Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS II

Rumah Kreatif BUMN: Agar UMKM Melek Digital

Sebanyak 25 BUMN membentuk rumah kreatif bersama. Jumlah UMKM yang bergabung terus bertambah. Benarkah menuai manfaat?

Ketika menanyai sejumlah pengusaha kecil di kawasan perkampungan industri kecil (PIK) di Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur, "Pernah mendengar tentang rumah kreatif bersama (RKB)? Sebagian besar dari mereka ternyata menjawab tidak. Setelah dijelaskan agak panjang lebar, mereka baru ngeh bahwa ternyata, usaha mereka sudah diprogramkan dalam RKB.

Sesuai dengan namanya, RKB merupakan wadah kreatif bersama usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dibina BUMN dalam membentuk digital economy ecosystem untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas mereka. Kinerja RKB dapat disimak di situs http://rkb.id/.

Pemilik usaha Nadia Bordir, Deddy Suryadi, misalnya, tidak mengetahui jika namanya tercantum di sana. Ia hanya ingat pernah mendapat pelatihan dari Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Bank BRI. ''Saya enggak dapat modal dari program itu, tapi mendapat pemanduan promosi,'' ujarnya. Sejumlah sampel produk Nadia Bordir juga diminta untuk dipajang di situs RKB.

Ketika itu, Deddy mendapat pelatihan tentang cara meningkatkan keuntungan sampai 40%. Untuk mengembangkan usaha, ia juga mempromosikan dagangannya lewat media sosial seperti Facebook. Tapi Deddy belum berniat buka cabang online atau membuat aplikasi. Alasannya, pangsa pasarnya baru seputar Jakarta Timur.

Hasilnya? Deddy yang membuka usahanya sejak 2011, kemudian bergabung dengan RKB pada 2016. Kini beberapa dagangannya dijajakan di sejumlah kawasan lain. Salah satunya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. ''Dari sekian banyak toko yang ada di PIK, orang pada cari Nadia Bordir,'' kata Deddy kepada Annisa Setya Hutami dari GATRA, pekan lalu.

Nadia Bordir cuma salah satu dari sekian banyak UMKM yang tergabung di RKB berbagai daerah. Per 17 April lalu, sebanyak 203 RKB di seluruh Indonesia sudah beroperasi, dengan 480.776 UMKM yang terdaftar. Dari jumlah tersebut 11.508 di antaranya termasuk unggulan dan potensial sebanyak 866 UMKM. Jenis usaha mereka beragam. Sebanyak 20.924 UMKM bergerak di bisnis busana, 10.921 UMKM di makanan plus minuman, dan 4.710 UMKM di sektor kerajinan tangan.

Pembinaan dalam RKB tergantung pada kemampuan dan perkembangan anggota. Ada sejumlah tahap yang dilalui. Mulai dari go modern, go digital, hingga go online. Seperti yang tercatat dalam rkb.id, UMKM yang akan go digital sebanyak 21.189 dan go online sebanyak 9.968 UMKM.

Mereka yang go online ini sebagian besar telah menjadi anggota di situs e-commerce milik PT Telekomunikasi Indonesia: belanja.com. Hingga 16 April, terjadi 10.202 transaksi yang nilainya sekitar Rp3,09 milyar.

Jika dilihat dari BUMN yang tergerak untuk membina, tercatat ada 25 lembaga. Mereka, antara lain Bank BNI, Mandiri, BRI, BTN, Telkom, Jasa Marga, Angkasa Pura II, Bulog, Semen Indonesia, PGN, PLN, dan Pertamina. Bank BRI memiliki 55 RKB yang menaungi 294.211 UMKM, merupakan yang terbanyak di antara BUMN. Dari jumlah itu, 9.438 termasuk unggulan. Kemudian yang sudah listing di Blanja.com sebanyak 3.804 UMKM.

BNI membina 164.303 UMKM, di antaranya yang sudah terdaftar di blanja.com sebanyak 1.553 UMKM. Total transaksi di bawah binaan bank BUMN ini adalah 1.636 kali dengan nilai Rp1,2 milyar. Sementara itu, Telkom membina 6.378 UMKM, yang 1.067 di antaranya terdaftar di blanja.com cuma dengan nilai transaksi Rp507,7 juta.

Mengenai hal itu, CEO belanja.com, Aulia E Marinto mengatakan belanja.com sebagai lapak para mitra binaan BUMN tak terlepas dari sinergi BUMN. ''Sinergi ini yang membawa blanja.com hadir dan menjadi satu-satunya marketplace,'' katanya kepada GATRA.

Menurut Aulia, digitalisasi UMKM merupakan tanggung jawab Telkom, lewat blanja.com. ''Blanja.com bertugas mengenalkan dasar-dasar bisnis online. Pelaku bukan hanya buka toko online, mereka juga harus mandiri dalam menjalankan bisnis online-nya,'' ujarnya.

Minimal, performa UMKM itu sudah terlihat hasilnya. Selain aktif di tingkat lokal, para anggota RKB juga ikut berpameran di luar negeri. Pada September lalu, Telkomsel memboyong 4 RKB ke Prancis. Keempat RKB itu berasal dari Depok (Batik Gobangan), Pekalongan (Batik Bulan), Tabanan (Sudana Silver), dan Bantul (Kerajinan Wayang). Sebulan sebelumnya, BRI mengirim 2 RKB dari Yogyakarta untuk ikut pameran di Rusia dan 6 RKB ke Australia pada Oktober 2017.

Koordinator RKB, Asmawi Syam, mengatakan bahwa pembentukan RKB dilatarbelakangi oleh kunjungan Presiden Joko Widodo ke Silicon Valley, California, Amerika Serikat pada 2016. Di sana Jokowi terpukau oleh ekonomi digital yang tumbuh di sana. Presiden juga melihat banyaknya jumlah UMKM dengan beragam jenis usaha yang berpotensi untuk mendorong perekonomian dalam negeri lebih maju. ''Indonesia menjadi digital energy of Asia,'' ucap Asmawi, yang mengulang pesan Jokowi, kepada GATRA.

Pesan Presiden tersebut diterjemahkan Menteri BUMN, Rini Soemarno, dengan menggagas RKB. Rini lantas melakukan adiensi dengan sejumlah pimpinan BUMN pada saat rapat kerja tahun itu. Ide RKB rupanya menarik minat BUMN perbankan. ''Ini karena BUMN perbankan berkaitan erat dengan nasabah mereka yang jumlahnya besar,'' kata Asmawi yang juga Direktur Utama PT Askrindo. Telkom, Pertamina, PLN juga tertarik berkembang bersama RKB. RKB pertama diresmikan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat pada pada 29 Oktober 2016.

Menurut Asmawi, BUMN-BUMN Indonesia bisa dijadikan laboratorium pengembangan UKM Indonesia untuk menjadi pemain di e-commerce global. ''Bagaimana UMKM ini naik kelas. Tidak hanya memenuhi pasar domestik, tapi juga global,'' kata Asmawi.

RKB sudah mencanangkan program hingga 2020 demi menuju UMKM yang mengglobal. Dengan demikian, UMKM di RKB bisa bersaing dengan e-commerce asing yang sudah mengerubuti pasar Indonesia. Beberapa e-commerce asing yang sudah menjadi ''raja'' di Indonesia, antara lain, Lazada, Tokopedia, dan Shopee.

Ada tiga tujuan berdirinya RKB, yaitu meningkatkan kapasitas UKM menjadi pemain global dengan mendidik para UKM yang lolos seleksi RKB, meningkatkan ekspor Indonesia lewat pemberdayaan UKM, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat lewat penyerapan tenaga kerja terampil.

Dalam memberdayakan UMKM, BUMN harus mendirikan hingga mengoperasikan sistem RKB dengan tenaga-tenaga yang andal. Semua hal yang dibutuhkan dalam RKB dibiayai BUMN, sesuai dengan kemampuan perusahaan. Asmawi bilang, dana untuk membangun RKB bisa digabungkan dengan anggaran untuk keperluan CSR. ''Tapi pembangunan RKB juga untuk ekspansi bisnis,'' kata mantan Direktur Utama Bank BRI itu.

RKB membagi tiga segmen produk dalam fokus pengembangannya, yakni kriya, fashion, dan kuliner. Produk-produk ini nantinya akan masuk e-commerce di anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia: blanja.com. Dari tiga fokus segmen tersebut dibagi dalam tiga program (Lihat: Tiga Program RKB).

Toh, meski sudah berjalan 1,5 tahun, belum banyak RKB yang terbentuk. Menurut situs rkb.id, pada tahun ini ditargetkan sebanyak 514 RKB, namun hingga kini yang terwujud masih di bawah 50% dari target. Padahal, jangka waktunya tinggal 2 tahun lagi. Pada 2020, Asmawi berharap semua UMKM bisa bergabung dengan RKB.

Asmawi mengakui adanya banyak tantangan yang cukup berat. Salah satunya adalah mengubah pola pikir pelaku usaha. Masih banyak UMKM yang puas dengan kondisi usaha saat ini. Adapun tantangan terbesarnya adalah bahan baku yang memenuhi standar, yang saat ini memang selalu dikuasai pedagang besar. Untuk mengatasi hal tersebut, RKB
mempertemukan pemilik bahan baku dengan UMKM. Para UMKM dikumpulkan berdasarkan kesamaan bahan baku dan memesan dalam jumlah banyak kepada mereka. Jika hal tersebut tak dilakukan akan makin banyak UMKM yang pindah haluan dengan hanya menjadi pembikin pesanan tanpa inovasi dan peluang berkembang.

Di luar itu masih banyak tantangan untuk memajukan UMKM. Survei The SAP Digital Transformation Executive Study yang dipublikasikan pada 13 Desember 2017 menunjukkan bahwa lebih dari seperlima UMKM kekurangan anggaran untuk bisa terjun ke bisnis digital. Alasan lainnya adalah kurangnya waktu (15%) dan teknologi canggih (15%).

Di lain sisi, kurangnya pengetahuan karyawan tampaknya bukan alasan kelambanan digitalisasi dalam bisnis kelas menengah. Hanya 8% UMKM yang menganggap faktor karyawan sebagai tantangan terbesar dan 7% lainnya yang melihat perencanaan buruk sebagai masalah dalam perjalanan digital mereka. Dalam istilah Aulia, masih banyak UMKM yang hanya bermental 'pedagang' bukan 'pebisnis' yang memiliki semangat dan wawasan untuk maju. ''Orang-orang seperti ini harus dipilah dan ini bukan pekerjaan 1-2 bulan. Ini tanggung jawab pemerintah,'' ujarnya.

Menurut Kepala Unit Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Center, Zakir Sjakur Machmud, RKB yang menginginkan UMKM melek digital memang menghadapi banyak tantangan dan mengalami kesulitan untuk mewujudkannya. Sebab, banyak UMKM yang sudah menjalankan usaha selama 20 tahun, bahkan ada yang di atas 60 tahun. Mereka agak sulit untuk bisa terjun ke bisnis digital dalam tempo cepat. ''Jadi, jangan dipukul rata. Pembinananya juga harus dibedakan,'' kata Zakir.

Menurut Zakir, selama ini pemerintah menyamaratakan UMKM, sehingga kebijakan pun seragam. ''Padahal ketiga subsektor ini-usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah--berbeda,'' katanya. Selain itu, juga belum ada subsektor seperti pertanian dan manufaktur. Padahal sifat dan perlakuannya juga berbeda.

Terjadi pula tumpang tindih dalam pembinaan UMKM. Zakir memisalkan Kementerian Perdagangan dan Perindustrian yang memiliki program untuk IKM. Ada juga UMKM di bawah binaan Kementeriaan Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. KKP dan LHK juga memiliki program pembinaan UMKM. ''BPPT juga punya,'' katanya.

Meskipun demikian, geliat migrasi digital memang tak bisa dibendung. Iniberlaku juga bagi UMKM. Mereka yang akan hijrah digital ini masih banyak. ''Harapannya semoga makin banyak pelatihan, terutama cara pemasaran sehingga kita bisa melakukannya sendiri,'' kata Zulbakri, pemilik toko sepatu Putra Mahkota.

Sejak bergabung dengan RKB, Zulbakri mengaku bahwa tokonya semakin banyak dikunjungi mahasiswa. Mereka bahkan ikut membantu mempromosikan secara online. ''Contohnya dengan dibuatkan share location toko pada google map,'' kata Zulbakri.

Aries Kelana, Fitri Kumalasari, Hendry Roris P. Sianturi, dan Putri Kartika Utami.

+++

Tiga Program RKB
Go modern: mengajak pelaku UKM yang sebelumnya konvensional ke modern. Penekanan modern di sini berkaitan dengan peningkatan kualitas produk, seperti pengemasan, kontinuitas harga, serta standar bahan baku. RKB juga mengajak UKM mendaftarkan hak cipta.

Go digital: setelah persoalan produk kelar di go modern, para UKM mulai memperkenalkan produk di jagad digital. Mereka diajarkan membuat situs, blog, foto produk, dan sebagainya.
Go online: para UKM yang sudah selesai dengan masalah-masalah laten sebelumnya, masuk ke go online.

+++

Aktivitas di Wisma BRI Yogyakarta
Ada pemandangan yang tak biasa di Wisma Bank Rakyat Indonesia (BRI), di bilangan Sagan, Yogyakarta. Biasanya rumah itu menjadi tempat penginapan pegawai BRI dari luar kota. Namun ketika GATRA menyambanginya, penghuninya adalah para pegiat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan wirausaha kreatif.

Rupanya, wisma itu dijadikan tempat Rumah Kreatif BUMN (RKB) Yogyakarta yang beroperasi sejak 2017. Mereka menaungi UMKM binaan BUMN perbankan tadi. Ketika menelusuri ruangan di wisma, di lantai pertama terdapat beberapa produk UMKM yang dipajang, seperti batik, aksesoris, cokelat, dan kerajinan; bersebelahan dengan meja penerima tamu, ruang CEO, dan satu ruang rapat.

Lantai dua berfungsi sebagai coworking space yang didesain menarik. Tangga menuju lantai dua diberi ilustrasi metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Ini untuk menggambarkan perkembangan pelaku UMKM di RKB.

Sejak dibuka, RKBY hanya dikelola dua orang. Mereka mendata 42.944 UMKM dan pegiat kreatif di Yogyakarta. Namun dari jumlah tersebut, hanya 400 bergabung RKBY, yang sekitar 150 aktif sebagai anggota dan 250-an calon anggota. Kebanyakan dari Kabupaten Sleman dan Bantul. ''UMKM tahu sendiri RKB ini. Kami tidak melakukan promosi,'' kata CEO sekaligus Managing Director RKB Yogyakarta, Hanitianto Joedo.

Anggota berhak mendapat konsultasi usaha khusus dengan mentor, sementara peserta biasa atau non-anggota hanya mendapat pelatihan dan seluruh fasilitas RKBY. Jenis UMKM berupa kerajinan, fashion , dan kuliner. Untuk pelaku kreatif, ada jasa desain, animasi, film, dan fotografi. Syarat bergabung RKBY, usaha tersebut telah beroperasi 6 bulan.

Dari seluruh anggota RKBY, hanya 5% yang terjun di dunia digital dan memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Mereka yang memiliki marketplace di sana, seperti Tokopedia atau Bukalapak, lebih kecil lagi, yakni 1-2%. ''Kami punya semangat go modern, go digital, dan go online. Apalagi sekarang pemerintah ingin semua UMKM punya market place secara online,'' kata Joedo.

Tiga bulan setelah gabung, ada evaluasi. Jika tak ada kemajuan, UMKM akan diberi peringatan dan diberi waktu tiga bulan lagi. Setelah itu, jika hasilnya tetap jeblok kerja sama diputus. Indikator keberhasilannya, adalah profit dan manajemen. Indikator itu, menurut Joedo, terkait manajemen dan profit, sesedikit apa pun pertumbuhannya itu. Mentor juga membantu menembus kredit usaha, terutama Kredit Usaha Rakyat BRI dan investor.

Joedo mengklaim RKBY yang berjalan dengan baik. Dengan metode selama ini, Joedo menyebut 40 UMKM atau sekitar 10% UMKM menunjukkan perkembangan. RKBY pun dinobatkan sebagai RKB dengan UMKM yag memiliki omzet tertinggi.

Lain Yogyakarta, lain pula Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut Menurut Koordinator RKB Tanah Abang, Fadiya Ratnasari, kantornya digunakan untuk pelatihan dan konsultasi UKM. Ada 7 UMKM yang bergabung. Pelatihan berlangsung 12 kali dalam sebulan. "Di sini gratis, tidak dipungut biaya," katanya kepada Egi M. Fadliansyah dari GATRA.

Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com