Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LINGKUNGAN

Pencemaran Minyak Mengalir Sampai Jauh

Tumpahan minyak di Balikpapan "mencemari" ekosistem perairan, pantai, hingga hutan mangrove. Proses pemulihan membutuhkan waktu yang lama. Perlu skema mitigasi yang lebih ketat agar kejadian serupa bisa ditekan

Alat pengangkat pipa itu berkali-kali macet. Bahkan alat pemotongnya terbelah. Setidaknya butuh tiga hari bagi tim gabungan penyidik Direktorat Kriminal Khusus (Diskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur dan tim Pengangkatan Pipa dari Pertamina untuk mengangkat potongan pipa yang patah di Teluk Balikpapan.

Koordinator pengangkatan pipa, Mayapati, mengakui memang terjadi kendala. ''Padahal dari kemarin (alat potong) tidak putus. Pemotongan pipa sebelumnya tidak pernah selama ini,'' kata Mayapati di ruang makan Kapal Sea Haven 2 ketika berdiskusi dengan tim pada Sabtu, 21 April lalu, di Teluk Balikpapan, lokasi terputusnya pipa minyak Pertamina.

GATRA berkesempatan menyaksikan langsung proses pengangkatan pipa minyak yang patah diduga karena tertimpa jangkar kapal pengangkut batu bara MV Ever Judger.
Setidaknya ada tiga potongan pipa yang terangkat Pertamina ke atas kapal Sea Haven 2. Pipa pertama diangkat pada 19 April dan yang kedua sehari kemudian. Pemotongan pipa dan pemasangan sling dilakukan setidaknya 19 orang penyelam. Mereka secara bergantian nyemplung di kedalaman samudra, masing-masing selama 45 menit.

Pipa pertama yang diangkat memiliki panjang 7 meter dan berat 3,5 ton dengan satu bagian yang sudah penyok, sedangkan pipa kedua memiliki ukuran 18 meter dengan berat 9 ton dengan bentuk menyerupai huruf L. Pipa ini berdiameter 20 inci dengan lapisan concrete lining pencegah korosi.

Terakhir, pada Minggu, 22 April, sekitar pukul 18.00, pipa ketiga bisa diangkat. Pipa ini merupakan pipa yang paling panjang dibandingkan dengan dua pipa sebelumnya, 24 meter dan berat 12 ton. Ketiga pipa itu pun dibawa ke darat untuk diinvestigasi oleh tim penyidik dari Polda Kaltim.

***

Manager Region Communication and CSR Pertamina Kalimantan, Yudi Nugraha, kepada GATRA di Balikpapan mengatakan bahwa setelah proses investigasi selesai, penggantian pipa akan dilakukan. Saat ini, pipa pengganti sedang dalam perjalanan dari Refinery Unit (RU) IV Pertamina Balongan. "Setelah proses investigasi selesai, Pertamina akan melakukan penggantian pipa baru," katanya.

Proses pengangkatan, investigasi, dan pembersihan air laut dari paparan minyak mentah berjalan simultan. Menurutnya, pasca-kejadian, tim bergerak cepat mengidentifikasi persoalan. Seiring dengan proses pengangkatan, tim juga memasang oil boom guna membersihkan air laut dari minyak yang mungkin keluar ketika pipa diangkat ke darat. Sebuah prosedur standar yang dilakukan ketika melakukan mitigasi akibat tumpahan minyak.

Tahap pertama, pembersihan dilakukan pada minyak di tengah perairan Teluk Balikpapan. Pembersihan ini menggunakan oil skimmer untuk menyedot minyak di tengah laut. Proses pembersihan menggunakan oil skimmer ini berlangsung selama empat hari. "Hingga laut bersih dari tumpahan minyak," kata Yudi.

Tahap kedua pembersihan di wilayah pesisir. Tim pembersih membagi wilayah pembersihan dalam empat zona. Tiga zona di antaranya berlokasi di wilayah Balikpapan dan satu zona di Kabupaten Penajam Pajer Utara, yang terletak di seberang kilang Pertamina RU V.

Proses pembersihan dimulai dengan gas test dan verifikasi visual. Gas test dilakukan untuk menguji kandungan gas yang ada di bawah rumah warga dan wilayah pantai. Dari gas test tersebut diukur kadar oksigen dan kadar combustible gas (kandungan gas yang mudah terbakar). Untuk kadar oksigen, range normal berada di 19,5% sampai 23,5%, sedangkan untuk kadar combustible gas harus 0%. "Untuk gas test, hasilnya semua wilayah pemukiman sudah aman," kata Yudi.

Berdasarkan verifikasi visual, untuk wilayah Balikpapan, dari 14 kelurahan yang tercemar minyak, sudah sembilan kelurahan yang kondisinya mencapai 100%. Di Kabupaten Penajam Paser Utara dari 20 kelurahan sudah 17 kelurahan yang mencapai kondisi visual 100%. Tim pembersih membuat penilaian kebersihan area menggunakan skala 0%-100%.

Skala 0%-25% artinya terdapat banyak minyak di perairan dan bibir pantai dan terdapat banyak sisa minyak menempel pada dinding pemecah ombak dan mangrove. Skala 76%-100% artinya sudah tidak terlihat film dan sisa minyak di perairan dan bibir pantai dan tidak ada minyak menempel pada dinding pemecah ombak dan mangrove.

Wilayah yang belum bersih 100%, Yudi melanjutkan, adalah wilayah mangrove. Beberapa kelurahan yang terdapat mangrove tersebut saat ini proses pembersihannya dihentikan. Didasarkan atas arahan KLHK karena wilayah tersebut masih menjadi objek penghitungan dari kerusakan.

Direktur Operasional Oil Spill Combat Team (OSCT) Indonesia, Yodi Satya, mengatakan pada prinsipnya mitigasi berjalan baik. Sebagai salah satu pihak yang ikut menangani pembersihan tumpahan minyak di Balikpapan, tim OSCT Indonesia di Balikpapan, langsung terjun ke lapangan beberapa saat setelah kejadian.

Dalam konsep mitigasi secara umum, ia melanjutkan, ada beberapa tahap. Pertama, hentikan dulu sumbernya. Kalau kapal tabrakan, dipompa dulu minyaknya dari tanki yang bocor. Atau kapal dilingkari oil boom agar minyak tidak ke mana-mana. ''Ini dilakukan cukup cepat oleh Pertamina,'' katanya.

Kedua, mengusahakan agar minyak yang sampai ke pinggir pantai itu sedikit mungkin. Kalau sudah sampai pantai, respons lebih lama. Lebih sulit lagi jika pencemaran minyak sudah naik ke darat. Pembersihan hutan bakau lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan pantai. Di hutan bakau dapat digunakan teknik flushing. Menggunakan kapal dengan mendorong minyaknya keluar, baru dibersihkan. Harus hati hati juga, ''Di hutan bakau banyak buaya. Ini challenge di lapangan,'' katanya.

Nah, laut dan darat dinyatakan clear jika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah menetapkan proses restorasi dan remediasi. Di tahap ini, sumber kebocoran sudah ditutup, tak ada lagi minyak yang kasat mata dan diobservasi sudah tidak menimbulkan bau, atau bahaya bagi masyarakat.

***

Meski Pertamina mengaku sudah melakukan langkah mitigasi dan pemulihan, Manajer Kampanye Ekosistem Esensial Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Wahyu A., mengaku prihatin atas terjadinya kebocoran pipa minyak Pertamina. Menurutnya, Pertamina membuat pembiasan informasi kepada publik, sehingga terkesan peristiwa tersebut tidak membahayakan masyarakat sekitar. ''Akibatnya ada korban di lapangan, karena tidak ada proses tanggap darurat sejak dini," katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA melalui sambungan telepon, Kamis pekan lalu.

Bagi Wahyu, itu menjadi cerminan minimnya mitigasi bencana dan ketidakterbukaan informasi. Dampaknya, jika hal ini diabaikan, akan mengancam biota ekosistem di pesisir dan kawasan lain. Dari sisi ekosistem, setidaknya di lokasi itu ada padang lamun, terumbu karang, dan eksositem mangrove.

Luas total ekosistem mangrove di kawasan perairan Balikpapan, menurut Wahyu, mencapai 17.000-an hektare. Berdasarkan hasil investigasi Walhi, sudah 8.000-an hektare hutan mangrove terkena dampaknya. Secara teknis, Wahyu melanjutkan, bomb oil --yang biasa berfungsi untuk menganalkan minyak mentah-- prinsipnya membutuhkan lautan yang agak tenang. ''Jadi ketika berubah, mau tidak mau minyaknya lepas,'' ucapnya.

Wahyu mengingatkan, biota ekosistem yang terdampak seperti padang lamun, hutan mangrove, maupun terumbu karang, merupakan sandaran ekonomi penduduk sekitar. Di kawasan tersebut terdapat ratusan kerambah kepiting. Dalam satu kerambah terdapat 300-an kepiting. Belum lagi budidaya rumput laut yang sudah pasti terganggu produksinya.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK M.R. Karliansyah mengatakan, dengan luas paparan tercemar sekitar 12.987,2 hektare tersebut pihaknya juga turun ke lapangan.

Karliansyah bersyukur, beberapa perusahaan minyak yang berlokasi di daerah tersebut juga ikut membantu menangani kebocoran itu. Hal urgen pertama yang dilakukan yakni mengamankan fasilitas milik Pertamina. Hal ini guna menghindari kebakaran pada kilang tersebut. "Karena kalau sampai terbakar, habis itu Balikpapan," ujarnya kepada GATRA, Rabu pekan lalu.

Selain itu, perkampungan masyarakat sekitar lokasi juga diamankan guna menghindari kebakaran dan jatuh korban. Menurut pengamatan GATRA, di bawah rumah-rumah penduduk tersebut terdapat minyak juga. Jangan sampai ada api yang mengakibatkan kebakaran besar. Dengan banyaknya tim yang turun, tiga hari pasca kebocoran, minyak di teluk Balikpapan sudah relatif bersih. Namun gumpalan minyak di rumah-rumah penduduk dan di hutan mangrove masih ada saat itu.

Saat ini, kata Karliansyah, KLHK masuk pada tahap pemulihan. Pertamina mengakui pipa yang bocor merupakan miliknya sehingga sesuai dengan UU nomor 32 tahun 2009, pencemar harus membayar. Meski Pertamina juga berkilah bahwa mereka juga korban, karena ada dugaan pipa tersebut tertarik sesuatu, namun bagi KLHK, minyak tersebut milik Pertamina. Artinya, Pertamina yang harus bertanggung jawab.

Setidaknya dalam catatan milik KLHK, ada 53 hektare tambak udang, 40 petak tambak kepiting, 32 keramba jaring apung untuk lobster, 15 rengge, dan 200 bubu yang semua mengalami kerusakan. KLHK juga menemukan seekor pesut mati. "Saat ini kami sedang menghitung jumlah total kerugiannya, evaluasi untuk menentukan jumlah yang akan dituntutkan ke Pertamina," katanya lagi.

Begitu besarnya pencemaran yang terjadi, menurut Karliansyah, untuk perairan, ia memperkirakan dalam waktu satu bulan sudah kembali pulih. Namun untuk mangrove, memang butuh waktu lama karena sebagian pohon yang mati berusia rata-rata 15 tahun. Untuk area budidaya milik masyarakat, menurut Karliansyah, selama lautnya belum bersih maka belum bisa digunakan.

Karliansyah berharap, semua pihak yang memiliki aktivitas serupa harus menjadikannya pelajaran. Early warning system harusnya dimiliki oleh semua pihak yang terkait. Jangan sampai kejadian serupa terjadi kembali. Mitigasi, mereka sudah lakukan dalam bentuk pipa disemen hingga tidak mudah bergerak.

''Yang kurang sistem peringatan dininya. Seharusnya kalau ada kebocoran, otomatis ada alarm yang memberi sinyal ketidakberesan,'' ia memungkasi.

Sandika Prihatnala, Hidayat Adhiningrat P. (Balikpapan), dan Umaya Khusniah

Cover Majalah GATRA edisi No.26 / Tahun XXIV / 26 April - 2 Mei 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com