Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Perang Harga Emas Hitam

Konflik Timur Tengah yang terus memanas membawa berkah bagi minyak mentah dunia. Arab Saudi berharap, harga minyak terus naik hingga ke level US$ 80 per barel. Namun, produksi shale oil AS yang mulai meningkat kembali bisa menjadi perusak harga pasar.

Lebih dari 100 peluru kendali jelajah Tomahawk ditembakan pasukan udara Amerika Serikat, Inggris dan Prancis ke Douma, Suriah, Sabtu pekan lalu. Dengan alasan adanya senjata kimia di Suriah, AS dan sekutu membombardir wilayah tersebut. Bahkan, Presiden AS, Donald Trump, memuji serangan udara yang menurutnya telah dilaksanakan dengan sempurna dan misi tercapai. Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun semakin memuncak.

Pembombardiran itu mengundang reaksi keras dari penjuru dunia. Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai korban serangan brutal tersebut langsung mengutuk keras. Assad menuduh Barat telah kehilangan kredibilitasnya. Dewan Keamanan (DK) PBB pun langsung menggelar sidang darurat di New York, atas permintaan Rusia--sekutu Suriah. Saat membuka sidang, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, langusung meminta semua anggota DK PBB agar mengendalikan diri dan menghindari eskalasi di Suriah.

Namun, di balik tingginya tensi politik di Suriah, ternyata membawa dampak pada naiknya harga minyak dunia. Tercatat, harga "emas hitam" itu bergerak menguat pada Selasa lalu, lantaran dipicu tingginya risiko disrupsi pasokan, khususnya dari Timur Tengah. Maklum, dengan makin meluasnya konflik di Timur Tengah, dan jatuhnya produksi minyak di Venezuela akibat krisis ekonomi dan politik di negara tersebut, ternyata menurunkan pasokan dan membuat harga minyak semakin melambung.

Seperti halnya harga minyak jenis light sweet kontrak pengiriman Mei 2018 tercatat naik sebesar 0,48% menjadi US$66,54 per barel. Sedangkan untuk jenis brent kontrak pengiriman Juni 2018 tumbuh 0,31% ke US$71,64 per barel. Memang secara fundamental, harga minyak mulai bertahan kokoh pada tahun ini. Saat ini jenis brent naik sekitar 16% dari titik terendahnya di Februari 2018.

Terlebih, hal itu juga disokong oleh kuatnya permintaan global diiringi kepatuhan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksinya hingga akhir tahun ini. Dalam pernyataanya pada Kamis pekan lalu, OPEC mengakui bahwa kelebihan persediaan minyak global hampir menguap. Seperti halnya total produksi minyak OPEC pada Maret silam, tercatat mencapai 31,96 juta barel per hari (bph) atau turun 201.000 bph dari bulan sebelumnya.

Sekretaris Jendral OPEC Mohammad Barkindo menyatakan bahwa OPEC dan sekutunya diperkirakan akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi hingga 2019. Hal itu pun sejalan dengan keinginan Arab Saudi agar harga minyak dunia dapat mencapai US$ 80 per barel. Walaupun hingga kini, persoalan kelebihan pasokan minyak mentah global diproyeksikan baru dapat teratasi pada September 2018. Apalagi, kawasan Timur Tengah merupakan salah satu sumber utama pemasok minyak dunia yang berkontribusi sekitar 65-70 persen.

Menurut Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik OANDA di Singapura, dengan begitu banyaknya potensi disrupsi pasokan minyak dunia memang membuat harga minyak menguat. "Dengan sedikit tanda bahwa kuatnya pasar saat ini akan berakhir dalam waktu dekat, membuat investor akan terus membayar risiko geopolitik dengan harga premium," katanya seperti dilansir CNBC.

Apalagi, persoalan Timur Tengah sepertinya belum bisa mereda dalam waktu cepat. Sementara salah satu negara produsen minyak mentah, yakni Irak, pun sedang berjuang untuk bangkit setelah perang selama tiga tahun melawan militan ISIS. Kejatuhan kelompok ISIS di Irak pada Desember silam, membuat Negeri 1001 Malam mulai menyusun kembali negaranya dari porak-poranda.

Pemerintah Irak telah berusaha mencari dana untuk membangun kembali kota-kota, hingga kilang minyak yang hancur karena ISIS. Untuk membangun semua itu, diperkirakan membutuhkan dana US$100 milyar untuk 10 tahun ke depan dengan pinjaman yang dimulai pada 2018. Beberapa negara donor dan investor bahkan sampai berkumpul di Kuwait untuk membahas upaya pembangunan ekonomi dan infrastruktur di Irak, medio Februari silam. Banyak negara yang berinvestasi, termasuk AS, yang mengupayakan dana hibah internasional hingga US$115 juta atau setara Rp1,5 trilyun untuk pembangunan Irak.

John Kilduff, Founding Partner of Again Capital, menuturkan bahwa saat ini para trader telah mengunci posisi beli pada kontrak minyak mentah sebelum akhir pekan lalu. Keputusan ini dilatarbelakangi gejolak Suriah yang belum mereda, yang sangat berpengaruh pada stabilitas global, terutama hubungannya dengan negara-negara produsen minyak besar lainnya. "Suriah merupakan klien dari Rusia dan Iran, membuat risiko dari eskalasi tensi cukup tinggi. Saya pikir itu yang membuat pasar khawatir," ucap Kilduff.

Terganggunya pasokan minyak akibat gejolak Suriah bakal mengerek harga minyak dunia? Arab Saudi bisa mewujudkan harapannya untuk membawa harga minyak mentah menembus level US$80 per barel? Jawabnya ternyata, belum tentu. Bahkan tak sedikit yang memandang pesimistis. Sebab, masih ada faktor penentu yang lain. Faktor itu adalah kenaikan produksi minyak AS yang menjadi katalis negatif, menghantui pergerakan harga minyak dunia. Menurut Badan Administrasi Informasi Energi (EIA), produksi minyak serpih atau shale oil AS diperkirakan meningkat pada Mei dan akan naik berturut-turut.

Bahkan menurut laporan perusahaan pelayanan energi Baker Hughes, para pengebor minyak menambah lagi tujuh rig--sebuah instalasi peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah guna memperoleh minyak atau gas bumi--pekan lalu. Tentu saja, membuat total rig yang beroperasi hingga kini mencapai 815 buah. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2015.

Menurut EIA dalam laporan produktivitas pengeboran bulanan, produksi minyak dari Negeri Paman Sam akan berlanjut naik pada bulan Mei, yang didorong oleh produksi rekor di Cekungan Permian yang produktif di West Texas dan New Mexico. "Nantinya produksi minyak akan meningkat 125.000 barel per hari (bph) dan menjadi 7 juta bph," kata EIA dalam sebuah pernyataan Senin lalu.

Angka peningkatan tersebut tentu akan menjadi tekanan yang cukup kuat untuk menggangu harga minyak mentah dunia. Pasalnya, shale oil AS selama ini menjadi salah satu penekan bagi pergerakan harga minyak. Karena kehadiranya menjadi pemicu banjir pasokan minyak global, yang sangat bertolak belakang dari upaya OPEC untuk menciptakan keseimbangan pasar dengan memangkas produksi. Terlebih lagi, OPEC memprediksi permintaan minyak dunia pada 2018 akan meningkat dari 1,6 juta bph menjadi 98,63 juta bph.

Gandhi Achmad
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com