Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Diplomasi Mengincar AS

Lawatan diplomasi Kim Jong Un untuk menemui beberapa pemimpin negara berjalan mulus. Rangkaian pertemuan saling berkait, khususnya soal denuklirisasi Korea Utara. Namun, banyak analis berpendapat pertemuan Trump-Jong Un harus dibatalkan

Lawatan ke Cina, menemui Presiden Xi Jinping, Senin, 26 Maret lalu membuka agenda lanjutan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, untuk bertemu dengan para pemimpin negara lainya. Ia dijadwalkan menemui Presiden Korea Selatan, Moon Jae In, pada 27 April. Berikutnya ada agenda pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Mei mendatang. Sesi selanjutnya dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, pada bulan Juni.

Seluruh rentetan pertemuan itu masih berkaitan dengan upaya untuk meredakan ketegangan akibat kebijakan nuklir Pyongyang. Menurut laporan VOA, Kamis pekan lalu, Korea Selatan dan Korea Utara sudah merundingkan persiapan pertemuan puncak akhir bulan ini. Pertemuan pada tingkat pejabat itu, yang diadakan di desa perbatasan Panmunjom, untuk membahas masalah keamanan, protokol dan liputan media ketika pertemuan berlangsung.

Seorang pejabat Korea Selatan yang menolak disebut identitasnya mengatakan, pertemuan puncak itu akan dipusatkan pada upaya pelucutan program senjata nuklir Korea Utara--walaupun Pyongyang belum mengatakan apa pun tentang hal itu. Namun, di antara yang akan dibahas dalam pertemuan para pejabat tersebut adalah bagaimana Jong Un sampai di desa Panmunjom yang berada di kawasan Korea Selatan. ''Selain itu juga akan dibahas apakah ia (Jong Un) akan melewati garis perbatasan yang memisahkan kedua negara Korea itu dengan berjalan kaki sebagai isyarat perdamaian simbolis,'' kata pejabat tersebut.

Selain itu, persoalan berapa kali Jong Un dan Moon akan bertemu pada hari itu pun menjadi pembahasan serius. Bahkan, teknis pertemuan mereka akan disiarkan langsung lewat televisi atau tidak, juga menjadi bahasan. Dalam catatan sejarah, kedua negara Korea ini baru mengadakan pertemuan puncak dua kali sejak berakhirnya perang Korea pada 1953. Pertemuan tersebut berlangsung pada 2000 dan 2007.

Membaiknya hubungan kedua negara ini memang cukup menarik. Semua itu dimulai dari keikutsertaan tim Korea Utara dalam Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang yang diadakan pada Februari silam. Dari situlah benih-benih perdamaian tumbuh. Sampai akhirnya berlanjut pada hadirnya delegasi musik K-Pop Korea Selatan untuk pertama kali dalam satu dekade terakhir. Jong Un disuguhi lebih dari 11 grup musik untuk dua konser pada 1 dan 3 April, di Pyongyang. Di antara grup itu ada nama Red Velvet, Seohyun, Choi Jin-hee, serta Cho Yong-pil.

Setelah kehadiran mereka, disusul kedatangan delegasi tingkat tinggi Korea Selatan ke Pyongyang untuk bertemu Jong Un. Pertemuan tersebut guna membahas pertemuan puncak pemimpin kedua Korea. Hingga kini, menjelang pertemuan Jong Un-Moon, hubungan kedua negara semakin membaik dan harmonis.

Sementara itu, Pemerintah Jepang mengumumkan rencana pertemuan bilateral tingkat tinggi dengan Jong Un. Surat kabar Asahi memberitakan, Pyonyang telah mendiskusikan dengan pemimpin Partai Buruh Korea soal kemungkinan pertemuan dengan Tokyo. Sumber dari Korea Utara yang tidak mau disebut namanya mengatakan, Pemerintah Jepang telah mengekspresikan harapan untuk menjadi tuan rumah pada pertemuan bilateral tersebut.

Dikabarkan, tempat pertemuan itu di Asosiasi Penduduk Korea di Jepang atau Chongryon. ''Kami telah berkomunikasi dengan Korea Utara melalui sejumlah kesempatan, di antaranya melalui kedutaan besar kami di Beijing, namun saya tidak berkenan untuk mengatakan hal-hal yang spesifik,'' kata Kepala Sekertaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga, seperti dilansir Reuters.

Sumber dari Pemerintah Jepang menuturkan, gagasan pertemuan itu muncul pada pertengahan Maret lalu. Ketika itu, Jepang mempertimbangkan pertemuan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dengan Jong Un. Kemungkinan pertemuan bilateral itu berlangsung pada awal Juni 2018, setelah pertemuan Jong Un dengan Moon dan Trump.

Presiden Trump pun menyatakan siap untuk bertemu Jong Un. Jika terwujud, hal itu akan menjadi pertemuan pertama bagi Presiden AS dan pemimpin Korea Utara. ''Kim Jong Un berbicara soal denuklirisasi dengan perwakilan Korea Selatan, bukan hanya pembekuan. Juga, soal tidak ada uji coba rudal lagi oleh Korea Utara selama periode waktu ini," ucap Trump.

Pengamat politik dari Punan National University, Robert Kelly kepada CNBC, mengatakan bahwa pertemuan Trump-Kim harus dibatalkan. Sebab, pemimpin AS tidak siap untuk negosiasi setinggi itu. Bagi Kelly, pertemuan itu terlalu berisiko karena Trump rupanya memiliki pengetahuan terbatas tentang politik kompleks Korea Utara.

Trump, kata Kelly, tidak tahu banyak tentang Korea. ''Kami tahu dia tidak banyak membaca, dia menonton banyak televisi dan staf keamanan nasionalnya sedang kacau-balau sekarang," katanya, merujuk penunjukan John Bolton sebagai Penasihat Keamanan Nasional AS yang baru menggantikan H.R. McMaster.

Sebaliknya, sambung Kelly, orang Korea Utara telah mempersiapkan pertemuan ini sejak lama. Karena memang AS yang menjadi target utama. ''Jadi mereka akan datang ke sana dan tahu setiap detail dan mereka akan siap berunding lebih jauh ke dalam," katanya.

Ia memaparkan, hal pertama yang akan dilakukan Jong Un di dalam pertemuan adalah memberikan pidato 40 menit tentang kejahatan perang AS sepanjang Perang Korea. Kemudian, apakah Presiden Trump siap untuk duduk di sana dan mendengarkan saat Jong Un bicara?

Menurut Michael J. Green, seorang profesor di Universitas Georgetown dan wakil presiden senior untuk Asia di Pusat Strategi dan Internasional Studi, prospek pertemuan Trump-Jong Un akan kurang memprihatinkan jika presiden menunjukkan lebih banyak perintah tentang fakta di Semenanjung Korea. ''Proses negosiasi dengan Pyongyang penuh dengan jebakan,'' kata Green.

Ia menilai, para pemimpin Korea Utara yang memiliki pengalaman puluhan tahun mencoba memanipulasi pengaturan bernuansa yang terkait dengan amanat Dewan Keamanan PBB dan aliansi AS di Asia. ''Begitu juga beberapa diplomat AS, tetapi mereka tidak akan berada di tengah panggung (di pertemuan),'' ucap Green.

Di antara banyak tuntutan yang bisa dilakukan Jong Un sebagai pertukaran untuk diskusi tentang denuklirisasi adalah membongkar kehadiran militer AS di Korea Selatan. Kemudian, ia meminta penghentikan latihan militer AS-Korsel. Titik-titik diskusi yang rumit tersebut biasanya dikerjakan oleh diplomat tingkat rendah menjelang KTT diplomatik.

Menurut Kelly, dengan waktu tersisa beberapa minggu ke depan--dari jadwal pertemuan pada Mei--berarti Trump harus melakukan banyak pekerjaan langsung di ruang rapat. ''Dan hal itu tidak jelas bagi saya bahwa Presiden pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya,'' ucap Green.

Gandhi Achmad
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No.24 / Tahun XXIV / 12 - 18 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com