spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
PERSPEKTIF YUDI LATIF
spacer
 
Menghidupkan Pancasila

Tiga belas tahun setelah reformasi digulirkan, banyak orang mulai sangsi dengan janji demokrasi di negeri ini. Dari penjelajahan hampir setiap pekan mengarungi cakrawala Nusantara, dari jarak dekat dengan bau keringat dan kaki kebangsaan, dengan mudah kupergoki retakan-retakan pada arsitektur kenegaraan kita. Tiga belas tahun setelah reformasi demokratis digulirkan, Indonesia adalah tenunan yang robek karena simpul yang rapuh.

Dari Danau Sentani di Papua hingga Danau Toba di Sumatera Utara, kebeningan air kearifan memang masih tersisa, tetapi polusi yang ditimbulkan oleh limbah politik kian mendekat mengancam ketahanan ekosistem kebudayaan. Tentu merisaukan, karena Indonesia adalah pertautan politik dari keragaman budaya. Jika politik sebagai simpul pertautan itu rapuh, kekayaan warisan budaya Nusantara itu tidak bisa diikat menjadi sapu lidi yang kuat, tetapi sekadar serpihan lidi yang berserak, mudah patah.

Indonesia lebih merupakan state-nation ketimbang nation-state. Bangsa Indonesia dipersatukan bukan karena kesamaan budaya, agama, dan etnisitas, melainkan karena adanya negara persatuan, yang menampung cita-cita politik bersama, mengatasi segala paham golongan dan perseorangan. Jika negara merupakan faktor pemersatu bangsa, negara pula yang menjadi faktor pemecah belah bangsa. Dengan demikian, lebih dari negara mana pun di muka bumi ini, politik kenegaraan bagi Indonesia sangatlah vital untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa.

Arsitektur politik kenegaraan yang secara tepat guna sanggup mempertautkan kemajemukan Indonesia sebagai nations-in-nation adalah desain negara kekeluargaan. Secara bertepatan, pendiri bangsa, dengan keragaman garis ideologisnya, memiliki pertautan dalam idealisasi terhadap nilai kekeluargaan.

Dengan demikian, semangat gotong royong merupakan cetakan dasar (archetype) dan karakter ideal keindonesiaan. Ia bukan saja dasar statis yang mempersatukan, melainkan juga dasar dinamis yang menuntun ke arah mana bangsa ini harus berjalan. Dalam istilah Soekarno, kekeluargaan adalah "meja statis" dan "leitstar dinamis" yang mempersatukan dan memandukan.

Karena kekeluargaan merupakan jantung keindonesiaan, kehilangan semangat kekeluargaan dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan Indonesia merupakan kehilangan segala-galanya. Kehilangan yang membuat biduk kebangsaan limbung, terombang-ambing gelombang perubahan tanpa jangkar dan arah tujuan.

Jika demokrasi Indonesia kian diragukan kemaslahatannya, tak lain karena perkembangan demokrasi itu cenderung tercerabut dari jiwa kekeluargaan. Peraturan daerah berbasis eksklusivisme keagamaan bersitumbuh menikam jiwa ketuhanan yang berkebudayaan. Lembaga-lembaga finansial dan korporasi internasional dibiarkan mengintervensi perundang-undangan dengan mengorbankan kemanusiaan yang adil dan beradab.

Tribalisme, nepotisme, dan pemujaan putra daerah yang menguat dalam pemilu kepala daerah melemahkan persatuan kebangsaan. Anggota parlemen bergotong royong menjarah keuangan rakyat, memperjuangkan "dana aspirasi" seraya mengabaikan aspirasi rakyat, melupakan kegotongroyongan berdasarkan hikmah kebijaksanaan. Ekspansi neoliberalisme, kesenjangan sosial, dan tindak korupsi melebar, menjegal keadilan sosial.

Demokrasi yang dijalankan justru memutar jarum jam ke belakang, membawa kembali rakyat pada periode prapolitik, ketika terkungkung dalam hukum besi sejarah survival of the fittest dan idol of the tribe. Ada jarak yang lebar antara voices dan choices, antara apa yang diargumentasikan dengan pilihan institusi dan kebijakan yang diambil. Demokrasi yang diidealkan sebagai wahana untuk memperjuangkan kesetaraan dan persaudaraan lewat pengorganisasian kepentingan kolektif justru menjadi instrumen bagi kepentingan privat.

Demokrasi yang dikembangkan tanpa mempertimbangkan sistem pencernaan kebudayaan dan karakter keindonesiaan seperti biduk yang limbung. Dalam satu dekade terakhir, kita seakan-akan telah mengalami begitu banyak perubahan. Namun perubahan yang terjadi tidak membawa kita ke mana pun.

Ibarat pohon, sejarah perkembangan bangsa yang sehat tidak bisa tercerabut dari tanah dan akar kesejarahannya, ekosistem sosial-budaya, sistem pemaknaan, dan pandangan dunianya tersendiri. Pancasila dirumuskan oleh pendiri bangsa sebagai dasar dan tuntutan bernegara dengan mempertimbangkan aspek-aspek itu, lewat usaha penggalian, penyerapan, kontekstualisasi, rasionalisasi, dan aktualisasinya dalam rangka menopang keberlangsungan dan kejayaan bangsa.

Dapat dikatakan bahwa sebagian besar ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik dari masa lalu. Adapun warisan termahal para pendiri bangsa yang merosot pada saat ini adalah karakter. Karena itu, marilah kita hidupkan kembali karakter Pancasila, sebagai jalan kemaslahatan dan kemajuan Indonesia!

Yudi Latif
Cendekiawan muslim
[Perspektif, Gatra Nomor 30 Beredar Kamis, 2 Juni 2011]

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
  
spacer
KOMENTAR PEMBACA
spacer
  
  Pancasila istrumen NKRI (denmas11@ya..., 30/06/2011 09:34)
Pancasila sbagai instrument politic of NKRI is OK. Pancasila sbagai agend of moral is just utopia...nothing & impossible.
 
 
spacer
  
  Reformasi tidak dilakuan dengan baik (walhiam@ms..., 26/06/2011 02:31)
Mugkin sudah jadi nasib bangsa kita, semua tidak selesai, revolusi 45 tidak selasai sampai tujuannya, reformasi juga tidak berjalan bagaimana seharusnya. Kelihatannya reformasi dilakukan dengan spontan anthusias dan emosi yang tinggi, karena itu hanya mencapai segi folmalnya saja, Indonesia menjadi negara demokrasi, karena bisa ganti presiden secara teratus berdasarkan hasil pemilihan.
Taoi perbedaan yang menyolok antara negera hukum yang lain di dunia dan negara hukum Indonesia, jarang yang bi... <527 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Hidupkan Kembali Nilai-Nilai Pancasila (yusi210471@gm..., 24/06/2011 13:43)
Pada saat reformasi didengungkan sejak Mei 1998, saya memiliki perasaan optimis, bahwa bangsa saya akan menjadi bangsa yang besar, di mana ada kebebasan berbicara dan mengeluarkan ide. Tapi dengan berjalannya waktu saya merasa jengkel, marah serta meneteskan air mata. Semakin menjamurnya korupsi, tawuran atau kerusuhan, tidak ada kejujuran di bangsa ini terutama orang yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Saya melihat kita kehilangan moral kebangsaan dan nilai-nilai Pancasil... <216 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  menghidupkan kembali pancasila (iyem_manis@gm..., 14/06/2011 22:01)
sudah sewajarnya ideologi pancasila dihidupkan kembali, mengingat maraknya ideologi syariat islam yang akan dijadikan ideologi sebagai dasar negara. sudah kita ketahui bersama bahwa ajaran islam yang ingin menjadikan syariat islam sebagai ideologi negara, terbukti sudah kebiadabannya bahkan sangat tidak berperikemanusiaan sama sekali. hal ini lebih jelek dari ideologi komunis yang memang jelas2 tidak mengenal adanya tuhan. Lain halnya dengan ajaran islam yang katanya mengenal adanya tuhan dan ... <639 huruf lagi>
 
 
spacer
  
  Jangan paksakan orang harus Pancasila (edopurwo@gm..., 14/06/2011 09:33)
Kenapa kita selalu memaksakan harus pancasila sebenarnya semua itu udah ada sebelum negeri ini dibangun budaya kita agama kita dan lain sebagainya tinggal kitanya mau memahami tentang Alquran dan hadist tidak, selama hanya ngomong sana sini saya pikir buang waktu aja . Kita selalu terlambat dan ketinggalan selama bangsa ini ingin memperkaya diri sendiri.
 
 
spacer
  
  NASO (no action seremonial only) (fasya111@ya..., 12/06/2011 10:04)
Sebagai bagian dari budaya maka pembumian Pancasila butuh keteladanan perilaku keseharian dari para pejabat tinggi-daerah, tokoh masyarakat, aparat TNI-Polri, jajaran penegak hukum dll dalam seluruh aspek tidak sekedar upacara seremonial seperti yg terjadi selama ini. Kalo cuma NASO jangan harap deh.
 
 
spacer
  
  75% penduduk (arakoreng@ly..., 11/06/2011 03:07)
jika hanya adat , budaya atau semua hasil pemikiran manusia masih masih bisa di ralat ...., tapi kalau sudah menjadi tabyat hanya akan musnah kalau sudah jadi mayat..... apa lagi 75% penduduk negri ini anhealty mentality .... so hanya besarnya dan kedahsyatan bencana yang sanggup melenyapkannya ..."viva la catastrophe"
 
 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 11 March 2014 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer