Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EKONOMI & BISNIS

Sedan Menyusut, MPV Mengembang

Penjualan sedan dan MPV pada ajang IIMS 2018 ibarat 1 banding 10. Pajak tinggi mobil sedan sebabkan pasarnya surut. Kini semua mobil sedan diimpor. Lampu kuning pasar sedan di Indonesia.

Ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2018 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, yang baru berakhir meninggalkan beberapa catatan menarik. Salah satunya adalah dominannya kehadiran mobil multipurpose vehicle (MPV) dan sport utility vehicle (SUV). Bandingan dengan jenis sedan yang hanya ada dua tipe baru saja yang dipamerkan. Hal ini diakui Project Director IIMS, Hendra Noor Saleh.Satu hari menjelang penutupan IIMS, ia mengatakan tipe MPV dan SUV makin menguasai pameran IIMS kali ini. ''Semalam di meeting, kami berdiskusi masalah itu. Jenis sedan itu cuma dua loh yang baru, Vios dan Mercedes-Benz 350 di IIMS. Artinya, sudah tidak prospek nih segmen," kata Hendra kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.

Sebaliknya, Hendra melanjutkan, jenis MPV dan SUV setiap tahun terus menjamur. Akhirnya, pasar cenderung mengarah ke sana. Saat ini, kondisi perbandingannya jenis MPV dan SUV 10 kali lipat dari pada mobil sedan. "Tiga tahun terakhir kita tidak punya data lengkap, tapi kira-kira di IIMS satu sedan itu akan berbading dengan 10 dari kategori lain. Itu permintaan pasar, jadi dipaksain launching sedan, terus jadi enggak laku, kan rugi," katanya.

Ajang seperti IIMS, Hendara mengungkapkan, merupakan salah satu elemen untuk mengenalkan produk, menyapa konsumen, dan sekaligus menjual mobil. Dalam setahun potensi pasar satu juta lebih. Sedangkan di IIMS sekitar 10.000-an atau 1% dari total potensi penjualan.

Meski 1%, menurut Hendra, ajang IIMS bisa menjadi acuan produsen untuk men-drive pasar. Sorotan media, baik nasional maupun internasional, akan dibaca publik. "Jadi apa yang terjadi di sebuah motor show, termasuk IIMS, akan berpengaruh pada penjualan berikutnya," ujarnya.

Ia mencontohkan, banyaknya orang yang mengantre untuk membeli All New Ertiga dan mobil lainnya nantinya akan berefek pada penjualan berikutnya. Seperti efek domino yang merambat, karena usai pameran konsumen akan bercerita kepada keluarga, tetangga, ataupun temannya.

Khusus sedan, Hendra mengungkapkan bahwa sejak 30 tahun lalu pemerintah menetapkan pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM sebesar 30%. Dari aspek harga, hal tersebut mengakibatkan mobil sedan sulit bersaing di Indonesia. Apalagi, mobil keluarga seperti MPV hanya dikenai PPnBM 10%. Kondisi ini membuat produsen mobil menanfaatkan peluang produk yang pajaknya lebih murah.

Sehingga, seiring dengan berjalannya waktu sejak 20 tahun lalu, pasar sedan makin menyusut. Bila 10 tahun lalu pasar sedan masih tergolong "lumayan", saat ini sedan hanya diminati segelintir segmen tertentu. "Sekarang jualan 100 unit per bulan satu tipe saja sudah bagus sekali," ucapnya.

Faktor harga sangat berpengaruh. Dia mencontohkan, dengan harga yang sama, konsumen bisa mendapatkan jenis mobil dengan tipe lain yang lebih tinggi. Meski begitu, ia menjelaskan, tren demikian hanya ada di Indonesia. Sehingga, untuk mendorong daya saing mobil sedan, ia mengaku, mendengar pemerintah sedang mewacanakan penurunan pajak PPnBM mobil sedan.

Memang, bila ditelisik dari sejarah, menurut Hendra, by nature mobil itu adalah sedan. Baru belakangan ini saja muncul jenis mobil seperti MPV maupun SUV. Dia melanjutkan, kemunculan mobil jenis MPV ataupun SUV lebih merupakan strategi agar produknya dapat bersaing.

Bila kondisi ini terus berlanjut tanpa pembaharuan, maka bisa saja di Indonesia karakternya akan berbeda dengan pasar di negara-negara lain. "Ini bukan jelek, tapi berbeda karakter, karena sedannya kecil sekali pasarnya," ia menerangkan.

Memang, menurut Hendra, 30 tahun lalu, aturan pajak pada sedan untuk membatasi barang mewah. Namun saat ini mobil seperti MPV maupun SUV tidak kalah mewahnya. "Jadi,kalau menurut saya daripada jual sedan 100.000. Ini kan pemerintah bicara target pajak kan. Kenapa pajaknya gak diturunin tapi volume penjualannya meningkat," katanya.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi, mengatakan bahwa secara global, terutama di Indonesia, prinsip utama konsumen sangat concern pada harga. Sehingga, jika barang lebih mahal, maka minat konsumen berkurang.

Mobil tipe sedan di Indonesia harganya relatif tinggi, karena kebijakan perpajakan. Menurut Yohannes, perbedaan pajak yang cukup besar tersebut menyebabkan market mobil sedan sulit tumbuh. "Karena market tidak tumbuh, otomatis pabrikan juga tidak mau bikin di Indonesia," katanya kepada GATRA, Senin siang lalu.

Hal tersebut mengakibatkan mobil sedan yang mengaspal di Indonesia merupakan produk impor. Kondisi ini, menurutnya, tidak bisa dihindari. Karena Itu, ia melihat, dikenakannya pajak PPnBM pada mobil sedan adalah cara berpikir lama.

Akibatnya, kata Yohannes, jika pada 1980-an masih ada lebih dari 15 jenis sedan yang diproduksi di Indonesia, kini pabrik sedan itu sudah tidak ada lagi. "Jadi kalau dulu, kita lihat ada Honda City, Toyota Corolla, ada Mazda, termasuk Suzuki, sekarang itu hilang semua sedan. Jadi pabriknya di Indonesia berhenti," ia mengungkapkan.

Terlebih kondisi saat ini, ia menambahkan, sedan semuanya impor dari negara lain. Apalagi ditambah Indonesia mengikuti Asian Free Trade Agreement (AFTA) yang bila komponen pembuatannya dari dalam negeri mencapai 40%, maka bea masuknya menjadi nol. "Jadi sedan itu tidak bisa bersaing. Kalah dengan MPV maupun SUV dan kendaraan kecil lainnya," ia menambahkan.

Meski begitu, dia melihat, minat konsumen di Indonesia pada sedan relatif masih cukup tinggi. Kondisi tersebut didukung oleh menguatnya ekonomi kelas menengah. Jika GDP per kapita sekarang sebesar US$3.500 hingga US$3.600, tak menutup kemungkinan beberapa tahun ke depan mencapai US$5.000 per kapita.

Bila kondisi demikian tejadi, menurut Yohannes, akan berdampak pula pada konsumen mobil yang akan cenderung memilih mobil sedan. Nah, dia mengkhawatirkan, jika nanti sedan menjadi pilihan kelas menengah yang tumbuh pesat, namun industrinya tidak siap, maka berdampak pada 100% Indonesia akan impor sedan.

Karena Itu, ia mengingatkan, seharusnya pemerintah mulai menumbuhkan kembali industri mobil sedan sejak sekarang. Sehingga harapannya, jika market siap, negara tidak perlu impor. Bahkan kalau perlu industrinya diperkuat, agar Indonesia menjadi salah satu basis ekspor mobil sedan.

Lebih lanjut, Yohannes mengakui jika pasar di Indonesia memang unik, karena tren penjualan sedan di negara lain masih stabil. Walaupun, dia juga tidak memungkiri ada juga beberapa negara yang sudah beralih pada SUV.

Lebih lanjut, dia bilang, tiga bulan pertama tahun ini penjualan mobil secara keseluruhan lebih baik daripada tiga bulan pertama tahun lalu. Dari sisi penjualan didominasi oleh MPV dan SUV. Karena itu, ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih terhadap mobil sedan.

Menurut pengamat otomotif Munawar Chalil, tergerusnya segmen sedan selain lebih disebabakan pajak atau PPnBM sebesar 30%, juga karena faktor fungsi. Rata-rata orang Indonesia mampu membeli mobil di usia lebih dari 30 tahun. Nah, pada saat bersamaan mereka baru memiliki anak satu. Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan kendaraan MPV yang lebih luas.

Selain itu, Munawar menambahkan, kondisi jalan yang masih banyak rusak, menyebabkan konsumen kurang nyaman bila menggunakan sedan. Saat ini, konsumen sedan hanya dari segmen menengah atas.

''Penjualannya stagnan, lihat Mercy, BMW, Lexus angkanya paling 4.000, 5.000, 6.000 tidak jauh-jauh angkanya. Karena kelas atas juga banyak yang beralih ke SUV atau MPV seperti Alphard,'' ujarnya.

Meski begitu, dia melihat tren penurunaan mobil sedan hanya terjadi di Indonesia. Di negara-negara Eropa ataupun Amerika Serikat, penjualan sedan masih stabil, begitu pula dengan Thailand, Filipina, dan Malaysia. Sehingga, dia menganggap pasar Indonesia cenderung unik.

"Lihat saja, Lexus di Indonesia yang laku MPV, padahal Lexus identik dengan sedan. Termasuk Hyundai juga, di negara-negara lain sedan yang nomor satu, tapi untuk di Indonesia dia tidak mengeluarkan sedan," katanya lagi.

G.A. Guritno
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com