spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
TEKNOLOGI & SAINS
spacer
 
Dr Fauzi: Toba Memang Supervolcano

Jakarta, 26 April 2005 12:26
PADA 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu rhyolit yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.

Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Bengal. Para peneliti awal --Van Bemmelen juga Aldiss & Ghazali (1984)-- telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan.

Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa. Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu.

Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi, seismolog pada Badan Meteorologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih PhD dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.

Menurutnya, Indonesia rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisinya yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Aurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, menurut Fauzi, terletak di lempeng Aurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.

Fauzi menjelaskan, sebagaimana manusia, lempeng ini hidup. Setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Aurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Aurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau lempeng pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Aurasia sejauh 11 cm per tahun.

Namun demikian lempeng itu tidak selalu bisa bergeser. "Kalau dia terhambat, dia akan mengumpulkan energi di situ. Dan kalau dia tidak tahan lagi, akan patah," ujarnya. Semakin besar patahannya, semakin besar pula gempanya.

Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi. "Kalau ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua," kata Fauzi. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.

Pada kedalaman 100-150 km, lapisan itu mencair karena suhu panas lalu naik ke atas sebagai magma. "Kedalaman 100-150 itu merupakan sumber magma yang mencair," katanya. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya, semakin besar pula magmanya. "Itulah yang akan jadi ukuran besarnya gunung," tambahnya.

Selain lewat proses subduksi, gunung berapi juga dihasilkan lewat proses yang disebut hotspot. "Gelembung panas dari inti bumi naik ke atas, dan itu menjadi hotspot," jelas Fauzi. "Seperti dijahit, plume atau gelembung itu memberikan jejak pergerakan lempeng tektonik," tambahnya. Proses hotspot ini terjadi di Hawaii.

Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini.

Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus dua kali. Letusan pertama terjadi sekitar 840 juta tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat, yang menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Menurut Fauzi, Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar. "Kalau meletus, kalderanya besar sekali," katanya. "Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer," tambah Fauzi.

Tidak tanggung-tanggung, Fauzi pun melakukan penelitian di daerah tersebut. Tujuannya adalah untuk mencari jawaban mengapa gunung yang terbentuk dari proses tumbukan antara lempeng Indo-Australia dengan Aurasia itu bisa begitu dashyat. Kepada wartawan Gatra Alexander Wibisono yang menemui dia di kantornya, Rabu sore lalu, Fauzi bertutur seputar teori supervolcano Toba. Berikut petikannya:

Kenapa Anda tertarik pada Toba?

Itu penelitian untuk tesis saya. Alasannya, kaldera terbesar di dunia adalah Toba. Saya ingin menjawab pertanyaan mengapa Toba bisa tergolong supervolcano. Penelitian ini saya lakukan sekitar tahun 1995.

Lantas, apa yang Anda temukan?

Waktu itu, kami pasang 40 seismograf. Saya menemukan sederetan gempa kecil-kecil. Ukurannya 3-5 skala Richter. Adanya gempa-gempa ini merupakan sinyal. Kami juga melakukan tomografi. Kami melihat sisi dalam Toba.

Betulkah ada aktivitas vulkanik?

Ya, kami menemukan beberapa aktivitas vulkanik yang kecil-kecil. Magmanya masih ada. Dia sifatnya cluster atau mengelompok di satu garis. Ini yang lantas kami sebut fracture zone, daerah retakan. Bentuknya pegunungan. Bisa dilihat di dasar laut ada deretan kecil-kecil. Daerah ini relatif lemah. Nah, ini menyusup di bawahnya Toba.

Apakah ini artinya ''Gunung Toba'' akan meletus?

Tidak. Jangan sampai salah, letusan Gunung Toba itu masih jauh, masih ratusan ribu tahun karena masih butuh magma yang banyak.

Apa langkah yang harus diambil untuk mengantisipasi seandainya Toba meletus?

Mungkin belum pantas kita bicarakan mitigasi kegunungapian di sana, karena Toba itu gunung mati. Itu bisa dilihat dari aktivitas magma. Di Toba, aktivitas magmanya kecil. Terlihat dari aktivitas seismiknya (gempa). Dia lebih banyak diam, gempa muncul berturutan dengan skala 2-3 skala Richter, lalu hilang lagi. Mungkin dalam satu tahun hanya terjadi seminggu, kemudian hilang.

Temuan lain dalam penelitian itu?

Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Kalau ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Bagaimana prosesnya?

Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Apakah gempa di Aceh dan Nias berpengaruh terhadap Toba?

Terutama gempa Nias, menyebabkan terjadinya retakan-retakan kecil di permukaan. Tapi tidak ada aktivitas gunung api karena memang mati. Hal ini disebabkan pergeseran yang disalurkan oleh gempa tektonik itu. Memang, secara umum, gempa-gempa itu memicu aktivitas magma. Contohnya gempa di Padang, Gunung Talang bereaksi.

Apakah retakan kecil di sekitar danau itu bisa mempercepat letusan Toba?

Saya kira tidak.

Anda yakin?

Ya. Pertama, di Toba ada pemanasan pengangkatan dari magma, aliran panas (heatflow) yang tinggi. Lalu ada penipisan kerak bumi di Toba. Kalau kerak bumi tipis, maka tenaga gempa tidak besar-besar amat. Terbukti, di sekitar Toba, gempa besar tidak pernah terjadi. Kedua faktor ini menyebabkan tanah di sekitar tidak kaku. Sebab, bila kaku, akan menyebabkan patah. Berbeda dengan Tarutung yang terletak di selatan atau Sidikalang dan Takengon yang di utara.

Apakah ini ada pengaruhnya dengan pergeseran di sesar (patahan) Sumatra?

Iya ada perannya. Pergeseran sesar Sumatra terjadi begitu saja, karena tanahnya tidak kaku. Di tempat lain karena dia rigid (kaku), dia menimbulkan gempa bumi karena ada pengumpulan energi yang besar di situ.

[Laporan Utama, Gatra Nomor 24 Beredar Senin, 25 April 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Rindu Danau Toba/Silalahi in Europe. (lexus3mine@ya..., 07/05/2005 21:02)
Terimakasih atas muatan tertulis hasil penelitian ttg danau Toba.
Terus terang saya termasuk risau membaca tulisan (dari internet) seseorang dari Australia ttg supervolcano danau Toba yang mengakibatkan keresahan di kalangan penduduk sekitar danau Toba.
Kesimpulan yg bisa saya dapat, saya masih akan bisa menikmati my holiday someday in the future.

Terutama melihat danau/tao Silalahi yang menjadi kebanggaan bagi kalangan Silalahi, yang merupakan bukti sejarah akan eksistensinya my great grea... <63 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Terimakasih untuk Dr. Fauzi (tina_sihaloho@ya..., 30/04/2005 17:51)
Sebagai orang yang melewatkan masa kecil dan remaja di Pulau Samosir, saya sangat berterimakasih kepada Dr. Fauzi dengan penelitiannya tentang Toba. Beberapa waktu yang lalu, begitu membaca tentang apa yang disampaikan oleh Prof. Ray Cas di Suara Merdeka, ada rasa panik dan gamang, bagaimana mungkin, Toba, hasil letusan puluhan ribu tahun yang lalu, yang diam itu akan meledak lagi? Saya sempat bertanya kepada Prof. Cas lewat email dan beliau mengatakan, hal itu tak akan terjadi dalam waktu deka... <885 huruf lagi>
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 21 April 2014 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer