Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Sampah Berkurang, Listrik Terang

Teknologi PLTSa karya BPPT dibangun di Bantar Gebang. Dilengkapi sistem pengendalian gas buang dan pengelolahan abu. Diklaim ramah lingkungan.

Sebagian besar sampah asal Jakarta dibuang di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPSP) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Setiap hari, pembuangan sampah akhir yang dikelola Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta itu menerima kiriman 7.000 ton sampah. Selama ini, sampah itu dikelola menggunakan sistem sanitary landfill (penumpukan sampah dan dilapisi tanah merah). Karena itu, tak mengherankan bila di TPST Bantar Gebang terlihat gunungan sampah, dengan bau yang menyengat hidung.

Untuk mengatasi persoalan klasik yang terkait dengan pengelolaan sampah di Bantar Gebang, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemprov Jakarta bekerja sama membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Akhir Maret lalu, dilakukan groundbreaking pembangunan PLTSa dengan dibiayai dari APBN sebesar Rp90 milyar. Nantinya, proyek percontohan yang diperkirakan rampung pada Februari 2019 ini mampu menghasil energi listrik 400 KW dengan bahan bakar 50 ton sampah per hari. Tak itu saja, PLTSa yang dibangun di lahan seluas 7.000 m2 ini juga bakal digunakan sebagai pusat studi sampah.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto, menjelaskan bahwa fokus utama BPPT dalam proyek percontohan ini adalah memusnahkan sampah dengan volume besar, dalam waktu yang cepat dan tidak memakai lahan yang luas, serta ramah lingkungan. "Artinya pencemaran lingkungan bisa dicegah. Sebetulnya concern-nya di situ,'' kata Unggul kepada Dara Purnama dari GATRA, di ruang kerjanya, lantai 2 Gedung BPPT, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis pekan lalu.

Teknologi yang yang digunakan dalam PLTSa Bantar Gebang merupakan hasil karya BPPT. Proses pengolahan sampah menjadi energi listrik menggunakan teknologi termal tipe stoker grate. Teknologi termal, menurut Unggul, terbukti merupakan teknologi terbaik dan sudah digunakan di negara-negara maju di Eropa dan Asia yang memiliki PLTSa. Selain itu, teknologi ini memenuhi kriteria best available technologi meet actual need.

Meskipun begitu, lanjut Unggul, BPPT melakukan sejumlah inovasi teknologi untuk menyesuaikan dengan komposisi sampah yang ada di Indonesia yang campuran sampahnya banyak, termasuk sampah logam. ''Juga cenderung basah," kata Unggul. Inovasi itu, misalnya, dengan memperbesar ruangan bunker penyimpanan sampah sehingga dapat diisi sampah dalam jumlah besar. Lalu, dilengkapi dengan alat pengaduk sampah berupa crane yang diberi magnet, yang berfungsi untuk memisahkan sampah yang mengandung logam.

Unggul menjelaskan, PLTSa BPPT memiliki kandungan lokal yang tinggi. Memang ada beberapa komponen yang diimpor, tapi itu tidak signifikan. ''Turbinnya yang kami impor,'' kata Unggul. Pengoperasionalannya juga dilakukan oleh tenaga-tenaga lokal. Menurut Unggul, cukup banyak enginer-enginer Indonesia yang berpengalaman di bidang PLTSa. ''Dengan kami melakukan ini paling tidak pengalaman enginer-enginer kita itu kan menjadi meningkat. PD (kepercayaan diri )-nya naik. Kalau PD-nya naik nanti akhirnya kualitasnya juga meningkat,'' kata Unggul.

Soal harga PLTSa BPPT yang dianggarkan hingga Rp90 miliar, menurut Unggul, itu jauh lebih murah, jika dibanding PLTS dari negara lain. ''Kami sudah berkomunikasi dengan pihak luar di sana, ternyata kalau dari luar itu sampai empat kali lipat [harganya].'' kata Unggul.

Cara kerja PLTSa ini, mula-mula truk pengangkut sampah masuk ke platform, yakni ruangan yang dipergunakan untuk menurunkan sampah yang ada di truk ke dalam bunker atau bak besar penampungan sampah. Lalu, sampah organik dan non-organik di bunker diaduk dengan menggunakan alat berupa crane. Pengadukan ini bertujuan agar kadar air di dalam sampah menyusut.

Setelah kadar air menyusut, sampah dipindahkan ke dalam stoker grate waste heat recovery boiler. Pada tahap ini, sampah dibakar dengan suhu 950 derajat celcius sehingga hasil pembakaran yang berupa dioxin (senyawa kimia bersifat racun) dapat diminimalkan. Agar proses pembakaran sampah merata, alat ini menggunakan lantai bakar yang dapat bergerak (reprocating grate).

Di dalam ruang pembakaran, dipasang boiler. Fungsinya untuk mengonversikan air menjadi uap panas bertekanan tinggi. Suhunya mencapai 390 derajat celcius dan bertekanan tinggi (40 bar). Uap panas ini yang akan digunakan untuk menggerakkan turbin dan generator listrik. Dari proses inilah dihasilkan energi listrik.

Proses pembakaran ini menghasilkan residu berupa bottom ash (abu) dan fly ash (abu terbang). Jika residu ini dibiarkan tentu akan menjadi sumber polusi udara. BPPT sudah memikirkan cara pengolahan residu tersebut. Yakni mendinginkannya dengan menggunakan air. Kemudian, abu yang sudah dingin tadi dipindahkan ke bak penampung. Abu ini dapat digunakan sebagai bahan pembuatan batako dan paving block.

Untuk abu terbang, penanganannya dengan cara didinginkan pakai air langsung dari hooper (dalam fly ash extractor), kemudian dipindahkan dengan konveyor ke silo. Abu terbang ini dapat digunakan sebagai bahan campuran semen atau bahan kimia polimer.

Selain residu berupa abu dan abu terbang, proses pembakaran sampah juga menghasilkan gas buang. Jika dibiarkan, gas buang ini juga akan menjadi sumber polusi. BPPT telah melengkapi PLTSa-nya dengan sistem pengedalian gas buang yang ramah lingkungan. Caranya, dengan menerapkan sistem pengedalian pencemaran udara yang keluar dari cerobong pembakaran.

Sistem ini terdiri atas unit penurun suhu gas buang (quaencher), bag filter yang berfungsi untuk menyaring partikulat udara, injeksi kapur untuk menetralkan gas yang bersifat asam. Sedangkan pemberian karbon aktif berfungsi untuk menangkap dioxin dan logam-logam berat yang ada dalam gas buang.

Sementara itu, menurut Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, teknologi PLTSa BPPT dapat menjadi role mode bagi pengelolaan sampah di daerah lain. ''Terutama bisa menjadi alternatif dan acuan tempat-tempat lain yang sudah darurat sampah,'' kata Rudi. BPPT, saat ini, masih terus melakukan pengkajian dan penelitian teknologi PLTSa. Diharapkan, setelah pilot project ini berhasil, akan dapat dibangun PLTSa, yang mampu mengelola sampah yang tidak hanya 50 ton sehari, tapi lebih banyak lagi. ''Di luar negeri ada [PLTSa] yang bisa sampai lima ribu ton sampah per hari,'' katanya.

Kepala TPST Bantar Gebang, Asep Kunanto, berharap proyek pembangunan PLTSa ini bisa rampung pada 2019 dan dapat segera dioperasionalkan. Jika proyek percontohan ini sukses, Pemprov Jakarta akan menggagas teknologi serupa dengan membangun PLTSa di sejumlah wilayah di Jakarta. Tentu dengan kapasitas produksi listrik yang lebih besar. ''Kita berharap tahun depan (2019), Februari sudah operasi. Pada 2020, sudah serah terima ke kami, Pemprov (Jakarta),'' ujarnya.

Sujud Dwi Pratisto dan Andhika Dinata

***

PLTSampah BPPT
Anggaran Proyek : Rp 90 miliar Sumber dana : APBN

I. Produksi
Parameter Produksi Kuantitas Sampah yang ditermal 50 ton/hari Nilai kalor bahan bakar (low heating value-LHV) 1.500 kkal/kg Produksi listrik > 4000 KW

II. Gas Buang
Parameter Gas Buang Batas maksimum Partikulat 120mg/Nm2 Sulfur dioxide (SO2) 210mg/Nm2 Nitrogen dioxide (NO2) 470mg/Nm2 Hydrargyrum (Hg) 3mg/Nm2 Carbon monoxide (CO) 625mg/Nm2 Hydrogen fluoride (HF) 2mg/Nm2 Dioksin/furan 0,1mg/Nm2

III. Peralatan Utama
Platform Ruangan yang dipergunakan untuk pergerakan truk sampah menurunkan sampah ke bunker.
Bunker Bak besar untuk penampungan sampah
Crane Digunakan untuk mengaduk dan memilih sampah, lalu dipindahkan ke stoker grate
Stoker Grate Mengantarkan sampah ke ruang pembakaran
Ruang pembakaran Tempat melakukan proses pembakaran sampah dengan suhu diatas 950 derajat Celcius
Boiler Mengkonversikan uap air hasil pembakaran menjadi ernergi yang digunakan untuk menggerakan turbin dan gerator listrik.

IV. Dua Proses Pemanfaatan Sampah Sebagai Sumber Ernergi Listrik
1. Proses bio dengan digester anaerobik atau pemanenan gas tempat pembungan sampah dengan sistem landfill. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik. 2. Proses termal, yang terdiri dari tiga jenis yaitu combustion (insinerasi), gasifikasi dan pirolisis. Energi panasnya dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik
Sumber : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Cover Majalah GATRA edisi No.24 / Tahun XXIV / 12 - 18 April 2018 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Focil
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perjalanan
Seni Rupa
Surat & Komentar
Teropong
Wawancara
 
Created and maintained by Gatra.com