Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LINGKUNGAN

Salju Abadi Semakin Kritis

Foto terbaru hasil jepretan Greenpeace Indonesia menunjukkan, tumpukan salju abadi di Puncak Jaya makin menipis. Penelitian yang dilakukan Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika tahun 2010 juga menunjukkan, lapisan es abadi itu mulai digerogoti residu yang diduga karbon. Jika tidak ada upaya signifikan, dalam tujuh tahun ke depan, lapisan es itu akan punah.

Menjulang hingga ketinggian mencapai 4.884 meter, Puncak Jaya, di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua, merupakan salah satu puncak gunung kebanggaan bukan saja bagi warga Papua, melainkan juga Indonesia. Puncak gunung tertinggi di Indonesia itu merupakan salah satu dari tiga pegunungan yang terletak di kawasan garis khatulistiwa yang memiliki salju abadi. Dua lainnya adalah Pegunungan Andes di Peru dan Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Afrika.

Sayang, kebanggan itu kini perlahan-lahan mulai memudar. Foto yang diambil Greenpeace Indonesia pada 5 Juni lalu menunjukkan, lapisan es di Puncak Jaya, khususnya di bagian utara yang memiliki lapisan es paling luas, tampak makin kritis. Foto itu memperlihatkan, salju di lereng-lereng bagian bawah terlihat kian mencair, sehingga titik-titik hitam yang merupakan dasar batuan di puncak tersebut tampak menonjol di sana-sini.

Kepala Bidang Litbang Klimatologi dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dodo Gunawan, mengatakan bahwa foto itu memang menunjukkan kondisi lapisan es yang makin kritis di sisi puncak bagian sebelah utara tersebut. "Memang secara fisik terjadi pengurangan. Lidah-lidah (salju --Red.) yang menjulur ini terlihat mulai berkurang ketebalan esnya," kata Dodo kepada Gatra.

Dodo yang pernah melakukan penelitian lapisan es di kawasan tersebut lantas membandingkan foto milik Greenpeace itu dengan hasil jepretan tim peneliti pada 2010. Dari perbandingan foto tersebut, Dodo menilai penurunan volume es di Puncak Jaya cukup kritis. "Bisa dibilang kritis. Di sini sudah ada spot-spot batu, menandakan ketebalannya sudah menurun," katanya.

Tahun 2010, BMKG bersama Ohio State University dan Columbia University melakukan Ekspedisi Puncak Jaya selama tiga minggu. Ekspedisi yang dipimpin Profesor Lonnie G. Thompson dari Ohio State University itu bertujuan mengungkap pola-pola kondisi iklim terkini maupun historisnya ratusan tahun silam. Lapisan-lapisan es di kawasan Puncak Jaya merupakan bukti penting yang menyimpan informasi sejarah iklim pada masa lalu. "Jadi, bisa mengungkap sejarah iklim di sana pada masa lalu, ketika mungkin belum ada pencatatan dan teknologi," ujarnya.

Untuk itu, tim peneliti mengambil sampel hingga kedalaman 30 meter. Dengan menganalisis material yang terdapat dalam sampel es di Puncak Jaya, misalnya, tim dapat mengetahui ada-tidaknya dampak dari uji coba nuklir yang marak pada 1960-an, bahkan dampak letusan Gunung Krakatau.

Lapisan es itu sejatinya adalah peninggalan masa zaman es yang terjadi jutaan tahun silam. Karena itu, secara ilmiah, keberadaan lapisan es di Puncak Jaya sebagai penyimpan informasi iklim purba (paleo-klimatologi) sangat penting. Selain itu, lapisan es abadi itu diyakini memiliki fungsi ekologi. "Walaupun fungsi ekologinya belum kita ketahui secara detail, bagaimanapun, ada komponen dari siklus hidrologi. Saya kira, semuanya itu memiliki fungsi. Dengan hilangnya salju ini, kita kehilangan fungsi hidrologi itu," ungkapnya.

Jika fungsi hidrologi tersebut hilang, akan berpengaruh terhadap siklus hujan. "Tapi, mengenai apa yang dirasakan langsung, baik itu secara mikro maupun lokal, kalau itu hilang, flora-fauna apa yang terancam itu di luar jangkauan kami," tuturnya. Karena itu, Dodo mengaku prihatin atas makin kritisnya kondisi salju di Puncak Jaya. "Bahwa itu (lapisan salju abadi --Red.) harus tetap ada, saya sepenuhnya mendukung," ia menambahkan.

Menurut citraan dari satelit IKONOS tahun 2002, luasan es di Puncak Jaya mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 1850, tercatat luasan es di Puncak Jaya mencapai 19,3 kilometer persegi. Tahun 1942, luasannya berkurang menjadi sekitar 11 kilometer persegi. Penurunan luasan lapisan es ini makin signifikan pada tahun-tahun setelahnya, sehingga hanya tersisa 0,96 kilometer persegi pada citraan tahun 2006.

Kondisi serupa, menurut Dodo, sebenarnya terjadi pada lapisan es di Puncak Kilimanjaro. Namun luasan tutupan salju di Puncak Jaya menurun lebih drastis, terutama setelah tahun 1960-an. Penurunan jumlah luasan lapisan es ini secara umum memang terjadi karena adanya pemanasan global yang dipicu kemajuan industri sejak 1960-an. Namun, terhadap grafik penurunan yang lebih cepat yang dialami lapisan es Puncak Jaya pada tahun 2000-an (dibandingkan dengan Kilimanjaro), Dodo mengaku belum mendapatkan jawabannya.

Adakah aktivitas pertambangan emas PT Freeport Indonesia berpengaruh pada grafik penurunan yang cepat itu? "Itu kan interpretasi, belum ada penelitian ke arah sana," kata Dodo. Hanya saja, ia mengungkapkan satu fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lapisan terluar es abadi ternyata mulai tercampur jelaga hitam yang diduga berasal dari residu karbon. "Apakah itu deposit dari karbon, apakah alga atau apa, belum tahu. Kami tidak sampai meneliti itu," paparnya.

Fenomena tersebut juga ditemukan aktivis Wanadri, Florenciano Hendricus Mutter, ketika mendaki ke kawasan yang sama pada 2010. "Seperti bintik-bintik sisa uapan minyak solar," ujarnya kepada Gatra. Adakah residu pembakaran minyak solar itu berasal dari aktivitas pertambangan? "Saya nggak bisa memastikan asal bintik hitam itu dari mana," ujar Hendricus.

Hendricus setuju jika dikatakan kondisi es abadi di sana makin kritis. Hal itu juga terjadi pada lapisan es di puncak-puncak lainnya, seperti Puncak Soemantri, Ngga Pulu, dan Cartenz Timur. Dari estimasi kasar yang dibuatnya bersama Wanadri, luas es abadi di Soemantri dan Nggapulu tinggal sekitar dua kilometer persegi. Sedangkan untuk Cartenz Timur, dia perkirakan, luasnya sekitar dua kali lapangan bola voli.

Hendricus menyebutkan, pada 1970-an ujung gletser sampai ke basecamp pendaki di ketinggian 3.800 mpdl. Pada kunjungannya tahun 2010, ujung gletser baru bisa ditemukan di ketinggian 4.800-an mdpl di Puncak Ngga Pulu sampai Soemantri. "Jadi, memang sudah banyak yang hilang," katanya.

Pihak Greenpeace sendiri, seperti dikatakan Juru Kampanye Media Greenpeace Indonesia, Hikmat Soeriatanuwijaya, sengaja merilis foto untuk makin meningkatkan perhatian berbagai pihak akan makin kritisnya kondisi es abadi di Puncak Jaya. "Dengan begitu, diharapkan ada upaya-upaya yang serius untuk menyelamatkannya," kata Hikmat kepada Gatra.

Yang jelas, seperti dikatakan Dodo Gunawan, berdasarkan beberapa data yang diperoleh, rasio penyusutan lapisan es abadi di Puncak Jaya mencapai 10 cm per minggu. Artinya, setiap tahun, ketebalan lapisan es di sana berkurang 5,2 meter. "Jika kondisi ini dibiarkan, lapisan es abadi itu akan hilang dalam waktu lebih-kurang tujuh tahun lagi," ujarnya.

Deputi III Menteri Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Arif Yuwono, menyikapi temuan itu dengan hati-hati. "Kalau ada data itu, baru kami bisa sebut apakah dia concern pada penurunan atau akselerasinya," katanya. Ia memang menyayangkan terjadinya penurunan luasan salju di Puncak Jaya. Salju abadi itu, kata Arif, mencerminkan ekosistem yang unik. "Ini kekayaan alam kita, salju abadi di negeri yang tropis," ungkapnya.

Karena itu, ia setuju jika kekayaan ini terus dijaga. Asumsinya, ekosistem yang unik di Puncak Jaya memungkinkan adanya jenis flora dan fauna yang unik pula di sekitarnya. Dikhawatirkan, jika lapisan es itu hilang, flora dan fauna yang unik itu pun terancam hilang. Namun upaya untuk mempertahankan salju abadi di Puncak Jaya tidak bisa dilakukan hanya di tingkat nasional. "Perubahan iklim kan persoalan global, jadi solusinya harus global juga, ujarnya.

Indonesia, kata Arif, harus mengajak negara di seluruh dunia untuk bersama-sama menurunkan emisi gas rumah kaca. Untuk dugaan keterlibatan PT Freeport dalam penurunan volume salju di Puncak Jaya Wijaya akibat penambangan, Arif hanya berkomentar singkat: "Dugaan-dugaan itu kan harus dibuktikan."

M. Agung Riyadi, Mira Febri Mellya, dan Edmiraldo Siregar

Cover Majalah GATRA edisi No 37 / XIX 18-24 Juli 2013 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Medela
Nasional
Pariwara
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com