Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

OLAHRAGA

Efek Keislaman Mohamed Salah

Beberapa prestasi telah ditorehkan Mohamed Salah untuk Liverpool. Ia tidak hanya sebagai pemain bola, namun sekaligus juga menjadi ikon bagi Mesir. Menambah fans muslim bagi Liverpool dan duta Islam.

Dalam sepekan ini, perhatian milyaran pecinta sepak bola kini tertuju pada sosok Mohamed Salah. Selain dua gol dan dua assist yang menjadikan Liverpol menang atas AS Roma 5-2 di Stadion Anfield pada leg pertama fase gugur Liga Champions, momen berharga lainnya adalah ketika Salah terpilih menjadi pemain asal Mesir pertama yang dinobatkan sebagai pemain terbaik Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) 2017-2018.

Lesakan 31 gol di Liga Primer selama musim kompetisi ini dan masih ada tiga pertandingan tersisa menjadi pertimbangan PFA memilihnya. Ia berhasil menyingkirkan kandidat lain seperti Kevin de Bruyne, Harry Kane, Leroy Sane, David Silva, dan David de Gea. "Ini suatu kehormatan, terlebih karena yang memilih adalah para pemain. Saya senang dan bangga," kata Salah seperti dikutip BBC Inggris.

Meskipun Liga Champions dan Liga Primer masih bergulir, pertandingan semifinal Liga Champions dan predikat pemain terbaik dari PFA itu tampaknya cukup membuktikan kemampuan dan pencapaian Salah di atas lapangan. Berita soal bagaimana Jurgen Klopp jeli memunculkan kemampuan alamiah, dan kecerdikan Salah mengocek bola, sudah habis diolah awak media.

Kini berbagai hal mengenai sosok kehidupan Salah yang humanis dan agama keyakinannya menjadi pembicaraan banyak orang. Begitu berita di koran-koran Mesir mengenai Salah sebagai pemain terbaik keluar, dalam hitungan menit langsung dibagikan ke ribuan pengguna media sosial dengan tagar "legenda Mohamed Salah".

Pria kelahiran Mesir, 15 Juni 1992, yang dijuluki para pendukung Liverpool sebagai "Raja Mesir" itu menjadikannya sebagai ikon nasional sekaligus pahlawan bagi Mesir. Gol penalti Salah ke gawang Kongo pada 2017, yang membuat Mesir lolos kualifikasi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1990, semakin menjadikannya sebagai pahlawan.

Dalam sekejap, namanya menjadi nama beberapa jalan di kota-kota di Mesir. Lalu sebuah sekolah di Basion, Gharbia, kota kelahirannya, menjadikan Mohamed Salah sebagi nama sekolahan. Bahkan ketegangan kubu-kubu politik di Mesir mereda ketika harus membicarakan prestasi Salah.

Mereka kompak memberikan ucapan selamat dan menjadikan Salah sebagai inspirasi. "Ia mengalami satu dua kemunduran dan tidak menyerah. Ia mewujudkan mimpinya," begitu bunyi Twitter aktivis politik Mahmoud Mohamed.

Keberhasilan Salah tidak hanya menggema di Mesir, tapi juga di Afrika dan Timur Tengah, terutama Dunia Arab. Yara, seorang penyanyi Lebanon, membagikan foto Salah mengangkat trofi dengan judul "Selamat kepada Mesir dan semua orang Arab". Sebelumnya, aktris Mesir Rasha Mahdi mengunggah foto Salah sebagai Firaun.

Berbagai kebajikan hidup Salah di masa lalunya juga mulai diangkat media massa dan media sosial. Koran Inggris Daily Mail, misalnya, melalui cerita asisten manajer timnas Mesir Mahmoud Fayez, mengungkapkan bagaimana Salah justru memberikan uang kepada pencuri di rumah keluarganya di Nagrig Mesir. Ketika itu, ia masih mengawali karier sebagai pemain profesional di sebuah klub di Alexandria.

Ketika sang pencuri ditangkap polisi, ayahnda Salah ingin segera menjebloskannya ke penjara. Tapi begitu tahu bahwa pencuri terpaksa melakukan aksinya karena impitan kemiskinan, Salah justru memberikan uang kepada pencuri tersebut sebagai modal usaha dan memintanya tidak mencuri lagi.

Ulah terpuji Salah tidak hanya itu. Meskipun menjadi pemain internasional di Inggris, ia tidak lupa dengan eks presiden klubZamalek yang pernah menolaknya saat merapat di klub besar Mesir itu. Ia gagal bergabung ke klub itu karena penolakan Mahdouh Abbas. Seperti dilansir Give Me Sport, Abbas justru diundang menonton langsung laga Liverpol di Liga Primer Inggris, dan menempati tribun VIP di Stadion Anfield.

Sikap Salah itu membuat orang terkagum. Bagi Salah, masa lalunya tidak ada yang patut disesali, karena berkat penolakan itu ia lalu dikontrak klub papan atas Liga Swiss FC Basel pada musim 2013/2014. Dari situ, permainan Salah terbaca secara luas oleh klub elite Eropa lainnya, karena setelah itu ia berhasil merumput di Chealsea dan AS Roma.

Yang paling fenomenal bagi Salah, seperti ditulis BBC, adalah semakin banyaknya fans muslim di Inggris untuk Liverpol dan di daratan Eropa. Selain Salah ada puluhan pemain muslim yang merumput di Liga Primer, beberapa di antaranya adalah Mesut Oezil, Mousa Dembele, Riyad Mahrez, dan Paul Pogba.

Sikap berdoa dengan mengadahkan kedua telapak tangan secara terbuka sebelum bertanding dan cara melakukan selebrasi usai mencetak gol menjadi ciri khas para pemain muslim. Itu mungkin menjadi biasa bagi pemain lain, namun tidak bagi Salah, yang menjadi pusat perhatian karena sudah berhasil mengemas 43 gol dan 13 assist di semua ajang kompetisi yang diikuti oleh Liverpol, baik di Liga Primer maupun Liga Champions.

Para pendukung Liverpol pun menjadikan agama yang diyakini Salah sebagai bahan sanjungan. Yang belakangan banyak ditonton melalui media sosial adalah yel-yel yang dibuat beberapa Liverpudlians, julukan bagi para pendukung Liverpool. Mereka mengadaptasi lagi Good Enough besutan band Dodgy tahun 1996 dengan mengubah syairnya menjadi seperti ini: ''Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku. Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim. Duduk di mesjid, di situlah kuingin berada.''

Apresiasi atas nyanyian itu muncul dari Asif Bodi, seorang muslim dan fans berat The Reds. Menurut Bodi, pesan yang ada di yel-yel tersebut memberikan dampak positif bagi Liverpool. ''Lagu Mo Salah menunjukkan betapa warga Liverpool adalah warga yang toleran dan terbuka. Dilihat dari sejarahnya, Liverpool punya reputasi sebagai kota yang menyambut pendatang dan tempat salah satu masjid pertama di Inggris,'' katanya.

Seperti karakter kota-kota pelabuhan di dunia yang masyarakatnya inklusif, begitu pula dengan Liverpool. William Quilliam yang tinggal di Liverpool saat itu tercatat sebagai warga pertama yang menjadi mualaf pada 1887, dan kemudian mendirikan masjid serta pusat Islam pertama di negeri Ratu Elizabeth itu.

Bodi menyaksikan jumlah umat muslim yang mendukung Liverpool bertambah karena prestasi Salah. Ia menyebut keberhasilan Salah menyebabkan basis penggemar Liverpool dan di dunia muslim bertambah. Lagu itu, menurut Bodi, telah membuat penggemar MU berusia 10 tahun beralih mendukung Liverpool.

Berkat efek Salah yang mendunia tersebut, Arab Saudi akan memberikan hadiah sebidang tanah untuknya di Makkah. Hal itu disampaikan oleh Fahd al-Rowky, yang menjadi wakil salah satu kepala daerah di Makkah. Salah bakal mendapat hadiah tersebut karena dinilai telah menjadi duta yang baik untuk Islam.

''Ada beberapa pilihan untuk memberikan sebidang tanah. Bagaimana cara pemberiannya akan ditentukan oleh Mohamed Salah dan juga sistem di Saudi,'' kata Fahd.
Nantinya, bisa saja Salah akan mendapat sebidang tanah di Kota Suci Makkah di luar Masjidil Haram, atau membangun sebuah masjid di tanah atas namanya. Opsi yang lain adalah Salah meminta tanah itu dijual dan uangnya diberikan kepada Salah.

G.A. Guritno

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com