Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

PENDIDIKAN

Dosen Sains dan Teknologi Kualitas Impor

Pemerintah mendatangkan 200 dosen dari luar negeri. Perguruan tinggi menyambut antusias dengan memasukkan 70-an proposal untuk mendatangkan dosen asing. Mengapa DPR meminta pemerintah untuk berhati-hati?

Keran aliran masuk dosen asing telah dibuka. Pemicunya adalah Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang diteken Presiden Joko Widodo pada akhir Maret 2018. Sebab, dalam perpres tersebut, yang termasuk pemberi kerja para TKA itu adalah lembaga pendidikan. Sebagaimana dikatakan Mohamad Nasir, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), akan ada banyak dosen dari luar negeri yang mengajar di Indonesia.

Nasir menjelaskan para dosen asing itu berada di Indonesia dalam jangka waktu satu sampai tiga tahun. "Dosen tetap, untuk stay di sini, artinya bisa stay 2-3 tahun kayak di luar negeri," kata Nasir di kompleks Istana, Jakarta.

Nasir menekankan, bidang yang membutuhkan dosen asing antara lain adalah sains, teknologi, dan matematika. Untukkebutuhan tersebut, dosen dari beberapa negara sudah menyatakan berminat untuk mengajar di Indonesia. "Ada beberapa yang berminat, Australia, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Amerika juga ada," katanya.

Menurut Nasir, penggunaan dosen dari mancanegera itu sejalan dengan program pemerintah untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM). Indonesia memerlukan 200 tenaga dosen asing agar masuk reputasi dunia di bidang pendidikan. "Salah satu indikator pengukurannya (reputasi dunia) adalah staff mobility. Staff mobility ini adalah dosen asing masuk ke Indonesia. Demikian pula sebaliknya Indonesia di luar negeri," katanya.

Indonesia memang memerlukan banyak dosen asing karena jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 4.500 perguruan. "Kalau seribu (dosen asing ke Indonesia) saja, masih sangat kurang," katanya. Saat ini, dosen asing yang mengajar pada perguruan tinggi di Indonesia baru sekitar 30 orang. Untuk dosen lokal ada sebanyak 63.704 dosen negeri dan 108.067 dosen swasta. Dosen sebanyak itu melayani 1,9 juta mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan 3,9 juta di perguruan tinggi swasta .

Meskipun membutuhkan lebih dari 1.000 dosen, untuk tahun ini, Kemenristekdikti hanya bisa menganggarkan untuk 200 dosen asing. Bidang keilmuan yang dikonsentrasikan adalah sains dan teknologi. Kedua bidang tersebut dirasa perlu, karena perguruan-perguruan tinggi Indonesia banyak mencontoh riset-riset di kedua bidang itu dari luar negeri, seperti Finlandia dan Jerman. ''Science dan technology yang memiliki daya ungkit besar dan dibutuhkan dalam prioritas pembangunan,'' kata Ali Ghufron Mukti, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Kemenristekdikti.

Untuk mendatangkan dosen asing, Kemenristekdikti menganggarkan Rp 200 milyar. Adapun dosen yang diundang bukanlah dosen yang baru lulus, melainkan profesor kelas dunia. ''Dengan persyaratan yang ketat untuk mendongkrak ketertinggalan kita di peta ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Yang kita undang juga tidak banyak,'' katanya. Untuk program ini, perguruan tinggi bisa mengajukan proposal ke Kemenristekdikti. ''Sudah dimulai tahun lalu, ada sekitar 70 proposal,'' kata Ali.

Untuk satu program dengan berbagai kegiatan world class professor, anggarannya tergantung pada usulan perguruan tinggi. Bisa ratusan juta rupiah atau satu milyar lebih per tahun. Pada umumnya, satu profesor kelas dunia menerima honor Rp20 juta- Rp30 juta per bulan. ''Meskipun kita bisa kasih plafon sampai US$4000 (Rp52 juta) per bulan, tergantung usulan dan negosiasi,'' katanya.

Perguruan tinggi menyambut antusias rencana pemerintah untuk mendatangkan dosen asing. Panut Mulyono, Rektor Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa dosen asing bisa menjadi pendorong kemajuan pendidikan kita. "Dosen asing saat ini lebih digunakan sebagai katalisator. Sebagai pendorong agar kita juga bisa lebih cepat maju," katanya di Kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Kamis dua pekan lalu.

Dengan melibatkan dosen asing, diharapkan lembaga-lembaga donor di luar negeri lebih "royal" mengucurkan dana. Karena dosen asing bisa membawa jaringannya untuk bekerja sama dan berkontribusi bagi riset atau penelitian di Indonesia. "Adanya profesor asing, berkolaborasi dengan dosen Indonesia, lalu membuat proposal riset, dananya itu harapannya bisa datang dari lembaga-lembaga donor di luar negeri," katanya. Meskipun demikian, Panut meyakini, pada dasarnya dosen-dosen domestik tak kalah mumpuni dibanding dosen asing.

Meskipun perguruan tinggi antusias, politisi Senayan memperingatkan untuk hati-hati. Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI, meminta Kemenristekdikti melakukan pemetaan terlebih dahulu sebelum mengambil kebijakan tersebut. Misalnya, data jumlah dosen asing yang dibutuhkan setiap perguruan tinggi di Indonesia. Menurut Bamsoet, masuknya dosen asing bisa berdampak terhadap nilai-nilai budaya dan dampak lain. ''Dapat berdampak pada ketahanan nasional,'' katanya.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Sutan Adil Hendra, menyatakan perlunya menimbang dampak positif atau negatif dari dosen asing di Indonesia. Dampak positifnya, dosen asing dapat memacu peningkatan kualitas kegiatan belajar-mengajar. Kampus di Indonesia dapat berstandar internasional terutama di bidang penelitian dan publikasi ilmiah. Juga bisa mengubah kualitas akademik menjadi lebih baik. ''Ada peningkatan kualitas akademik yang bisa kita contoh dalam rangka membangun perguruan tinggi dan transfer ilmu pengetahuan,'' katanya.

Namun, harus juga mewaspadai efek negatif sebagai ikutan, seperti daya tahan bangsa Indonesia bakal dengan mudah dipelajari pihak asing dengan kegiatan penelitian dosen asing bersama mahasiswa. Dari hasil riset, mereka dapat memetakan karakteristik wilayah, suku, dan sumber daya manusia, sumber daya alam. ''Ini berbahaya, karena ada penyusupan budaya. Karena itu, pemerintah mesti berhati-hati ketika mengambil kebijakan dosen impor ini,'' katanya.

Fadli Zon, Wakil Ketua DPR, meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan itu. Bila kebijakan itu diambil tanpa kajian bakal menimbulkan persoalan, terutama terkait dengan bidang studi yang ahlinya sudah ada di Indonesia. Kecuali, jika Indonesia belum memiliki ahlinya, itu tidak menjadi soal. ''Tetapi, kalau di Indonesia sudah ada ahlinya, ini akan jadi masalah. Tentu, ini akan mengeser peluang dosen-dosen kita untuk maju,'' katanya.

Menanggapi berbagai kritik tersebut, Ali Ghufron Mukti, menegaskan bahwa kebijakan itu tidak akan mengancam stabilitas nasional. ''Dosen asing yang akan didatangkan hanya 200 orang, jadi enggak akan mengancam stabilitas pendidikan tinggi," katanya. Apalagi, pemerintah memberlakukan syarat yang sangat ketat. Yaitu, dosen dari perguruan tinggi yang terakreditasi baik dan punya reputasi internasional. Program studinya pun hanya pada sains dan teknologi.

Rohmat Haryadi dan Andhika Dinata

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com