Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Jerat Membuka Borok Trump

Skandal esek esek Presiden Donald Trump berujung pada intervensi penyelidikan FBI pada pengacara pribadinya. Trump beraksi, akan memecat Penasihat Khusus Departemen Kehakiman Robert Mueller yang disebut sebagai pemberi referensi penyelidikan.

Sebuah rekaman bocor acara ''Acces Hollywood'' menjadi bahan yang dicari-cari The Federal Bureau of Investigation. Isi percakapan tersebut diantaranya adalah perkataan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kepada pembawa acara program di NBC Universial Television Distribution, Billy Bush, pada 2003 lalu, yang membanggakan aktivitas cabulnya.

Dalam acara hiburan mingguan itu, Trump membanggakan diri bisa meraba-raba perempuan tanpa persetujuan mereka. Ketika itu ia tidak menyadari atau peduli kalau mikrofonnya aktif. Secara bebas dia pun berucap tentang hal tak senonoh tersebut.

''Saya tak perlu menunggu. Dan ketika anda seorang bintang, mereka membiarkan anda melakukannya. Anda bisa melakukan apapun, Menyentuh mereka dengan p.... Anda bisa melakukan apa saja,'' kata Trump kepada Bush dalam rekaman itu seperti dikutip dari CNBC.

Rekaman tersebut terungkap sebulan sebelum pemilihan Presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu. Pada masa akhir kampanyenya, Trump pun merekam video berisi permintaan maaf atas isi percakapan yang "bocor" tersebut. Bush sendiri telah dipecat pada 17 Oktober 2016.

Untuk mencari informasi tentang komunikasi yang berhubungan dengan rekaman ''Acces Hollywood'' tersebut, FBI menggerebek kantor pengacara pribadi Trump, Michael Cohen di perkantoran the New York City, Senin malam pekan lalu. Tidak hanya itu, mereka juga menyerbu kamar hotel tempat Cohen menginap.

Tim FBI menyita catatan bisnis, surat elektronik, serta dokumen yang ada. Termasuk informasi yang dilakukan Cohen kepada seorang aktris film porno, yakni Stormy Daniels atau Stephanie Clifford. Wanita kelahiran Lousiana, 17 Maret 1979, itu pernah berhubungan intim dengan Trump pada 2006. Ia kemudian mengancam akan membeberkan skandal tersebut.
Ketika itu, Clifford mengancam akan melakukan gugatan hukum terhadap situs tabloid yang mencoba mengungkap kisahnya. Cohen menjadi pihak pelindung Trump yang membungkamnya sejak awal 2011 lalu. Atas keputusannya sendiri, selama kampanye 2016, dia menyumpal mulut Clifford dengan uang US$130.000 agar bungkam.

Dokumen lainnya yang dikumpulkan FBI adalah informasi tentang suap tutup mulut mantan selingkuhan Trump, Karen McDougal. Model "Playboy Playmate" itu mengaku pernah memiliki hubungan asmara terlarang dengan suami dari Melania Trump tersebut pada 2005-2006.

Kasus McDougal agak berbeda. FBI sedang menelusuri pembayaran sebesar US$150.000 dari American Media Inc., perusahaan induk The National Enquirer. Perusahaan tabloid itu membeli hak atas kisah McDougal yang bercerita tentang perselingkuhannya dengan Presiden ke-45 tersebut.

Namun, model dan aktris kelahiran Indiana, 23 Maret 1971, itu mengaku tidak dalam kapasitas untuk memublikasikannya. Pada Maret lalu, ia pun mengajukan gugatan kepada perusahaan media yang berdiri pada 1936 tersebut. Ia meminta Pengadilan Tinggi Los Angeles membatalkan perjanjian tertutupnya dengan American Media Inc.

Akan tetapi, pihak American Media membantah hal tersebut. "Sangat mudah untuk melihat produk kerja dari majalah selebriti. Juga mengasumsikan mereka tidak berhak atas perlindungan sama seperti media mainstream," kata pengacara American Media, Cameron Stracher, dikutip dari The New York Times.

Trump pun geram akan aksi penggerebekan yang dilakukan FBI tersebut. Pasalnya, aksi itu dilakukan di saat dirinya sedang rapat kabinet membahas tentang Suriah. "Ini benar-benar level baru dari ketidakadilan," Trump menegaskan, seperti dilansir dari CNN.

Dalam hal ini, Trump menganggap situasi memalukan itu sebagai serangan akan negara dalam arti sesungguhnya. Juga merupakan bagian "perburuan penyihir" sejak dirinya resmi menjabat Presiden AS pada 20 Januari 2017.

Dan ternyata, aksi penggerebekan FBI tersebut merupakan bagian dari rujukan Penasihat Khusus Departemen Kehakiman AS, Robert S. Mueller III. Trump pun sedang memikirkan kemungkinan untuk memecat mantan Direktur FBI periode 2001-2013 yang juga menjadi penasihat khusus pada kasus penyelidikan Rusia itu.

Bahkan, Trump sesumbar bahwa keputusannya memecat Direktur FBI, James B. Comey sebagai hal yang benar dilakukan. "Saya melakukan hal benar. Anda melihat semua yang dia lakukan serta anda melihat kebohongan apa yang terjadi di FBI," katanya.

Namun, rencana Trump memecat Mueller memantik kecaman dari Kongres AS. Anggota Kongres baik dari Demokrat maupun Republik sama-sama tmemperingatkan bahwa langjag memecat Mueller akan melintasi garis politik dan hukum yang berbahaya.

"Jika presiden berpikir menggunakan serangan ini untuk memecat Penasihat Khusus Mueller atau mengganggu rantai komando dalam penyelidikan Rusia, kami Demokrat memiliki satu pesan sederhana untuknya: Jangan," kata Senator Chuck Schumer dari New York, yang juga pemimpin Demokrat.

Menurut Schumer, Mueller telah mengungkap pola campur tangan Rusia yang dalam dan detail dalam pemilu lalu. "Ini telah menyebabkan dakwaan dan pengakuan bersalah," ujarnya. Termasuk sanksi bisnis yang diberikan pemerintahan Trump kepada 12 perusahaan dan tujuh konglomerat Rusia.

Hanya saja, belum jelas apakah serangan kepada Cohen ini berkaitan atau tidak dengan penyelidikan khusus Mueller ikhwal kemungkinan kolusi antara kampanye Trump dan Rusia. Bila merujuk pada penyelidikan Cohen, yang sudah direferensikan kepada kantor jaksa di Manhattan, Trump pun sudah seharusnya membutuhkan pengacara.

Akan tetapi, untuk sampai ada surat perintah dari hakim untuk menggeledah kantor pengacara presiden, maka ini tentu akan butuh bukti luar biasa. Bahkan ada spekulasi kalau di dalamnya ada potensi kejahatan penipuan bank yang bisa membawa Cohen dalam hukuman hingga 30 tahun penjara.

Kasus ini juga bisa mejerat Trump. Maklum, Cohen telah menjadi pengacara Trump lebih dari satu dekade, tepatnya sejak 2006. Apalagi, dia selalu menjadi sosok pelindung dan yang mengamankan Trump pada beberapa kasus. Investigasi Mueller akan membuka tantangan menakutkan. ''Bahaya terbesarnya adalah menjadi umpan agar Trump agresif melawan Mueller atau Departemen kehakiman,'' kata Profesor Fakultas Hukum Universitas Washington, Jonathan Turley, dikutip dari Time.

Hingga saat ini, langkah perlawanan Trump akan kasus penggeledahan kantor Cohen memang belum terlihat masif. Namun, ia sudah mengajukan agar perselisihan tersebut masuk ke jalur arbitrase pribadi. Akan tetapi Hakim Distrik AS, S. James Otero, di Los Angeles mengatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan semua permintaan tersebut pada sidang 14 Mei mendatang.

Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com