spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
HUKUM & KRIMINALITAS
spacer
 
Adiguna Sutowo
Si Bontot Dicibir Publik

Adiguna Sutowo (Dok. GATRA/Beawiharta)MEMASUKI gerbang 2005, ketenaran Adiguna Sutowo sontak melesat melampaui nama kakaknya, Pontjo Sutowo, yang sudah lama berkibar di dunia usaha. Cuma, Adiguna bukan jadi pusat perhatian lantaran sukses bisnisnya, atau prestasinya di dunia balap mobil yang sempat diterjuninya.

Hartawan glamor berusia 46 tahun, pemilik sejumlah perusahaan besar, itu justru kesandung perkara kriminal yang serius. Ia jadi tersangka pembunuh Yohanes Brachmans Haerudy Natong alias Rudy, pelayan Bar Fluid Club di hotel milik keluarganya, Jakarta Hilton International. Pembunuhan itu, jika benar, sangat tidak perlu terjadi, karena dipicu persoalan amat sepele.

Keruan saja, antipati publik dengan cepat tersedot, menguruk popularitas Adiguna sebagai pebisnis sukses papan atas. Kasus ini memancing sentimen masyarakat. Maklum, karena menyangkut wong cilik dan si sugih. Cemoohan dan cibiran pun berhamburan, membumbui pembicaraan peristiwa di malam Tahun Baru itu. Asas praduga tak bersalah seperti tak berlaku lagi. Adiguna dicela karena dianggap angkuh dan menyepelekan nyawa orang kecil.

Masyarakat yang telanjur emosional terpancing mengorek-ngorek pribadi anak bontot pengusaha besar almarhum Letnan Jenderal (purnawirawan) Ibnu Sutowo itu. Informasi miring pun berseliweran lewat pesan singkat (SMS), tanpa jelas asal-usulnya. Isunya macam-macam, mulai lagak Adiguna, bisnisnya, sampai para perempuan di sekeliling Adiguna.

Satu di antara informasi yang beredar itu, seperti ditulis Detik.com, dan juga lewat SMS, menyebut Adiguna pernah berurusan dengan polisi, sekitar dua bulan lalu. Saat itu, ia dikabarkan menodongkan senjata kepada teman anak rocker Ahmad Albar. Tapi akhirnya ia bebas, setelah berdamai.

Tidak ada bantahan atau pembenaran dari polisi. Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Paiman, hanya bergumam pendek ketika ditanya para wartawan tentang kasus itu. "Terima kasih atas informasinya," kata Paiman, tak jelas maksudnya. Paiman seperti tak tertarik membicarakannya.

Untuk mengonfirmasi kabar tersebut, wartawan Gatra Dessy Eresina Pinem menghubungi Ahmad Albar. Sayang, vokalis grup band Godbless itu menolak. Ia menyarankan Gatra menghubungi adiknya, penyanyi Camelia Malik. Tapi Camelia pun enggan bercerita panjang.

"Ya, Adiguna tak sengaja menembak keponakan saya dengan senapan angin, dan hanya mengenai kupingnya," tutur istri aktor Harry Capry itu. Menurut Camelia, kasusnya hanya salah paham, dan sudah diselesaikan secara damai. "Keluarga Adiguna sudah meminta maaf, tak perlu diungkit lagi," katanya, menutup pembicaraan.

Sas-sus lainnya menyerempet sekitar kehidupan pribadi Adiguna. Menurut kawan-kawan dekatnya, Adiguna menikahi Indri, temannya semasa duduk di SMA IV, Gambir, Jakarta Pusat, sekitar tahun 1977. Putri mantan ajudan Presiden Soeharto itu memberinya tiga anak. Adri, putra sulungnya, meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, beberapa tahun lalu.

Sekitar tahun 1990, Adiguna dikabarkan menikah lagi dengan Vika, keponakan Harrie Bharata, personel grup musik Baratha Band. Dari Vika, Adiguna memperoleh dua putra. Pernikahan kedua itu kabarnya kurang disetujui keluarga besar Ibnu Sutowo, dan karena itu Adiguna cenderung menutupinya dari publik.

Peristiwa Hilton memunculkan nama baru: Tinul. Tak jelas apa hubungannya dengan Adiguna. Tapi dialah yang diduga cekcok dengan Rudy, pelayan Bar Fluid Club, pada malam Tahun Baru, yang berakhir dengan penembakan itu. Tak ada yang tahu pasti jati diri perempuan itu. Misteri Tinul masih sama kaburnya dengan duduk perkara penembakan itu sendiri. Hingga berita ini ditulis, Adiguna tetap menampik telah menembak Rudy.

Di kalangan teman-teman dekatnya, Adiguna yang biasa dipanggil Guna dikenal sebagai sosok yang menyenangkan. "Saya sangat kaget mendengar kabar penembakan itu," kata Oman Raflies, yang mengaku tahu persis karakter Adiguna. Oman menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan Indonesia (Gema FKPPI) pada 1998-2003, semasa Adiguna menjadi ketua umumnya.

"Selama saya mengenal dia di organisasi, tak pernah terdengar cerita bahwa Guna suka marah, apalagi sampai menodongkan pistol," kata Oman. Ia bertutur, ketika memimpin Gema FKPPI, Adiguna sangat memperhatikan para anggotanya. Ia dikenal penolong. Mereka yang belum bekerja direkrut di unit-unit usahanya, sesuai dengan tingkat pendidikannya. "Guna juga tak segan mengeluarkan banyak biaya untuk kegiatan organisasi," tutur Oman.

Kesan bagus juga disampaikan teman sekelas Adiguna semasa di SMA, Linda Djalil. Menurut dia, Adiguna sangat solider kepada teman-temannya, dan tak pernah bersikap kasar. "Orangnya murah hati dan pintar," kata mantan wartawan itu. Kebandelannya bahkan dikagumi teman-temannya.

Menurut Linda, Adiguna kerap tidak masuk kelas karena berburu ke hutan-hutan bersama gengnya. "Tapi ia bisa mengejar ketertinggalan pelajaran dengan nilai melebihi teman-temannya yang rajin," ujar Linda, yang juga mengenal baik Indri, istri Adiguna.

Teman sekolah Adiguna lainnya yang tak mau disebut namanya bercerita bahwa Adiguna sangat disayang orangtuanya, terutama oleh ibunya, Nyonya Zaleha. Di sekolah, Adiguna tampil sebagai anak borju yang wah. "Ke sekolah ia membawa Mercy sport, nyetir sendiri," kata sang teman. Siapa pun boleh nebeng pulang, tapi biasanya banyak yang turun di jalan karena ngeri. "Adiguna hobi ngebut dari dulu," ujarnya.

Menurut dia, Adiguna disegani karena menyandang nama besar bapaknya, Ibnu Sutowo, bos besar Pertamina. "Siapa pun tak ada yang berani macam-macam," katanya. Nama Adiguna hingga tahun-tahun berikutnya memang lengket dengan sosok besar bapaknya, jenderal pengusaha itu.

Adiguna, yang lahir di Jakarta pada 31 Mei 1958, punya enam kakak. Mereka adalah Nuraini Zaitun Kamarukmi Luntungan, Endang Utari Mokodompit, Widarti, Pontjo Nugroho Susilo, Sri Hartati Wahyuningsih, dan kakak terdekatnya, Handara.

Setelah tamat SMA, Adiguna terbang ke Amerika Serikat, mendalami ilmu bisnis di University of Southern California. Begitu lulus pada 1981, ia mulai ikut mengelola bisnis keluarganya yang sudah menggurita. Kala itu, keluarga Sutowo sudah punya belasan perusahaan di bawah bendera Grup Nugra Santana.

Anak perusahaannya, antara lain, PT Adiguna Shipyard yang mengelola galangan kapal, PT Adiguna Mesin Tani di bidang mekanisasi pertanian, dan PT Indobuild Co yang menguasai hak pengelolaan lahan di seputar Senayan. Keluarga Sutowo juga menguasai lima hotel kelas atas, yakni Jakarta Hilton International, Lagoon Tower Hilton, The Hilton Residence, Patra Surabaya Hilton, dan Bali Hilton.

Selain menggeluti bisnis kelas berat, Adiguna juga mencoba menyalurkan hobinya di bidang otomotif dan olahraga menembak. Ia menjadi anggota Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia, serta menerjuni dunia balap. Pada awal dekade 1990, Adiguna berkibar di dunia pacu roda itu berpasangan dengan pereli andal Chepot Haniwiano.

Selanjutnya, bersama teman-temannya di Ikatan Motor Indonesia, seperti Hutomo Mandala Putra, Soetikno Soedardjo, dan Onky Soemarno, ia mendirikan PT Mugi Rekso Abadi. Bisnisnya bergerak di dunia hiburan. Dengan modal Rp 8 milyar, mereka membangun Hard Rock Cafe.

Adiguna berbakat dagang. Usaha mereka berkembang pesat hingga memiliki beberapa divisi usaha. Misalnya radio Hard Rock FM di Jakarta, Bandung, dan Bali, Zoom Bar & Lounge, i-Radio, MTV Radio, majalah Cosmo, Omni Chanel, dan IP Entertainment. "Beberapa tahun ini, Hard Rock Cafe menjadi salah satu pembayar pajak terbesar," kata Adiguna ketika diwawancarai Gatra, awal 1995.

Kini Adiguna memegang jabatan kunci di sekitar 20 perusahaan besar, mulai direktur, presiden direktur, sampai presiden komisaris. PT Adiguna Mesintani, misalnya, kini merajai pasar mesin-mesin diesel besar di Indonesia. Mesin-mesin berkekuatan 500 hingga 10.000 tenaga kuda itu dipakai sebagai mesin pembangkit listrik di hotel-hotel, pabrik, bahkan di Perusahaan Listrik Negara. Pabriknya terletak di kawasan Cakung, Jakarta Timur.

Adiguna juga memproduksi alat berat seperti Well Head & Christmas Tree, yang banyak dipakai dalam kegiatan pengeboran minyak lepas pantai. Di sektor jasa transportasi air, Adiguna punya PT Pelayaran Umum Indonesia, yang menyewakan kapal-kapal pengangkut barang-barang industri. Antara lain, ia memiliki tiga kapal tanker berkapasitas 35.000 ton, yang disewakan kepada Pertamina.

Di bidang properti, Adiguna juga memiliki Four Seasons Hotel dan Four Seasons Apartment di Bali. Baru-baru ini, ia mengambil alih kepemilikan Regent Hotel di kawasan Kuningan, Jakarta, dan menggantinya dengan nama baru: Four Seasons Hotel. Di bidang farmasi, ia menjadi bos PT Suntri Sepuri yang memproduksi tablet, kapsul, dan sirup antibiotik Beta Laktam.

Otomotif pun tetap jadi bagian bisnisnya. Ia berhasil, antara lain, menjadi pemegang dealership Ferrari dan Maserati, Mercedes-Benz, Harley Davidson, dan Ducati. Adiguna juga menggarap bisnis mainan anak-anak berteknologi tinggi, dengan menggandeng mitranya dari Jepang, Sega Corporation, perusahaan mainan anak-anak terbesar di dunia. "Partner asing diperlukan karena mereka bisa memberikan teknologi dan juga duitnya," kata Adiguna.

Ekspansi bisnis Adiguna merambah daerah-daerah lain yang berkembang pesat, seperti Batam. Tapi pada 1997, seiring terjadinya krisis ekonomi, bisnis keluarga Sutowo mulai meredup. Kala itu, dunia usaha nasional, termasuk Kelompok Nugra Santana, memang terpukul telak dengan meroketnya nilai dolar Amerika. Bank Pacific yang dipiloti Endang Utari Mokodompit, kakak Adiguna, dilikuidasi pemerintah pada November 1997.

Toh, setelah ekonomi berangsur pulih, bisnis keluarga Sutowo menggeliat kembali. Kasus Bar Fluid Club Hotel Hilton, tak pelak lagi, akan menjadi ujian terberat bagi nama besar Adiguna, usahawan bontot keluarga Sutowo yang kian mencorong itu.

Seorang pengacara Adiguna yang enggan disebut namanya menyesalkan opini publik yang terlalu menghakimi kliennya. "Publik terlalu cepat menyimpulkan," ujarnya. Menurut dia, berita tentang Adiguna sudah merambat ke wilayah pribadi yang menyudutkan. "Faktanya, Adiguna tak pernah tercatat melakukan tindakan kriminal," ia menegaskan.

Endang Sukendar
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 09 Beredar Jumat, 7 Januari 2005]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
BERITA TERKAIT  
spacer
 
 
spacer spacer  
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Beginilah Bangsa- Ku (asniramnur94@ya..., 15/01/2005 10:51)
Biginilah Bangsa-Ku , Maaf Kata aku tidak bisa me-
lupakan setiap proses pengadilan menyangkut K.K.N
putus tengah jalan (SP3),seperti Suharto /antek2nya
Masalah penggantian DIRUT Pertamina (Ibnu Sutuwo)-
kasusnya terhenti sampai saat ini dan ini semua
anak bangsa tahu dan tidak heran hal tsb. Apalagi ini-
timbul kejadian Si Bontot . Harapan Wong Cilik -
N.K.R.I ini milik kita bersama secara adil . Terimakasih
 
 
spacer
  
  Jangan2 ada saham Adiguna di Gatra?? (H_hanif@te..., 14/01/2005 18:49)
Lho, ini Gatra gimana? Kasusnya adalah penembakan dan tewasnya seseorang, lha kok isinya malah bisnis dan dermawannya Adiguna, sampai-sampai menyangkut SMA-4 dan FKPPI segala. Apa hubungannya?? Mestinya ya dipilah-pilah dong. Apalagi ditutup artikel dengan "...tidak pernah tersangkut kriminal" ??
Adakah saham Adiguna di Gatra??
 
 
spacer
  
  Dunia heboh (ghosbuster, 13/01/2005 20:33)
Redaksi boleh sy comment kan ???
kecil Idup dari hasil minyak (oil&gas) gedenya sedikit2 juga masih dagang jasa tengker...
gedenya Idup dari sebagian keringat malam kesandung juga di dunia malem...
kemaren nembah kuping... sekarang nembak dekat arah kuping....
Tapi kalo jantan dia akan mengakui.. tapi kalo ngga, (dengan segala macam caranya...) ada pengadilan yang Maha Adil.
Sedangkan th 2003/4 heboh oleh Inul, th 3005 heboh oleh TInul..
 
 
spacer
  
  orang baik bisa aja jadi lupa diri (kusunum@ho..., 13/01/2005 09:23)
Adiguna orang yang baik dan tidak pernah marah2 atau jahat sama orang. Bisa aja pada saat kejadian dia pengen jadi jagoan di depan Tinul(?) dan orang sekitarnya bhw dia punya kuasa (merasa jadi pemilk hotel tsb), sehingga begitu dengan mudahnya dia menembak orang. jadi orang baik belum tentu tidak berbuat kriminal. Sebaliknya orang yang tadnya jahat bisa berubah jadi baik2. Pengacara Adiguna, dibayar berapa kamu jika kamu bebaskan dia...?
 
 
spacer
  
  wajahnya kok mirip tommy ya? (joko1974@ya..., 13/01/2005 07:41)
Wajah Adiguna Sutowo ini kalau saya perhatikan kok mirip Tomy soeharto ya? Kalau terbukti bersalah nanti bisa nemenin Tomy di Nusakambangan dong. Atau nanti bikin Rally di Nusakambangan.
 
 
spacer
  
  saya salut (greatdays02@ya..., 13/01/2005 04:48)
Saya salut dengan situasi yang terjadi sehubungan dengan Aksi Tembak Terhadap Rudy.Kenapa?...karena hal ini melibatkan komentar banyak orang yang datang dari berbagai pihak, yang berarti menjadi concern banyak orang

Khususnya kepada saya, kejadian ini memberikan hikmah, menyadarkan saya untuk tidak sombong dan takabur pada saat memasuki suatu lembaran hidup yang baru. Disisi lain, pada umumnya, saya melihat tanggapan pro dan kontra sehingga membuat kita semua berpikir dan berpikir....akhirnya... <314 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  jangan dilepas ! (say_wrong@ya..., 13/01/2005 03:26)
Dalam suasana berduka menghadapi musibah gempa & tsunami di aceh, si koboi seenaknya nembak kepala orang karena gara-gara persoalan yang sangat sepele, sungguh tindakan yang terkutuk dan sangat biadab. Saya sangat setuju pernyataan bpk. alfons, kalo pihak adiguna sutowo berhasil mempengaruhi polisi/aparat sehingga kasusnya dipetieskan mari kita kejar adiguna sampai kelubang tikus !
 
 
spacer
  
  Kalau semua serba gampang ... (papa_hari@ya..., 13/01/2005 01:49)
Soal apakah yang menembak itu tersangka atau bukan, menurut ahli senjata tentu dapat ditentukan pada tangan tersangka apakah masih tertinggal serbuk-serbuk munisi. Apakah dalam hal ini sesudah menangkap tersangka dan merekord identitas ybs. Polisi a.l.juga melakukan hal tersebut di Puslabfor?!
Apa mau dikata kalau semua didapat serba gampang, tentunya mencabut nyawa orang juga gampang. Lihat saja bajingan-bajingan dan perampok-perampok yang tanpa kerja keras mau mendapatkan sesuatu serba gampan... <67 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Saya Tidak Habis Pikir Dengan Orang Disekliling Adiguna (zebramas@ho..., 13/01/2005 01:06)
Sungguh saya tidak mengerti dengan sikap orang-orang yang berada disekeliling Adiguna, mulai dari teman dekat, pengacara,pihak penyelidik yang pada awalnya plin-plan dan orang-orang yang merasa simpati kepadanya. Saya-pun merasa kaget dengan pernyataan salah seorang pembelanya yang mengatakan, bahwa Adiguna sang tersangka pembunuh Rudy adalah tergolong masyarakat yang baik karena hanya sekedar membantah melakukan penembakan dan memberikan kesempatan kepada pihak penyidik untuk melakukan penyidik... <1586 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Masih banyak orang seperti dia (tronndolo@ya..., 12/01/2005 23:04)
Kenapa harus repot nyari bukti lagi, kan sudah cukup, langsung saja ditembak jidatnya. Negara tak akan rugi dengan mampusnya dia. Masih banyak anak-anak pejabat korop jaman orde baru yang berkeliaran di negri ini.
Mengenai pengacaranya kalau uang penyumpal mulutnya sudah habis pasti omongannya lain.
 
 
spacer
   
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 19 April 2014 >>
SuMTW ThFSa
dotdot12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer