Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Menyoal Pengetahuan Dokter tentang Opiat

Hasil survei menunjukkan pengetahuan dokter spesialis tentang opiat belum optimal. Ketatnya persyaratan pemberian obat menjadi penghambat.

Kondisi Wahyuni, 60 tahun, membikin hati miris. Ia selalu mengerang menahan nyeri. Rasa nyeri tersebut muncul secara tiba-tiba ketika keluar cairan dari vagina. Nyeri bisa menjalar sampai punggung, bahkan tulang. Anak-anaknya sampai tak tega melihatnya. ''Terkadang sampai tidak bisa tidur,'' kata Intan, salah satu anaknya.

Namun toh, Intan tak bisa berbuat banyak. Ia hanya memberikan ibunya obat-obatan herbal. ''Agak enakan dan rasa nyeri berkurang. Namun semakin lama stadium jadi meningkat,'' ujarnya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA lewat telepon seluler, Kamis pekan lalu.

Warga Yogyakarta itu terkena kanker serviks sejak 8 tahun silam. Awal mulanya, ibu tiga anak tadi kerap mengalami perdarahan. Di bagian bawah perutnya terasa nyeri yang tak tertahankan. Semula, ketika dibawa ke dokter masih stadium awal. Sayangnya, Wahyuni memilih pengobatan herbal untuk mengatasi penyakitnya. Tak mengherankan kalau penyakitnya tak teratasi, dan sebaliknya malah mengganas. Kini, kata Intan, kanker serviks itu sudah menyebar ke organ-organ lainnya.

Opiat adalah obat yang digunakan dokter untuk mengatasi rasa nyeri yang kerap dialami pasien kanker stadium lanjut. Namun, penggunaannya pada nyeri kanker, kata Lenny Indrayani--salah satu peneliti lulusan S-3 di Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia--masih terbilang rendah. Pertumbuhan konsumsi opiat hanya 0,06 miligram (mg) per kapita pada 2002. Satu dekade kemudian hanya meningkat menjadi 0,32 mg per kapita.

Dalam penelitian Lenny yang dimuat Indonesian Journal of Cancer terbaru, ia bekerja bareng dengan dokter-dokter lain, seperti Rianto Setiabudy, Cosphiadi Irawan, dan Vivian Soetikno. Dalam artikelnya disebutkan bahwa opiat merupakan obat terpilih untuk penatalaksaan nyeri kanker.

Berdasarkan panduan Organisasi Kanker Dunia (WHO) pemberian analgesik dengan morfin dianggap sebagai gold standar terhadap terapi nyeri hebat pada pasien kanker. ''Tetapi 50%-70% penatalaksanaan nyeri kanker tidak optimal,'' tulisnya dalam artikel itu. Ketidakoptimalan Ini mengakibatkan pasien bisa dirugikan. Pasien makin menderita dan kualitas hidupnya. Keluarganya pun terpengaruh.

Pemberian analgetik yang tidak adekuat akan mengakibatkan konsekuensi yang merugikan, khususnya mengganggu kualitas hidup dan penderitaan bagi pasien serta keluarganya. Penanganan nyeri kanker yang tidak memadai disebabkan adanya hambatan pada penggunaan opiat. Hambatan-hambatan itu, kata Lenny, bersifat multifaktor, antara lain pasien menyembunyikan keluhan nyeri dari dokter, ketersediaan opiat yang tidak merata, serta pengetahuan dan pemeriksaan nyeri yang tidak tepat.

Menurut Lenny, pengetahuan dokter tentang penanganan nyeri kanker tidak adekuat merupakan faktor yang banyak menyebabkan penggunaan opiat tidak optimal. Keadaan ini mengakibatkan banyak pasien kanker meninggal dalam penderitaan karena nyeri.

Karena itu, ia dan koleganya melakukan studi mengenai tingkat pengetahuan dokter terhadap obat keras ini. Ia melakukan studi terhadap dokter spesialis yang berpraktik di tiga rumah sakit umum milik pemerintah pusat dan daerah di Jakarta dan satu rumah sakit swasta di Tangerang. Dalam penelitian yang berlangsung pada November 2016-2017, peneliti menyebar 146 kuesioner yang bersifat rahasia kepada dokter yang masing-masing mendapat satu kuesioner. Dari jumlah tersebut, yang dikembalikan kepada peneliti sebanyak 103 kuesioner (70,5%) .

Satu kuesioner berisi 20 pertanyaan, antara lain mengenai pengetahuan dokter dalam pemilihan obat, pemberian obat, dosis obat, efek samping obat, dan pengetahuan tentang ketagihan akibat pemakaian opiat.

Sebagian besar dokter sudah menangani pasien lebih dari 6 bulan dan sebagian sudah mengikuti pelatihan lebih dari 5 tahun. Adapun dokter spesialis yang terlibat dalam studi ini, antara lain dokter penyakit dalam, dokter anestesi, dokter bedah onkologi, dan dokter radioterapi onkologi.

Dari situ peneliti menganalisis jawaban para dokter. Walhasil, mayoritas responden kurang pengetahuan tentang opiat (69,9%). Tidak memadainya pengetahuan tersebut sebagian besar terletak pada pemilihan opiat (70,55%), sedangkan yang terendah pada efek samping opiat (47,56%) dan pengetahuan baik pada jawaban terhadap pemberian obat (81,6%).

Hasil lainnya memperlihatkan tingkat pengetahuan yang benar tidak berkaitan secara bermakna dengan lamanya menangani pasien dan spesialisasi yang disandangnya. Tetapi ada hubungan bermakna pengetahuan mereka tentang opiat dengan pelatihan. Pengetahuan mereka yang buruk terhadap opiat lebih terdapat pada dokter yang belum dan baru sebentar menjalani pelatihan.

Yang juga disorot Lenny cs adalah soal rendahnya pemakaian opiat untuk penanganan nyeri. Menurutnya, obat ini bermanfaat bagi pasien. Tapi, dokter enggan meresepkannya karena khawatir terhadap efek sampingnya seperti depresi pernapasan sehingga pasien sulit bernapas. Persentasenya sebanyak 62,1%. Faktor yang lain yaitu ketatnya persyaratan pemberian opiat dan tidak meratanya persediaan opiat di rumah sakit.

Hasil tersebut tentu memprihatinkan. Sebab, pengetahuan yang salah mengenai opiat bisa berpengaruh pada pemberian obat dan berdampak pada penderitaan pasien. Pasien yang semestinya diberi morfin, misalnya, malah dikasih meperidin yang efeknya kurang kuat. Akibatnya, nyeri itu tidak hilang.

Menanggapi hal itu, Cosphiadi mengakui, banyak dokter yang menjadi objek penelitian ternyata tidak cukup adekuat dalam memiliki informasi mengenai morphin atau opiat. Hal ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari penyediaan obat, distribusi, izin pemberian, hingga akhirnya ada kecenderungan terbatas terutama pada dokter-dokter yang berhubungan langsung dengan pasien. ''Dokter-dokter di tingkat pertama dan kedua kadang jarang terekspos, jadi kompetensinya berkurang karena itu,'' ujarnya kepada GATRA.

Chospiadi bilang, opiat hanya digunakan untuk pasien-pasien kanker yang mengalami nyeri hebat dengan indeks 7 ke atas. Opiat aman bila digunakan untuk pasien kanker dan diberikan secara bertahap-asalkan tidak ada gangguan pada ginjal, hati, dan pernapasan. ''Kalau pun ada gangguan harus diatur dosisnya. Selama 10 hari penggunaan masih aman,'' ujarnya.

Menurut farmakolog dari FKUI, Nafrialdi penggunaan opiat tergantung pada kondisi pasien. Bila merasakan sakit berlebihan contohnya setelah operasi atau menderita kanker, perlu segera diberi opiat. Hal ini guna mengurangi rasa nyeri sehingga pasien tidak merasakan sakit berlebih. ''Opiat bekerja mengurangi nyeri itu dengan menekan pusat-pusat nyeri di otak sehingga orangnya enggak nyeri lagi,'' katanya kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA, Kamis pekan silam.

Menurutnya, jika diberikan kepada penderita nyeri dan dosisnya sesuai dengan petunjuk dokter, tidak akan bermasalah. Pemakaiannya tergantung pada tingkatan kenyeriannya. Adapun beberapa jenis obat yang tergolong opiat adalah morfin, fentanyl, dan yang lebih ringan lagi adalah kodein. ''Untuk pasien kanker, penghilang nyeri yang paling kuat itu ya morfin,'' kata Nafrialdi.

Meskipun begitu, terdapat beberapa efek samping bila dikonsumsi oleh orang sehat, apalagi jika penggunaan terlalu banyak. Hal itu dapat menimbulkan ketergantungan. Selain itu, efek sampingnya, napas dan denyut nadinya terganggu. Maka, ada batasan dan khusus berdasarkan resep dokter.

Aries Kelana dan Umaya Khusniah

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com