencapai Rp880,2 trilyun atau 41,1% pada akhir Januari.

Agar tidak terlalu berdampak pada penjualan, BI melakukan intervensi dengan menyerap SUN. Saat ini BI memegang SUN sebesar Rp180 trilyun (gross). Tak hanya di pasar obligasi, asing juga terus keluar dari pasar saham domestik. Pada perdagangan Maret 2018, dana asing yang keluar dari bursa saham mencapai Rp5,87 trilyun.

Dari awal tahun, total dana asing yang keluar dari pasar saham sebesar Rp14,44 trilyun. Fenomena ini memicu kekhawatiran, bila pelemahan rupiah berlangsung relatif panjang, pasar saham bisa mengalami penurunan indeks signifikan.

Memang, selama sepekan terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) melorot 6,6% dan berhenti di level 5.919,24 pada penutupan perdagangan Jumat lalu. Dalam satu minggu ini, investor asing melakukan jual bersih senilai Rp5,3 trilyun. Secara total, sepanjang tahun ini, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp33,31 trilyun. Secara year to date dari Januari hingga 27 April 2018, IHSG tercatat melemah 6,87%.

Bila penurunan kinerja indikator ekonomi Indonesia terjadi dalam waktu relatif lama, perekonomian dalam negeri bisa terganggu. Meski saat ini, pelemahan rupiah tidak tambah parah berkat intervensi BI.

Agus Marto menyatakan, agar efektif dan tidak membebani BI, upaya stabilisasi rupiah memang tak hanya melalui intervensi. Dilakukan pula kerja sama dengan pihak eksternal, serta tidak menutup ruang bagi penyesuaian suku bunga kebijakan BI 7 days reverse repo rate.

Namun menurut peneliti dari Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, kebijakan menaikkan suku bunga acuan seharusnya dihindari. Selain menaikkan yield rupiah, itu juga akan berdampak pada kenaikan tingkat suku bunga kredit perbankan. ''Kalau tingkat suku bunga ikut naik, pelaku usaha akan ikut tertekan,'' katanya.

Agus Marto sendiri menjamin, bila memang harus memutuskan menaikkan suku bunga acuan, itu akan dilakukan dengan sangat hati-hati. ''Kalau akan dinaikkan, tentu dalam bentuk bauran kebijakan. Meski belum tentu juga dilakukan,'' katanya.

* * *

Kondisi ekonomi Indonesia paling mutakhir ini juga menjadi bahasan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rapat mengenai kondisi stabilitas sistem keuangan triwulan 1-2018 pada Senin lalu di komplek perkantoran Bank Indonesia.

Berbeda dari indikator yang memperlihatkan adanya pelemahan fundamental ekonomi yang signifikan, Menteri Keuangan, Sri Mulyani--yang juga menjabat sebagai Ketua KSSK--memastikan bahwa sistem keuangan dalam kondisi stabil dan terkendali, meski menghadapi tekanan pasar keuangan, terutama pada akhir April 2018.

Hal itu karena sistem keuangan dalam negeri ditopang fundamental ekonomi yang kuat dan kinerja lembaga keuangan yang baik. Selain itu, kinerja emiten di pasar modal pun relatif stabil. ''Penerimaan perpajakan hingga April juga menunjukkan tren yang terus membaik, baik dari sisi PPN maupun PPh badan,'' kata Ani, demikian ia biasa di sapa.

Berkat fundamental ekonomi yang baik ini, investor masih menaruh kepercayaan terhadap Indonesia. Ini bisa dilihat dari data permintaan saham dari non-residence atau pihak asing yang menurut Sri Mulyani masih tetap bertambah.

Hal yang sama terjadi dalam penjualan SUN yang kemudian dibeli pihak asing. ''Jadi, meski suasana relatif berubah, mereka tetap memahami Indonesia, dan memiliki kepercayaan terhadap Republik Indonesia,'' kata Ani.

Dari sisi industri keuangan, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan bahwa saat ini pertumbuhan penyaluran kredit perbankan berangsur-angsur pulih, serta didukung oleh likuiditas yang memadai. Kemampuan bank untuk menyerap risiko terjaga, sedangkan risiko kredit terpantau baik, masih di bawah ambang batas atau di bawah 5%. ''Pada industri keuangan non-bank juga terjaga pada level yang cukup baik,'' kata Wimboh.

Industri perbankan, menurut Wimboh, juga memiliki kepercayaan diri yang baik. Permodalan perbankan nasional relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Apalagi, setelah OJK melakukan berbagai stress testing, ketahanan perbankan terlihat tetap baik.

Dari sisi likuiditas, tercatat aman bahkan cenderung over liquid. Jika semua cadangan likuiditas digunakan, pertumbuhan kredit bisa di atas 15%. ''Jadi kita punya buffer likuiditas yang cukup,'' kata Wimboh.

* * *

Kepala Ekonom Samuel Sekuritas, Lana Sulistyaningsih, memprediksikan fluktuasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Karena itu, BI diharapkan masih tetap melakukan intervensi. ''Harapannya, kalau pun melemah tidak menembus angka 14.000 ," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Intervensi BI harus dipastikan tak akan terlalu lama, sehingga tidak menggerus cadangan devisa terlalu besar. Ini karena, menurut Lana, setelah lewat bulan Juni , tekanan dalam negeri berkurang, tinggal menyisakan tekanan luar negeri. Akan tetapi, untuk mengantisipasi rupiah agar tidak terlalu dalam depresiasinya terhadap dolar, Lana menyarankan pemerintah untuk membuat instrumen di obligasi.

Ini didasari oleh kondisi investor di pasar obligasi Indonesia yang terus melakukan aksi jual. "Jadi, bagaimana supaya asing itu tidak gampang keluar-masuk, pemerintah harus menyiapkan instrumen obligasi,'' katanya.

Sementara itu, Reza Priyambada memandang peningkatan ekspor dan pemanfaatan sektor pariwisata sebagai jalan keluar agar devisa negara tetap terjaga sehingga mengerem pelemahan rupiah.

Terkait peningkatan ekspor ini, Tri Winarno mengingatkan saat ini pasar Amerika terbuka bagi 1.300 jenis barang.Pada saat perang dagang, Amerika melarang masuk produk Cina. Kekosongan itu bisa dimanfaatkan Indonesia. ''Jangan sampai kita didahului Vietnam atau Thailand,'' katanya.

Mukhlison S. Widodo, Putri Kartika Utami, Fitri Kumalasari, dan Umaya Khusniah
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com