Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Pasokan Longgar Metanol

Gembong pengoplos minuman keras diduga melakukan pencucian uang di perkebunan sawit untuk menyembunyikan keuntungannya Rp2 milyar per bulan. Bukti lemahnya pengawasan peredaran metanol, campuran miras oplosan yang mematikan.

Ada yang istimewa di rumah dua lantai milik bos minuman keras oplosan, Samsudin Simbolon, di kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di bagian belakang rumah yang bersebelahan dengan kolam renang terdapat sebuah bungker. Dari pantauan wartawan GATRA, Dara Purnama, Kamis pekan lalu, di beberapa sudut ruangan di bungker itu berserakan jeriken biru dan botol minuman. Sejak dua tahun lalu, Simbolon menjadikan ruangan tersembunyi ini sebagai tempat untuk memproduksi minuman keras oplosan yang dia racik.

Simbolon ditetapkan sebagai tersangka kasus minuman keras oplosan yang menewaskan 58 orang. Ia sempat buron dan akhirnya dibekuk polisi saat bersembunyi di perkebunan sawit di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu pekan lalu. Selain Simbolon, polisi menetapkan tiga tersangka yang lain. Mereka adalah Hamciah Manik (istri Simbolon) serta Julianti Silalahi dan Welly (penjual minuman keras oplosan buatan Simbolon).

Minuman keras oplosan yang dikenal dengan sebutan gingseng ini tak hanya dijual di Bandung, tapi juga di beberapa wilayah di luar Bandung. Dari hasil uji laboratorium forensik Polri, kata Kapolda Jawa Barat Inspektorat Jenderal Polisi Agung Budi Maryoto, minuman oplosan Simbolon itu mengandung metanol, senyawa kimia yang mematikan.

Metanol, lanjut Agung, jika diminum akan menyebabkan mata berkunang-kunang, perut mual, muntah, dan sesak napas, bahkan bisa berujung pada kematian. ''Efeknya sangat cepat. Ada yang dalam satu hari langsung meninggal,'' kata Budi saat memberikan keterangan kepada para wartawan, termasuk GATRA, di rumah Simbolon, Kamis pekan lalu.

Kasus minuman oplosan cap Gingseng ini menyedot perhatian publik. Ceritanya, pada awal April lalu, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka mendadak dipenuhi pasien keracunan setelah mengonsumsi minuman keras oplosan. Jumlah pasien itu sebanyak 250 orang.

Tak cuma RSUD Cicalengka yang kebanjiran pasien korban keracunan minuman itu. Beberapa ruang perawatan rumah sakit di sekitar Bandung juga penuh. Tragisnya, puluhan korban meninggal. Setelah diusut oleh polisi, ternyata para korban itu baru saja mengonsumsi minuman keras oplosan cap Ginseng buatan Simbolon.

Pada saat bersamaan, di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Bekasi terdapat pula kasus minuman keras oplosan yang berujung maut. Sebanyak 34 orang meninggal. Polisi telah menetapkan tiga tersangka kasus di Jakarta Timur dan untuk kasus di Jakarta Selatan dan di Bekasi, masing-masing satu tersangka.

Serupa dengan yang ada di Cicalengka, minuman keras oplosan yang beredar ketiga wilayah itu juga mengandung metanol. Hal itu terungkap dari hasil autopsi korban yang meninggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan. ''Dari hasil autopsi Puslabfor, terkait cairan yang masuk ke dalam tubuh korban, hasilnya positif cairan yang mengandung metanol,'' kata Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Polisi Indra Jafar.

Metanol adalah alkohol sintesis. Sejatinya, zat kimia ini untuk keperluan industri, seperti untuk cat, pembersih cat kuku, cairan mesin foto kopi, atau bahan pencampur parfum. Senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH ini sangat terlarang digunakan sebagai bahan makanan dan minuman karena bersifat racun atau toksin. ''Metanol lebih toxic lagi, dapat merusak saraf pusat, saraf mata, hingga akhirnya buta, gangguan fungsi hati, dan kematian,'' kata farmakolog Universitas Indonesia, Jakarta, dokter Nafrialdi kepada Riana Astuti dari GATRA.

Pada umumnya, gejala keracunan itu muncul 30 menit hingga dua jam setelah mengkonsumsi metanol. Gejala berupa mual, muntah, kantuk, vertigo, mabuk, diare, sakit punggung. Setelah melalui periode laten hingga 30 jam, penderita mengalami asidosis metabolik berat, mengalami gangguan penglihatan, kebutaan, kejang, koma, dan gagal ginjal akut. ''Berapa lamanya muncul gejala keracunan, sangat tergantung dari jumlah (dosis metanol) yang diminum,'' kata Nafrialdi. Semakin tinggi dosis, semakin cepat terjadi keracunan.

Metanol dipilih oleh para peracik minuman keras oplosan karena relatif murah. Seliter hanya Rp13.000. Dalam kasus di Cicalengka, pelaku mengoplos metanol, bubuk minuman berenergi, dan tuak atau ciu (minuman keras tradisional). Biaya untuk membuat 24 botol (satu kardus) hanya Rp40.000. Pelaku menjualnya Rp279.000 per kardus. Keuntungan Rp230.000 per kardus.

Dari hitung-hitungan polisi, Simbolon meraup untung Rp2milyar per bulan. Karena itu, tak mengherankan bila dalam dua tahun menjalankan bisnis minuman itu, Simbolan mendadak menjadi tajir. Ia memiliki rumah mewah di Cicalengka yang juga digunakan sebagai pabrik mirasnya. Simbolon juga memiliki perkebunan sawit di Sumatera Selatan. Luas lahan kebun itu 29 hektare. Padahal sebelumnya, ia adalah supir angkot yang tinggal di rumah kontrakan.

Polisi menduga, rumah dan perkebunan sawit itu dibeli Simbolon dari hasil bisnis minuman keras oplosan. Karena itu, polisi juga membidik Simbolan dengan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU). '' Iya, nanti ini akan dikembangkan. Ini sedang dikalkulasi dan dikembangkan ke TPPU-nya,'' kata Wakapolri, Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin, kepada GATRA.

Selain murah, metanol menjadi pilihan peracik minuman keras karena mudah didapat. Menurut sumber GATRA yang mengenal dekat dengan kehidupan para peracik itu, para peracik membeli metanol di toko bahan kimia. Pihak toko membatasi pembelian paling banyak satu liter. ''Supaya penjual tidak curiga, kalau ingin beli banyak, yang beli orangnya gantian. Kalau ditanya metanolnya untuk apa, jawab saja untuk membersihkan kloset,'' kata sumber GATRA.

Sebagai bahan beracun dan berbahaya, peredaran metanol. ada regulasinya. Pertama, Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 14 Tahun 2016 tentang Standar Keamanan dan Mutu Minuman Beralkohol. Dalam peraturan itu disebutkan, batas maksimum kandungan metanol dalam minuman beralkohol tidak melebih 0,01 % v/v (dihitung terhadap volume produk). Bila kandungan metanolnya melebihi batasan itu, minuman tersebut dianggap sebagai pangan tercemar.

Kedua, Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengawasan, Pengendalian, dan Pengamanan Bahan Peledak Komersial. Peraturan itu memasukkan metanol dalam kelompok bahan kimia berbahaya yang peredarannya wajib diawasi. Sebab, metanol merupakan bahan kimia yang dapat disalahgunakan sebagai bahan peledak atau reduktor.

Menurut Deputi Bidang Penindakan BPOM, Hendri Siswadi, 'minuman keras' oplosan tidak termasuk minuman keras tapi minuman beracun. Sebab pelaku dengan sengaja membuat minuman yang isi kandungannya beracun membahayakan untuk dikonsumsi. Hal itu, antara lain, dengan memasukkan metanol minuman yang dioplos. ''Pelaku membuat minuman ini dengan kesengajaan dan sudah mengetahui isi kandungan berbahaya,'' kata Hendri.

Penjualan metanol diawasi oleh BPOM. Namun, menurut Hendri, BPOM hanya bertugas mengawasi penjualan metanol di apotek dan rumah sakit. Pengawasan itu belum sampai pada penjualan metanol di toko kimia. ''Untuk mengetahui dari mana pelaku mendapatkan metanol, kami masih menunggu hasil pemeriksaan polisi,'' terangnya.

Sementara itu, dalam kasus minuman keras oplosan di Jakarta Selatan, juru bicara Polres Jakarta Selatan, Komisaris Polisi Puwanta mengatakan, penyidikan masih fokus pada para pelaku, belum sampai ke pemasok metanol. Polisi, katanya, dapat mengawasi dan menindak penjual metanol dengan merujuk pada Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2008. ''Pasti kena (pidana). Untuk membongkar rantai pasok (metanol), polisi memerlukan keterangan tersangka, serta pelaporan masyarakat,'' kata Puwanta kepada GATRA.

Kasus minuman keras oplosan sudah sering terjadi. Namun selama ini, menurut Wakapolri, Komisaris Jenderal Polisi Syafruddin, kasus itu tidak menjadi perhatian publik karena dianggap kasus biasa. Jumlah korban yang meninggal juga tak terlalu banyak. Pemberitaan oleh media massa juga tidak terlalu besar. Namun, kali ini kasus itu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Jumlah korban meninggal cukup banyak. ''Total korbannya ratusan orang dan yang meninggal sampai lima puluhan orang. Itu menjadi opini besar bahkan opini dunia,'' ujarnya.

Syafruddin telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran kepolisian di tingkat polda dan polres untuk merazia besar-besaran peredaran minuman keras. Ia akan memberikan saksi tegas kepada pimpinan polda dan polres yang ogah-ogahan menjalankan instruksi itu. Sanksi itu dicopot dari jabatannya. ''Saya enggak peduli, pokoknya saya ganti. Saya enggak peduli kalau saya udah ngomong ganti ya ganti benaran,'' katanya.

Sujud Dwi Pratisto, Anthony Djafar, Andihika Dinata, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)

+++

Sebaran Kasus Minuman Keras Oplosan
Lokasi : Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
Korban meninggal : 58 orang
Tersangka : Samsudin Simbolon (peracik dan pemilik industri minuman keras oplosan) Hamciah Manik (istri Simbolon) Julianto Silalahi (penjual) Welly (penjual)

- - -

Lokasi : Jagakarsa, Jakarta Selatan
Korban meninggal : 16 orang
Tersangka : Rizal Sopian (peracik dan penjual)

- - -

Lokasi : Duren Sawit, Jakarta Timur
Korban meninggal : 10 orang
Tersangka : BOT (peracik dan penjual) DW (peracik dan penjual) ZL (peracik dan penjual)

- - -

Lokasi : Bekasi, Jawa Barat
Korban meninggal : 8 orang
Tersangka :
Untung Husein Wargono (peracik dan penjual)

= = =

Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2016 tentang Standar Keamanan dan Mutu Minuman Beralkohol Pasal 5 Batas maksimum kandungan Metanol dalam Minuman Beralkohol adalah tidak lebih dari 0,01 % v/v (dihitung terhadap volume produk).
Pasal 7 Minuman beralkohol yang melebihi batas maksimum kandungan metanol, cemaran mikroba, cemaran kimia, dan/atau batas maksimum penggunaan bahan tambahan pangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6 dinyatakan sebagai pangan tercemar.

= = =

Peraturan Kapolri Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengawasan, Pengendalian, dan Pengamanan Bahan Peledak Komersial

Pasal 1 3.
Bahan Kimia berbahaya adalah bahan kimia atau sesuatu, baik dalam keadan tunggal maupun campuran yang bersifat memencarkan radiasi, mudah meledak (termasuk cairan atau gas yang dimampatkan), mudah menyala atau terbakar, oksidator, reduktor, racun, korosif, menimbulkan iritasi, sentilisasi, luka dan nyeri, menimbulkan bahaya elektronik, karsinogenik dan mutagenik, etiologik/biomedik dan berbahaya lain-lain yang ditetapkan.

Pasal 6
Bahan kimia yang dapat dirakit menjadi bahan peledak dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: a. oksidator; b. reduktor; c. bahan tambahan sebagai katalisator.

Pasal 8
Reduktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf b, adalah bahan kimia yang bersifat menarik oksigen atau memerlukan oksigen dalam proses peledakan atau pembakaran, antara lain metanol.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com