Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PERJALANAN

Taman Bumi Indonesia: Melestarikan Alam sambil Menuai Rupiah

Geopark Rinjani dan Ciletuh akhirnya masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark. Menjadi tantangan bagi pemerintah untuk menjaga dan mengelolanya.

Indonesia boleh berbangga. Pada pekan lalu, Taman Bumi Rinjani dan Ciletuh masuk ke dalam daftar UNESCO Global Geopark. "Sudah ditetapkan pada sidang UNESCO Executive Board di Paris," kata General Manager Geopark Rinjani, Chairul Mahsul, dalam siaran tertulis yang diterima GATRA.

Penetapan itu akan dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat UNESCO Global Geopark secara resmi pada September 2018 di Italia, dalam acara konferensi internasional UNESCO Global Geopark. Dengan pengakuan itu, Indonesia secara resmi memiliki empat geopark yang berstatus UNESCO Global Geopark, yaitu Geopark Batur, Sewu, RInjani, dan Ciletuh.
Bila diurutkan, Geopark Batur adalah yang pertama kali mendapat status UNESCO Global Geopark, pada 2012. Lalu Geopark Sewu pada 2015, dan kini Geopark Rinjani dan Ciletuh pada 2018.

Apa keuntungan berstatus UNESCO Global Geopark? Yang jelas soal promosi. Sebab, dengan menjadi anggota UNESCO Global Geopark, berarti UNESCO akan turut mempromosikan geopark tersebut sebagai salah satu destinasi taman bumi berkelas internasional. "Branding wisata alam geopark Indonesia akan makin dikenal dunia setelah diakui oleh UNESCO," kata Menteri Pariwisata, Arif Yahya.

Sudah banyak contoh betapa status UNESCO Global Geopark bisa menggenjot jumlah wisatawan yang berkunjung. Misalnya Geopark Yuntaishan di Provinsi Henan, Cina. Pada 2000 itu hanya geopark biasa. Tapi pada 2003, setelah meraih status UNESCO Global Geopark jumlah wisatawan di Geopark Yuntaishan meningkat sampai 60% daripada tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Biro Geopark Kementerian Pertanahan dan Sumber Daya Cina, Han Yueping, ketika itu Geopark Yuntaishan bahkan meraup pendapatan sampai 6,21 juta yuan atau setara Rp12,6 miliyar. "Warga sekitar juga makin melindung hutan sekitar mereka setelah menyadari pariwisata geopark memberikan keuntungan ekonomi," katanya seperti dilansir koran Partai Komunis Cina, The People's Daily.

Meski demikian, prospek peningkatan pariwisata itu tidak boleh membuat Indonesia lengah. Sebab status UNESCO Global Geopark ditinjau ulang tiap empat tahun sekali. Bila pemerintah Indonesia tidak mampu menjaga atau mengelola keempat geopark tersebut berdasarkan standar internasional UNESCO, status itu bisa dicabut.

Geopark Rinjani memang sangat layak menjadi destinasi wisata internasional. Geopark yang luasnya hampir setengah Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini terbentuk dari letusan dahsyat Gunung Samalas yang pada abad ke-12 akhirnya membentuk sebuah kaldera. Babad Lombok bahkan menuliskan: "gempa selama tujuh hari, penduduk mati" akibat letusan dahsyat itu.

Letusan Gunung Samalas--yang diperkirakan memiliki ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut--memang demikian dahsyat sehingga tubuh gunung itu seperti "habis". Sisanya adalah Gunung Rinjani saat ini.

Tapi letusan dahsyat pada abad ke-12 itu juga membawa berkah tersendiri. Segara Anakan, salah satu danau vulkanis yang merupakan salah satu daya tarik utama Rinjani, juga terbentuk dari letusan itu. Selain itu, posisi Rinjani yang berada di garis Wallacea juga membuatnya menjadi lokasi pertemuan flora dan fauna tropis khas Benua Asia dan Australia.

Heterogenitas ini juga merupakan keunggulan Geopark Rinjani. Geopark Ciletuh, sebaliknya, memiliki keunggulan berbeda. Geopark yang ada di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ini termasuk geopark baru. Ia baru diresmikan pada 2015 lalu. Jadi, tidak mengherankan kalau masih belum banyak warga yang mengenal keindahannya. Padahal, geopark ini terbilang sangat unik. Geopark Ciletuh terbentuk sekitar 30 juta tahun silam, seiring dengan pembentukan Pulau Jawa.

Ketika itu lempeng Eurasia dan Australia bertumbukan hingga terangkat dan membentuk kawasan pegunungan di Jawa Barat. Namun, salah satu dataran tinggi pegunungan itu ambruk sehingga membentuk sebuah lembah dengan tebing-tebing tinggi di sekelilinginya. Lembah itu berbentuk setengah lingkaran, menyerupai tapal kuda dan memiliki diameter sampai 15 kilometer.

Lembah ini populer disebut ''amfiteater Ciletuh'', karena bentuknya memang seperti amfiteater di zaman Yunani kuno tempat orang menyaksikan pertunjukan drama. Panggung teater yang terbentuk secara alamiah dari runtuhnya dataran tinggi (plato) inilah yang membuat para peneliti geopark UNESCO kepincut.

Plato yang rubuh 30 juta tahun silam itu--dinamai Plato Jampang--merupakan satu dari dua plato di Pulau Jawa. Plato lain yang juga terbentuk dari proses serupa (tapi tidak rubuh) adalah Plato Dieng, yang membentuk kawasan pegunungan Dieng di Jawa Tengah.

Selain amfiteater Ciletuh, daya tarik lain dari Geopark Ciletuh adalah sembilan air terjun yang juga ada di kawasan tersebut. Itulah yang menjadikan Geopark Ciletuh sangat menarik sebagai destinasi wisata.

''Pengakuan UNESCO tersebut perlu disyukuri dan menjadi peluang bagi masyarakat di wilayah selatan Sukabumi untuk mengubah cara berpikir. Karena pengakuan dari UNESCO akan berdampak pada banyaknya kunjungan wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Ini karena UNESCO akan memublikasi ke seluruh jaringannya,'' tutur Marwan Hamami, Bupati Sukabumi, kepada GATRA.

Masuknya Geopark Ciletuh dan Rinjani ke dalam daftar UNESCO Global Geopark jelas menambah jumlah destinasi wisata internasional geopark di Indonesia. Setelah Geopark Batur di kawasan Kintamani, Bali (yang terkenal dengan taman vulkanologinya) dan Geopark Sewu di Yogyakarta yang terdiri dari 40.000 bukit kapur karst, Geopark Rinjani dan Ciletruh menyusul menjadi harta baru dunia dari Indonesia.

Basfin Siregar dan Nur Hidayat

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com