Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Kit Lokal Pendeteksi Virus Dengue

BPPT mengembangkan alat pendeteksi dini DBD. Pengoperasiannya lebih sederhana dan harganya lebih murah. Sudah melewati uji klinis terbatas, kini siap diproduksi masal.

Jika tubuh tiba-tiba mengalami demam tinggi dengan suhu mencapai 38-40 derajat Celcius, berhati-hatilah. Bisa jadi, virus dengue sudah menyebar dalam tubuh. Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini merupakan biang keladi penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD). Di Indonesia, kasus DBD masih cukup tinggi. Setiap tahun angka penderita penyakit DBD fluktuatif. Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2016 ada lebih dari 200.000 penderita DBD di Indonesia, dan lebih dari 1.500 orang di antaranya meninggal dunia.

Serangan virus dengue dapat terjadi begitu cepat. Biasanya pada hari ketiga hingga hari ketujuh, jumlah sel untuk pembekuan darah atau trombosit akan menurun dengan sangat drastis. Keterlambatan penanganan bisa berujung pada kematian, terutama pada anak-anak. Karena itu. semakin dini keberadaan virus dengue di dalam tubuh diketahui, semakin cepat pula penanganan pasien dapat dilakukan.

Selama ini, deteksi penyakit DBD biasanya dilakukan dengan cara pemeriksaan darah penderita. Tujuannya untuk mengetahui jumlah trombosit. Jika hasil tes laboratoriumnya memperlihatkan trombosit menurun hingga kurang dari 100.000/痞, pasien didiagnosis mengalami demam berdarah. Namun, cara ini masih dianggap kurang akurat. Sebab, rendahnya jumlah trombosit belum tentu karena serangan virus dengue.

Metode lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit DBD adalah dengan menggunakan alat deteksi khusus. Alat ini berupa kit diagnostik. Hasil diagnosisnya diklaim lebih akurat dibandingkan dengan metode mengukur trombosit. Namun sayangnya, kit diagnostik yang saat ini beredar di Indonesia merupakan produk impor. Belum ada kit diagnostik DBD yang merupakan produk asli dalam negeri.

Kabar gembiranya, baru-baru ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) merilis bahwa mereka telah berhasil membuat alat kit diagnostik DBD. Alat yang diberi nama Kit Diagnostik Dengue BPPT ini merupakan hasil rekayasa inovasi anak bangsa di bidang biofarmasi. ''Penyakit deman berdarah bisa dideteksi lebih awal dengan menggunakan kit diagnostik ini,'' kata Kepala BPPT, Unggul Priyanto, saat peluncuran pertama kit diagnostik dengue ini di acara Pameran Laboratorium di Jakarta, awal April lalu.

Hasil deteksi alat ini lebih akurat, karena mendeteksi keberadaan antigen nonstruktural protein satu atau NS One (NS1), yakni antigen spesifik virus dengue. Antigen NS1 adalah glikoprotein yang terakumulasi di dalam supernatan dan membran plasma selama proses inveksi virus dengeu. Antigen ini muncul pada hari pertama mulai terjadinya inveksi virus. ''NS One antigen ini untuk early detection, jadi [penggunaannya] sebelum hari kelima," kata Irfan Faisal, PhD, peneliti kit diagnostik yang Kepala Pusat Biofarmasi Pusat Teknologi Farmasi dan Medis BPPT, kepada GATRA, Kamis pekan lalu.

Irfan menjelaskan, biasanya pada lima hari pertama, penderita DBD mengalami demam tinggi. Setelah lima hari, demamnya akan berangsur-angsur turun, bahkan suhu tubuh bisa kembali normal. Tapi, hati-hati, justru di sinilah fase paling kritis. Penderita kembali mengalami demam tinggi --dan bisa terenggut nyawanya. ''Kalau kita melakukan early detection sebelum hari kelima, kita bisa mencegah potensi kematian itu. Jadi penanganannya mungkin akan tepat,'' Irfan menerangkan.

Cara kerja kit diagnosis ini sederhana. Untuk deteksi dini, sampel darah pasien diambil sebelum hari kelima. Lalu. sampel darah tersebut dimasukkan ke lubang sampel yang sudah disiapkan di kit diagnostik. Tunggu sekitar dua hingga 10 menit sampai muncul garis warna merah di indikator. Jika garis merahnya muncul di jalur C dan jalur T, maka hasil deteksinya dinyatakan positif DBD. Namun, jika garis merahnya hanya muncul di lajur C, maka hasilnya negatif. Sementara itu, jika garis merahnya muncul di lajur T atau tidak ada garis merah yang muncul, maka proses deteksinya ada yang keliru alias invalid.

Irfan menceritakan, penelitian kit diagnostik virus dengue berawal dari program pemerintah untuk melakukan penelitin vaksin DBD. Pada 2011, dibentuk konsorsium yang terdiri dari sejumlah lembaga riset nasional, termasuk BPPT. Dalam perjalanannya, para peneliti BPPT menemukan antigen NS1. Lalu dilakukan penelitian untuk membuat kit diagnostik DBD yang dimulai 2014. Karena alat ini akan digunakan untuk mendetksi DBD di Indonesia, maka penelitian difokuskan pada virus dengue lokal. ''Kami mengambil spot virus dengue dari Papua, Jawa, dan Sumatera. Setelah itu kita dapat antigen yang khas, lokal Indonesia,'' Irfan menambahkan.

Dibandingkan dengan kit diagnostik impor, kit diagnostik dengue BPPT memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya, harga yang jauh lebih murah. Untuk kit diagnosis impor, harganya lumayan mahal. Satu kali tes menggunakan alat deteksi ini, biayanya berkisar Rp 150.000-Rp 350.000. Sedangkan kit diagnostik BPPT harganya kurang dari Rp 50.000 untuk satu kali tes. ''Makanya, kita desain bagaimana (kit diagnostik dengue) ini terjangkau harganya di bawah Rp 50.000 per tes,'' Irfan mengungkapkan.

Murahnya harga kit diagnostik lokal ini karena memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi, yakni lebih dari 75 %. Produk kit diagnostik BPPT juga sudah ada di daftar e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Sehingga produk ini bisa digunakan untuk pengadaan alat kesehatan. ''Untuk paten sedang didaftarkan sebagai teknologi produksi kit diagnostik skala laboratorium,'' kata Irfan.

Keunggulan lainnya, penggunaan kit diagnostik BPPT jauh lebih sederhana dibandingkan dengan kit diagnostik impor. Kit diagnostik BPPT cukup menggunakan sampel darah pasien, sedangkan kit diagnostik impor harus menggunakan sampel serum pasien. Padahal, untuk mendapatkan serum, perlu proses laboratorium untuk memisahkan darah dengan proteinnya. ''Pada serum itu kan darahnya harus dipisahkan, sehingga tinggal proteinnya saja,'' Irfan menerangkan.

Guna menguji akurasi hasil tes kit diagnostiknya, BPPT melakukan uji klinis terbatas di RSUD Tangerang, Banten. Uji klinis ini juga membandingkan dengan kit diagnostik impor. Hasilnya, dari 100 pasien penyakit DBD yang dicek dengan kit diagnostik BPPT, sebanyak 98 pasien terdeteksi. Sedangkan, pasien yang terdeteksi dengan kit diagnostik impor hanya 90 orang. ''Jadi spesifisitas dan sensitivitasnya lebih tinggi punya BPPT,'' ujar Irfan.

Nantinya, kit diagnostik dengue BPPT ini akan diproduksi massal. Untuk itu, BPPT mengandeng perusahaan farmasi pelat merah PT Kimia Farma, juga bekerja sama dengan perusahaan farmasi swasta PT Hepatika Mataram. Untuk bahan bakunya, BPPT bekerja sama dengan perusahaan emas dari Jepang, Tanaka Kikinzuko Kogyo. ''Produksi kit diagnostik DBD lokal diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada kit diagnostik impor,'' Irfan menambahkan.

Sujud Dwi Pratisto dan Andhika Dinata

+++

Cara Kerja Kit Diagnostik Dengue BPPT
- Teteskan darah/serum/plasma pasien ke lubang sampel, tunggu 10 menit
- Muncul garis merah pada C dan/atau T
- Hasil positif DBD bila garis merahnya muncul di lajur C dan lajur T
- Hasil negatif DBD bila garis merahnya hanya muncul di lajur C
- Hasil invalid (pemeriksaan harus diulang) bila garis merahnya hanya muncul di lajur T
- Hasil imvalid (pemeriksaan harus diulang) bila garis merah tidak muncul sama sekali.

+++

Pentingnya Kit Diagnostik Dengue Produk Lokal
1. Kergantungan Indonesia terhadap produk impor di bidang farmasi masih tinggi. Hal ini menyebabkan harga produk farmasi masih relatif mahal dan ketergantungan Indonesia dalam menangani wabah Dengue dan tingkat penyakit degeneratif yang tinggi di Indonesia.
2.Kit diagnostik untuk deteksi penyakit dengue yang terdapat secara komersial di pasaran masih impor dengan harga yang tinggi sehingga belum dapat dijadikan sebagai standar uji baku dalam pelayanan kesehatan.

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com