Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Sinyal Damai dari Beijing

Tensi perang dagang AS-Cina mulai menurun. Pidato Presiden Xi Jinping di Boao Forum Asia membuat Trump menurunkan tensi konflik. Polemik tarif dagang usai?

Presiden Cina Xi Jinping memberikan kejutan dalam pidatonya di Boao Forum Asia, Hainan, Cina, Selasa pekan lalu. Ia menyampaikan keinginan untuk lebih membuka perekonomian negaranya. Xi berjanji untuk membuka pintu-pintu Beijing lebih luas bagi dunia. "Dengan ini, kami akan membuat globalisasi ekonomi lebih terbuka, inklusif, seimbang, dan menguntungkan semua pihak," kata Xi seperti dilansir CNBC.

Langkah kebijakan Xi di antaranya adalah pelonggaran batas kepemilikan asing di industri keuangan, lalu mengurangi bea impor produk otomotif dan produk lainnya secara signifikan.

Kemudian meningkatkan dan menegakkan hukum hak kekayaan intelektual untuk perusahaan asing dan memperbaiki lingkungan investasi untuk perusahaan internasional.

Untuk perubahan sektor keuangan, Yi Gang, Kepala Bank Sentral Cina yang baru ditunjuk, menjelaskan bahwa nantinya para investor asing diizinkan memegang saham ekuitas hingga 51% di perusahaan pialang, perusahaan futures atau berjangka, dan perusahaan manajemen dana.

Hanya beberapa jam setelah pidato Xi, Presiden AS Donald J. Trump langsung bercuit di akun Twitter-nya. Ia sangat berterima kasih atas pernyataan Presiden Xi tersebut. "Kami akan membuat kemajuan besar bersama!" kata Trump, optimististis.

Komentar Trump merupakan respons atas perang dagang AS-Cina yang sebelumnya sempat memanas. Serangkaian perang tarif impor komoditas dari Washington dan Beijing telah membuat ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Pidato Xi membawa angin segar bagi banyak pihak, tidak hanya bagi AS. Bahkan, ketika ucapan Xi tersiar, pasar saham AS langsung bergairah pada Selasa pekan lalu. Tiga indeks utama AS semuanya langsung naik lebih dari 1,5% pada sore harinya. Presiden Trump pun melihat pidato Xi sebagai ungkapan damai dari Beijing.

Sementara itu, dalam sebuah forum diskusi di Hainan, Cina, Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde dan Co-Founder Alibaba Group, Jack Ma, menyampaikan agar konflik dagang antara Cina dan Amerika Serikat segera usai. Mereka sangat menekankan perdagangan bebas bagi kemakmuran manusia secara global.

Seperti dilaporkan South China Morning Post, Jack Ma mengatakan bahwa perdagangan adalah penyelamat dunia dari kemiskinan global. Pasalnya, di pertengahan abad ke-19, sebanyak 90% penduduk bumi hidup di bawah garis kemiskinan. Kemudian pada tahun 1990-an, angka itu berkurang menjadi 37%, ''Dan saat ini orang yang hidup di bawah garis kemiskinan (hanya) sebanyak 10%," ungkap Ma.

Karena itu, Ma menambahkan, perlu peningkatan dalam mekanisme dan aturan yang menyediakan kebijakan untuk melindungi sektor-sektor industri yang dirugikan. ''Jika perdagangan berhenti, dunia juga akan berhenti," ucap Ma. Menurutnya, dalam rentang waktu 30 tahun kebelakang, perkembangan perdagangan dunia tidak cukup signifikan, Hal itulah yang menyebabkan negara berkembang dan anak-anak muda tidak merasa diuntungkan oleh perdagangan bebas.

Pemikiran Ma sejalan dengan Christine Lagarde. Menurutnya, walapun sudah cukup terbuka, perdagangan global masih banyak hambatan, terutama di sektor industri jasa. Padahal, banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Karena itulah, menurutnya semua pihak perlu mengurangi hambatan, lalu menambah transaksi dagang yang dapat melingkupi banyak sektor dengan asas keterbukaan.

Lagarde mengatakan bahwa perdagangan adalah faktor utama yang dapat mereduksi kemiskinan, sebab melalui perdagangan tersebut bisa meningkatkan produktivitas dan inovasi. ''Ekonomi dunia harus menuruti aturan-aturan dagang yang sudah ada. meskipun terkadang aturan dalam perdagangan bebas merugikan beberapa industri,'' katanya.

Namun, Beijing punya pandangan tentang perang urat saraf di sektor dagang dengan AS. Menurutnya, perselisihan dagang dengan Washington merupakan pertempuran antara multilateralisme dan unilateralisme. Pada saat yang sama, Trump telah menarik AS dari peran kepemimpinan globalnya, setelah keluar dari Perjanjian Paris tentang perubahan iklim dan Kemitraan Trans-Pasifik.

Sebaliknya, Presiden Xi kembali berusaha untuk menggambarkan "negeri panda" itu sebagai juara untuk globalisasi dan tatanan internasional. "Terbuka atau tertutup, maju atau mundur, umat manusia sedang menghadapi pilihan utama baru," kata Xi. Ia menambahkan, globalisasi ekonomi adalah tren yang tidak dapat diubah dari waktu ke waktu.

Dalam Boao Forum Asia, Xi juga kembali mengingatkan kepada pengusaha dan penyelenggara bahwa Cina akan terus mengambil bagian yang lebih aktif dalam pemerintahan global. Bahkan, akan bekerja dengan seluruh dunia untuk menghadapi tantangan secara lebih efektif.

Zhang Baohui, pakar politik Cina dan hubungan internasional dari Lingnan University di Hong Kong, mengatakan bahwa pernyataan Xi adalah strategi Cina untuk menyelamatkan wajahnya dan membuka jalan negosiasi perdagangan dengan AS guna mencegah eskalasi lebih lanjut dari konflik perang dagang. ''Ini adalah cara mereka (Cina) untuk memberikan sinyal kepada AS tanpa kehilangan muka,'' ucap Zhang.

Namun, menurut Bates Gill, seorang profesor bidang keamanan Asia-Pasifik dari Macquarie University di Sydney, Australia, niat strategis Xi Jinping adalah meletakkan segala sesuatu ke dalam pola holding, untuk mengulur waktu agar bisa berpeluang bergerak di jalur negosiasi dan menghindari perang dagang. ''Pertanyaannya adalah apakah Washington akan menerima lebih banyak penundaan dan melanjutkan dengan retorika daripada tindakan?'' kata Gill.

Sebab, menurut Gill, sebelumnya Cina sudah menunjukkan gelagat memukul balik terhadap ancaman "negeri Paman Sam". Ketika itu, Beijing penuh semangat telah mengumumkan proposal pembalasan menyikapi tarif impor AS terhadap beragam komoditas Cina senilai lebih dari US$ 50 milyar.

Ketika itu, Trump memulai dengan mengenakan kenaikan tarif baja dan aluminium sebesar masing-masing 25% dan 10%. Kemudian diikuti penambahan tarif hingga 25% untuk berbagai jenis produk elektronik canggih buatan Cina. Sejak itulah, Beijing langsung membalas dengan menaikkan tarif untuk berbagai produk pertanian, termasuk daging babi, dari AS hingga 25%.

Pemerintah Cina lalu menaikkan kembali tarif sebesar 25% khusus untuk mobil dan pesawat terbang, yang diimpor dari AS. Tentu saja hal itu membuat geram Trump dan akhirnya memerintahkan Kementerian Pertanian untuk menjajaki tarif baru untuk impor barang dari Cina senilai US$100 milyar atau setara dengan Rp 1.378 trilyun. Trump langsung mengatakan. Cina seharusnya memperbaiki praktek perdagangannya agar adil dan bukan malah membalas dengan kenaikan tarif.

Gandhi Achmad
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com