Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

ISIS Membayangi Eropa

Ledakan bom di Brussels menunjukkan matangnya para pendukung ISIS melancarkan serangan gaya baru. Ancaman militansi ini di Eropa semakin nyata.

Seharusnya aksi solidaritas di alun-alun kota Brussels Ahad pekan lalu itu menjadi acara damai. Bertujuan mengenang para korban ledakan bom di Ibu Kota Belgia itu, yang terjadi pada Selasa pekan lalu. Namun sejumlah orang berpakaian hitam nekat mengarak spanduk sambil berteriak-teriak mengutuk gerakan Negara Islam (ISIS).

Tak mau situasi bertambah gawat, polisi pun membubarkan massa dengan meriam air. ''Para demonstran ini sangat tidak beretika, mereka mengganggu ketenangan. Saya sangat mengutuk gangguan ini,'' kata Perdana Menteri Belgia, Charles Michel, seperti dikutip kantor berita Belgia, Belga.

Selasa pekan lalu, serangan mematikan mengguncang Brussels. Pertama di Bandara Internasional Brussel-Zaventem. Sekitar pukul delapan pagi, dua bom diledakkan di tempat itu. Kemudian, di sebuah gerbong kereta yang baru berangkat dari stasiun bawah tanah di Maelbeek, sebuah bom kembali meledak, satu jam setelah bom bandara meletus. Tak lama kemudian ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Juru bicara Pusat Krisis Belgia, Benoit Ramacker, mengatakan korban tewas akibat serangan bom itu ditetapkan sebanyak 28 orang. "Jumlah korban tewas awalnya adalah 31 orang termasuk tiga penyerang, dua orang yang meledakkan diri di bandara, dan satu di Stasiun Maelbeek," kata Ramacker.

Kini, pemerintah sedang berupaya mengendalikan situasi setelah Brussels mengalami masa krisis. Meskipun upaya pengusutan terhadap kasus ini tetap dilakukan. Polisi pun telah melakukan penggerebekan di 13 tempat di sekitar kota Brussels dan Antwerpen. Sembilan orang diinterogasi -lima kemudian dibebaskan.

Sebelumnya, dua pengebom bunuh diri di Zaventem sudah diidentifikasi sebagai Najim Laachraoui dan Brahim el-Bakraoui. Hingga Sabtu pekan lalu, Kejaksaan Belgia secara resmi mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pria bernama Faycal C. Ia dituduh terlibat dalam kelompok teroris dan usaha teroris untuk melakukan pembunuhan.

Memang tidak ada keterangan rinci soal nama Faycal C.. Namun, media Belgia melaporkan bahwa seorang pria bernama Faycal Cheffou dicurigai melarikan diri dari Bandara Brussels. Faycal juga adalah orang yang sama dengan pria bermantel putih yang terlihat dalam rekaman CCTV sebelum bom meledak di Bandara Brussel.

Faycal ada di antara beberapa orang yang ditangkap antara Kamis dan Jumat lalu dalam penggrebekan oleh aparat kepolisian Belgia, Prancis, dan Jerman. Dalam rekaman CCTV Faycal terlihat berjalan bersama Ibrahim el-Bakraoui dan Najim Laacharoui. Polisi menyebut Faycal adalah otak di balik penyerangan bom itu.

Sebelum terlibat dan memimpin aksi teror, ia dikenal sebagai pria yang kerap membuat video jurnalisme independen. Wali Kota Brussel, Yvan Mayeur, mengatakan kepada koran Le Soir, Faycal beberapa kali sempat ditahan karena kerap kali mendatangi kamp pengungsi dan menghasut para pencari suaka untuk melakukan aksi terorisme. "Ia orang berbahaya, dan pihak pengawas kamp telah mengusir dan melarang ia datang lagi ke lokasi itu," kata Mayeur seperti dilansir The Guardian.

Faycal pernah merekam dirinya sendiri pada 2014 tentang kehidupan para pengungsi di kamp-kamp pencari suaka di kota Steenokkerzeel, di Brussels barat laut dekat bandara. Rekaman itu berisi kisah para pengungsi muslim yang berpuasa Ramadan tapi tak diberi makanan untuk berbuka.

Rekaman itu ia unggah ke situs berbagi video, dengan akun bernama "The Oppresed". Dalam rekaman itu, Faycal mengatakan hak dasar manusia telah dilanggar, muslim Belgia mesti bertindak. Sementara laporan media lain mengatakan, pada 2005, Faycal adalah seorang presenter yang bekerja di stasiun radio, Contact-Inter, sebuah radio khusus komunitas Afrika Utara di Belgia.

Kuatnya hubungan antara serangan Paris pada bulan November dan ledakan di Brussels, memicu pertanyaan, bahwa selama ini Eropa tidak berbuat cukup untuk berbagi informasi intelijen khususnya militan Islam. Padahal peringatan dini soal serangan ISIS yang akan dilancarkan ke Eropa sudah disimpulkan beberapa waktu sebelumnya. Bahkan, disebutkan bahwa serangan tersebut akan dilancarkan dengan gaya pasukan khusus.

Potensi ancaman itu disampaikan dalam laporan Europol, dinas penegakan hukum Eropa, yang dirilis 24 Januari lalu. Laporan berjudul "Perubahan dalam Modus Operandi Serangan Teroris ISIS" menggambarkan bagaimana kelompok teroris kini mengalami perubahan metode serangan. Selain itu, ancaman kelompok teroris ini bertambah dua kali lipat, yakni serangan terkoordinasi dan operasi individu.

Laporan itu menyajikan beberapa poin penting yang terkait dengan ancaman ISIS ke Eropa. Misalnya, sasaran utama adalah lokasi yang paling rentan untuk mendapatkan dampak serangan yang lebih massif. Intelijen juga menyatakan bahwa ISIS telah mengembangkan struktur komando untuk merencanakan dan mengoordinasikan operasi bergaya pasukan khusus.

Serangan di Brussel juga diyakini sebagai respons terhadap penangkapan buronan Salah Abdesalam, yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Abdesalam adalah salah satu pelaku serangan di Paris. Setelah serangan di Paris pada bulan November, Abdesalam melarikan diri dan berhasil membentuk sebuah jaringan baru. Ia bersembunyi di lingkungan masa kecilnya di Molenbeek, yang memiliki populasi muslim besar.

Namun, penangkapan Abdesalam memang tak mengubah situasi. Apalagi ISIS juga sudah menyiapkan serangan ke Eropa. Dalam laporan AP yang mengutip para pejabat intelijen Eropa dan Irak, ISIS telah mengoperasikan kamp-kamp pelatihan untuk melancarkan serangan terhadap Barat, memberikan pelatihan yang lebih panjang dan otonomi lebih dalam perekrutannya.

Para pemimpin kelompok kecil teroris ini adalah individu yang dapat berbicara dalam bahasa Prancis dan memiliki jaringan ke Afrika Utara, Prancis, dan Belgia. Mereka biasanya ditugaskan untuk membentuk strategi-strategi baru untuk serangan di Eropa. ''Untuk dapat melakukan serangan secanggih ini, dibutuhkan pelatihan, perencanaan, bahan, dan sebuah tempat,'' kata Shiraz Maher, peneliti senior di International Center for the Study of Radicalisation di Kings College, London, kepada AP.

Senator Prancis, Nathalie Goulet, yang juga Ketua Komisi Pelacakan Jaringan Jihad, memperkirakan bahwa sekitar 400 hingga 600 pejuang ISIS dilatih khusus untuk melancarkan serangan-serangan eksternal. Ia juga mengatakan bahwa 5.000-an orang Eropa telah meninggalkan benua tersebut untuk pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. ''Seandainya kita tahu berapa banyak para jihadis ini yang ke Suriah, tragedi ini pasti tidak terjadi,'' kata Goulet.

Kini Brussels memang harus tetap terjaga. Bagaimanapun kota ini adalah pusat kegiatan Uni Eropa, juga NATO, dan badan internasional lainnya. Meski begitu sistem CCTV-nya tidak secanggih London dan Paris. "Jelas terdapat ketidakefisienan badan keamanan. Selama bertahun-tahun kita tidak cukup menyediakan dana untuk masalah keamanan dan ancaman teroris," kata Dave Sinardet, profesor ilmu politik dari Vrije Universiteit Brussels, kepada BBC.

Walau begitu, aparat keamanan sebenarnya telah berusaha berjaga-jaga menghadapi serangkaian serangan setelah munculnya ancaman nyata, 10 hari setelah serangan Paris. Selama beberapa hari kota tersebut ditutup. Hal yang juga terjadi pada hari Selasa pekan lalu: sarana perhubungan umum sempat dihentikan dan penduduk diperintahkan untuk membatasi pergerakan. Namun, bencana memang tak bisa ditolak.

Mukhlison S. Widodo

Cover Majalah GATRA edisi No. 22/ XXII 31 Mar - 6 Apr 2016 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com