Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Nostalgia di Kota Batu Bara

Awalnya, Sawahlunto hanyalah hutan belantara di kawasan Bukit Barisan. Denyutnya sebagai kota baru dimulai ketika batu bara ditemukan di kawasan ini. Belanda kecil di tengah Sumatera.

Menurut hikayat masyarakat setempat, penemuan batu bara di Sawahlunto terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu, sedang diadakan misi pencarian orang Belanda yang hilang oleh arus ketika berperahu menyusuri Sungai Ombilin. Beberapa literatur sejarah Sawahlunto menyebutkan, seorang ahli pertambangan Belanda, Willem Hendrik de Greve, pada 1867 menemukan cadangan batu bara di sepanjang alur Sungai Ombilin.

Dua puluh tahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda mulai membangun infrastruktur guna menunjang kegiatan penambangan batu bara. Seperti jalur kereta api ke Teluk Bayur, yang kini bernama Padang, dan pelabuhan laut di kota itu. Produksi batu baranya baru bermula pada 1892 dan habis pada 1998. Kota tambang ini berjarak 90 kilometer dari Padang. Lewat darat, perjalanan dari Padang ke Sawahlunto bisa memakan waktu hingga 3 jam.

Ada tiga objek yang dijadikan sebagai daya tarik utama wisata di kota ini. Semuanya tak lepas dari sejarah kota ini sebagai penghasil batu bara. Pertama, adalah Lubang Tambang Mbah Suro atau Lubang Suro. Situs ini merupakan lubang tambang batu bara pertama di Sawahlunto. Di depan lubang bisa dijumpai patung dua pekerja yang sedang mendorong sebuah lori (kereta kecil) berisi batu bara dan satu mandor Belanda yang berdiri mengawasi.

Nama Suro diambil dari tokoh asal Jawa yang disegani, dan menjadi pemimpin para pekerja tambang yang disebut sebagai orang rantai. Julukan ini diberikan lantaran para pekerja paksa itu beraktivitas dalam kondisi kaki dan tangan terikat rantai. Mencegah agar mereka tidak melarikan diri.

Di dalam lubang ada barisan anak tangga menuju terowongan bawah tanah yang merentang sepanjang 186 meter. Lubang Suro sempat ditutup pada 1932 karena derasnya rembesan air. Namun di tahun 2007, lubang itu kembali dibuka untuk tujuan wisata.

Objek wisata berikutnya adalah Museum Gudang Ransum yang berjarak tak jauh dari Lubang Suro. Bangunan yang didirikan pada 1918 oleh pemerintah Hindia-Belanda itu awalnya merupakan dapur umum untuk memberi makan para pekerja tambang beserta keluarganya, pasien, dan lain-lain. Jumlah mereka dikabarkan bisa mencapai ribuan.

Di sekitar Museum Gudang Ransum terdapat beberapa bangunan lain. Misalnya, bekas pabrik es batangan, rumah sakit, ruang generator pembangkit listrik tenaga uap, hingga rumah potong hewan. Peninggalan lainnya yang menarik perhatian adalah dua buah tungku pembakaran berukuran raksasa buatan 1894.

Objek wisata ketiga adalah Museum Kereta Api Sawahlunto yang terletak di kawasan Stasiun Sawahlunto. Salah satu bintang di Museum ini adalah ''Mak Itam'', sebuah lokomotif uap buatan Jerman yang digunakan sampai tahun 1963. Museum ini adalah satu-satunya museum kereta di Sumatera Barat, dan kedua di Indonesia setelah Museum di Ambarawa. Moda transportasi ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengangkut batu bara. Rute yang dilintasi kereta batu bara ini adalah Sawahlunto, Muara Kalaban, Solok, Batu Tabal, Padang Panjang, Kayu Tanam, dan Teluk Bayur/Padang.

Masih banyaknya bangunan berarsitektur khas Belanda yang dilestarikan keberadaannya membuat warisan kolonial Belanda terasa kental di kota ini. Tak mengherankan ada yang menjuluki Sawahlunto sebagai Belanda Kecil. Untuk memperkuat objek wisata kota tua, Pemerintah Kota Sawahlunto mempertahankan konsep homestay sebagai tempat penginapan turis.

Cavin R. Manuputty
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No. 22/ XXII 31 Mar - 6 Apr 2016 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Edisi Khusus
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kolom
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
 
Created and maintained by Gatra.com