Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KOLOM

Berharap Pulihnya Kinerja Sektor Retail

Penurunan drastis kinerja sektor retail ini terjadi sejalan dengan melambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat. Sepanjang 2017, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95%, lebih rendah dibandingkan dengan 2016 yang sebesar 5,01%.

Oleh: Mohammad Faisal, PhD
Direktur CORE Indonesia

Bisnis retail selama hampir dua tahun terakhir dihadapkan pada situasi yang sulit. Tahun lalu, rata-rata pertumbuhan penjualan eceran hanya mencapai 2,9%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 11%. Banyak pusat perbelanjaan besar yang mencatat penurunan laba dan penjualan bahkan pada momen-momen hari raya besar seperti Idul Fitri dan Natal.

Sebut saja di antaranya pusat perbelanjaan di Jakarta seperti di wilayah Glodok, Mangga Dua, dan Roxy. Bahkan, beberapa di antaranya, seperti Ramayana, harus menutup delapan outlet-nya di sejumlah kota di Indonesia. Penjualan barang-barang kebutuhan harian yang tergolong fast moving consumer goods (FMCG), seperti makanan dan minuman ringan, toiletries, dan sejenisnya, yang biasanya mampu tumbuh rata-rata 11% per tahun, pada 2017 hanya tumbuh 2,7%.

Penurunan drastis kinerja sektor retail ini terjadi sejalan dengan melambatnya pertumbuhan konsumsi masyarakat. Sepanjang 2017, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,95%, lebih rendah dibandingkan dengan 2016 yang sebesar 5,01%. Pelemahan konsumsi rumah tangga terjadi hampir di semua subsektor, dari makanan dan minuman, pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, hingga alat transportasi dan komunikasi.

Jika dipilah berdasarkan golongan pendapatan, pertumbuhan konsumsi 40% masyarakat berpendapatan terendah anjlok dari 19,78% pada 2015 menjadi hanya 2,45% di 2017. Pertumbuhan konsumsi 40% masyarakat pendapatan menengah melambat dari 12,7% (2015) menjadi 2,72% (2017), sedangkan pertumbuhan konsumsi 20% masyarakat berpenghasilan teratas anjlok dari 11,1 pada 2015 menjadi hanya 0,83% (2017).

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pelemahan konsumsi ini adalah permasalahan daya beli yang tergerus. Pelemahan daya beli pada golongan masyarakat berpenghasilan bawah tercermin dari upah riil buruh yang cenderung berkurang. Rata-rata upah riil buruh bangunan selama 2017 turun -1,38% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata upah riil buruh tani dan pembantu rumah tangga hanya tumbuh marginal selama 2017, yakni sebesar 0,24% dan 0,42%.

Nilai tukar petani di pedesaan juga melemah -0,37% pada 2017 dan tren ini terus berlanjut hingga triwulan pertama pertama tahun ini. Selain inflasi bahan pangan pokok, kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices) seperti bahan bakar minyak, tarif listrik, dan lain-lain merupakan penyumbang inflasi yang menekan pendapatan riil masyarakat khususnya yang berpedapatan rendah.

Meskipun demikian, kontribusi konsumsi golongan masyarakat bawah terhadap kinerja bisnis retail sebenarnya relatif kecil. Pasalnya, 40% golongan berpenghasilan terendah hanya menyumbangkan 17% terhadap total konsumsi nasional. Selebihnya, konsumsi masyarakat lebih banyak disumbangkan oleh 40% kalangan menengah dan 20% berpendapatan tertinggi, yang masing-masing menyumbang 36% dan 47% dari total konsumsi.

Bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan atas, daya beli sebenarnya masih relatif terjaga, bahkan pendapatan masyarakat berpenghasilan tinggi cenderung meningkat. Indikasi peningkatan pendapatan kelas menengah atas ini dapat dilihat dari kenaikan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan.

Rata-rata pertumbuhan DPK untuk nilai rekening di atas Rp2 milyar rupiah selama periode Januari hingga Desember 2017 tumbuh ekspansif di kisaran 14,2% per bulan, atau dua kali lipat pertumbuhan DPK rekening di bawah Rp2 milyar rupiah yang di kisaran 7,2% per bulan selama periode yang sama.

Sayangnya, membaiknya pendapatan kelas menengah atas ini tidak lantas mendorong peningkatan belanja. Hal ini terlihat dari komposisi pengeluaran rumah tangga yang mengalami pergeseran di mana proporsi pendapatan yang dibelanjakan cenderung menurun, sebaliknya proporsi untuk tabungan meningkat.

Pada Maret 2018 proporsi pengeluaran untuk konsumsi mencapai 64% lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada September 2017 yang mencapai 66,4%. Sementara itu, persentase untuk tabungan mengalami kenaikan dari 20,6% di Januari 2018 menjadi 22,4% pada Maret 2018.

Salah satu faktor yang memengaruhi pergeseran ini adalah tingkat keyakinan dan ekspektasi masyarakat terhadap prospek ekonomi dan daya beli mereka. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan indeks ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga secara umum mengalami peningkatan dalam tiga dan enam bulan mendatang. Sementara indeks ekspektasi penjualan hingga tiga-enam bulan mendatang tidak ada perbaikan, bahkan cenderung melemah marginal.

Selain faktor psikologis masyarakat terhadap kondisi ekonomi, pola konsumsi masyarakat golongan menengah-atas juga cenderung berubah ke arah belanja yang berhubungan dengan gaya hidup (lifestyle) dan leisure. Itu sebabnya kinerja penjualan pusat-pusat perbelanjaan dengan konsep modern yang mengombinasikan konsep belanja dengan leisure/hiburan dengan segmen utama kelas menengah tetap kuat pada saat pusat perbelanjaan model lama menurun kinerjanya.

Pusat perbelanjaan modern di Jabodetabek seperti Kasablanka Mall, Mall Central Park, Summarecon Mall Serpong, Metropolitan Mall, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, Grand Indonesia, dan Puri Indah Mall mencatat peningkatan penjualan sepanjang 2017.

Di samping itu, pergeseran pola belanja masyarakat dari cara konvensional ke online juga turut berkontribusi terhadap melemahnya kinerja perdagangan eceran. Rata-rata pertumbuhan penjualan e-commerce dalam dua tahun terakhir mencapai 23%. Meski demikian, pangsa pasar e-commerce masih relatif kecil, yakni hanya 3% dari total penjualan retail di Indonesia.

Hingga akhir tahun ini, bisnis retail diperkirakan masih akan menghadapi tantangan yang sama, yakni masalah daya beli dan pergeseran pola belanja. Memang, ada indikasi peningkatan pendapatan riil masyarakat berpendapatan kelas bawah sebagai akibat dari kenaikan marginal harga komoditas dan program-program bantuan sosial, subsidi, dan program padat karya yang diperbanyak di tahun ini. Meski demikian, masyarakat golongan menengah-atas masih cenderung menahan konsumsinya.

Untuk memperbaiki kondisi ini, selain dibutuhkan ekstra pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, kebijakan-kebijakan pemerintah juga harus dikelola agar dapat membangun kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospeknya ke depan. Salah satu yang krusial adalah kebijakan perpajakan yang ditujukan pada wajib pajak yang nota bene adalah masyarakat golongan menengah atas.

Kebijakan perpajakan memang selayaknya menjadi sorotan penting terlebih mengingat target penerimaan pajak di tahun ini yang meningkat sangat signifikan. Upaya pemerintah mengejar target penerimaan yang tinggi jangan sampai menjadi momok bagi masyarakat dan pelaku usaha yang berimbas pada dunia usaha termasuk sektor retail.

Di sisi lain, pergeseran pola konsumsi masyarakat tentunya juga menuntut pelaku bisnis retail untuk lebih adaptif, inovatif, dan kreatif. Kemampuan adaptasi dan inovasi merupakan kunci penting untuk dapat bertahan di tengah kondisi ekonomi dan iklim bisnis yang semakin dinamis, kompetitif, serta konsumen yang kian kritis saat ini.

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com