Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

SENI

Guyon Getir Putra Petir

Cerita tokoh superhero Gundala di masa pensiun. Metafora kehidupan Hasmi, kreator Gundala. Semua ada dalam satu lakon Gundala Gawat.

Di masa pensiun, Gundala Putra Petir hidup tenteram. Perutnya buncit, rambutnya memutih. Jagoan kita yang sanggup bergerak secepat kilat dan kondang di era 1970-an itu kini hidup nyaman bersama Sedah, istrinya yang molek dan baik hati.

Tapi ketenangan itu berubah melampaui kecepatan kilat. Orang ramai-ramai protes kepadanya karena Petir --ayah Gundala-- dituding seenaknya menyambar orang. Perampokan bank tiba-tiba merajalela. Dan, yang bikin Gundala tambah gundah, ia dianggap superhero murtad oleh rekan-rekannya sesama pahlawan super.

Sampai-sampai, di tengah prahara itu, Gundala tak berdaya dalam kepungan lawan, kelompok Harimau Lapar. Sang istri tercinta juga tersandera. Sialnya lagi, ia dikhianati orang-orang yang ia percayai. Nasib Gundala betul-betul gawat!

Satu-satunya pendukung setia Gundala adalah sang kreator, orang yang menghidupkannya di dunia komik, Hasmi. Padahal, di luar sana, di dunia nyata, nasib Hasmi juga tak kalah mengenaskan. Ia didera sakit dan hidup miskin lantaran karyanya kian ditinggalkan.

Kehidupan Gundala di masa pensiun itu merupakan suguhan pentas teater bertajuk Gundala Gawat oleh Teater Gandrik di Taman Budaya Yogyakarta, 16-17 April, dan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 26-27 April. Sedari awal, lakon karya Goenawan Mohamad ini memang mengisyaratkan aroma komedi; tepatnya parodi.

Goenawan mencomot napas parodi dari komik Gundala sendiri. Bahwa dengan kostum ketat ala superhero Amerika, Gundala beraksi di Yogyakarta, di tengah orang-orang berblangkon, dan pada satu kisah tatkala mengejar penjahat ia tersesat ke pentas wayang orang.

Apalagi, Gandrik membawakannya dengan gaya teater yang menjadi ciri khasnya: gaya sampakan. Dengan gaya ini, pemain lebih mengandalkan kepiawaian improvisasi di panggung. Maka, para superhero yang dengan kostum dan gayanya lebih mirip badut daripada jagoan sakti secara spontan bisa mengubah pentas menjadi pertunjukan ala ketoprak, saling sindir nasib sebagai pemain teater sampai mengolok-olok presiden.

Jajaran pemain juga jaminan lucu. Gundala dihidupkan sosoknya oleh Susilo Nugroho, aktor kawakan yang identik dengan penampilan komedian. Selain nama senior --dedengkot Gandrik, Jujuk Prabowo dan Butet Kartaredjasa, ada nama-nama muda yang lentur menggiring tawa. Spesialnya lagi, Hasmi yang tampil sebagai dirinya sendiri sungguh jenaka.

Gundala Gawat disutradarai Djaduk Ferianto, sekaligus sebagai penata musik. Ini lakon pertama Gandrik sepeninggal ketua dan penulis utama kelompok teater ini, Heru Kesawa Murti, pada 2011. Heru digantikan Whani Darmawan yang --bersama Agus Noor-- menjadi penulis pendamping Goenawan untuk lakon ini.

Keasyikan menikmati guyon Gundala dan kawan-kawan bukannya bebas gangguan. Beberapa bagian --antara lain bagian protes warga kepada Gundala soal petir-- terasa berlarat-larat, dihiasi beberapa baris dialog Pak Petir yang berambisi mencekokkan amanat kisah sehingga jadi kelewat propagandis.

Di pengujung kisah, setelah sekian adegan penuh tawa yang gaduh, lakon ini mengingatkan kembali bahwa batas komedi dan tragedi begitu rapuh. Iman pahlawan sakti rupanya juga mudah runtuh. Komikus Hasmi masih saja berseru, ''Superhero bersatu tak dapat dikalahkan!'', kendati teriakannya ditelan kertas komiknya yang menghitam, memupus karya-karyanya yang gagah dan warna-warni. Sampai ia tersungkur ke tanah dan kertasnya sepenuhnya menjadi hitam.

Arif Koes Hernawan

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Gundala Pilih Komik

Di sudut panggung, di belakang meja, muka Hasmi serius. Ia asyik menggores kertas-kertas, mencari cerita Gundala. Sampai lupa makan, sampai alpa kesehatan. Istrinya, Nungki, lebih muda 20 tahun dari Hasmi, setia menyediakan obat beserta air minumnya. ''Apa ini? Seperti nyipok cangkem buto (mencium mulut raksasa)," seru Hasmi mengomentari cangkir minumnya.

Itulah kemunculan pertama Hasmi dalam lakon Gundala Gawat yang membuyarkan keseriusan penonton. Hasmi alias Harya Suraminat adalah komikus yang melahirkan "sang putra petir" dalam 23 judul seri sepanjang 1969-1982. Teater Gandrik memboyong kakek 67 tahun ini ke pentas sebagai dirinya sendiri.

Sepanjang pertunjukan, ia tampil kocak: dari meniru pemain ketoprak, jadi banci, sampai memasukkan satu unsur penting di akhir kisah. Usai pertunjukan perdana Gundala Gawat di Taman Budaya Yogyakarta, 16 April lalu, Hasmi menjawab pertanyaan Arif Koes Hernawan dari Gatra sembari menyeka keringat dan dengan wajah masih berlepot rias. Berikut petikannya:

Sepertinya, Anda menikmati (lakon Gundala Gawat)?

Ya, konsekuensinya kan harus gitu, Mas. Ketika kita sudah saguh (sanggup --Red.), ya, harus. Nanti dikira tidak niat, kan nggak enak. Mau tidak mau, ya, ikut kasih masukan juga.

Ini seperti reuni, ya, karena Anda dulu juga di teater?

Saya sama Butet (Kartaredjasa), duluan saya berteater. Tahun 1965 sudah di Teater Stemka. Butet baru empat tahun. Saya masuk Landung (Simatupang) masih kecil juga. Kemudian Landung yang meneruskan. Waktu bikin komik, juga masih (main teater). Sejak SMP berteater, teater kampung.

Kapan terakhir kali terlibat teater?

Terakhir, judulnya Rame dan Cangkir Pecah, dua-tiga tahun lalu. Cerita koboi. Terjemahan dari cerpen Amerika, disandiwarakan dan diindonesiakan Landung. Saya sutradara dan jadi salah satu prajurit. Pemainnya di atas 50 tahun. Saya, kalau jadi sutradara, kerep (sering) ke komedi. Menulis naskah komedi, ya, pernah, yang tidak komedi juga pernah.

Bagaimana bisa ikut Gundala Gawat?

Ketika Pak GM (Goenawan Mohamad) membuat naskah ini, tokoh Hasmi ikut, mau tidak mau Butet mengajak saya. Dalam pengertian, tokohnya Hasmi, ya, saya yang main. Cuma seperti itu. Butet dengan saya sudah tahu, sama-sama orang teater. ''Mas, niki Pak Goenawan mau bikin ini.'' Oke, oke.

Lebih banyak improvisasi di Gandrik?

Gandrik memang beda dari teater yang lain. Istilahnya apa pun, tapi cara penggarapan memang beda. Disiplin naskah iya... dibebaskan untuk ngomong sakgeleme (semaunya). Istilahnya, ndlewer (mengalir), tapi terkendali. Memang sulit untuk komentar tentang Gandrik.

Lebih sulit mana main teater atau bikin komik?

Komik itu kayak film. Peristiwa paralel bisa dengan entengnya. Kalau panggung gini, kalau hadirkan paralel, sulit. Flashback masih bisa, tapi paralel susah, karena bareng. Teater sulit.

Menurut Goenawan Mohamad, teater ini parodi dari komik Anda?

Bukan. Menurut saya, GM lebih mengekspresikan situasi saat ini melalui media superhero. Hanya itu menurut saya. Ini parodi lewat superhero.

Buat Anda, lakon ini sudah cukup komikal?

Ya, menurut saya biasa. Artinya, ya, begini jadinya, ha, ha, ha.... Kalau melihat respons penonton, jelas komikal.

Bagaimana nasib komik Gundala?

Terakhir hanya cetak ulang. Yah, yang (cerita) baru mau rencana, masih didalami kembali, sudah digagas. Sekarang bikin cerita wayang, apa pun pesenan penerbit.

Jadi, pilih bikin komik atau main teater?

Lebih ke komik. Pengarep-arep nggon (pengharapan untuk) duit kok, Mas, ha, ha, ha....

Cover Majalah GATRA edisi No 25 / XIX 25 April-1 Mei 2013 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Obituari
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com