spacer spacer spacer spacer
gatranews spacer

All Daily News Magazine
spacer spacer spacer spacer spacer spacer spacer
spacer

User ID :
Password :
Anggota baru ?
Lupa password ?

[ Indeks Berita ]
[ Daftar Komentar ]
sudut
spacer
ALKISAH
spacer
 
Tommy Buron
Richardo Gelael Mulai Betah Di Cipinang

Jakarta, 13 November 2000 18:34
HIDUP di bui jelas bukan impian siapa pun. Apalagi bagi Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, 38 tahun, yang sejak berusia 4 tahun hidup enak di lingkungan istana kepresidenan. Penjara juga bukan impian Ricardo Gelael.

Tapi, sang waktu menentukan lain. Tommy dan Ricardo, dua anak orang kaya dan berpengaruh, yang kemudian menjalin kerja sama mengelola PT Goro Batara Sakti, harus menjalani kehidupan di balik jeruji besi. ''Saya pasrah saja,'' kata Ricardo, saat menyerahkan diri ke Kejaksaan Jakarta Selatan, Jumat dua pekan lalu.

Ricardo kini meringkuk di ruangan 2 x 4 meter di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Sudah sepekan lebih ia hidup di sana. Putra bos supermarket Gelael itu tampaknya sudah mulai betah di Cipinang. Paling tidak itulah yang diungkapkan kepada Kepala LP Cipinang, A. Takasiliang, yang saban hari ketemu, Ricardo. ''Pada hari pertama saja ia down, tidak bisa tidur hingga sekitar pukul 02.00,'' kata Takasiliang.

Hari-hari berikutnya, Ricardo mulai terbiasa. Selain menonton televisi di selnya, ia mengisi waktu dengan berolahraga sepeda. Untuk kegiatan terakhir ini, cerita sumber Gatra, Ricardo ditemani narapidana (napi) Agiono. Pembunuh Nyo Beng Seng itu, konon, diangkat jadi centeng Ricardo, dan dihadiahi sepeda seharga Rp 3 juta.

''Ricardo mengaku beratnya naik satu kilogram,'' kata Takasiliang. Mantan Direktur Utama Goro itu terhitung sebagai orang yang gampang menyesuaikan diri. Di penjara, Ricardo yang mantan pembalap itu suka membagi-bagikan makanan kepada napi lain. Tidak mengherankan jika ia diterima secara baik oleh penghuni LP lain.

Pada pekan pertama, cerita Takasiliang, Ricardo hanya boleh keluar kamar. Jika ingin berkeliling, terbatas di bloknya saja, di blok IV-A. Setelah sepekan, yang disebut pekan orientasi, napi diizinkan bergaul secara lebih luas. Misalnya, mengikuti berbagai kegiatan yang diminatinya. ''Karena dia ahli manajemen, ya nanti kita minta dia ngajar napi lain soal manajemen,'' katanya.

Kegiatan keterampilan di LP Cipinang cukup beragam. Ada kegiatan bengkel besi, menjahit, dan pertukangan. Untuk mengisi waktu, para napi juga diberi kesempatan berolahraga, seperti sepak bola, voli, dan tenis meja. Di lain kesempatan, bisa pula ikut mendengarkan ceramah agama atau khotbah Jumat. Yang tak kalah menyenangkan adalah saat diperbolehkan menerima kunjungan sanak kerabat.

Konon, kunjungan sanak kerabat itu sudah sering dinikmati Ricardo. Adalah bukan rahasia bahwa penghuni Blok IV-A --disebut-sebut sebagai blok khusus-- diizinkan menerima kunjungan kapan pun. Tanpa batasan waktu. Di antara tamu penting itu, konon, ada Yapto Suryosumarno dan Pengacara Ruhut Sitompul. Dua pentolan Pemuda Pancasila itu disebut-sebut berkunjung pada hari Minggu, dua hari setelah Ricardo di penjara.

Sel itu hanya ditempati Ricardo seorang. Dengan berbagai fasilitas itu, kehidupan Ricardo di sana boleh dibilang nyaman. Nah, keistimewaan yang diperoleh mantan bos Goro Batara Sakti ini tak urung menimbulkan rasa iri. ''Ricardo harus diperlakukan sama dengan napi yang lain,'' kata Anton Medan, mantan napi yang kini jadi mubalig.

Anton berkomentar seperti ini, karena ada telepon dari napi di Cipinang yang menyatakan bahwa Ricardo dapat perlakuan eksklusif. ''Hal itu telah meresahkan napi lain. Sejak Ricardo masuk, mereka bergejolak,'' katanya. Anton, yang kini jadi pengusaha spanduk, mengajak sekitar 150 mantan napi lain berdemo di depan LP Cipinang, Sabtu 4 November lalu.

Para pendemo itu meneriakkan tuntutan agar tidak ada perlakuan diskriminatif. Dalam spanduk sepanjang 25 meter yang mereka bentangkan tertulis: ''Tak ada kumis, tak ada jenggot, semua napi punya hak yang sama.''

Pengotakan sel penghuni LP Cipinang memang bukan rahasia lagi. Napi kelas teri, misalnya, ditempatkan di lingkungan I di Blok A, B, C, dan D. Di situ, satu kamar ditempati 20-30 napi. Yang tergolong kelas menengah ditempatkan di lingkungan II, yang terdiri dari enam blok. Tiap kamar di lingkungan ini hanya diisi tujuh napi.

Ada pula lingkungan III-E, III-F, dan III-H. Penghuninya disebut kelas ''eksekutif''. Tiap kamar hanya dihuni tiga napi. Sedangkan yang paling istimewa ada di lingkungan IV-A (depan) dan IV-B (belakang). Inilah sel yang disebut kelas ''supereksekutif'', yang tiap kamar hanya diisi seorang napi.

Di lingkungan terakhir itu, masing-masing terdapat 40 kamar berukuran 2 x 4 meter. Letaknya terpisah dengan lingkungan lain. Pengamanannya lebih ketat. Untuk bisa sampai ke sana harus melewati dua pos, dan tidak sembarang napi bisa berkeliaran.

Rencananya, jika Tommy Soeharto tertangkap, akan ditempatkan di Blok IV-A, kamar nomor 2. Penghuni lainnya adalah para napi khusus, seperti pemerkosa, mantan polisi, dan bencong. Mereka dipisahkan demi keamanan. ''Alumnus'' lingkungan ini di antaranya pengusaha Joko Tjandra, Rudy Ramli, Eddy Tansil, dan Dicky Iskandar Di Nata.

Untuk urusan makanan, penghuni Blok IV-A juga diistimewakan. Selain nasi jatah 200 gram dengan lauk 7 gram berupa telur atau ikan asin --terkadang daging-- mereka diizinkan pula memasak makanan sendiri. Tidak jarang, karena kebanyakan dari mereka berduit, napi kelas supereksekutif ini membeli makanan dari luar penjara lewat bantuan sipir. Mereka juga makan dari kiriman sanak keluarga.

Berbagai perlakuan wah itulah yang tidak jarang menimbulkan rasa iri, dan berbuntut kericuhan. Misalnya yang terjadi tahun 1975-an. Seorang napi kelas teri, Amri Mokodompit, tanpa ragu menusuk mati penghuni sel kelas eksekutif Patrik, yang jagoan Siliwangi. Ada juga Evi, anak buah pengedar narkotika Joni Sembiring, yang dibunuh napi Macan dan Seger. Alasannya, karena tidak dapat jatah narkotika.

Nico, 52 tahun, pada 1974 sempat pula menikam Papan Parlindungan, napi sel kelas eksekutif. ''Daripada saya dikerjain, ya lebih baik saya dulu yang melakukannya,'' kata Nico alias Solihin, mantan napi asal Ambon yang mengaku sudah 10 kali keluar-masuk LP dan kini mengaku telah insaf, kepada Gatra. ''Napi kelas teri mudah sekali diprovokasi untuk membunuh,'' Anton Medan menambahkan.

Tiap hari, dari pukul 10.00 hingga 14.00, para napi diperbolehkan keluar dari sel. Saat itulah mereka bisa berbaur dengan yang lain. Bisa antarpenghuni blok, atau napi dari blok lain. Pada kesempatan itulah aksi kekerasan antarnapi acap terjadi. Penyaluran nafsu seks tidak jarang dilakukan antarsesama, baik dengan cara paksa maupun sukarela.

Menurut Anton, yang terlahir dengan nama Tan Hok Liang, perlakuan istimewa yang didapat napi tidaklah diperoleh secara gratis. Kalau bukan karena ''kedigdayaan'' sang napi, ya karena uang yang dimilikinya.

Di LP Cipinang, kata sumber Gatra, napi yang disegani karena kewibawaannya, antara lain, Harnoko Dewantono alias Oki. Predikat itu mungkin disandangnya karena pembunuh tiga orang di Los Angeles, Amerika Serikat, ini terpidana mati. ''Bawaannya yang dingin membuat napi lain segan,'' kata napi yang enggan disebut namanya. Sementara itu, Pak De, terhukum kasus pembunuhan peragawati Dietje, dianggap sesepuh di Blok F-3.

Para napi yang disegani itu biasanya dijadikan tetua lingkungan. Penobatan ini, biasanya, dibarengi dengan perlakuan khusus oleh napi lain. ''Suap-menyuap tidak hanya dari napi ke sipir, melainkan juga sesama napi,'' kata Anton Medan, seraya mengaku bahwa sewaktu dipenjarakan pada 1970-an tidak jarang ia menyogok petugas.

Main suap itu dilakukan, umumnya, agar dapat fasilitas kamar atau kemudahan dibesuk kerabat. Uang pelicin juga diperlukan jika ingin memperoleh cuti keluar dari LP, selagi sakit. Anton sendiri mengaku pernah mengeluarkan duit Rp 12,5 juta pada 1979 agar bisa dipindahkan ke blok yang lebih nyaman.

Peredaran duit di LP terhitung deras. Ini dimulai dari pintu masuk. Para pembesuk napi, misalnya, tidak jarang perlu menyisipkan Rp 5.000 kepada petugas. Bisa dibayangkan, berapa duit mengalir jika lebih dari 2.000 penghuni LP Cipinang dibesuk semua tiap pekan?

Tip buat kurir juga perlu dirogoh untuk memanggilkan terpidana yang dikunjungi. Duit di tangan para napi itu bukan cuma untuk menyuap para sipir, melainkan juga untuk membeli kebutuhan pribadi. Semisal rokok atau mi instan. Barang-barang sejenis ini bisa diperoleh di warung kecil yang dikelola para napi. Napi Agiono, misalnya, mengelola ''warung'' di Blok IV-A.

Berbagai ''penyimpangan'' tersebut, tak dimungkiri Takasiliang, bisa terjadi di kompleks seluas 1 kilometer persegi yang menjadi tanggung jawabnya itu. ''Tapi, percayalah, kami terus berupaya mencegahnya,'' ujar Takasiliang.

Tercatat, selama delapan bulan ia memangku jabatan Kepala LP Cipinang, sudah dua petugas yang dipecatnya. Sanksi itu dijatuhkan karena mereka terlibat penjualan shabu-shabu. ''Jadi, kalau Tommy masuk di Cipinang, keamanannya kami jamin penuh. Saya pertaruhkan jabatan saya kalau terjadi apa-apa pada Tommy selama menghuni sel di sini,'' katanya.

Dwitri Waluyo, Taufik Abriansyah, dan Kholis Bahtiar Bakri

printer Versi Cetak email Kirim Berita ke Teman komentar Komentar Anda

 
spacer
sudut spacer sudut  

sudut spacer sudut
search calendar
<< 10 March 2014 >>
SuMTW ThFSa
dotdotdotdotdotdot1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031
spacer

All Daily News Magazine
sudut spacer
sudut sudut
spacer