Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PARIWARA

Bersama Memperkuat Pendidikan Kejuruan

Selain mensinkronkan kurikulum dengan dunia industri, Kemendikbud mendorong SMK untuk mendidik siswa menjadi wirausaha mandiri.

Sejak masuk ke dalam 219 sekolah yang menjadi prioritas program revitalisasi, lembaga-lembaga pendidikan vokasi memperbaiki diri. Tak terkecuali Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 27 Jakarta. Sekolah yang berada di Sawah Besar, Jakarta Pusat, ini meningkatkan mutu, antara lain melalui kerja sama industri dengan dunia usaha. ''Agar kurikulum dengan kebutuhan tenaga kerja selaras,'' kata Rina Mulyati, Wakil Kepala Bidang Humas dan Kemitraan SMK 27 Jakarta, Jumat pekan lalu.

Kerja sama itu berlangsung dengan lembaga dalam negeri dan luar negeri. Hasilnya, sejak 2013 sekolah ini menerima batuan hibah berupa penyediaan alat-alat produksi pastri (aneka macam kue) dari perusahaan asal Korea Selatan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). ''Program selama lima tahun ini kita diberikan pendampingan, dan empat orang guru dilatih langsung oleh mereka. Dan, hingga saat ini program tersebut terus berjalan,'' ujar Rina.

Seiring dengan peningkatan kompetensi peserta didik, SMKN 27 juga melaksanakan program yang dicanangkan oleh Direktorat Pembinaan SMK, Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud. Itu dilakukan untuk memacu kompetensi siswa. Hasilnya, sejak awal 2018 , SMKN 27 Jakarta resmi menjadi tempat uji kompetensi yakni Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1).

Serupa dengan SMKN 27 Jakarta, sekolah kejuruan lain di Jakarta juga terus memacu kualitas anak didik mereka melalui program revitalisasi sekolah kejuruan. Sekolah itu antara lain SMK 57 Jakarta. Dikatakan oleh Eti Suyati, Kepala SMK 57, dalam merevitalisasi pola pembelajaran pihaknya melakukan beberapa hal, yaitu:

Pertama adalah sinkronisasi kurikulum, yang bertujuan untuk menyesuaikan materi pembelajaran dengan dunia industri. Misalnya soal tata boga, saat ini apa saja makanan yang sedang populer di masyarakat. Kedua adalah revitalisasi pembelajaran. Modelnya dengan mengundang guru tamu. Guru tamu ini berasal dari dunia industri, sehingga para siswa memahami betul apa yang ada di dunia industri. ''Yang sudah dilakukan adalah pada bidang perhotelan dan tataboga,'' ujar Eti.

Selain itu, SMK 57 Jakarta juga mengundang praktisi di bidang kompetensi keahlian. Misalnya, bekerja sama dengan Indonesia Pastry Alliance (IPA). Cheef yang tergabung dalam IPA ini diminta untuk mengajar di sekolah. Sedangkan untuk mewadahi para siswa dan siswi melakukan praktek kerja lapangan (PKL), pihak sekolah bekerja sama dengan hampir seluruh hotel bintang lima di Jakarta. Selain itu, juga telah menjalin kerja sama dengan Aero Food anak perusahaan PT Garuda (Persero) yang menyuplai makanan untuk 30 maskapai penerbangan dalam dan luar negeri.

Bicara soal daya serap tenaga kerja, Eti terlihat semringah. Sebab, hingga bulan ini, ujian kelulusan belum diumumkan, perusahaan swasta sudah mencari calon tenaga kerja dari sekolahnya. ''Ya, Alhamdullilah. Padahal, April ini baru selesai ujian nasional,'' katanya.

Sejak awal, Direktorat Pembinaan SMK sedang membenahi layanan pendidikan pada satuan tingkat SMK. Hal ini didorong lebih kuat lagi setelah Presiden Joko Widodo berkunjung ke Jerman pada April 2016 lalu. Atas dasar kunjungan itu, Presiden mendorong kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga terkait untuk mengembangkan pendidikan vokasi, khususnya SMK. Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden Jokowi mengeluarkan Inpres Nomor 09 Tahun 2016.

Direktur Pembinaan SMK (PSMK), Dr. Ir. M. Bakrun, MM, menjelaskan bahwa dalam Inpres tersebut ada 12 lembaga dan kementerian, serta 34 gubernur yang dilibatkan. Dalam inpres yang dijalankan oleh lintas kementerian dan lembaga terkait, terkandung enam hal yang diamanahkan oleh Kemendikbud. ''Lima hal di antaranya ada di Direktorat Dikdasmen khususnya di Direktorat PSMK.

Lima butir yang dilaksanakan oleh Direktorat PSMK adalah: pertama, membuat peta jalan (road map) revitalisasi SMK. Dalam peta jalan ini, Direktorat PSMK merancang dan memprediksi untuk mengambil langkah perbaikan bagi sekolah-sekolah di satuan pendidikan SMK.

Dengan peta jalan ini, Direktorat PSMK memetakan jumlah sekolah serta jumlah siswa didik. Hingga saat ini, kata Bakrun, ada sekitar 13.300 SMK. ''Dari angka ini, masih banyak jumlah siswa yang di bawah 200 orang per sekolah. Untuk itu kita berharap untuk dirampingkan. Agar peningkatan kualitasnya terlihat,'' ujarnya.

Dalam hal perampingan jumlah sekolah, Kemendikbud tidak secara langsung menutup sekolah, namun memberikan penekanan untuk membuat peta jalan kepada pemerintah provinsi. ''Karena saat ini kewenangan ada di sana,'' ujarnya.

Kedua adalah melakukan sinkronisasi kurikulum. Hal ini dilakukan agar kurikulum SMK sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Ketiga, dalam mensikroniskan kurikulum, Kemendikbud menyesuaikan spektrum keahlian dengan kebutuhan industri. ''Terdata ada 142 kompetensi keahlian. Dari kompetensi keahlian yang terdata tersebut, ada kopetensi yang digabung, ada pula pendataan kompetensi yang baru,'' katanya.

Keempat adalah kerja sama dengan dunia usaha, industri dan lembaga terkait. Dengan adanya Inpres Nomor 09 Tahun 2016, hal yang harus dilakukan adalah lembaga yang ada di Inpres tersebut harus menjalin kerja sama. ''Misalnya, belum lama ini, Kemendikbud melakukan penandatangan kerja sama secara bersama-sama dengan lima kementerian,'' katanya.
Kelima adalah melakukan sertifikasi siswa dan akreditasi sekolah. Sertifikasi diarahkan setelah lulus. Kita mendorong juga ada lembaga sertifikasi profesi di sekolah. Sekolah rujukan didorong untuk menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP P1). Saat ini ada 631 sekolah yang menjadi lembaga sertifikasi untuk anak-anak SMK. Tahun depan ditargetkan jumlah siswa SMK yang tersertifikasi mencapai 1,5 juta siswa.

Akreditasi, yang dalam hal ini untuk peningkatan kualitas sekolah-sekolah. berhubungan dengan BSN (Badan Sertifikasi Nasional). Kemendikbud terus mendorong peningkatan kualitas sekolah SMK, baik dari dari sisi pengajar maupun fasilitasnya.

Dari semua upaya revitalisasi SMK ini, Kemendikbud juga berikhtiar agar siswa-siswi SMK menjadi wirausaha muda. Meskipun masih berusia muda, 17-18 tahun, kata Bakrun, Direktorat PSMK mendorong mereka untuk menjadi wirausaha muda. Targetnya, tap tahun sebanyak 5%-7% lulusan SMK menjadi wirausahawan muda. ''Target kita mulai 2019 mencapai 100.000 wirausahawan muda. Sudah kita rintis melalui bisnis online. Contoh, di Bandung sudah mencapai order 100 Juta.

Mendorong siswa-siswi menjadi wirausahawan muda tentunya tidak mustahil. Di SMK 27 Jakarta, misalnya, tiap tahun sebanyak 2% merintis usaha sendiri. ''Melalui sekolah pencetak wirausaha--siswa-siswi SMK 27 diarahkan memiliki usaha sendiri setelah lulus,'' kata Rina.

Program Kemendikbud sekolah pencetak wirausaha ini dilaksanakan melalui intregrasi mata pelajaran kejuruan dengan simulasi dan komunikasi digital (SIMDIG), produk kreatif dan kewirausahawan, serta melalui SMK program 4 tahun. Program 4 tahun pada SMK merupakan perpanjangan masa belajar siswa SMK menjadi empat tahun. Yakni tiga tahun belajar di sekolah, ditambah setahun magang di industri atau program 3+1. Hal itu dilakukan untuk melatih lulusan SMK bisa langsung diterima di bursa tenaga kerja di bidang industri dan memperluas pasar kerja.

Program ini diperuntukkan bagi siswa SMK yang telah mengikuti ujian nasional (UN). Program tersebut untuk memperdalam keterampilan siswa SMK langsung di industri. Selain itu, agar siswa SMK mampu menghasilkan peralatan yang bisa memenuhi kebutuhan siswa itu sendiri. Serta, mendorong pemerintah untuk membeli peralatan-peralatan yang dihasilkan oleh siswa SMK.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com