Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

BUKU

Argumen Kesatuan Tauhid dan Sains

Paparan Al-Ghazali dinilai mampu mempertemukan teologi dan sains dalam satu bahasan. Menjawab tuntutan atas penyediaan buku rujukan bagi filsafat sains, epistemologi Islam, serta relevansi tradisi pemikiran Islam.

Judul : Kausalitas: Hukum Alam atau Tuhan? Membaca Pemikiran Religio-saintifik Al-Ghazali
Penulis : Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.
Penerbit : UNIDA Gontor Press dan INSISTS, Ponorogo dan Jakarta, 2018, xiv + 356 halaman
____________________________________________________________________________

Pertentangan antara sains dan agama adalah isu klasik yang tak berujung. Sains modern kerap ditempatkan terpisah dari agama (Tuhan). Masalahnya, bagaimanakah kaum beragama dapat berfikir saintifik dan sekaligus percaya kepada Tuhan.

Di antara pemikir muslim yang mencoba menjawab pertanyaan itu adalah Syed Muhammad Naquib al-Attas. Sejak 1970-an ia menawarkan proses integrasi sains dan Islam melalui konsep "islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer". Islamisasi adalah menyatukan atau memasukkan konsep-konsep sains modern yang kompatibel dengan Islam ke dalam ranah worldview Islam. Wacana ini diikuti John F. Haught (1995) dengan teori konfirmasinya dan Ian G. Barbour (2000) dengan wacana integrasinya. Tapi, buku ini boleh dianggap sebagai praktik islamisasi yang sekaligus mencakup integrasi dan bahkan lebih jauh dari sekadar konfirmasi.

Memang, sejak zaman Yunani hingga zaman modern, hubungan sebab-akibat pada alam semesta dianggap ''hukum alam'' yang pasti dan tanpa campur tangan Tuhan. Anggapan ini kemudian menjadi teori yang universal dan menjadi asas penelitian sains modern.

Bagi orang beriman, penjelasan itu menyisakan pertanyaan tentang peran Tuhan dalam setiap peristiwa alam. Apakah hubungan Tuhan dengan alam dan manusia? Apakah kejadian di alam semesta ini--termasuk kausalitas--terjadi tanpa campur tangan Tuhan?

Sumber pertanyaan itu ada pada konsep Tuhan. Sebab apa pun keyakinan orang tentang Tuhan akan membawa konsekuensi konseptual dalam memahami kausalitas pada fenomena alam (hlm. 9).

Tuhan bagi Al-Ghazali dan penganut Sunni yang lain, adalah pelaku yang selalu berkehendak dan mengetahui atas apa yang Dia kehendaki. Maka, kausalitas terjadi karena kehendak Tuhan, sesuai dengan qada, qadar, dan hukum-Nya: sunnatullah (hlm. 246). Tapi kehendak Tuhan tidak sewenang-wenang. Hukum-hukum itu telah dirancang dengan baik, bijaksana, dan adil. Hukum-hukum itulah yang sejatinya menjadi fakta sains. Sebab, dari pemahaman terhadap hukum-hukum kausalitas itulah akhirnya manusia menemukan fakta sains (hlm. 252). Jika hukum-hukum itu difahami sebagai sunnatullah, manusia bisa mengembangkan sains tanpa sedikit pun menghilangkan kesadaran ilahiahnya, bisa berfikir tanpa kehilangan imannya.

Tidak sekadar dari konsep Tuhan, penulis buku ini mengelaborasi lebih lanjut konsep kausalitas Al-Ghazali dari konsepnya tentang realitas dan pengetahuan. Realitas (wujud) mutlak adalah Tuhan, selain Tuhan adalah realitas fana (wujud nisbi) yang senantiasa bergantung pada-Nya. Jadi, realitas atau wujud itu memiliki tingkatan-tingkatan, dari lauh mahfuz sampai realitas material dan mental.

Dalam masalah penciptaan, Al-Ghazali sepakat dengan kalangan Asya'irah dan Mu'tazilah yang menggunakan teori atom. Mereka berpendapat bahwa ontologi makhluk adalah susunan unsur-unsur tak terbagi (átomos) dan aksiden yang tercipta dan musnah sebelum dua unit waktu. Eksistensi makhluk itu tergantung pada penciptaan aksiden yang terus menerus pada atom-atom tersebut. Jika Tuhan hendak memusnahkan sesuatu, aksiden pada atom itu dihilangkan. Demikianlah Tuhan selalu memusnahkan dan menciptakan-kembali secara berulang-ulang--continuous process of creation and annihilation (hlm. 159-166). Meski begitu Al-Ghazali tidak sepakat dengan mereka yang menolak kausalitas.

Al-Ghazali menerima pandangan para filosof bahwa kausalitas itu ada, meski tidak pasti. Hanya saja, pengetahuan tentang (kausalitas) alam dan manusia harus berlandaskan pengetahuan tentang Tuhan. Sebab pengetahuan dari wahyu dapat mengantarkan manusia memperoleh kepastian sekaligus menghilangkan keraguan. Tanpa bantuan wahyu dan pengetahuan tentang wujud ilahi kepastian pengetahuan rasional atau filosofis tidak ada nilainya (hlm. 217).

Penulis membuktikan bahwa pemikiran Al-Ghazali ini adalah rumusan yang baik tentang persoalan sains dari perspektif worldview Islam atau penjelasan tentang isu epistemologis dari perspektif teologis. Inilah yang dimaksud Ian G. Barbour dengan integrasi itu.

Apa signifikansi penerbitan buku ini bagi kebutuhan dunia keilmuan sekarang? Setidaknya ada tiga hal terpenting untuk menjawab itu. Pertama, penulis berhasil membuktikan kesatuan teologi dan sains dalam pemikiran Al-Ghazali. Sehingga, ketika kaum beriman berfikir saintifik ia tidak perlu khawatir kehilangan imannya. Ini penting di tengah kegamangan kaum beragama yang menolak mentah-mentah fakta sains karena takut mengganggu imannya, atau kaum agamawan yang menerima fakta sains tapi meninggalkan agamanya.

Kedua, buku ini menjadi jawaban atas tuntutan penyediaan buku rujukan bagi filsafat sains, epistemologi Islam, dan relevansi tradisi pemikiran Islam. Buku ini bisa dinilai sebagai buku yang ''berat'', tapi hanya dengan penjelasan seperti ini saja, filsafat sains dan epistemologi Islam dapat disampaikan dengan benar, tanpa kehilangan substansi. Apalagi tuntutan tersebut rata-rata muncul dari kalangan muslim terdidik yang mengenyam pelbagai teori dan metodologi sains di ruang-ruang akademis.

Ketiga, penulis berhasil memperbaiki beberapa kesalahpahaman (atau penyalahpahaman?) atas sosok Al-Ghazali oleh beberapa pengkajinya. Bab V buku ini secara khusus menguraikan dan meluruskan kesalahpahaman Ibn Rusyd, tokoh penting dalam filsafat Islam. Pada masa modern, ada beberapa orientalis yang menuduh Al-Ghazali sebagai penyebab kemunduran peradaban Islam karena konsep kausalitasnya dianggap penolakan mutlak terhadap sains. Kajian orientalis tentang konsep kausalitas Al-Ghazali dikritik penulis di antaranya Majid Fakhry, Carol Lucille Bargeron, dan William J. Courtneway. Mereka pada umumnya menganggap Al-Ghazali hanya berupaya menjustifikasi rasionalitas mukjizat kenabian.

Ismail Al-'Alam,
Staf INSISTS, penulis NuuN.id, dan pengkaji filsafat

+++

Public Relations 4.0
Judul : Public Relations in the Age of Disruption
Penulis : Agung Laksamana
Penerbit : B first (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta, Februari 2018, xxvi + 214 halaman

Peran public relations (PR) sesungguhnya tak hanya membangun hubungan dengan masyarakat atau sekadar menjaga hubungan baik dengan wartawan agar sewaktu-waktu dapat mengundang mereka hadir dalam konferensi pers. Begitu juga, tak sekedar mencegah supaya tidak ada berita negatif tentang perusahaan. PR sesungguhnya memiliki fungsi strategis dalam organisasi atau perusahaan. PR adalah ''penasihat yang dapat dipercaya'', baik oleh klien maupun perusahaan (halaman 63-64).

Dunia PR sudah berkembang jauh dan sudah sangat kompleks. Berbekal pengalaman selama 25 tahun di bidang kehumasan, penulis dengan lugas memaparkan apa saja tantangan PR ''zaman now''. Proefesi yang kerap dianggap kekinian dan superfun ini sesungguhnya terdaftar sebagai Top 10 Most Stressful Job oleh CareerCast.

Rhenald Kasali sekali waktu mengatakan, sekitar 70% kegiatan humas merupakan aktivitas tulis-menulis. Tak mengejutkan ketika mendapati fakta bahwa buku ini sangat mudah dipahami. Penulis menggandeng pula 17 profesional PR untuk turut menyumbang analisis di sini. Ke-17 topik yang dipaparkan dilengkapi dengan tip karier. Buku yang sangat berharga bagi siapa saja yang berkecimpung atau berencana untuk menjadi seorang PR.

Flora Libra Yanti

+++

Asa Kedaulatan Pangan
Judul : Berebut Makan: Politik Baru Pangan
Penulis : Paul McMahon Penerjemah : Roem Topatimasang
Penerbit : INSISTPress, Yogyakarta, Desember 2017, viii + 370 halaman

Cara pandang membaca buku ini adalah kesadaran bahwa pangan yang kita konsumsi sehari-hari merupakan hasil rantai komoditas yang panjang. Mulai dari produksi, sirkulasi, hingga konsumsi pada skala dunia.

Rezim pangan macam inilah yang lantas diubah menjadi urusan politik yang bahkan bertarung dalam konteks global. Pencaplokan lahan besar-besaran, harga-harga bahan pangan yang terus naik, serta perlombaan untuk menguasai sumber-sumber pasokan yang kian langka hanya segelintir masalah yang terjadi di rezim pangan.

Buku ini aslinya menggunakan judul Feeding Frenzy. Metafora tersebut menggambarkan situasi saat sekelompok pemangsa kalap menghadapi berlimpahnya makanan. Saking kalapnya, ia juga menggigit pemangsa lain, sesamanya. Dengan kata lain, istilah ini bisa pula dipakai saat pemangsa saling melukai karena saling berebut makanan. Hal yang tidak mustahil mengingat fakta bahwa 9 milyar orang, pada 2050, kelak terdiri atas mayoritas penduduk kota dan bukan penghasil makanan.

Bagaimana kisah ini akan berakhir? Geopolitik pangan abad ke-21 sungguh bikin hati kecut. Penulis ternyata tak putus asa. Ia menawarkan empat solusi yang dibahas dengan mendalam di bab penutup.

Ide-ide ini makin mudah pula dipahami karena penerjemah menyertakan sejumlah catatan kaki untuk menjelaskan konteks dan keterangan tambahan. Hasilnya, buku setebal 370 halaman ini padat dan penuh "gizi". Semacam empat sehat, lima sempurna, paparannya variatif, komplet, dan lengkap.

Flora Libra Yanti

+++

Rekonsiliasi adalah Kunci
Judul : Jangan Putus Asa: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya
Penulis : Hasibullah Satrawi
Penerbit : Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Jakarta, Februari 2018, xx + 226 halaman

Penulis adalah salah satu pendiri Aliansi Indonesia Damai (AIDA), organisasi yang bertekad mendamaikan hubungan para korban dan mantan pelaku terorisme. Alhasil, buku ini secara harfiah memaparkan sudut pandang kedua belah pihak. Pertemuan dengan para kombatan, meruntuhkan skeptisismenya bahwa mereka sulit berubah. Perjumpaan dengan korban mendorongnya untuk mendukung agar hak-hak korban dipenuhi negara.

Selalu ada keunikan dalam latar belakang seseorang yang bergabung atau divonis sebagai seorang teroris. Meski demikian, faktor kunci adalah penggunaan ajaran keagamaan tertentu sebagai pembenar atas aksi yang mereka pilih ini: jihad, mati syahid, dan sebagainya. Maka, dalam buku ini, penulis pun menyodorkan sejumlah ayat Al-Quran yang menjunjung perdamaian.

Ibroh adalah bahasa Arab yang bermakna pembelajaran. Kisah pamungkas yang dipaparkan penulis adalah cerita derita yang dialami Nabi Yusuf AS. Bahkan lewat segala keterpurukan yang ia alami pun, ia dapat memetik ibroh. Demikian pula dengan para korban dan pelaku terorisme. Kedua pihak beroleh ibroh kehidupan dari orang-orang yang meminta maaf dan memaafkan.

Flora Libra Yanti

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com