Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

RAGAM

Jejak Navigasi Laut Nusantara

Mercusuar sangat penting dalam sistem navigasi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Keberadaan menara pemandu bagi para pelaut di kegelapan malam ini tak lepas dari peran Raja Belanda Z.M. Willem III saat menjajah Tanah Air. Dari 282 mercusuar di 25 distrik navigasi, sebanyak 200 lebih masih memiliki tugas seperti saat pertama menara ini berdiri. Untuk mengetahui keadaan mercusuar-mercusuar tersebut saat ini, wartawan Gatra Joni Aswira Putra dan pewarta foto Jongki Handiyanto berkesempatan menjelajahi mercusuar Tanjung Layar dan Anyer, Jumat pekan lalu. Demikian juga wartawan Gatra Arif Koes Hernawan, yang mengunjungi menara suar Cimiring, Nusa Kambangan, dan menara suar Semarang. Sedangkan Edmiraldo Siregar mendatangi mercusuar teringging di Tanjung Belimbing, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Catatan perjalanan tersebut kemudian ditulis kembali oleh Birny Birdieni

Di dalam ruang yang gelap dan lembap di Tanjungan Ujung Pulau Jawa, Kosasih mengangkat sebuah jeriken berisi solar. Ia lalu menuangkannya ke dalam sebuah genset karatan. Perlahan, pria berusia 53 tahun tersebut memutar erat-erat tutup mesin bercat hijau itu.

Dengan tenaga seadanya, ia memutar engkol mesin hingga menyala. Dibiarkan panas sekira lima menit sampai putaran stabil. Menjelang matahari turun di ufuk barat, sedapat mungkin penerangan malam dan lampu menara mercusuar Tanjung Layar itu segera dinyalakan.

Jumat pekan lalu, hari makin gelap. Sebelum sinar matahari betul-betul menghilang di batas cakrawala, Gatra buru-buru memanjat tangga mercusuar di dalam kawasan hutan semenanjung Ujung Kulon itu. Baru sampai di dek pijakan pertama, keindahan sunset terhampar di depan.

Dari atas secara leluasa terlihat kapal-kapal nun jauh di sana. Ombak mengempas karang, juga kapal-kapal kecil para nelayan. Sore itu, angin Laut Jawa mulai terasa dingin menusuk kulit. ''Euy... naiklah! Mumpung belum tenggelam sunset-nya,'' ia meneriaki orang-orang yang masih berada di kaki mercusuar.

Mercusuar Tanjung Layar masuk wilayah kerja Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok Direktorat Kenavigasian, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut. Posisinya berada di arah selatan, berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Hanya butuh waktu delapan jam untuk sampai ke Pulau Natal (Christmas Island), Australia, yang ada di barat daya Pulau Jawa.

Untuk sampai ke Tanjung Layar perlu perjalanan yang tidak mudah. Dimulai dengan perjalanan laut dari pelabuhan Sumur, Pandegelang, Banten ke Pulau Peucang. Dengan menaiki kapal kayu KM Samudra bermesin 120 PK, jarak tempuh 30 mil dihabiskan dalam waktu tiga jam. Kemudian dari Peucang butuh satu jam lagi berlayar ke dermaga Cibom. Terakhir kita tinggal berjalan kaki sejauh 1,2 kilometer.

Mercusuar Tanjung Layar berada di kawasan hutan Semenanjung Ujung Kulon, seluas 78 hektare. Di sekitar pantai tumbuh nyamplung, ketapang, malapari, dan waru laut. Ada juga habitat binatang langka, seperti Badak, Banteng, Macan, Panther, dan satwa lainnya.

Di Tanjung Layar sebenarnya ada tiga mercusuar. Sebelumnya ada dua buatan Belanda. Yang pertama diduga dibangun pada awal tahun 1800, tapi runtuh saat letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Mercusuar kedua berdiri pada masa pendudukan Belanda setelah Gunung Krakatau meletus. Namun kini tidak dioperasikan lagi.

Petugas Mercusuar Tanjung Layar, Kosasih, pun mengajak Gatra napak tilas ke Mercusuar lama. ''Kita kelilingi dulu bangunan-bangunan tua bersejarah di sini,'' katanya. Berjalan kaki melewati setapak landai selebar dua meter, bekas bangunan tua itu mirip seperti penjara. ''Ini penjara Belanda,'' ucapnya yakin.

Mungkin keyakinan Kosasih berdasarkan bentuk pintunya. Ada dua bilik dengan lima pintu saling menghubungkan. Pada masa itu, Tanjung Layar menjadi lokasi penjara bagi para bajak laut yang membantu Sultan Banten.

Menurut papan informasi, pada 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda berencana membangun sebuah pelabuhan laut di daerah Cibom. Dengan berat hati, Sultan Banten menyediakan para pekerjanya. Banyak banyak di antaranya jatuh sakit, dan bahkan meninggal, akibat "uap beracun'' (diduga wabah malaria) di lahan itu. Hal ini membuat pekerja lainnya melarikan diri, sehingga pembangunannya tak pernah terselesaikan.

Sedangkan menara teranyar di Tanjung Layar, menurut Kosasih, dibangun pada 1976. Seluruh rangka dan unit motor menara setinggi 40 meter (65 meter di atas permukaan laut) itu buatan Prancis. Dia menggunakan mesin jenis lister dan rangka besi kalvanis.

Karena rangka sudah keropos, mercusuar Tanjung Layar direnovasi pada 17 November 2010. Dibongkar total dari fondasi, rangka besi, termasuk perangkat lampu, sampai lensa dan radio kontrol berikut baterainya. ''Dulu fondasinya bunder, sekarang petak,'' ujar Kosasih.

Ada tiga unit genset yang mendukung tiga fase operasional mercusuar ini. Pertama menjelang pukul 18.00-23.00 WIB, lalu pukul 23.00-02.00 WIB. Mesin terakhir dihidupkan pada pukul 02.00 WIB sampai pagi hari. ''Satu di antaranya berusia lebih 30 tahun,'' katanya.

Lampu mercusuar menjadi jantung operasionalnya. Seperti fungsi rel pada kereta api, mercusuar akan menuntun arah kapal. Ia menjadi penanda posisi karang dan kedalaman laut. Agar cahaya bisa terpancar, setiap hari Tanjung Layar memakan solar hingga 25 liter.

Bahan bakar mercusuar ini mengalami beberapa evolusi. Dari karbit ke gas, lalu ke solar cell, hingga bahan bakar solar, dan listrik. Tanjung Layar, saat era Belanda dulu, biasa memakai berdrum-drum karbit. Di belakang mercusuar kedua, ada tembok bundar kurang lebih setinggi 4 meter yang jadi tempat pembakaran karbit itu. Dinding temboknya tebal hingga 5 meter. Ini supaya saat membakar karbit tidak terjadi ledakan.

Di tengah tembok menyisakan lubang kecil seperti tabung. ''Dari sini petugas menyuluh api untuk membakar karbit. Nanti uapnya dialirkan lewat pipa ke puncak menara sehingga pijaran api jadi penerangan,'' Kosasih menjelaskan.

Menurut Kosasih, jarak tampak lampu menara dari anjungan kapal berkisar 22-25 mil. ''Ini panduan untuk kapal domestik dan mancanegara. Terutama kapal tradisional,'' katanya. Ketika makin mendekat, kapal akan cikar (membelok) beberapa derajat. Pelan-pelan mengarahkan anjungan kapal ke tanjung berikutnya.

Meski sudah ada teknologi GPS, menurut Kosasih, keberadaan mercusuar tetap dibutuhkan. Siang hari, lampu menara memang tidak menyala. Tapi bila hujan badai, gelombang kuat, dan kabut tebal bisa membuat cuaca gelap. ''Meski kapal menggunakan GPS canggih, tetap akan bergantung pada mercusuar ini,'' ungkapnya.

Nah, menara suar Tanjung Layar ini memang menjadi pembantu navigasi bagi kapal-kapal berlayar di Selat Sunda. Di Distrik Tanjung Priok itu setidaknya ada 30 menara suar. Berjarak 110 kilometer di seberang Selat Sunda Pantai Sumatera juga ada Mercusuar Belimbing DSI 2290 (Vlakke Hocke) berlokasi di Pantai Belimbing, kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Lampung.

Jejak Mercusuar Era Raja Z.M. Willem III
Mercusuar Belimbing itu dibangun pada 1878 saat era Raja Belanda Z.M. Willem III. Menara kokoh setinggi 70 meter ini dibangun lima tahun sebelum letusan dahsyat Gunung Krakatau. Meski letusannya sampai menyulut perubahan iklim di Eropa, namun ternyata tak berhasil merobohkan mercusuar tersebut.

Meski ketegakan mercusuar itu sedikit berubah dengan kemiringan sekitar satu derajat. Karat akibat kikisan gelombang tsunami pasca-letusan pun tak menghambat kerja mercusuar ini. Sejak dibangun, lampu yang memancar di puncaknya masih memandu navigasi kapal-kapal yang berlayar di area Selat Sunda maupun Samudra Hindia.

Memang, cara kerja lampu mercusuar sudah sedikit menurun. Saat kunjungan Gatra, Desember 2013 silam, sinar lampunya sudah tak bisa berputar 180 derajat lagi. Petugas TWNC, Anton Prabowo, menyebut lampu yang menyala tiap malam juga merupakan lampu pengganti. ''Sinarnya sudah tidak bisa berputar karena air raksa di rotatornya bocor,'' katanya.

Raja Z.M. Willem III juga pernah membangun menara suar Pulau Beras di Pulau Breueh, Aceh, pada 1875. Belanda ingin membangun basis pelabuhan bagi kapal yang melintas Selat Malaka dan singgah di Sabang. Bangunan beton setinggi 40 meter ini merupakan yang tertua di Indonesia. Sampai saat ini juga masih berfungsi memberi petunjuk kapal yang melintas di Samudra Hindia dan Selat Malaka.

Lalu berjalan menuju Laut Belitung, Raja Z.M. Willem III juga mendirikan menara suar di Pulau Lengkuas. Mercusuar di wilayah kerja Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok ini berdiri pada 1882. Bangunan putih dengan tinggi sekitar 52 meter tersebut dibangun, karena di perairan itu banyak tersebar gugusan batu granit kecil dan besar.

Jejak mercusuar era Z.M. Willem III juga dapat ditemui di menara suar Cikoneng DSI-2260 Anyer. Bangunan 18 tingkat setinggi 75,5 meter ini masih beroperasi memandu kapal-kapal berlayar di sekitar pantai barat Jawa. Maklum jalur ini memang penuh dengan karang berbahaya.

Menara suar terbuat dari baja setebal 2,5 sentimeteri dibangun pada 1885. Pada era itu, Selat Sunda memang menjadi jalur pelayaran internasional. Mercusuar Anyer menjadi rambu dan penerangan kapal-kapal pedagang VOC yang melintas di sana.

Mercusuar Anyer memiliki peran sejarah menjadi titik nol pembuatan jalan ekonomi Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) sepanjang 1.000 kilometer. Proyek kerja rodi Gubernur Jenderal Herman Daendels ini menelan korban orang Indonesia hingga ribuan jiwa. Tapi berkatnya, Cilegon, Serang, dan Tangerang terhubung dengan Jakarta. Lalu menyambung ke Cirebon, Semarang, serta Surabaya, hingga Pasuruan.

Menara suar Anyer sebenarnya bangunan menara kedua. Sebelumnya, ada mercusuar lain yang dibuat pada 1806. Namun hancur saat Gunung Krakatau meletus. Puing-puingnya masih dapat dilihat kurang-lebih 30 meter dari bangunan menara terbaru.

Petugas mercusuar Anyer, Siddik, mengatakan kalau di atas menara kokoh ini ditempel bola lampu 1.000 watt (utama) dan satu buah bola lampu neon biasa untuk cadangan. Kini pasokan listriknya, selain dari generator dan solar cell, juga menggunakan arus listrik dari PLN. ''Kalau ada gangguan pakai generator atau solar cell,'' ungkap pria 54 tahun itu.

Berlayar ke arah Kepulauan Seribu, akan ada mercusuar Vast Licht yang dibangun pada 1879. Bangunan setinggi 65 meter ini berlokasi di Pulau Edam atau Pulau Damar Besar. Menara suar era Z.M. Willem III tersebut tak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Fungsinya turut menunjang pintu gerbang tempat arus keluar dan masuk barang ekspor-impor ataupun barang antar-pulau di Indonesia.

Mengarah 126 kilometer dari Pantai Utara Jakarta, kita juga akan menemukan menara suar yang dibangun atas perintah Raja Z.M. Willem III. Adalah mercusuar Jaga Utara alias Noord Wachter. Bangunan setinggi 60 meter di Pulau Sabira, Kepulauan Seribu ini dibuat pada 1869 lalu. Untuk pelayaran dari Selat Sunda ke Samudra Hindia ataupun dari Laut Cina Selatan melintasi Laut Natuna, Selat Karimata, dan Laut Jawa.

Masih di wilayah Laut Utara Jawa, Raja Z.M. Willem III membangun mercusuar setinggi kurang-lebih 65 meter di Pulau Biawak, Indramayu. Menara suar buatan tahun 1872 ini kini sudah menggunakan lampu suar tenaga surya. Dulu fungsinya sebagai penunjuk dan pengatur lalu lintas air di wilayah Karesidenan Cirebon. Sekarang juga masih berguna sebagai penunjuk kapal laut di sana.

Lebih timur dari mercusuar Pulau Biawak, ada menara suar Semarang di Pelabuhan Tanjung Mas. Raja ZM Willem III membangunnya pada 1884. Ketika itu, Semarang jadi kota penting bagi pemerintah kolonial Belanda. Tak jauh dari pelabuhan, sisi selatannya terdapat pusat pemerintahan, ekonomi, militer dan perumahan, yang kini dikenal sebagai Kota Lama.

Mercusuar jadi panduan kapal yang hendak berlabuh ke kota pelabuhan ini. ''Ini peninggalan Belanda, tapi fungsinya masih sama sampai sekarang,'' kata Januri, Kepala Kelompok Sarana Bantu Navigasi Pelayaran Distrik Navigasi Kelas II Semarang, yang juga penanggung jawab mercusuar.

Setengah enam sore, lampu mercusuar berwarna putih itu pun dinyalakan. Kukuh menghadap ke arah laut. Tanpa berputar, ia hanya berkedip tiap empat-lima detik. Tak tampak sungguh terang petang itu. Tapi jika malam datang, suar itu benar-benar menjadi pemandu hingga sejauh 20 mil di Laut Jawa. ''Itu teorinya. Kalau ada kabut atau macam-macam, pancaran gak maksimal,'' Januri mengingatkan.

Tenaga mercusuar ini menggunakan listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Terhubung melalui power supply untuk mengubah aliran jadi DC. Lampunya model sabiq, berbentuk tabung galon dilingkupi lensa empat sisi. Tegangan lampu 12 volt dengan daya 50 watt. ''Lampu baru produksi Spanyol,'' Januri menambahkan. Peralatan lain juga baru. Sehingga hanya bangunan menara yang asli jaman Belanda.

Kepala Sie Logistik Distrik Navigasi Kelas II Semarang, M. Syaiful, malah bilang, mercusuar ini juga dilengkapi dengan peranti penyimpan tenaga surya. ''Siang menyerap sinar matahari, malam bisa digunakan,'' katanya.

Mercusuar Semarang seperti satu-satunya bangunan dengan daya estetis di lingkungan itu. Seperti kotanya, sudut barat Pelabuhan Tanjung Mas ini semawrut. Willem III juga bukan satu-satunya bangunan jangkung di sana. Selain dua menara radar, ada tiang-tiang listrik dengan centang perenang kabel.

Berdiri di Jalan Coaster, kantor navigasi ini persis di depan dermaga. Suar I, salah satu dari empat kapal kantor terparkir di seberangnya. Tugas utama kapal putih beraksen biru ini memasang suar-suar di tengah laut.

Agak jauh melintasi Laut Jawa menuju Selat Madura, kita akan melewati Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Melalui arah navigasi itu, kembali akan menemukan jejak mercusuar era Raja Z.M. Willem III. Menara suar di Pantai Sambilangan, Bangkalan, Madura, ini berdiri sejak 1879.

Itulah beberapa mercusuar yang dibangun era Raja Z.M. Willem III. Mau tak mau, Raja Belanda itu turut berperan dalam mengembangkan sistem kenavigasian laut Indonesia. Lepas dari sana, berlanjut pada cerita Mercusuar Cimiring yang juga dibangun pada masa penjajahan Belanda, pada 1857.

Menurut penjaga mercusuar Cimiring, Sigit Permono, fungsi menara suar, selain membantu menunjukkan posisi atau arah haluan kapal serta arah daratan dan pelabuhan, juga sebagai tanda batas wilayah negara. ''Wilayah ini ramai kapal, termasuk dari luar seperti dari Australia sampai Panama. Ada yang angkut pupuk, impor sapi,'' ujarnya.

Ini sama juga dengan menara suar Oinake DSI 7000 yang ada di Distrik Navigasi Kelas II Jayapura, Papua. Menara yang dibangun pada 1994 ini merupakan menara pertama berkonstruksi beton. Bangunan setinggi 40 meter ini juga menghadap langsung Samudra Pasifik dan berbatasan dengan Papua Nugini, baik secara darat dan lautan.

Bagi Indonesia yang merupakan wilayah kepulauan, peran mercusuar pastilah sangat penting. Direktur Kenavigasian Tonny Budiono menjelaskan, menara suar menjadi bagian sarana bantu navigasi perairan (SBNP). Ada tiga SBNP, yaitu visual, elektronik, dan audibel. ''Mercusuar disebut visual karena kita memperoleh informasi secara penglihatan,'' katanya kepada M. Afwan Fathul Barry dari Gatra.

Setiap sarana bantu ini punya keunggulan masing-masing. ''Mercusuar itu, saat cuaca jelek, pandangan berpengaruh dan (kita) tidak bisa lihat,'' ujar Tonny. Sedangkan elektronik dalam segala kondisi tetap bisa digunakan, terkecuali alatnya rusak. ''Jadi masing-masing punya kelebihan dan kekurangan,'' ia menambahkan.

Di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan, saat ini ada 282 mercusuar di 25 distrik navigasi atau unit pelaksana teknis yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Lebih dari 200 mercusuar di 25 distrik navigasi itu masih memiliki tugas seperti saat pertama mercusuar ini berdiri. ''Tugas mercusuar dari dulu sama, supaya orang tahu posisi kapalnya, supaya tahu bagaimana memasuki pelabuhan,'' ungkap Tonny.

Dari sisi bentuk dan perannya, sarana bantu navigasi perairan selain mercusuar adalah menara suar, rambu suar, pelampung suar, rambu siang dan anak pelampung. Tonny menjelaskan, dari berbagai bentuk itu, masing-masing punya peran. Menara suar memiliki jarak tampak paling jauh sampai 23 mil. Sedangkan daya tembus cahaya rambu suar hanya 10 mil.

Dari segi ketinggian, setiap mercusuar berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi ketinggian tanah atau elevasi tanah. ''Kalau sudah ada bukit, nggak perlu tinggi-tinggi. Minimal 40 meter elevasinya dari permukaan laut,'' kata pria yang pernah menjadi kepala distrik navigasi Surabaya itu.

Dalam hal pembangunan, mercusuar bisa dibangun oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (DJPL) ataupun non-DJPL. Contohnya, kata Tonny, Pertamina membangun mercusuar untuk kepentingan bisnisnya. ''Boleh membangun, tapi masih dalam kontrol kita,'' ujarnya. Biayanya pun variatif dan tergantung lokasinya. ''Karena akses ke pulaunya susah. Ada yang biayanya membengkak sampai Rp 5 milyar,'' ia menambahkan.

Dalam sistem kenavigasian, Indonesia merupakan anggota International Association Lighthouse Authorities (IALA). Lembaga internasional ini mengatur tentang sarana navigasi bagi negara-negara anggotanya. Mercusuar, kata Tonny, diletakkan berhadapan dengan laut lepas. ''Itu untuk menandakan suatu lokasi. Membedakan satu mercusuar dengan lainnya itu dari karakter, misalnya satu detik hidup satu detik mati,'' Tonny menambahkan.


Potensi Wisata Mercusuar
Arsitektur mercusuar ternyata juga bisa menjadi magnet bagi orang untuk melihatnya. Tak sedikit mereka yang menyempatkan waktu menaiki tangga zig-zag menuju puncak menara suar itu. Ini sebenarnya bisa dijadikan potensi wisata. Contohnya rencana menjadikan mercusuar Semarang sebagai museum.

Sepuluh tingkat ruang di menara suar itu bakal menyimpan berbagai foto, alat, dan peninggalan pelayaran dan navigasi. Rencana ini sudah mendapatkan lampu hijau dari Kementerian Perhubungan saat kunjungan Menteri Ignatius Jonan, Desember lalu. ''Belum full. Ini sambil jalan dan cari-cari (koleksi), semoga bisa tahun ini,'' kata Januri, Kepala Kelompok Sarana Bantu Navigasi Pelayaran Distrik Navigasi Kelas II Semarang.

Bagi Tonny hal itu sah-sah saja, asalkan tidak mengganggu fungsi mercusuar. Karena, itu juga merupakan aset milik pemerintah. ''Sebelumnya nggak boleh. Tapi kadang-kadang masyarakat juga ingin tahu. Sepanjang tidak mengganggu fungsi, ya, tidak masalah. Itu bisa juga sebagai cara sosialisasi keberadaan mercusuar,'' ia menjelaskan.

Bagi Pengamat Pariwisata, Sapta Nirwandar, mercusuar sebagai destinasi wisata itu sebenarnya bukan barang baru. Contohnya, menara suar di Anyer dan Bangka Belitung. ''Kalau di atas, kita kan bisa melihat keindahan laut lebih luas. Pemandangannya pasti akan berbeda jika hanya melihat laut dari pantai saja,'' katanya kepada Asri Wuni Wulandari dari Gatra.

Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini mengatakan, mercusuar memang belum tertulis atau terdaftar sebagai salah satu objek pariwisata. Terkecuali mercusuar yang ada di Bangka Belitung. Ke depan, menurut Sapta, tidak menutup kemungkinan kalau mercusuar pada akhirnya bisa terdaftar sebagai salah satu objek pariwisata di Kementerian Pariwisata.

Pasalnya, Sapta melihat akhir-akhir ini wisata mercusuar semakin diminati oleh wisatawan. Jikapun jadi salah satu objek pariwisata, mercusuar bisa diarahkan menjadi objek wisata sejarah. ''Di sana kan orang bisa belajar mengenai mercusuar dan seluk beluk sejarahnya. Bisa jadi untuk menambah ilmu juga,'' katanya.

***

Mercusuar Tertua Mercusuar Pulau Beras
Usianya boleh jadi 140 tahun. Namun, mercusuar yang dibuat era Raja Belanda Z.M. Willem III ini masih berfungsi baik. Semuanya masih orisinal. Bila kebanyakan menara suar sudah dilengkapi perangkat elektronik konvensional, maka tidak demikian dengan mercusuar Pulau Beras di Pulau Breueh, Nanggroe Aceh Darussalam, ini.

Bangunan yang didirikan pada 1875 tersebut masih punya sistem lampu asli. Perputarannya memakai sistem manual dengan roda gigi. Rotatornya pun masih berfungsi baik. ''Belum ubah, karena kita ingin tekankan seperti sejarah dulu,'' kata Kepala Distrik Navigasi Kelas II Sabang, Abdul Rahman, kepada Gatra.

Menara suar Pulau Beras dibangun ketika Belanda ingin membangun basis pelabuhan bagi kapal yang melintas Selat Malaka dan singgah di Sabang. Pulau terluar ini juga merupakan alur pelayaran Selat Benggala yang berbatasan dengan India.

Setiap hari mercusuar Pulau Beras akan menelan hingga 30 liter minyak solar. Di zaman Belanda, sekitar tahun 1900-an, menara ini juga pernah memakai karbit sebagai bahan bakarnya. ''Bahkan petugas membakar karbitnya di bagian teratas menara,'' kata Abdul.

Kini, perairan di pelayaran Pulau Beras ini memang tidak seramai dulu. Sebelum awal tahun 2000-an, arus lalu lintas ekspor-impor peti kemas di sana cukup ramai. Sayangnya, sejak konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) muncul, alur ini pun mulai ditinggalkan.

Mercusuar Terbaru Mercusuar Ba'a
Berusia tiga tahun, mercusuar Ba'a merupakan menara suar termuda di Indonesia. Bangunan beton setinggi 40 meter ini persis terletak di samping Pelabuhan Ba'a, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain sebagai navigasi rute pelayaran perairan Rote Dao Selatan, dia juga menjadi pengarah untuk rute pelayaran jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) IIID.

Ini simpangan asing untuk pelayaran dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia dan sebaliknya. Alurnya melintasi Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Selat Ombai, dan Laut Sawu. Menara suar di pulau terluar selatan tersebut berbatasan dengan Australia. ''Rute ini dilalui oleh kapal pelayaran nasional dan asing,'' ujar Kepala Distrik Navigasi Kelas II Kupang NTT, Paulus Tantu.

Meski lampu suar ini sudah memiliki teknologi solar cell, penggunaan utamanya masih memakai bahan bakar minyak solar. ''Solar cell kalau emergency saja, saat kapal (pembawa BBM solar) terlambat. Apalagi kalau cuaca sedang musin hujan, baterainya juga kurang,'' ungkap Paulus.

Awalnya di Pulau Ba'a berdiri mercusuar zaman Belanda yang dibangun pada 1918. Bangunan setinggi 15 meter itu berkonstruksi baja terbuka. Namun kondisinya rusak dan berhenti operasi pada 2010. Barulah dua tahun kemudian dibangun mercusuar Ba'a baru, yang hanya berjarak lima meter dari mercusuar lama.

Birny Birdieni
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 14/ XXI 5-11 Februari 2015 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hiburan
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Multimedia
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com