Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Laba Besar Pebisnis Awan

Bisnis komputasi awan jadi faktor yang memengaruhi performa oke keuangan Amazon dan Microsoft di kuartal pertama 2018. Persaingan AWS dengan Microsoft Azure kian sengit.

Amazon kian moncer. Laporan keuangan raksasa retail daring yang didirikan pada 1994 itu menyebut bahwa pada kuartal pertama 2018 (Q1), perusahaan membukukan laba operasional sebesar US$2 milyar. Jumlah itu melampaui ekspektasi para analis yang pada Februari lalu meramalkan labanya di kisaran US$300 juta hingga US$1 milyar.

Adapun pendapatan Amazon pada kuartal I 2018 tercatat sebesar US$51 milyar atau lebih tinggi dari ekspektasi analis di angka US$49,96 milyar. Pencapaian itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar US$35,71 milyar. Pendapatan dari saham mencapai US$3,27 per lembar saham. Lebih tinggi dari perkiraan analis Wall Street yang mematok di US$1,26 per lembar saham dan jauh melampaui pencapaian periode yang sama tahun lalu sebesar US$1,48 per lembar.

Menurut CEO Amazon, Brian Olsavsky, ada beberapa faktor yang memengaruhi kinerja oke perusahaan di Q1 ini. Antara lain, karena keuntungan dari segmen ritel Amerika Utara; lonjakan penjualan iklan; dan -yang tercatat sebagai penyumbang terbesar keuntungan Amazon-- pendapatan dari bisnis komputasi awan (cloud computing).

Pada kuartal ini, penjualan dari segmen ritel itu membukukan laba operasi sebesar US$1,1 milyar atau hampir dua kali lipat dari laba tahun lalu. Penjualan dari segmen ini naik 46% dari tahun sebelumnya menjadi US$30,7 milyar. Sebagian keuntungan Amazon dari segmen ritel di Amerika Utara dipasok oleh Whole Food Market. Seperti diketahui, pada Agustus tahun lalu, Whole Food Market Inc. --jaringan supermarket khusus makanan berbahan organik terbesar di Amerika-- resmi merger dengan Amazon.Com.

Pencapaian Amazon juga dipengaruhi oleh bisnis periklanannya yang berkembang. Pendapatan "lainnya" perusahaan, yang mencakup penjualan iklan, naik sebesar 139% pada kuartal ini dari periode yang sama tahun lalu menjadi US$2 milyar. Perilaku konsumen untuk berbelanja melalui situs Amazon menarik minat para pemasang iklan. "Iklan terus menjadi penyumbang kuat terhadap profitabilitas," kata Olsavsky seperti dilaporkan Business Insider Australia.

Penyumbang paling besar dari keuntungan Amazon kuartal ini adalah bisnis komputasi awan, yaitu melalui Amazon Web Service (AWS). Bisnis yang diluncurkan pada Maret dua belas tahun lalu ini mencatatkan laba operasional US$1,4 milyar pada Q1, atau naik dari laba kuartal pertama tahun lalu sebesar US$890 juta. Penjualan dari bisnis cloud Amazon naik 49% dari tahun sebelumnya menjadi US$5,4 milyar.

Bisnis AWS memang telah tumbuh di kisaran lebih dari 40% dalam enam kuartal terakhir, namun pertumbuhan tercepatnya terdeteksi pada kuartal ini. Menurut CEO Amazon, Jeff Bezos, bisnis AWS pada tujuh tahun terakhir memang menyumbangkan keuntungan yang tidak biasa kepada perusahaan, tidak pernah melambat, dan punya layanan yang paling berkembang,''Itulah sebabnya Anda melihat akselerasi luar biasa dalam pertumbuhan AWS," ujarnya.

Berdasarkan data Gartner yang dikutip Fortune pada pertengahan tahun lalu, AWS menduduki posisi nomor satu sebagai penyedia layanan cloud. Posisi tiga besar lainnya ditempati Microsoft dan Google. Alibaba, Oracle, dan IBM kini juga diperhitungkan sebagai kompetitor AWS.

Moncernya AWS dan ciamiknya performa keuangan Amazon ikut mendongkrak kekayaan Bezos. April lalu, laporan Forbes pada awal April menyebut kekayaan Bezos mencapai US$118,8 milyar. Jumlah itu menempatkan bos Microsoft, Bill Gates, di urutan kedua dengan kekayaan USS92,1 milyar. Pada urutan ketiga orang terkaya dunia ada Warren Buffett, yang kekayaannya mencapai US$89,9 milyar.

Tahun lalu, Amazon memegang pendapatan terbesar untuk layanan komputasi awan dengan 31,8%, disusul Microsoft sebesar 13,9% serta Alphabet, induk perusahaan Google, di angka 6%. Secara keseluruhan, firma analis Canalys memperkirakan pangsa pasar layanan awan di 2017 bernilai US$14,4 milyar. Angka itu naik 43% dari tahun sebelumnya."Bisnis awan akan terus tumbuh lebih cepat daripada segmen TI tradisional lain,'' kata analis dari Canalys, Daniel Liu, seperti dikutip Reuters.

Meski pertumbuhannya bertahan di 40% dan lebih, para analis menyebut pasar layanan komputasi awan Amazon mulai digerogoti, terutama oleh Microsoft. Ke depan, persaingan diramalkan akan kian sengit. Laporan keuangan Microsoft memperlihatkan pertumbuhan signifikan pada Q1, yang di antaranya ditopang oleh pertumbuhan berkelanjutan dalam bisnis awan Microsoft, khususnya platform awan Microsoft Azure dan Office 365.

Seperti yang terjadi pada performa Amazon, pencapaian Microsoft di kuartal pertama 2018 pun melewati ekspektasi dan prediksi para analis. Laba perusahaan disebutkan mencapai US$0,95 milyar, atau lebih tinggi daripada ramalan analis di US$0,85 milyar. Demikian dengan pendapatan Microsoft pada Q1 yang semula diprediksi US$25,77 milyar namun berhasil mencapai angka US$28,8 milyar. Pendapatan Microsoft di segmen ''produktivitas dan proses bisnis'' naik 17% dari periode yang sama di 2017, atau mencapai angka US$9 milyar. Di dalamnya termasuk peningkatan 14% dalam pendapatan komersial dan cloud office selama periode yang sama, serta keuntungan 37% dari LinkedIn. Microsoft mengklaim bahwa Office 365 telah 135 juta pengguna aktif bulanan.

Selain itu, segmen Intelligent Cloud juga menunjukkan peningkatan 17%, ke angka US$7,9 milyar. Segmen ini mencakup performa cloud Microsoft Azure, yang memiliki perolehan pendapatan 93% dari periode yang sama tahun 2017.

Meski dinilai masih kalah populer dibandingkan dengan AWS, layanan cloud Microsoft Azure terus menebar ancaman serius. Ketika Google dan Amazon terus mencari pelanggan baru, Microsoft diaknggap memiliki pelanggan setia sejak lama. Karena sejak dulu, Microsoft memiliki OS khusus perusahaan bernama Windows Server.

Lini bisnis Windows Server memungkinkan pelanggan lama Microsoft melakukan migrasi data langsung ke Azure. Dengan kata lain, Microsoft sejak awal sudah memiliki dua komponen utama dalam layanan cloud, yakni software dan hardware. Dengan kemudahan komponen itu, Microsoft punya cukup amunisi untuk menantang dominasi Amazon di bisnis komputasi awan.

Bambang Sulistiyo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com