Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

EDISI KHUSUS

Agenda Susulan Sisa Konflik Poso

Konflik horizontal Poso mereda. Tersisa benturan vertikal kelompok radikal melawan aparat. Segregasi sosial belum pulih dan rentan memicu gesekan internal agama. Mantan kombatan mendapat jatah proyek pemkab. Prakarsa damai sektor informal kerap lebih efektif.

Kumandang azan asar terdengar dari sudut Desa Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu medio Ramadan lalu. Seruan salat itu berasal dari bangunan 400-an meter persegi kelir hijau lumut: Masjid Jami' Baitullah. Di tengah hujan rintik sore itu, delapan jamaah menunaikan salat. Orang Tentena menyebutnya Masjid Besar. Inilah satu-satunya masjid di Tentena setelah konflik Poso reda.

Beberapa puluh meter dari masjid, terdapat gereja. Tentena, yang berjarak 60-an kilometer arah selatan Poso, dikenal sebagai basis Kristen. Mayoritas penduduk Nasrani di sekitar Masjid Besar Tentena tidak terusik oleh rutinitas azan itu. Saat konflik, sejak 1998 sampai awal 2000-an, beberapa masjid di Tentena jadi sasaran pembakaran, termasuk Masjid Besar tadi.

Tentena jadi salah satu tempat pengungsian kaum Nasrani yang meninggalkan Poso. Sebaliknya, minoritas muslim di Tentena meninggalkan desa ini.Setelah konflik surut, Masjid Besar Tentena kembali dibangun pada 2005. Ketua panitia pembangunannya justru beragama Kristen. Baru pada 2007, aktivitas masjid bergeliat. Ditandai dengan kedatangan Imam Masjid, Bustamin H.R. Tima, mubalig asal Makassar. Bustamin masuk Tentena saat belum ada muslim yang berani masuk desa dekat Danau Poso itu.

Kondisi masyarakat Poso sudah tidak terpengaruh konflik horizontal. Bustamin merasa tidak terlalu sulit diterima penduduk Tentena. Di masa awal menghidupkan masjid, Bustamin menyuarakan tilawah melalui pengeras suara. ''Untuk uji coba,'' kata dia. Tidak ada reaksi negatif dari warga Kristen.

Meski situasi pulih, tidak semua warga muslim asli Tentena mau kembali ke rumah. Mereka banyak yang menetap di daerah pengungsian. Penduduk muslim di Tentena kini kebanyakan dari Makassar yang baru masuk pasca-konflik.

Bustamin memperkirakan, jumlah muslim Tentena kini sekitar 50 kepala keluarga. Mereka tidak bergerombol eksklusif, tapi tersebar di beberapa titik. ''Namun pusat kegiatan umat Islam di masjid ini,'' ujar Bustamin kepada Gatra. Pembauran umat Islam-Kristen di Tentena, yang mirip situasi Kabupaten Poso sebelum konflik tahun 2000-an,bukanlahpotret umum Poso pasca-konflik.

Meski konflik surut, situasi khas pasca-konflik adalah terjadinya segregasi sosial berdasarkan agama. Jhon Lusikooy, sosiolog dari Universitas Kristen Tentena, menjelaskan bahwa ketika terjadi konflik, banyak penduduk yang mengungsi ke daerah yang mayoritas penduduknya seagama. Alih-alih kembali ke tempat asal, mereka memilih tinggal di sekitar pengungsian. Kelompok ini kini akrab disebut ''pendatang''. Mereka menjual properti di daerah asal agar bisa memulai hidup baru di lokasi pengungsian. Pengelompokan penduduk berdasarkan agama pun merebak.

Jhon menyebut Poso saat ini terbelah: masyarakat Nasrani di pegunungan, muslim di pesisir. Segregasi sosial itu memunculkan potensi konflik baru. Perbedaan kesejahteraan pendatang dan pemukim asli mencuat. Beberapa bulan belakangan, kata Jhon, terjadi saling serang antara pendatang dan penduduk lokal di Pamona. Padahal, mereka satu suku dan seagama.

Kebijakan pemerintah, bagi Jhon, justru memperkuat segregasi. Misalnya, di daerah Kristen dibangun universitas kristen, di kawasan muslim dibangun pesantren. Proyek pembangunan di kawasan Kristen diberikan kepada orang Kristen, pun sebaliknya. Dalam politik, ada ketentuan tidak tertulis, jika pemimpin dari Kristen, wakilnya harus muslim, dan sebaliknya.

***

Kebijakan lain yang dia sorot adalah pendekatan keamanan dalam penyelesaian konflik. Akibatnya, lanjut Jhon, konflik besar diminimalisasi, lalu menyisakan konflik kecil yang bersifat vertikal: serangan kepada aparat keamanan. Jhon memuji peran sektor informal justru lebih dominan dalam mengupayakan perdamaian. ''Itu tidak banyak terpublikasikan,'' kata Jhon.

Ia mencontohkan kelompok perempuan yang berkomunikasi lewat pasar, sebagai pembeli dan penjual. Ada lagi kalangan muslim yang melakukan dero, tarian pergaulan khas Poso. Pasca-konflik, tarian ini diidentikkan sebagai tarian maksiat atau milik Kristen. Saat ada komunitas muslim menari, maka itu berdampak mendobrak stigmatisasi dalam masyarakat. ''Jadi, yang harus dilakukan adalah mendorong peran sektor informal menjadi bagian kebijakan supaya berkelanjutan,'' ia menambahkan.

Pergeseran menjadi konflik vertikal, menurut Kapolres Poso, AKB Susnadi, merupakan reaksi atas tindakan tegas Polri terhadap kelompok garis keras. Polisi, kata dia, berhasil menghalangi tujuan kelompok garis keras untuk mempertahankan konflik horizontal di Poso. ''Jadinya, mereka menyerang aparat kepolisian,'' ujar Susnadi.

Persoalan pentingnya, kata Susnadi, sebagian warga Poso menjadi simpatisan ekstremis itu. Saat Poso dilanda konflik, kelompok dari luar berdatangan. Mereka membantu muslim Poso mempertahankan diri. Ketika konflik usai, menurut Susnadi, sebagian warga Poso merasa memiliki utang jasa. ''Bagi masyarakat sini, mereka bukan teroris, melainkan pahlawan,'' kata perwira yang berdinas di Poso sejak Maret lalu itu.

Sebagian pendatang itu menetap di Poso pasca-konflik. Mereka, dalam pantauan polisi, beberapa kali berupaya memprovokasi agar konflik vertikal merembet secara horizontal. Polisi mengantisipasi agar konflik tidak meluas jadi bola liar. Caranya, kata Susnadi, segera mengusut tuntas setiap kasus.

Susnadi menyoroti program deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Program ini dinilai potensial menjadi bumerang. Bentuknya, pinjaman lunak bagi mantan kombatan. Susnadi khawatir, dana itu diselewengkan untuk aksi teror.

Susnadi punya fakta lain dari data intelijen bahwa kelompok ekstremis Poso kerap menekan panitia lelang proyek pemda. Skenario lainnya, mereka mengintimidasi pemenang lelang untuk menyubkontrakkan sebagian pekerjaan. Ada lagi modus minta sumbangan pemerintah untuk pesantren. Namun, hingga kini, bangunan pesantren itu tidak selesai. ''Kalau kita perhitungkan uang yang dikumpulkan, sudah milyaran,'' kata Susnadi, tanpa menyebut identitas pesantrennya.

Abdul Gani Israil, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Poso, menyatakan bahwa saat ini tidak ada kendala berarti dalam menjalin relasi damai antar-agama di Poso. Ia menyebut contoh keberadaan minoritas muslim di tengah mayoritas Kristen Tentena. Tapi Gani mengakui, segregasi sosial masih menjadi masalah.

''Poso tidak boleh terkotak-kotak,'' ia menegaskan. Gani khawatir, kondisi itu berbalik menjadi bumerang. Sebelum konflik, warga Poso hidup dalam keragaman dengan rukun. FKUB Poso, kata dia, berupaya mengembalikan kondisi tersebut. FKUB menggelar beberapa aktivitas, seperti pertandingan olahraga pemuda lintas agama dan kegiatan anjang sana. ''Agar bisa membaur,'' ungkap Gani.

Gani menyebutkan, masalah serius yang perlu penyelesaian segera adalah fenomena pencaplokan aset yang ditinggal warga saat mengungsi. Ketika pengungsi kembali ke lokasi lama, asetnya berpindah tangan. FKUB juga punya agenda membendung ajaran radikal, dengan membangun aliansi bersama MUI, Kementerian Agama, dan dua ormas besar di Poso, Al-Khairat dan Muhammadiyah. ''Dakwah kami coba perketat,'' ia menandaskan.

Piet Inkiriwang, Bupati Poso sejak 2005, membangun harmoni Poso, belajar pada Sulawesi Utara (Sulut). Untuk membina kerukunan akar rumput, Piet membentuk Badan Kerja Sama Antar-Umat Beragama (BKAUB), lembaga yang juga eksis di Sulut.Setelah 2006, negara mengeluarkan panduan nasional pembentukan FKUB. Tapi FKUB di Poso, kata Piet, kalah gesit dibandingkan dengan BKAUB.

BKAUB Poso terdapat di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa. Lembaga ini menjadi ujung tombak kerukunan umat beragama. Piet mengalokasikan dana operasional BKAUB dari APBD. Hasilnya, menurut Piet, memuaskan. ''Anda bisa lihat sendiri setelah beberapa hari di Poso,'' katanya.

Dalam proses rekonsiliasi, Piet memberi sentuhan simbolik. Ia memerintahkan pendirian Universitas Kristen di Tentena yang menjadi basis Kristen dan Pesantren Gontor di Poso Pesisir yang mayoritas muslim. Piet memberi perlakukan khusus kepada mantan kombatan, karena tingkat kerawanan mereka tinggi. Pemkab Poso memberi proyek di bawah Rp 50 juta melalui penunjukan langsung kepada mantan kombatan.

Piet membantah bahwa kebijakan itu akibat tekanan para mantan kombatan. Dalam kasus proyek besar, kata dia, biasanya mantan kombatan hanya dijadikan subkontraktor dari pemenang tender. Piet berpandangan, pemberian ruang ekonomi bagi mantan kombatan itu menjadi kewajiban pemda. ''Ini harus ditangani serius. Kalau tidak, mereka bisa membuat masalah lagi,'' ujar Piet. Untuk para kombatan yang terus melakukan aksi teror, Piet menyerahkannya kepada aparat keamanan.

Asrori S. Karni, dan Jennar Kiansantang (Poso)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kilas Balik Konflik Poso

Desember 1998

Terpicu oleh aksi personal pemuda Kristen sedang mabuk yang membacok pemuda muslim yang sedang tidur di masjid, berkembang aksi saling serang antara kampung Islam dan Kristen.

- Momentum politik: euforia reformasi, Soeharto baru tujuh bulan mundur. Dekat pergantian Bupati Poso. Diwarnai persaingan bakal calon dengan sentimen agama. Lazim di Poso, pasangan bupati dan wakil bupati berbeda agama (Islam-Kristen atau sebaliknya). Agama bupati baru dibiasakan berbeda dari bupati lama.

- Momentum keagamaan: umat Islam sedang puasa Ramadan, umat Kristen tengah menyongsong puncak Natal.

- Korban: 17 warga luka berat, 139 luka ringan (15 orang lainnya anggota TNI), 158 rumah dibakar, 100 rumah dirusak massa, 14 mobil dan 20 motor dibakar.

Maret-Oktober 1999

- Persaingan calon bupati memanas. Yahya Patiro, Sekwilda Poso, calon kuat bupati dari Kristen, diserang pemuda muslim di Hotel Wisata Poso, 20 Maret 1999. Yahya dituding sebagai penggerak kerusuhan 1998. Tudingan itu beredar lewat selebaran buatan Agfar Patanga, adik bupati petahana, Arif Patanga. Hotel Wisata dirusak.

- Kabupaten Poso dimekarkan, dengan membentuk Kabupaten Morowali, sejak 4 Oktober 1999.

- Pemilihan bupati baru, 30 Oktober 1999, dimenangkan sosok muslim: Abdul Muin Pusadan. Sebelumnya, beredar selebaran menuntut power sharing agama. Pihak Kristen menghendaki bupati baru giliran dijabat tokoh Kristen.

April 2000

- Diawali perkelahian pemuda Kristen dengan muslim di Terminal Poso, berlanjut ke saling serang antara komunitas muslim dan Kristen. Versi bupati, korban pada kerusuhan 15-21 April 2000 adalah 37 orang meninggal, 34 luka-luka, 267 rumah warga dan tiga rumah ibadah dibakar.

- Mei 2000 Puluhan ustad dan santri anak-anak Pesantren Walisongo, Poso, dibantai di dalam masjid. Mayatnya dibuang ke Sungai Poso.

- Saling serang antara komunitas Kristen dan Islam makin memanas. Umat Islam dan Kristen dari daerah tetangga Poso berdatangan membantu penyerangan. Gelombang pengungsian ke luar Poso juga meningkat.

Juni-Juli 2000

- Awal Juni, berlangsung MTQ di Palu, 228 kilometer dari Poso. Situasi di Poso masih memanas.

- Laskar Jihad masuk Sulawesi Tengah sebanyak 759 orang, 18 Juli 2000. Semula untuk misi kemanusiaan, berikutnya terlibat aksi serangan. Kalangan Kristen, dalam Kongres Masyarakat Kristen di Minahasa, menyerukan Laskar Manguni dan Laskar Kristus di Manado datang ke Poso untuk menghadapi Laskar Jihad.

- Tiga pimpinan kombatan Kristen, Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva, dan Marinus Riwu, menyerahkan diri, 25 Juli 2000. Ketiganya dieksekusi mati, 22 September 2006.

Agustus 2000

- Ada upaya damai dengan upacara adat bernama Rujuk Sintuwu Maroso.Kesepakatan ini lumayan meredakan suasana sampai akhir tahun 2000.

- Tahun 2000 tercatat sebagai periode paling mencekam dan massif. Dilaporkan, 685 rumah terbakar dan 58.005 jiwa warga mengungsi.

20 Desember 2001

- Menko Kesra, Jufu Kalla, memprakarsai perjanjian damai di ''kota bunga'', Malino, Sulawesi Selatan. Disepakati 10 butir perjanjian damai antara wakil Islam dan Kristen.

- Pasca-Perjanjian Malino, rangkaian kekerasan masih berlangsung sampai sekarang. Trennya makin bergeser ke konflik vertikal dengan menyerang aparat keamanan.

18 Desember 2003

- Kabupaten Poso (sisa pemekaran dengan Kabupaten Morowali) kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Tojo Una-Una.

- Komposisi penduduk muslim Poso pasca-pemekaran 2003 tidak lagi mayoritas. Bila sebelum Oktober 1999 muslim Poso 63,6%, kini tinggal 36,8%. Sedangkan Kristen Poso sebelum pemekaran 1999 sebanyak 30,7%, saat ini mayoritas: 56,13%.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Asrori S. Karni

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Edukasi Perempuan Juru Damai

Perlu kiat khusus menjalin kohesi pasca-konflik. Lian Gogali, 35 tahun, harus telaten saat pertama mengumpulkan puluhan perempuan Poso. Direktur Institut Mosintuwu Poso ini, tahun 2011, membuka pertama kali Sekolah Perempuan. Mosintuwu berasal dari bahasa asli Poso, pamona, yang berarti tolong-menolong.

Untuk angkatan pertama Sekolah Perempuan, terkumpul 80 ibu rumah tangga: Kristen 50%, Islam 40%, dan Hindu 10%. Kebanyakan lulusan SD. Maksimal SMP. Proses mengumpulkan mereka tidak gampang. Lian dan relawan harus mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Pada pertemuan perdana, semua canggung dan kaku. Tidak ada satu patah kata pun terlontar. Satu sama lain masih memendam curiga.

''Semua mata cuma melihat ke depan,'' kata Lian mengenang. Untuk mengatasinya, perempuan kelahiran Poso ini punya pendekatan sendiri. ''Mereka ditempatkan sebagai korban,'' ungkapnya. Kebekuan baru pecah setelah hari ketiga. Peserta mulai membuka diri setelah sadar posisi mereka sebenarnya senasib.

Kaum perempuan sengaja dibidik, karena Lian yakin mereka punya potensi besar dalam membina damai. Saat meneliti puluhan perempuan dan anak pengungsi konflik Poso untuk tesis S-2 di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2002-2004, Lian menemukan fakta bahwa perempuanlah yang pertama menggerakkan perdamaian pra dan pasca-konflik.

Mereka yang mulai membangun ruang publik berupa pasar. Di sana, warga dari beragam latar belakang berinteraksi. "Penggerak perdamaian pertama di akar rumput itu perempuan," ujarnya. Fakta itu jarang terekspose media. "Kebanyakan menyoroti Perjanjian Malino yang hanya menyentuh elite," ungkap dia.

Dalam sejarah klasik Poso, kata Lian, perempuan berperan determinan. "Mereka yang menentukan perang atau damai," ujarnya. Saat ini, ketika konflik dicoba diprovokasi lagi, kaum perempuan bahu-membahu menjadi sabuk pengaman. ''Kalau sekarang ada kejadian di Poso, mereka saling kontak menanyakan kabar. Semua sudah merasa satu keluarga,'' ujar Lian. Tiap muncul insiden kekerasan di Poso, mereka turun ke jalan menolak kekerasan.

Sekolah Perempuan berlangsung setahun. Sampai kini sudah meluluskan dua angkatan. Kurikulumnya diramu sesuai dengan konteks daerah. Sebab dampak konflik di tiap wilayah berbeda. Terdapat enam pusat kegiatan yang kurikulumnya ditentukan sesuai dengan karakteristik wilayah. "Perempuan di Tentena, misalnya, hanya mendapat cerita konflik, tapi secara psikologis gambarannya lebih menakutkan dibandingkan dengan yang mengalami langsung," kata Lian.

Angkatan pertama, fokus kurikulum menekankan perdamaian. Salah satu kegiatannya adalah kunjungan ke rumah ibadah. Peserta dipersilakan bertanya apa saja kepada pemuka agama yang menjadi fasilitator. Pertanyaan yang banyak muncul seputar pengertian jihad. Lian bermaksud memberi pemahaman agar penilaian pada kelompok lain tidak berdasarkan mitos. Dari sana, kata Lian, peserta mendapat perspektif baru tentang agama lain untuk membuka pintu kerukunan.

Atas kiprah itu, Maret 2012, Lian memenangkan Coexist Prize, penghargaan bagi pejuang perdamaian dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris. Lian menerima hadiah US$ 100.000, yang ia gunakan untuk membiayai Sekolah Perempuan angkatan kedua. Kurikulum angkatan kedua ini ditambah muatan ekonomi politik. Pesertanya lebih banyak: 90 orang.Alumninya kini ada yang siap berlaga jadi anggota DPRD.

Sambil terus memikirkan program untuk alumni, Insitut Mosintuwu merangkul anak-anak. Lian meluncurkan proyek sophia: perpustakaan keliling, home library, dan diskusi buku. Anak-anak Poso tidak memiliki akses luas terhadap buku. Program ini menjadi wadah pertemuan anak-anak dari beragam latar. ''Supaya anak-anak saling mengenal melalui buku,'' Lian mengungkapkan harapan.

Asrori S. Karni, dan Jennar Kiansantang (Poso)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Eksperimen Damai Mantan Kombatan

''Perang saya sudah selesai,'' kata Muhammad Rafiq Syamsudin, 40 tahun, mengenang masa awal 2000-an. Saat Poso dilanda konflik, pria berkulit gelap dengan badan besar ini terjun ke medan perang. Siapa pun warga Poso ketika itu, kata Rafiq, tak punya pilihan lain kecuali angkat senjata.

Rafiq belajar merakit senjata dan bom secara otodidak. Ia memang menyukai teknik. Kuliah formalnya sebenarnya ilmu hukum, tapi tak tuntas. Dengan kemampuannya, Rafiq disegani kelompok kombatan muslim. Bahkan, di tengah beragam faksi Islam, dia bisa menjadi penengah.

Karena aksinya, Rafiq pernah dibui. Polisi menangkapnya pada 2004 di rumah seorang kerabat yang dijadikan tempat perakitan senjata. Barang buktinya, satu setengah truk amunisi dan bahan peledak. Padahal, Poso saat itu mulai normal. ''Persiapan saja. Situasinya masih remang-remang, apa pun bisa terjadi,'' kata dia.

Setelah diganjar enam bulan penjara, Rafiq mengubah haluan. Ia menggagas ''Poso Studies Center'', medio 2006, sebuah forum diskusi. Masalah Poso dibahas dengan berbagai pemangku kepentingan: pemerintah daerah (pemda), polisi, TNI, LSM, hingga warga biasa. Ia juga menggandeng mantan kombatan Islam dan Kristen.

Materi diskusi bisa apa saja. Prinsipnya, bermuara pada upaya mencegah konflik. ''Sebab di Poso ini semua masalah bisa jadi konflik,'' ia berujar. Wadah ini juga menjadi ajang komunikasi antar-kelompok. Ketika di Poso terjadi aksi provokasi, tiap kelompok akan memverifikasi informasi kepada kelompok lain.

''Mereka lebih percaya telepon kami dari pada telepon polisi,'' ungkap Rafiq. Bersama pendirian forum diskusi, Rafiq membuat radio Matahari di gelombang 96,2 FM, dengan tagline ''love station''.''Di Poso ini orang sudah kehilangan cinta sampai gemar berkonflik,'' kata dia setengah berkelakar.

Radio Matahari memiliki program tempat warga menyampaikan keluhan. Lewat radio Matahari, Rafiq menyuarakan apa yang tidak diberitakan media. Ia membahas isu korupsi di pemda sampai terorisme. ''Membuat orang Poso tahu dari orang Poso, bukan dari TV One,'' kata dia sambil terbahak.

Poso Studies Center, sayang, tidak berumur panjang. Satu per satu aktivisnya mundur. Alasannya beragam. ''Ada teman-teman yang mulai tertarik menggunakan logo partai,'' kata Rafiq. Para mantan kombatan memang memiliki nilai tawar politik tinggi, termasuk direkrut partai politik. Setelah vakum beberapa lama, Rafiq menggagas forum serupa. Kali ini diberi nama Lingkar Kasintuwu.

Radio Matahari dan Lingkar Kasintuwu, bagi Rafiq, berperan sebagai head sink, komponen penghantar panas. Keluhan yang tidak tersampaikan, kata dia, akan menjadi energi liar. ''Orang kalau mau mengadu tidak mendapat tempat mengadu, dia ambil parang. Di Poso begitu,'' katanya.

Lewat Lingkar Kasintuwu, Rafiq menggagas model bisnis yang bisa menyentuh banyak kalangan di Poso. Tujuannya juga membangun kerukunan. Ide itu berbasis sumber daya Poso. Poso bawah, yang pasca-konflik identik dengan komunitas muslim, punya sumber daya laut. Poso atas, seperti Tentena, yang identik dengan kelompok Kristen, kaya hasil pertanian.

Rafiq berencana menghubungkan kekurangan dan kelebihan dua kawasan itu melalui perdagangan. Dua lokasi itu akan dihubungan melalui jasa ojek. Dalam konteks kerukunan, tukang ojek yang mengantar hasil alam akan menjadi agen perdamaian.

Selama ini, dari merekalah isu yang berembus di satu daerah bisa membesar dan akhirnya memicu konflik. ''Kami ingin membuat dia (tukang ojek) ada di dalam lingkaran bisnis, agar dia bisa menetralisasi isu karena tidak mau usahanya terganggu,'' papar Rafiq. Ia berharap, ide itu bisa menjadi bagian solusi permanen konflik Poso.

Jennar Kiansantang (Poso)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 40-41 / XIX 8-21 Agustus 2013 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Edisi Khusus
Focil
Kolom
Mukadimah
Pariwara
Perspektif
Surat & Komentar
 
Created and maintained by Gatra.com