Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Liberalisasi Industri Keuangan Cina

Presiden Xi Jinping sesumbar akan membuka sektor finansial Cina hingga sebesar US$40 trilyun. Namun tahun lalu, IMF menyebut investasi berisiko Cina mencapai US$11,9 trilyun. Deregulasi dilakukan dengan melonggarkan investasi asing dan mengetatkan instrumen produk manajemen aset.

Minat memperluas investasi ke Cina dilakukan beberapa perusahaan manajemen aset terkemuka di dunia. UBS Asset Management dan JP Morgan Asset Management Ltd., disebut-sebut siap memublikasikan usaha patungan lokal untuk produk reksadana publiknya. Selain itu, ada pula BlackRock Inc. dan Vanguard Group, yang juga berminat melakukan hal yang sama.

Mereka menyatakan kesiapan berinvestasi dan memperluas pasar di Cina. Kepala Investasi dan Ekuitas Asia Pasifik JP Morgan, Richard Titherington, menyatakan siap menambah jumlah investasi pada saham kategori A dari 134 sektor menjadi 250 sektor. ''Tujuan kami adalah untuk memperluas cakupan ketimbang manajer aset lainnya,'' katanya seperti dilansir Financial Times.

Untuk diketahui, bursa-bursa saham di Cina yaitu Shanghai dan Shenzhen, sebelumnya memberlakukan pembatasan terhadap investasi asing. Saham kategori A, yang berdenominasi renminbi, diperjualbelikan untuk investor lokal saja. Sementara, investor asing hanya diperbolehkan membeli saham berkategori B. Meski telah dibuka untuk investor asing sejak 2003, penjualan saham kategori A, sangat dibatasi.

Pembukaan keran bagi investor asing untuk masuk ke bursa berkategori saham A ini kini makin diperluas. Pada Jumat pekan lalu, Otoritas Sekuritas di Cina, (CSRC) merilis aturan baru tentang manajemen aset. Satu hal yang sangat krusial dan bisa menjadi angin segar bagi manajemen aset adalah ketentuan mengenai kepemilikan saham mayoritas perusahaan investasi asing yang bisa mencapai 59%. Bahkan, dimungkinkan untuk mencapai 100% pada tahun ketiga.

Keputusan tersebut sebagai pemenuhan janji Pemerintah Cina yang menyampaikan rencana itu pada November 2017 lalu. Sebagaimana dilansir South China Morning Post, Presiden Xi Jinping ketika itu menjanjikan bahwa Cina akan membuka sektor finansialnya hingga US$40 Trilyun. Janji itu diulang Jinping dalam pidato di 'Bao Forum for Asia' bulan lalu. Ia mengatakan bahwa Cina akan membuka ekonominya, mulai dari perbankan hingga manufaktur.

Pendiri Firma Riset Z-Ben Advisors di Shanghai, Peter Alexander, menyebut aturan itu sebagai langkah lambat liberalisasi Cina. Selama ini otoritas Cina memang hanya memperbolehkan investor asing sebagai minoritas dalam bisnis manajemen aset tersebut. Hanya ada selusinan manajer investasi yang memiliki izin independen dalam mengoperasikan pendanaan privat orang-orang kaya Cina.

Namun, Alexander memprediksi, reformasi keuangan ini akan meningkatkan investasi dari sekitar US$2 trilyun pada saat ini menjadi US$12 trilyun dalam satu dekade. Sedangkan, untuk wealth management yang di dalamnya termasuk manajemen aset diperkirakan tumbuh menjadi RMB22,2 trilyun atau sebesar US$3,52 trilyun (kurs 1$ = 6,3 yuan) pada akhir 2017. ''Akses hari ini lebih penting daripada masa lalu,'' katanya kepada Wall Street Journal.

Meski membuka investasi ke asing, versi final untuk aturan manajemen aset ini juga menerapkan sistem ketat yang mengekang potensi risiko keuangan. Targetnya adalah membatasi bank untuk berinvestasi pada pendanaan yang berisiko tinggi dan dalam jangka pendek. Aturan ini juga bertujuan untuk mencegah peningkatan risiko tak terduga dari pengetatan, terutama dalam risiko likuiditas.

Aturan tentang manajemen aset yang rancangannya diterbitkan pada November 2017 lalu itu, menutup celah kemungkinan adanya arbitrase peraturan, mengurangi tingkat leverage untuk mengekang peningkatan tak terkendali harga aset, dan mengendalikan kegiatan perbankan bayangan.

Aturan itu sama beratnya dengan batas kapitalisasi lembaga keuangan yang dikelola oleh lembaga keuangan yang tidak berubah. Bank sentral Cina dalam pengumumannya pada Jumat, pekan lalu, juga mengatur tentang batas-batas leverage dan larangan jaminan implisit, sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi risiko keuangan.

Langkah Pemerintah Cina itu dianggap wajar dilakukan. Sebab, sejauh ini, industri keuangan Cina memang sedang dalam tekanan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan.

Tekanan volume perdagangan saham yang lemah dan pasar obligasi yang sedang 'sakit' mengakibatkan penurunan bisnis mereka sejak tahun lalu. Margin lending jatuh, menyentuh level terendah sejak 2013 lalu.

Analis keuangan non-bank di Southwest Securities Beijing, Lang Daqun, mengatakan bahwa pembatasan penjualan saham oleh pemegang saham menyebabkan volume perdagangan saham menjadi lebih rendah. ''Aturan baru manajemen aset juga turut berpengaruh pada sentimen investor,'' katanya.

China Daily menyebutkan, transaksi bank di Cina pada 2017 mencapai RMB250 trilyun atau setara dengan US$39,4 trilyun. Angka itu didapat dari sistem perbankan, pialang sekuritas, trust company, dan perusahaan perwalian. Data bank sentral Cina, The People's Bank of China (PBOC) menyebutkan, total pembiayaan perbankan Cina hingga akhir lalu mencapai angka RMB120,1 trilyun atau naik sebanyak RMB13,5 trilyun (12,7%) dari tahun sebelumnya.

Kinerja itu membuat International Monetary Fund (IMF) ketar-ketir dengan menyebut investasi berisiko Cina tahun lalu mencapai RMB75 trilyun atau US$11,9 trilyun. Pada Desember lalu, IMF meminta sejumlah bank di Cina untuk meningkatkan rasio kecukupan modalnya (CAR) melebihi dari ketentuan Basel III, di mana harus memenuhi modal ekuitas sebesar RMB1,05 trilyun atau US$170 milyar. Ini dilakukan dengan alasan untuk mengantisipasi peningkatan risiko gagal bayar.

Tekanan pada bank untuk meningkatkan modal menjadi elemen kunci bagi upaya Beijing dalam mengendalikan risiko keuangan dari pertumbuhan luar biasa utang negara tersebut dalam satu dekade terakhir. Cina harus memutar otak untuk mencari modal tambahan guna menjaga sektor finansialnya.

Bank Agrikultural Cina, yang berdasarkan asetnya merupakan pemberi pinjaman komersial terbesar ketiga Cina, misalnya, telah meningkatkan ekuitas sebesar US$16 milyar lewat penempatan dana pribadi pada bulan lalu. Namun, analis menilai, tekanan kapital paling akut itu ada pada bank kecil dan menengah yang banyak terlibat di 'perbankan bayangan' atau 'shadow banking'. Golongan ini ada pada produk manajemen aset seperti reksadana dan hedge fund, serta perusahaan pembiayaan atau multifinance.

Menurut data UBS, selama tiga tahun sejak 2014, bank- bank di Cina menaikkan modal saham tambahan sebesar RMB861 milyar. Penggalangan dana ini dilakukan melalui penempatan modal swasta seperti lewat bank-bank kecil regional yang tak terdaftar atau melalui China Development Bank. Bahkan, kurang dari 10% penggalangan dana juga berasal dari enam bank terbesar Cina dengan laba yang cukup tinggi, yang sebagian labanya ditahan untuk meningkatkan stuktur permodalan.

''Anehnya, dengan keminiman asset market di Cina, ternyata sangat mudah untuk merekapitalisasi banyak bank kecil yang tidak terdaftar di Cina,'' kata analis keuangan Asia di UBS di Hong Kong, Jason Bedford. Beberapa dari mereka bahkan melakukan hal itu melalui individu dan bisnis lokal. Ini merupakan potensi bagi investor asing untuk masuk.

Bahkan, Bedford memprediksi, modal lebih besar akan dibutuhkan lagi di tahun-tahun mendatang. ''Ke depan perbankan masih akan butuh modal lebih besar untuk meningkatkan CAR hingga 10 %, tingkatan moderat untuk memenuhi ketentuan Basel III yaitu ,9,5 % bagi bank-bank kecil, yang setidaknya membutuhkan tambahan dana sebesar RMB1,05 trilyun (US$170 milyar),'' ujar Bedford

Analis bank di Nomura Hong Kong, Sophie Jiang, mengatakan bahwa defisit terbesar ada pada bank menengah, seperti Citic Bank, Minsheng Bank dan Ping An Bank. Namun sebagai bank Investasi, Citic Bank termasuk yang memiliki kinerja positif, meski secara global iklimnya melambat.

Tahun lalu, anak usaha perusahaan pelat merah Citic Group tersebut menduduki posisi pertama dengan pendapatan operasional sebesar RMB43,3 milyar atau naik 13,9%. Sedangkan pendapatan bersihnya sebesar RMB12 milyar atau naik 9,1%.

Aturan tentang Basell III sebenarnya sudah diumumkan pada Juli 2012 lalu. Dalam aturan itu, peran yang ketika itu dipegang Komisi Regulator Bank Cina (CBRC) menjadi jalan untuk mengatasi krisis keuangan internasional dan meningkatkan pengawasan keuangan. Namun, pada tahun lalu, CBRC digabung menjadi Komisi Regulator Bank dan Asuransi Cina (CBIRC).

Kepada Reuters, sumber di CBIRC menyebutkan, regulator Cina telah meluncurkan inspeksi nasional ke bisnis bank berisiko. Hal itu, terutama fokus pada pinjaman konsumen dan mortgage. ''CBIRC telah mengerahkan tim pejabat ke bank komersial serta menilai pinjaman bank dan informasi klien,'' katanya.

Upaya keras Jinping untuk menjaga risiko keuangan juga ditempuh lewat jalur hukum. Badan Legislatif Cina menyetujui pembentukan pengadilan khusus di Shanghai dalam menghadapi kasus keuangan, seperti sekuritas, tagihan, pinjaman keuangan, dan kasus administratif. ''Pengadilan akan diresmikan pada akhir Agustus,'' kata pejabat Mahkamah Agung, Lin Wenxue, seperti dilansir Xinhua.

Menurut Presiden Mahkamah Agung Rakyat, Zhou Qiang, pengadilan keuangan itu akan meningkatkan pengaruh keadilan keuangan Cina serta mencegah risiko keuangan. Hal itu membantu obsesi Shanghai untuk menjadi pusat keuangan internasional pada 2020 .

Tahun lalu, pengadilan di Shanghai setidaknya mendapati 179.000 kasus yang berhubungan dengan keuangan. Dari tahun ke tahun, sejak 2013 hingga 2017 lalu, jumlah itu meningkat rata-rata 51%. Selain memiliki pengadilan keuangan di Shanghai, Cina juga memiliki pengadilan perlindungan hak milik intelektual di tiga kota besar sejak 2014 dan pengadilan internet di Hangzhou pada 2017.

Birny Birdieni

+++

Sepuluh Bank Investasi Teratas di Cina Tahun 2017
Nama Bank
Pendapatan Operasional (milyar RMB)
Pendapatan Bersih
(milyar RMB)
Citic Securities
43,3 (naik 13,9%)
12,0 (naik 9,1%)
Haitong Securities
28,2 (naik 0,7%)
9,9 (naik 10,6%)
Guotai
23,8 (minus 7,6%)
10,5 ( turun 7,7%)
GF Securities
21,6 (naik 4,2%)
9,1 (naik 8%)
Huatai Securities
21,1 (naik 24,8%)
9,4 (naik 44,3%)
Shenwan Hongyuan Group
13,4 (minus 9,2%)
4,7 )-14,5)
China Merchant Securities
13,4 (naik 14,2%)
5,8 milyar (naik 7,2%)
Guosen Securities
11,9 (minus 6,5%)
4,6 ( naik 0,5%)
China Galaxy Securities
11,3( minus 14,3%)
4,0 (minus 22,5%)
Sumber Financial Times

+++

Kondisi Perbankan Cina :
- Total Transaksi Tahun 2017 US$39,4 trilyun
- Pembiayaan Tahun 2017 US$19,06 trilyun (naik 12,7%)
- Pembiayaan QI 2018 US$ 19,7 trilyun (naik 12,8%)
- Produk Wealth Management US$3,52 trilyun
- Manajemen Aset 2017 US$ 2 trilyun
- Tahun 2017 investasi berisiko Cina mencapai US$11,9 trilyun.
- Juli 2012 Menerapkan Bassel III dengan kewajiban modal US$170 milyar
Sumber : Bank Sentral Cina (The People's Bank of China), Financial Times, China Daily

+++

Regulasi Manajemen Aset Cina
- Lembaga Keuangan menawarkan imbal hasil dari nilai aset bersih
- Produk Manajemen Aset harus memiliki kedewasaan minimal 90 hari
- Leverage dana publik 140% dan dana pribadi 200%
- Produk Manajemen Aset hanya di satu lapisan investasi.
- Boleh lebih dari satu lapisan bila diinvestasikan pada ekuitas publik
- Investor tidak bisa berinvestasi pada dana dikumpulkan (termasuk pinjaman dan bond) dalam manajemen aset.
Sumber : Gulf Times
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.27 / Tahun XXIV / 3 - 10 Mei  2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com