Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Ramai-ramai Berinvestasi Energi Matahari

Semakin terjangkaunya harga panel surya, maka seharusnya lebih mudah untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan. Butuh perlakuan istimewa melalui regulasi agar masyarakat mau berinvestasi.

Bagi Bambang Sumaryo, 62 tahun, menggunakan energi matahari sebagai sumber listrik sama seperti berinvestasi. Bambang telah memasang instalasi panel surya di rumahnya selama enam tahun terakhir. Ia mengaku telah berhemat 80% rata-rata penggunaan listriknya.

Awalnya, Bambang tertarik soal manfaat energi surya ini setelah browsing di dunia maya. ''Saya lihat secara teknologi dapat diterapkan. Saya kemudian cari apakah komponennya sudah tersedia di Indonesia ? Ternyata sudah, tinggal diimplementasikan panel suryanya secara bertahap,'' ujarnya kepada Aulia Putri Pandamsari dari GATRA pada Sabtu, 14 April lalu.

Bermodal informasi terbatas itu, Bambang pun segera mengecek ke PLN tentang seluk beluk regulasi pemasangan. Untuk skala rumah tangga, masyarakat diizinkan memasang panel surya yang dipasang paralel dengan PLN, maka meterannya diganti dengan jenis kWh Meter Exiim (ekspor - impor). Nanti setiap akhir bulan diperhitungkan berapa yang diproduksi energy surya, berapa yang dari PLN, sisanya itu yang dibayarkan. Setelah informasi lengkap, Bambang memantapkan diri mulai memasang panel surya dirumahnya. Setidaknya, butuh waktu enam bulan untuk mengurus izin. Setelah itu baru dipasangi kWh Meter Exiim.

Untuk proyek energi terbarukanya tersebut, Bambang telah menghabiskan sekitar US$1.500 per kWp dengan kurs dolar masih sekitar Rp 10.500. Dengan bujet itu, ia membeli komponen dengan harga terjangkau di pasar. Ia mengaku membatasi membeli peralatan impor demi menekan harga 25% lebih murah. ''Kita kumpulkan uang untuk membeli komponen utama dari Singapura yang importirnya berasal dari Cina. Kalau komponen utama memang dari Singapura, tetapi yang lainnya lokal,'' katanya.

Saat itu, para penjual peralatan surya dalam negeri juga masih berlangganan impor. Karena itulah, Bambang melanjutkan, lebih baik memesan komponen tersebut dari luar negeri. Bagi PLN ketika itu, pelanggan pasca-bayar seperti Bambang hanya dikenai sejumlah rekening minimum yang harus dibayar. ''Walaupun Net atau pemakaian PLN kurang dari rekening minimum, ya kita usahakan jangan sampai terlalu besar pasangnya karena masih harus bayar (rekening minimum),'' Bambang menjelaskan.

Setelah memasang panel surya, Bambang hanya memanfaatkan listrik PLN sebesar 20%. Selebihnya, sebanyak 80% pasokan listriknya berasal dari energi matahari. Maka, sebanyak 20% tersebut merupakan rekening minimum, yang harus dibayarkan mengikuti ketentuan yang diberikan PLN.

Dari total tagihan listrik sebulan yang sebesar Rp 1.300.000, Bambang mengaku hanya membayar sebesar Rp 300.000 saja. Misalnya, rata-rata sebelum pemakaian modul serta pemakaian listrik di rumah hampir sebesar 800 kWh yang dihasilkan dari tenaga surya sebesar 600 kWh, maka yang dibayarkan ke PLN cukup sebesar sisanya saja 200 kWh.

***

Pemanfaatan tenaga surya sebagai sumber listrik memang semakin dilirik. Hemat dan tren adalah kata kuncinya. Apalagi, perkembangan teknologi membuat harga panel surya makin terjangkau. Di pasaran, kini sudah berada pada kisaran US$1 per watt peak (WP) atau sekitar US$1.000 kilowatt peak (kWp).

Padahal, jika dibandingkan tiga tahun lalu, harga panel surya masih relatif mahal, yakni sekitar US$1.500 per kWp. Penurunan harganya sekitar 30% dalam tiga tahun. Dengan kondisi itu, bagi beberapa orang seperti Bambang, panel surya menjadi pilihan tepat. Karena selain hemat, juga menjaga kelestarian lingkungan.

Direktur ATW Solar, sebuah perusahaan pioner penyedia system listrik surya atap (rooftop solar PV system), Paulus Adi Wahono, membenarkan bahwa panel surya kini makin terjangkau. Harganya cukup ekonomis, dengan return of investment 6-7 tahun. Setelahnya, bisa menikmati listrik gratis dengan usia pakai panel surya mencapai 25 tahun. JIka dihitung sebagai potensi, maka Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa, lanjut Paulus, sangat berlimpah energi matahari. Meskipun, energi yang dihasilkan berbeda tiap wilayah. ''Secara umum semua wilayah bisa. Tinggal dikalkulasi saja ada hitungannya,'' kata Paulus kepada GATRA.

Paulus menambahkan, energi surya punya keuntungan dari EBT lainnya. Pembangkit listrik tenaga surya paling cepat implementasinya dibandingkan dengan yang lain, seperti geotermal yang tidak cukup setahun. Panel surya dengan kapasitas 100 megawatt menurutnya bisa dilakukan dalam enam bulan saja. Energi solar bisa total dimanfaatkan jika memiliki baterai penyimpan energi yang mengisi daya saat matahari terik dan digunakan malam hari. Masalahnya, kata Paulus, harga baterai jauh lebih mahal daripada biaya instalasi panel itu sendiri. ''Balik modalnya bisa 30 tahun,'' katanya.

Nah, untuk itu, ATW Solar, yang sudah bertahun-tahun punya pasar residensial (perumahan), komersial, dan industri, merasa tertantang untuk ekspansi ke industri. Tantangan terbesarnya, kebanyakan perusahaan menuntut tingkat pengembalian modal kurang dari lima tahun, bahkan kurang. Padahal bicara energi terbarukan, memang balik modalnya tidak langsung. Namun ada manfaat lain berupa intangible benefit yang bisa dipertimbangkan. ''Pasang solar panel di industri artinya dia sudah berkontribusi terhadap pengurangan CO2,'' ia mengungkapkan.

Di dunia internasional, konsep hijau bahkan sudah menjadi persyaratan. Korporasi yang mengadopsi berhak mendapat berbagai insentif, misalnya diskon bunga pinjaman atau insentif fiskal. Tak mengherankan, banyak perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia menerapkan konsep ramah lingkungan di perusahaannya.

Sayangnya, pemberian insentif ini tidak berlaku di Indonesia. Kata Paulus, ini tantangan bagi pelaku industri EBT untuk mendorong pemerintah agar memberikan insentif bagi perusahaan-perusahaan lokal yang mengadopsi konsep hijau. Sementara itu, untuk residensial, tren pakai panel surya didorong faktor gaya hidup. Efisiensi (saving) bukan alasan utama. ATW mendorong solar energi solar system jadi gaya hidup. Ada klien yang memasang karena temannya memasang panel surya. ''Kita branding image-nya. Jadi green, renewable with lifestyle. Merasa bisa berpatisipasi dalam pengurangan CO2, menjadi green compatriot,'' ia memaparkan.

Berapa efisiensi jika memasang panel surya? Paulus memberikan contoh. Saat ini, memasang listrik untuk 1100-1300 watt sekitar Rp 27-30 juta. Penghematannya sekitar Rp100.000-Rp300.000 per bulan. ATW sudah berhitung, harga awal ini akan balik modal sekitar tahun ketujuh. Tahun selanjutnya, hitung-hitung menikmati listrik gratis sampei tahun ke-25.

Untuk perawatan hampir tidak ada biaya. Maintenance-nya hanya dengan pembersihan. Biasanya tiga bulan sekali dibersihkan dengan air, disikat pakai sikat yang direkomendasikan tidak terlalu keras/kasar, lalu dilap. Itu Bisa dilakukan sendiri.

Agar penggunaan panel surya semakin terjangkau, ATW Solar tengah menyiapkan skema cicilan untuk perumahan. Pihaknya tengah berdiskusi dengan lembaga keuangan yang siap mengucurkan pinjaman. Prosesnya memang tidak mudah karena energi terbarukan merupakan produk baru. Akibatnya, bunga cicilan cukup besar karena mempertimbangkan risiko.

***

Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI), Nick Nurrachman, juga melihat penggunaan energi surya terapan di rumah tangga lumayan meningkat. Dampaknya, kebutuhan terhadap produk panel surya ikut terdongkrak. Tapi itu tidak berarti lantas membuat panel surya laris manis di pasaran.

Alasan pertama, menurut Nick, penggunaan tenaga surya sebenarnya dapat diterapkan untuk beragam keperluan. Mulai dari pembangkit listrik berskala besar misalnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan skala kecil seperti penerangan jalan, lampu surya untuk rumah, memasak, pompa air dan sebagian kecil lainnya.

"Tren ini terjadi dalam skala besar. Yang saya maksud adalah skala yang di atas 100 kilowatt atau sampai hitungan megawatt. Pasarnya selama ini dijual ke PLN atau dipakai sendiri dengan cara diparalelkan ke PLN,'' kata Nick. Untuk proyek skala besar seperti itu, kata Nick, panel surya dalam negeri tidak kompetitif dengan barang impor Cina yang lebih murah. Perbandingan harganya lebih mahal 20%-25%.

Apa pasal? Yang membuat panel surya lokal kalah bersaing dari CIna, karena industri surya di Indonesia masih belum berkembang. Industri fotovoltaik di Cina sudah lengkap dari hulu sampai ke hilir. "Misalnya tersedia mineral berbentuk silika dan sudah diproduksi di Cina. Mereka telah mampu mengolah materi itu menjadi ingot (bahan baku) yang kemudian dibelah tipis-tipis seperti wafer. Setelah itu diubah menjadi sel surya dan dirakit menjadi panel. Di Indonesia baru ada industri hilir," kata Nick.

Walhasil, walaupun pasarnya meningkat, tapi produksi dalam negeri tidak bisa mengimbangi. Selama ini, kata Nick, produk panel surya dalam negeri penyerapannya tidak begitu baik. "Kebanyakan produksi APAMSI digunakan untuk proyek berbasis anggaran pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah," katanya. Meskipun sudah ada aturan mewajibkan penggunaan produk dalam negeri, hal itu belum maksimal.

Persoalan kedua menyangkut soal kapasitas produksi. Karena industri yang lebih berkembang, Cina mampu memproduksi panel surya diatas 10 hingga 20 gigawatt per tahun. Indonesia baru bisa memproduksi 500 megawatt per tahun. "Kemudian, di Indonesia masih terbilang sedikit masyarakat yang memanfaatkan energy surya meski regulasi, material, dan skema bisnisnya sudah ada," kata Nick.

***

Sekretaris Jenderal Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Arya Revidi, melihat tren penggunaan panel surya semakin meningkat setahun belakangan. Ada beberapa industri dalam negeri yang sudah memasang panel surya di pabriknya. Mereka ingin ada image ramah lingkungan.

Untuk residensial banyak juga developer yang punya keinginan serupa: membuat brand image ramah lingkungan. Ini menjadi satu tren. Pemicu lain adalah harga modul surya yang semakin murah. Untuk 1.000 watt itu hanya Rp 15 juta rupiah. Apalagi mulai banyak pengembang properti yang memasang panel solar dalam unit-unit yang dijualnya, ''Dipicu harga murah. Kedua ada beberapa perusahaan ingin image ramah lingkungan,'' katanya.

Asosiasi tengah bekerja keras agar harga panel surya semakin terjangkau. Salah satu opsinya adalah menawarkan skema cicilan dengan bunga murah. Kalau ini berhasil, akan dipasarkan melalui portal Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap agar menarik bagi masyarakat.

Untuk regulasi, pemerintah menurutnya masih belum serius. Ada kesan maju mundur. Maka, asosiasi kini mengupayakan adanya pembuatan Rancangan Undang Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT). RUU sudah diusulkan melalui Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang diambil DPR sebagai UU Inisiatif DPR. Usulan kini masih tahap pembahasan dengan target sebelum 2019 berakhir selesai dibahas.

Toh, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, menyatakan bahwa hingga saat ini energi berbasis surya sudah mencapai 14%. Menurutnya, setiap tahun terjadi pertumbuhan, walau masih secara moderat tumbuhnya. "Dari 23% target yang kita kejar," kata Rida ketika ditemui M. Egi Fadliansyah dari GATRA, seusai rapat dengar pendapat dengan anggota Komisi VII di Kompleks DPR-RI, Senayan, Jakarta, Selasa sore lalu.

Selanjutnya, kata Rida, panel surya memang ditunjukan bagi desa-desa yang belum terjangkau aliran listrik PLN. Sejauh ini, menurut Rida, masih terdapat 2.519 desa yang belum terlistriki oleh PLN. Sebab itu, pembangunan panel surya tidak diperuntukkan bagi wilayah perkotaan. Karena target Ditjen EBT, ia melanjutkan, membangun panel surya yang difokuskan di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan terpencil).

Meski begitu, ia tidak menyangkal bahwa ada pihak yang keberatan kalau membangun instalasi panel surya atau sumber energy terbarukan lain dengan skema build-own-operate-transfer (BOOT). Skema ini dinilai dapat merugikan pengusaha. Penerapan skema BOOT pada pembangkit listrik yang dibangun pengembang listrik swasta diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 50/2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Dengan menerapkan skema BOOT, aset pembangkit listrik yang dibangun pengembang swasta menjadi milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) setelah kontrak berakhir.

Masa kontrak diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 10/2017. Disebutkan, maksimum masa kontrak berlaku 30 tahun setelah proyek beroperasi secara komersial. Dari sisi pemerintah, berdasarkan keputusan MK, segala macam kekayaan alam yang ada di bumi Indonesia harus dikuasai oleh negara. Termasuk aset-aset kontrak juga harus di serahakan kepada negara.

Sandika Prihatnala dan Putri Kartika Utami

+++

Skema Pemasangan Panel Surya untuk Rumah Sumber Energi Matahari Panel Surya Charge Converter Battery Bank Inverter DC to House

Menerangi Pelosok Negeri
Program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE)
Kondisi saat ini : Terdapat 2.519 desa / 293.532 rumah masih gelap gulita
Target : Menerangi desa yang belum berlistrik, terutama yang masih gelap gulita dalam kurun waktu 2 tahun (2017 - 2019).
2017 : Dipasang di 6 provinsi paling timur, melistriki 95.729 rumah
2018 : Dipasang di 15 provinsi, melistriki 255.250 rumah.
Sumber : Dirjen EBTKE Kementerian ESDM

+++

Ilustrasi Pemasangan Panel Surya dan Dampak Efisiensi
Biaya pemasangan : Rp15 juta-17 juta (belum termasuk biaya izin pasang ke PLN) Pemakaian listrik tiap rumah sekitar 800 kWh Tenaga surya mampu menghasilkan 600 kWh Yang dibayar ke PLN cukup sisanya, 200 kWh

+++

Kendala Serapan Panel Surya Buatan Lokal
- Belum ada keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Meski sudah ada di pasar, baik proyek garapan pemerintah atau swasta tidak menjadikan panel surya buatan lokal sebagai pilihan utama. Padahal, ada Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa. Pemerintah wajib memaksimalkan produk dalam negeri. Jika TKDN-nya di atas 40% produk tersebut menjadi wajib menggunakan.
- Harga masih lebih mahal dibanding Cina atau barang impor Di Cina, industri hulu dan hilirnya sudah besar. Berdampak pada kapasitas produksi yang memengaruhi harga. Di Indonesia, baru industri hilir saja.
- Kapasitas produksi dan penetrasi pasar masih rendah Dalam setahun Cina memproduksi 10 hingga 20 gigawatt. ndonesia baru bisa memproduksi 500 megawatt per tahun. Singapura jauh lebih maju, dengan kapasitas produksi 1,3 gigawatt per tahun. Malaysia, bahkan mampu produksi 2 gigawatt per tahun. Sumber : APAMSI
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com