Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Diplomasi Meja Oval Jokowi

Pertemuan rahasia Presiden Jokowi dengan PA212 di Istana Bogor, yang disinyalir bermuatan politis, bocor. Apa isi pembicaraan dua pihak yang selama ini berseberangan tersebut?

Dua pihak yang dipetakan bersebrangan, Presiden Joko Widodo dan Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), tiba-tiba berbalas klarifikasi, Rabu pekan lalu. Pemicunya adalah foto viral pertemuan tertutup Jokowi dengan kelompok yang lahir dari aksi gerakan bela Islam pada 2 Desember 2016 itu, di Istana Bogor, Ahad dua pekan lalu.

Kedua belah pihak tak menampik telah bertemu. Hanya saja, mereka membantah bahwa isi pertemuan bermuatan politis, terlebih rekonsiliasi demi kepentingan pemilihan presiden pada 2019. "Menjalin tali silaturahmi dengan para ulama, habib, kiai, ustaz dari seluruh provinsi di Tanah Air,'' kata Jokowi, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu pekan lalu.

Pada hari yang sama, PA 212 juga memberikan klarifikasi. Mereka mengakui, yang bertemu Jokowi adalah Tim 11 ulama yang dibentuk PA 212 untuk menjembatani penyelesaian masalah kriminalisasi ulama dan persoalan umat. ''Pertemuan tersebut bertujuan untuk menyampaikan informasi akurat terkait kasus kriminalisasi ulama dan aktivis alumni 212," ujar Ketua Tim 11, K.H. Misbahul Anam dalam jumpa pers di Jakarta.

Misbahul mengungkapkan, pertemuan di Istana Bogor, sebetulnya pertemuan rahasia. Karena itu, PA 212 menyesalkan beredarnya foto pertemuan itu ke publik. Ia menduga yang membocorkan pertemuan itu adalah oknum pihak Istana. ''Kami meminta Istana mengusut tuntas bocornya foto dan berita tersebut sebagai kelalaian aparat Istana yang tidak bisa menjaga rahasia negara," kata nya.

Sumber GATRA mengungkapkan, foto tersebut diambil seseorang. ''Mungkin yang moto seseorang yang kebetulan ada di dalam masjid,'' kata sumber yang ikut menyaksikan pertemuan tersebut kepada GATRA. Senin pekan ini.

Awalnya, masih menurut sumber GATRA, pertemuan akan dilakukan Ahad dini hari, sekaligus salat subuh berjamaah di masjid kompleks Istana Bogor. Tapi atas permintaan, Jokowi, pertemuan diadakan pada siang hari. Tim 11 tak berkeberatan atas perubahan jadwal tersebut.

Rombongan Tim 11 yang datang ke Istana Bogor antara lain Abad Roud Bahar (Ketua Penasihat Yayasan Al Zikra), Syekh Yusuf Muhammad Martak (Koordinator Gerakan Indonesia Shalat Subuh), K.H. Sobri Lubis (Ketua Front Pembela Islam), K.H. Muhammad Al Khatath (Sekjen Forum Umat Islam), Usamah Hisyam (Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia), dan Slamet Maarif (Ketua PA 212).

Dari pihak Istana, Jokowi didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, dan Staf Kepresidenan, Teten Masduki. Setelah salat zuhur berjamaah, Jokowi mempersilakan para tamu masuk ke beranda Istana. Mereka pun berbincang santai dengan Jokowi di meja berbentuk oval.

Jokowi membuka obrolan dengan membicarakan masalah kebangsaan, serta mengeluhkan banyaknya kritik yang digunakan sebagai ''alat serang'' terhadap pemerintah, seperti utang negara, melemahnya nilai tukar rupiah, polemik tenaga kerja asing (TKA). ''Bahkan Presiden sempat menepis dan meluruskan isu PKI yang dialamatkan kepada dirinya,'' kata sumber GATRA.

Setelah Jokowi selesai, giliran Tim 11 yang berbicara. Satu per satu ulama menyampaikan pandangan masing-masing. Secara umum, hal yang disampaikan para ulama senapas. Mereka meminta Jokowi menindaklanjuti kasus-kasus kriminalisasi terhadap ulama, termasuk kasus Habib Rizieq.

Bahkan salah satu ulama mengatakan, bila kasus Habib Rizieq dihentikan proses hukumnya, Alumni 212 akan melakukan kegiatan sujud syukur bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta. PA 212 berjanji akan mengundang Presiden Jokowi untuk hadir. ''Presiden mendengarkan semua pandangan para ulama. Pertemuan kala itu berlangsung cair dan bersahabat,'' kata sumber GATRA. Pada akhir pertemuan, Presiden mengatakan, pandangan Tim 11 mengenai kriminalisasi ulama akan ia sampaikan kepada Kapolri, Jenderal Tito Karnavian.

Menurut pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Iding Rosyidin, agak janggal pertemuan Jokowi dengan para ulama PA 212 dilakukan tertutup. Tidak ada liputan media seperti yang lazim dilakukan Jokowi saat menerima tamu di Istana Negara ataupun Istana Bogor. Karena itu, Iding menduga, inisiator melakukan pertemuan tertutup bukan dari pihak Istana. ''Saya menduga, kemungkinan besar, pertemuan tertutup ini atas permintaan pihak 212,'' katanya.

Sebab, lanjut Iding, PA 212 khawatir, kalau pertemuan dilakukan terbuka, akan muncul perbedaan pendapat di kalangan pengikut 212. Sebab, selama ini, 212 diidentikan dengan kelompok yang kritis terhadap kebijakan Presiden Jokowi yang terkait dengan kepentingan umat Islam. ''Yang tidak setuju tentu akan mengatakan, 'Kok, mau sih berdekatan dengan Jokowi'," ujar Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta itu

Sebaliknya, kata Iding, ia menduga pihak Istana justru menginginkan pertemuan dilakukan terbuka. Sebab, jika pertemuan terbuka, itu akan menguntungkan Jokowi. Orang akan melihat, Jokowi sebagai orang yang terbuka dan siap bergandengan tangan dengan 212. Karena itu, lanjut Iding, wajar saja jika PA 212 menuding pihak Istana yang membocorkan pertemuan rahasia itu.

Soal dugaan adanya motif politis di balik pertemuan rahasia itu, menurut Iding sulit dimungkiri. Setiap kali Jokowi melakukan pertemuan dengan kelompok tertentu, pasti publik mengkaitkannya dengan agenda politik, apalagi Jokowi akan maju kembali sebagai calon presiden. ''Pasti ada kepentingan-kepentingan politik dari kedua belah pihak.Baik itu kepentingan politik dari kelompok 212 maupun Jokowi,'' kata Iding.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon, menduga bahwa pertemuan Jokowi dengan para ulama PA 212 merupakan pertemuan biasa dan tidak ada kepentingan politiknya. Kalaupun ada pembicaraan tentang dukung-mendukung Jokowi pada pemilihan presiden, Fadli menilai pertemuan tersebut sudah terlambat. "Jangan baru mau pemilu kemudian mendekati dan kemudian berusaha meyakinkan," katanya.

Sementara itu, politikus PDI Perjuangan Hamka Haq menilai pertemuan itu menunjukan bahwa presiden Jokowi terbuka untuk berkomunikasi dengan kelompok mana pun. Termasuk dengan kelompok yang kerap mengkritiknya. ''Jokowi itu kan presiden. Jokowi itu milik semua elemen bangsa. Jadi, siapa saja bisa bertemu dengan beliau,'' kata Ketua Baitul Muslimin PDI Perjuangan ini kepada GATRA.

Sujud Dwi Pratisto, Anthony Djafar dan Andhika Dinata
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com