Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Energi Fosil (Ternyata) Belum Tamat

Temuan cadangan minyak dan gas baru di sejumlah negara menunjukkan era minyak fosil belum habis. Amerika Serikat mulai melancarkan strategi serta politik dominasi atas minyak dan gas bumi ke sejumlah negara..

Bahrain, negeri yang berada di antara raksasa energi Arab Saudi dan Qatar di Teluk Persia pada awal April lalu mengumumkan penemuan minyak terbesarnya sejak 1932. Mereka mengklaim, minimal ada 81,5 milyar barel minyak serpih (shale oil) dan 13,7 triyun kaki kubik gas alam terjebak di cekungan di lepas pantai negeri itu. ''Analisis awal menunjukkan temuan itu di tingkat substansial, yang mampu mendukung ekstraksi minyak dan gas dalam jangka panjang,'' kata Syekh Mohamed bin Khalifa al-Khalifa, Menteri Perminyakan Bahrain kepada money.cnn.com.

Sebagai produsen minyak tertua dan terkecil di Teluk Persia, Bahrain dengan cadangan minyak 125 juta barel hanya memompa 50.000 barel minyak mentah per hari. Dengan Arab Saudi yang memiliki 266 milyar barel cadangan minyak, Bahrain berbagi pendapatan dari ladang lepas pantai Abu Sa'fah yang diteken sejak 1958.

Kini, Bahrain mengundang perusahaan minyak internasional untuk membantu mengeksplorasi cadangan minyak agar dapat berproduksi dalam lima tahun ke depan. Meski bukan anggota Organisasi Negara-Negara Pengkspor Minyak (OPEC), Bahrain telah bergabung dengan kartel minyak itu untuk membatasi produksi minyak hingga akhir 2018.

Persoalannya, jumlah minyak dan gas yang bisa diambil dari celah batuan serpih di bawah laut biasanya tidak pasti dan membutuhkan ongkos yang besar. Tahun ini Halliburton Co akan mengebor dua sumur di cekungan Khaleej Al Bahrain untuk menilai banyaknya minyak yang dapat diperoleh. Selain Halliburton, perusahaan lapangan minyak Amerika Serikat lain yang bekerja sama dengan otoritas minyak dan gas nasional Bahrain adalah Schlumberger Ltd. serta kansultan minyak AS: DeGolyer dan MacNaughton.

Namun, menurut Tom Quinn, analis senior untuk Timur Tengah dari Wood Mackenzie Ltd, seperti dikutip Blommberg.com, hanya sebagian kecil dari 81 milyar barel yang bisa disedot. ''Eksplorasi minyak serpih secara teknis penuh tantangan dan berpotensi biaya tinggi, sementara kontrak minyak Bahrain pada masa sebelumnya menawarkan sedikit sekali pendapatan untuk perusahaan minyak internasional,'' kata Quinn.

Citigroup pada 2017 menaksir satu sumur serpih di darat menelan biaya US$7 juta untuk pengeboran dan fracking. ''Kemungkinan satu sumur baru di lepas pantai Bahrain akan menghabiskan biaya tidak kurang dari US$20 juta,'' kata Sadad al-Husseini, mantan wakil presiden eksekutif di Saudi Arabian Oil Co, seperti dikutip Blomberg.com, awal April.

***

Di Timur Tengah, perbedaan antara prediksi potensi minyak serpih dan jumlah yang dapat dieksploitasi bisa sangat besar. Hal itu terjadi di cekungan Al-Khali di Oman dengan kandungan 24 milyar barel minyak yang secara teknis hanya dapat diperoleh 1,2 milyar barel. Lalu, sumber daya di Lembah Wadi Sirhan di Yordania dengan sekitar 4 milyar barel hanya 100 juta barel yang dapat diekstraksi. Keduanya adalah ladang di darat.

Kasus minyak serpih di Oman dan Yordania itu juga terjadi di Libya, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Akan tetapi, Mesir tidak hanya mengandalkan minyak serpih. Negara itu juga memiliki sumber-sumber minyak baru di kawasan Gurun Barat pada 2015. Eksploitasi dan produksi di ladang tersebut dilakukan oleh Shell, Apache, Eni, dan HSBI asal Tunisia.

The Egyptian General Petroleum Corp (EGPC) melaporkan temuan minyak mentah di Abu Sinan sebanyak 2,2 juta barel minyak dan 311,5 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) gas. Lalu Apache pada tahun yang sama mengumumkan dua ladang baru di Gurun Barat yang mampu memproduksi 17.500 barel per hari (bph). Namun, temuan-temuan itu belum mencukupi total kebutuhan konsumsi minyak dan gas Mesir, yang terbesar di kawasan Afrika.

Untuk menutup kekurangan tersebut, Mesir di bawah Presiden Abdel Fattah el-Sisi memprioritaskan dan membuka lebar investasi energi dari luar. Beberapa perusahaan asing seperti BP, IEOC, EGAS, Total, RWE Dea, dan Dana Gas memiliki konsesi untuk kawasan di Mediterania dan daerah Delta Nil. Sementara untuk kawasan Gurun Timur dan Suez, sejumlah perusahaan seperti Pico, Gas de France, Dragon Oil, Ganope, NPC, Lukoil, Tri Ocean, Trident, Nort Petroleum, dan TransGlobe telah berbagi konsesi eksplorasi.

Masa depan energi Mesir terbantu dengan temuan ladang gas di Zohr, 150 km dari pantai utara Mesir. Eni memperkirakan, cadangan gas alam di kawasan itu mencapai 30 milyar scfd. Temuan terbesar di Mediterania itu membuat cadangan gasnya naik hingga 40% dan menjadi pengubah permainan energi untuk Mesir.

Sementara Kuba yang memiliki cadangan 5-20 milyar barel minyak di lepas pantai--yang hanya 70 mil dari Florida Keys, AS--mulai melakukan pengeboran dengan bantuan perusahaan minyak Cina. Temuan itu, membuat Kuba bebas dari ketergantungan pada minyak mentah Venezuela yang mencapai porsi 60% dari total konsumsinya.

Negara kecil seperti Israel juga terbantu dengan temuan 250 milyar barel minyak serpih yang bisa dieksplorasi. Dengan teknik baru tanpa air, minyak serpih dapat diolah dengan ongkos US$30-40 per barel. Inisiatif Energi Israel mengklaim, prosesnya lebih bersih karena minyak akan dipisahkan dari batuan serpih hingga 300 meter di bawah tanah. Proses ekstraksi melibatkan pemanasan batu di bawah tanah hingga 325 derajat Celcius. Produksi pada akhir dekade ini akan memasok 20% dari konsumsi minyak Israel.

Tak pelak, temuan minyak dan gas bumi selain menggeser performa sejumlah negara produsen minyak kecil, juga menandai belum berakhirnya dominasi energi negara-negara produsen minyak teratas di dunia. Brasil pada awal 2012 hanya memiliki 15 milyar barel cadangan minyak di ladang lepas pantai sub-garamnya. Namun temuan minyak di lapisan garam sedalam 2 km di bawah dasar laut ditaksir menyimpan hingga 50 milyar barel minyak.

Dengan mengebor hingga tiga kali tekanan normal untuk minyak lepas pantai, pada 2020, Petrobras--juragan minyak Brasil--akan mampu memproduksi 5 juta sampai 6,4 juta bph atau dua kali lipat dari produksi tahun 2017.

Kanada menjadi salah satu negara dengan minyak pasir (sand oil) terbesar di dunia dengan cadangan 170 milyar barel. Dua dekade lalu produksi minyak pasir dikritik karena mengeluarkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dari pada produksi minyak pengeboran. Namun teknologi terbaru yang dikembangkan N-Solv, Konsorsium Alberta mampu mengekstrak dua kali jumlah minyak dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari proses hingga 85%. Saat ini produksi minyak pasir Kanada mencapai 4,8 juta bph.

Norwegia pada 2017 bertengger sebagai produsen minyak nomer 12 di dunia dengan kemampuan produksi 1,9 juta bphi berkat dua temuan sumur baru di Laut Utara pada 2011. Statoil ASA menaksir temuannya mengandung 500 juta hingga 1,2 milyar barel yang lokasinya kurang dari sepuluh kaki dari sumur kering yang dibor pada 1971.

Kepala eksplorasi Statoil, Tim Dodson, mengatakan bahwa temuan itu menunjukkan, Norwegia masih memiliki kapasitas untuk menghadirkan penemuan kelas dunia. ''Ini telah memberi keseluruhan industri minyak optimisme baru,'' katanya seperti ditulis Institue for Energy Research.

Rusia sebagai produsen minyak kedua terbesar di dunia mulai membuka sebagian kawasan pengeboran lepas pantai di Samudra Arktik. Survei Geologi AS memprediksi, Arktik memiliki seperlima dari minyak dan gas alam yang belum ditemukan di dunia. Saat ladang minyak darat Siberia mulai turun, Rusia membutuhkan sumur-sumur minyak baru untuk mencukupi 60% dari pendapatannya dari ekspor minyak.

***

Jika banyak negara tidak berusaha mengerem eksplorasi minyak lepas pantainya, tidak demikian dengan AS. Pembatasan lingkungan dan tuntutan hukum dari organisasi konservasi telah menahan ekplorasi minyak di suaka nasional Arktik Alaska dan lepas pantai Teluk Florida, tepatnya di East and West Coasts.

Namun riset The American Petroleum Industry (API) mengemukakan, produksi minyak Amerika akan menjadi besar jika tidak ada halangan pada produksi minyak serpih dan pengeboran laut dalam (deepwater). Produksi minyak, jika mencapai 15,4 juta bph, akan menciptakan 1 juta pekerjaan baru selama tujuh tahun ke depan dan 1,4 juta pekerjaan baru sampai 2030.

Faktanya, pada 2017 lalu, produksi minyak AS sudah mencapai 14,72 juta bph mendekati konsumsi nasional yang sebesar 19 juta bph. Selama ini, industri minyak telah menciptakan lebih dari 9 juta pekerjaan di seluruh perekonomian. Diprediksi, lebih dari US$800 milyar pendapatan pemerintahan, baru kumulatif dapat dihasilkan pada 2030 dan US$127 milyar pada 2020. Dengan cara itu AS dapat terbebas dari impor minyak non-Amerika Utara.

Setahun setelah terpilihnya Presiden Donald Trump, peningkatan pada produksi minyak dan gas memperlihatkan mulainya arah dominasi energi dari AS. Pada Oktober 2017, produksi minyak mentah meningkat 12% dari setahun sebelumnya, dan produksi gas alam juga naik hingga 13%. Kini AS juga termasuk sebagai pengekspor produk minyak olahan terbesar di dunia.

Kamar Dagang AS menyatakan, kebijakan Trump untuk mengurangi regulasi produksi dan infrastruktur energi telah menunjukkan pemanfaatan atas kelimpahan energi yang dimiliki AS. Trump menyiapkan pembukaaan penjualan sewa untuk lahan di Alaska National Petroleum Reserve dan melelang semua wilayah federal yang tersedia di Teluk Meksiko, yakni wilayah outer continental shelf (OCS), sebuah area seluas New Mexico, untuk eksplorasi minyak.

Katharine MacGregor sebagai Asisten Sekretaris Dalam Negeri bersaksi kepada Kongres pada Juli 2017 lalu bahwa pada masa lalu, 94% dari OCS adalah terlarang untuk pembangunan yang bertanggung jawab, meskipun ada minat dari pemerintah negara bagian dan para pemimpin industri. ''Pemerintahan administrasi Trump didedikasikan untuk membuka akses ke sumber daya energi lepas pantai kami untuk mempromosikan dominasi energi dan menciptakan lapangan kerja,'' katanya.

Selain membuka eksplorasi minyak, Trump juga menjual energinya ke luar. Pada 6 Juli 2017 lalu, ia bertemu Presiden Polandia Andrzej Duda untuk menawarkan bahan bakar dari AS sebagai alternatif dan menyudahi ketergantungan pada energi dari Rusia. Setelah enam bulan perjalanan Trump itu, Polandia melakukan perjanjian impor gas alam cair (LNG), minyak mentah dan batu bara dengan AS.

Polandia juga mengumumkan tidak akan memperbaharui kesepakatan pasokan gas dengan Rusia Gazprom yang berakhir pada 2022. Hal itu akan menghentikan sebuah hubungan eksekutif dengan Rusia sejak 1944. Kremlin mengatakan, AS mencoba untuk melemahkan proyek-proyek energi Rusia di Eropa.

Sementara itu Cina telah menjadi pelanggan utama LNG AS dan menjadi pembeli terbesar kedua dari minyak mentah AS setelah Kanada. Selain LNG, ekspor batu baru AS ke Asia juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena perusahaan pertambangan AS mencari alternatif untuk domestik yang lemah. Lithuania, Ukraina, Cina, Jepang, Korea Selatan dan Vietnam termasuk di antara 30-an negara yang berminat menerima pasokan energi dari AS.

Trump kini sedang menikmati booming industri minyak dan gas dan menempatkan pemerintahannya lebih berpengaruh internasional di pasar energi daripada yang dilakukan Gedung Putih dalam beberapa dekade lalu.

***

Menurut praktisi perminyakan, B. Dorpi Parlindungan, saat ini energi menjadi salah satu komoditas yang dibutuhkan atau dicari selain pangan dan air. Namun, dunia tidak digerakkan semata-mata oleh energi. ''Di dalam energi sendiri ada energi fosil yang pengaruhnya masih ada dan bergantung pada kemampuan dan teknologi suatu negara untuk mengeksplorasinya,'' katanya.

Untuk negara yang tidak mampu mencukupi kebutuhan minyaknya sendiri, pasti akan memiliki strategi pemenuhan atas minyak agar kebutuhannya untuk beberapa hari ke depan aman. Kondisi tersebut, menurut Dorpi, memunculkan perdagangan minyak yang pembentukan harganya tergantung pada sejumlah faktor seperti pasokan atau ketersediaan dan permintaan atau kebutuhan.

Melihat kemampuan dalam produksi minyak di Indonesia, Dorpi mengemukakan bahwa eksplorasi minyak oleh perusahaan asing yang memiliki teknologi tetap dibutuhkan. Selanjutnya untuk menggairahkan produksi minyak, salah satu jalannya adalah memberikan kepastian hukum, iklim bisnis yang sehat, dan jaminan keberlangsungan investasi. ''Pasalnya, bisnis di industri perminyakan, terutama eksplorasi, penuh dengan risiko dan ketidakpastian tinggi,'' katanya.

Kebutuhan akan tingginya energi fosil, menurut Sugeng Sapto Surjono, ahli bidang sedimentology dan rtratigraphy, Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, tidak dapat dimungkiri. Energy Outlook dari Dewan Energi Nasional menyebutkan, kebutuhan minyak dan gas pada 2025 mencapai 101 juta tons oil equivalent (TOE) dan menjadi 237 juta TOE pada 2050. Sementara untuk energi baru terbarukan dipatok 13 juta TOE pada 2025 dan 46 juta TOE pada 2050.

Melihat prediksi itu, hemat Sugeng, akan tetap dibutuhkan eksplorasi di area-area yang mempunyai potensi keberadaan minyak dengan penambahan data baru dan pendekatan baru. ''Orang eksplorasi umumnya masih sangat optimistis dengan penemuan cadangan-cadangan baru,'' katanya. Apalagi secara teoritis minyak bisa saja didapatkan sampai kedalaman 7.000-10.000 meter.

Sementara itu, menurut pendiri ReforMiner Institute, Pri Agung Rahmanto, masalah eksplorasi migas tidak hanya ditentukan oleh faktor kedalaman, namun juga teknologi untuk mengatasi faktor teknis lain seperti keras-tidaknya batuan, batuan berpori atau tidak, minyaknya berat atau tidak. Kemampuan teknologi eksploitasi AS terhadap shale oil dan shale gas menjadikan negara itu saat ini sebagai produksen minyak terbesar.

''Dengan kemampuan itu, kebijakan Trump yang terkait minyak akan memengaruhi konstelasi negara-negara OPEC dan Timur Tengah dalam memainkan harga minyak dunia,'' kata Agung kepada Egi M. Fadliansyah dari GATRA.

G.A. Guritno, Hendry Roris P. Sianturi, dan Arif Koes Hernawan (Yogyakarta)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.25 / Tahun XXIV / 19 - 25 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Khusus II
Laporan Utama
Media
Multimedia
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni
Surat & Komentar
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com