Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

MULTIMEDIA

Chatting Messenger Rasa Lokal

Aplikasi chatting karya anak bangsa mulai melejit. Salah satu yang mulai mencuat, liteBIG Messenger. Diyakini bisa bersaing dengan aplikasi mainstream. Mungkinkah menjadi trendsetter?

Bagi Anggi Lestari, 16 tahun, menggunakan liteBIG Messenger boleh dibilang newbie alias masih baru. Maklum, gadis kelahiran Bogor, Jawa Barat, yang duduk di kelas II SMU Negeri 25 Jakarta itu belum sampai seminggu menggunakan aplikasi chatting yang mulai digemari ini. Penggunaanya pun masih menjadi selingan dan sebatas dengan beberapa teman dan keluarga.

Pasalnya, untuk urusan chatting, Anggi masih lebih dominan menggunakan BBM, WhatsApp, dan Line. Namun, kalau ditanya kenapa ia mulai melirik liteBIG Messenger? Ia pun angkat bicara. Menurutnya, aplikasi tersebut lebih aman dalam penggunaan konten dan berbagi data. Karena fiturnya bisa menghapus pesan yang telanjur terkirim. Aplikasi lain tidak ada.

Ia mengakui, tampilan fiturnya terlihat standar. Tapi, liteBIG Messenger memiliki keunggulan, yakni mempunyai beranda. Yup, hampir seperti Facebook. ''Bagusnya, ada berandanya gitu, ada cover-nya. Kan kalau WA enggak ada,'' ucap Anggi kepada Gatra.

Karena itu, ia mengapresiasi aplikasi buatan asli orang Indonesia ini. Ia sangat bangga bisa memakai produk dalam negeri. Anggi pun berharap, ada pengembangan lagi ke depan. Sehingga, aplikasi tersebut bisa semakin menarik perhatian pengguna lainya.

Memang aplikasi liteBIG Messenger sebenarnya bukan termasuk aplikasi baru. Sebab, aplikasi chatting ini sudah tersedia di Google PlayStore sejak 2014. Sayangnya, ketika itu warga Indonesia banyak yang belum mengetahui liteBIG Messenger. Hingga belakangan sudah mulai dikenali banyak orang. Hal itu tergambarkan dari jumlah download di PlayStore yang sudah mencapai lebih dari 500.000 kali.

Founder liteBIG Messenger, M. Tesar Sandikapura, membeberkan awal dibuatnya liteBIG. Ia mengaku, semua berangkat dari kegelisahan hati. ''Kenapa tidak ada aplikasi chatting ciptaan anak bangsa,'' katanya kepada Gatra, Kamis pekan lalu.

Padahal, pengguna aplikasi chatting di Indonesia sangat banyak. ''Jepang punya Line, Amerika punya WhatsApp, Kanada punya BBM. Nah, Indonesia hanya punya waktu menggunakannya,'' katanya sambil tertawa.

Dari kegelisahan itulah, ia tidak mau Indonesia hanya menjadi target market. Dalam batin Tesar pun berkata, dengan pengalaman 10 tahun di bidang teknologi informasi masak tidak bisa bikin aplikasi tersebut. Hingga akhirnya, ide awal muncul bersama kedua temanya untuk membuat produk lokal sejenis WhatsApp dan lainya.

Penggarapanya dimulai pada 2013. Tesar, yang alumnus Teknik Elektro Universitas Negeri Lampung, dibantu Andreas Harnindito, jebolan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan Stephen Daniel, lulusan Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

Hingga Agustus 2014, liteBIG versi 1.0 pun launching di PlayStore. Di luar dugaan, ternyata antusiasmenya tinggi. Dari situlah, Tesar memutuskan untuk menggarapnya lebih serius. ''Saya dan yang lainnya keluar dari pekerjaan untuk fokus di liteBIG. Tahun 2015 itu pengembangan, meski memakai dana pribadi sembari mencari investor,'' katanya.

Barulah, pada Juni 2015, liteBig mendapat sponsor. ''Di bawah Rp 10 milyar untuk operasional sampai sekarang,'' ungkap Tesar. Kini, liteBig sudah berkantor di ruko berlantai dua di seberang Stasiun Tebet.

Meski sederhana, jumlah pekerjanya sudah mencapai 20 orang. Terdiri dari anak-anak SMKN 1 Karawang, dan juga ada beberapa sarjana. Tesar mengakui, untuk saat ini, secara revenue liteBIG memang belum profit. Karena masih dalam tahap pengembangan. ''Tapi kita sudah ada masukan dari dua produk. Seperti produk untuk publik dan produk untuk korporat,'' ia memaparkan.

Setidaknya, dengan produk yang dijual ke korporasi masih bisa menguntungkan. Karena, sudah ada dua perusahaan yang telah menjadi klien. Nilainya masih di bawah Rp 500 juta. Perusahaan tersebut meminta messenger sendiri yang dapat dipakai oleh internal karyawannya, dengan fitur-fitur yang bisa di-customize, tergantung permintaan. Semua menggunakan aplikasi dengan basis liteBig. Kini, Tesar sedang menawarkan kepada perusahaan multinasional untuk produknya.

Menurut Tesar, untuk mendongkrak bisnis, ke depan akan dibuat fitur payment. ''Jadi lewat LiteBig kita bisa memesan ojek tanpa membuka aplikasi sejenis. Jadi kita efisien. Mau pesan tiket juga enggak ke aplikasi lain, langsung di sini. Bayar pulsa dan token juga,'' katanya. Jadi ke depannya, messenger ini jadi super-apps, terintegrasi dengan banyak aplikasi.

Kemudian, nantinya juga akan mengenalkan fitur services di liteBig. Misalnya, dapat mengakomodasi bila ada ibu-ibu yang mempunyai keahlian mencuci, menggosok, dan memasak bisa mempromosikan dirinya untuk menambah penghasilan. Dengan demikian aplikasi ini membuka lapangan kerja baru, serta memiliki dampak sosial.

Dalam hitung-hitungan Tesar, pendapatan kasar per bulan sampai satu atau dua tahun ke depan bisa mencapai sebesar Rp 20 juta-Rp 30 juta. Tapi kalau saja skema bisnisnya sudah berjalan dengan asumsi sudah ada 2 juta pengguna, dan dapat mengambil keuntungan 10 perak per hari saja sudah meraih profit Rp 20 juta. ''Jadi kalau sebulan bisa diperkirakan mencapai Rp 600 juta,'' ujarnya.

Hingga kini, jumlah pengguna liteBIG, berdasarkan data, sudah mencapai 606.700. Pertumbuhan pengguna dalam sehari mencapai 1.000-6.000. Penambahannya, pun sering menjadi trending di PlayStore. Bahkan, sempat mengalahkan WhatsApp dan Line dalam beberapa hari. Terget yang dia pasang: tahun depan bisa meraih 5 juta sampai 10 juta pengguna. ''Sepertinya sih mudah, karena efeknya sudah viral saat ini, tinggal kita maintenance kualitasnya saja,'' kata Tesar.

Karena itu, ia selalu ingin liteBIG menjadi aplikasi yang ringan, andal, dan aman. Aman di sini berkaitan dengan nasionalisme: data jangan sampai disimpan pihak asing. Lalu, andal adalah social impact yang menghasilkan uang dan memudahkan orang berkomunikasi. Sedangkan ringan artinya, produk ini tidak menghabiskan baterai dan hemat penggunaan paket data.

Pilihan warna biru untuk tampilan liteBIG, menurut Tesar, secara filosofis dimaksudkan agar seperti langit --yang mengundang animo tinggi dari masyarakat. Keyakinannya, aplikasi chatting ini bisa bersaing dan menjadi hits di antara pengguna aplikasi messenger di dunia yang sudah mencapai 2 milyar orang.

''Orang enggak buka Facebook sehari, oke. Tapi enggak messenger-an, yah putus komunikasi. Jadi memang tren messenger secara grafik meningkat dan media sosial menurun. Tren messenger di Indonesia, pasarnya, terbuka lebar,'' Tesar memaparkan.

Sejauh ini, fokus sasaran liteBIG berada di rentang usia 18-35 tahun. ''Dari mahasiswa sampai pekerja, itu yang cocok bagi pengguna liteBIG,'' ungkapnya. Lalu, untuk daerah di Indonesia yang paling banyak penggunanya adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan beberapa wilayah lainnya. Dari segi gender, LiteBig lebih banyak dipakai pria.

Sementara itu, pakar multimedia dan IT Teguh Prasetya menuturkan, aplikasi messenger buatan lokal seperti Catfiz, IMES talk, GGM, kemudian Yogrt dan terutama liteBIG, ke depanya bisa bersaing dengan aplikasi mainstream lainya. Asal, ada kuncinya. Yakni, memiliki dukungan komunitas, dukungan pada device, dukungan network, serta dukungan konten aplikasi tersebut.

Untuk menjadikan aplikasi ini trending di Indonesia, menurutnya, pasar harus dibentuk. ''Indonesia sangat bisa dibentuk pasarnya. Harus bikin tren. Do much be trend leader. Contoh Gojek, itu trend leader, bukan follower, dan itu bisa dibuat di Indonesia,'' kata Teguh.

Bagi Teguh, hal tersebut bisa dilihat dari awal mula WhatsApp yang ketika masuk harus bersaing dengan BBM. ''Tapi ternyata mereka bisa menjaditrendsetter. Karena membuat komunitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar, karenanya mereka bisa sampai saat ini,'' ucapnya.

Gandhi Achmad dan Andi Anggana

Cover Majalah GATRA edisi No.07 / Tahun XXIII 15-21 Des 2016 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Obituari
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Ragam
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com