Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Kampanye Bebas Sawit ala Iceland

Jaringan supermarket terbesar di Inggris, Iceland, berkomitmen tak menjual produk yang mengandung bahan baku kepala sawit. Isu lingkungan hidup menjadi alasan di balik kebijakan tersebut.

Bagi masyarakat Inggris, Iceland menjadi supermarket favorit untuk belanja segala kebutuhan rumah tangga. Mulai produk makanan hingga barang kebutuhan rumah tangga tersedia di gerai Iceland. Maklumlah, Iceland adalah jaringan supermarket terbesar di Inggris. Memiliki lebih dari 900 gerai yang tersebar di seantero Inggris. Iceland juga memproduksi sendiri sejumlah barang. Sebagai besar produk Iceland, dari makanan beku, kue, sabun, sampe sampo terbuat dari bahan yang menggunakan minyak sawit.

Setidaknya saat ini ada 130 produk merek Iceland yang masih menggunakan minyak sawit. Namun ke depannya, pelanggan Iceland tak akan lagi menemukan produk merek Iceland yang mengadung minyak sawit. Sebab, Selasa pekan lalu, Iceland mengumumkan menolak penggunaan minyak sawit di semua produk mereknya. Penghentian dilakukan bertahap. Targetnya pada akhir tahun ini, 100% produk merek Iceland bebas dari minyak sawit.

Dengan adanya pengumuman ini, Iceland menjadi jaringan supermarket di Inggris pertama yang menyatakan menolak menggunakan segala produk turunan dari komoditas sawit. Alasan penolakan ini, karena minyak sawit dianggap sebagai pemicu terjadinya kerusakan hutan hujan tropis di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Malaysia. Dua negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

''Selama belum ada yang dapat menjamin minyak sawit tidak memnyebabkan kerusakan hutan hujan tropis, kami dengan sederhananya mengatakan, tidak terhadap minyak sawit,'' kata Direktur Pelaksana Iceland, Richard Walker seperti dikutip bbc.co.uk, Selasa pekan lalu.

Setelah mengumumkan menolak minyak sawit, Iceland memasang stiker bertuliskan "No Palm Oil" di produk-produk mereknya. Stiker ini dihiasi gambar seekor orangutan. Pemilihan ikon orangutan ini untuk mengingatkan pada para konsumen Iceland bahwa populasi primata itu di Kalimantan, Indonesia, turun drastis gara-gara masifnya pembukaan lahan perkebunan sawit dengan cara menghancurkan hutan. Diperkirakan dalam 16 tahun terakhir, ada sekitar 100.000 orangutan yang hilang dari habitat aslinya di hutan hujan tropis Kalimantan. Tentunya tuduhan ini boleh dibilang gegabah,. Perlu pembuktian ada atau tidaknya keterkaitan lahan sawit dengan menurunnya populasi orangutan.

Sebagai pengganti minyak sawit yang selama ini digunakan di produk-produk mereknya, Iceland menggunakan bahan alternatif seperti minyak dari bunga matahari, minyak dari biji rapeseed, dan mentega. Untuk memperoleh bahan alternatif tadi, Iceland melakukan berbagai penelitian dan riset yang menghabiskan dana hingga US$7 juta. Meski mengeluarkan uang dalam jumlah besar, Iceland mengklaim biaya tersebut tidak akan dibebankan kepada konsumennya. ''Kami memberikan pilihan kepada para konsumen, apa yang mereka beli,'' kata Walker.

Iceland mengungkapkan, dengan menghapus bahan minyak sawit dari produknya, perusahaan akan mengurangi permintaan minyak sawit lebih dari 500 ton per tahun. Iceland juga tak lagi bersedia membeli minyak sawit meski diklaim minyak sawit tersebut mengantongi sertifikat sawit berkelanjutan atau Rountable on Suistanaible Palm Oil (RSPO.) "Kami tidak percaya ada yang bisa menjamin ketersediaan pasokan minyak sawit yang suistanaible (berkelanjutan) untuk pihak pengecer," ujar Walker.

Meski penolakan minyak sawit hanya berlaku bagi produk dengan merek Iceland, langkah Iceland mendapat aspirasi dari sejumlah lembaga pegiat lingkungan hidup. Greenpeace Inggris menilai, industri kelapa sawit gagal membuktikan bahwa proses produksi kelapa sawitnya tidak merusak lingkungan. Karena faktanya masih ada aktivitas industri sawit yang mengakibatkan kerusaakan hutan. "Ini adalah respon langsung (dari Iceland) terhadap kegagalan industri kelapa sawit,'' kata John Sauven Direktur Eksekutif Greenpeace Inggris seperti dikutip money.cnn.com, Selasa pekan lalu.

Merujuk data yang dirilis World Wild Fund for Nature (WWF) Inggris, akhir Maret lalu, terungkap bahwa setengah dari seluruh produk kemasan mulai dari pizza beku hingga sampo yang dijual di supermarket-supermarket di Inggris, termasuk Iceland, mengandung minyak sawit. Sebagian besar produk kemasan tersebut dibuat oleh perusahaan industri makanan dan konsumen merek terkenal seperti Nestle, Unilever, Procter & Gamble (P&G), dan Johnson & Johnson.

Sementara itu, Greenpeace pada pertengahan Maret lalu merilis hasil investigasi mereka tentang penggunaan sawit oleh merek-merek global, apakah berasal dari industri sawit yang melakukan perusakan hutan atau tidak. Terungkap, sebagian merek-merek global, seperti Johnson & Johnson, Kraft Heinz, dan PZ Cussons masih enggan mengungkap secara transparan dari mana mereka memperoleh pasokan minyak sawitnya. Tapi ada beberapa merek global yang telah melakukan transparansi, di antaranya Nestle dan Unilever.

CEO of Compassion in World Farming, Philip Lymbery, berharap langkah Iceland menolak minyak sawit akan diikuti oleh perusahaan pengecer lain di Inggris. Jika hal itu terjadi, Lymbery melanjutkan, akan mendorong terjadinya efek domino. ''Itu tentu merupakan upaya yang patut dipuji dan yang saya harap para pengecer lain akan mengikuti,'' tulis Philip dalam opininya yang dimuat di Huffingtonpost online, Rabu kemarin. ''Kita ingin melihat pergeseran (gempa) seismik ke arah mengurangi penggunaannya (minyak sawit),'' ia menambahkan.

Sujud Dwi Pratisto
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com