Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

RAGAM

Cinta Mati Perempuan Simpanan Tokoh

Cerita perselingkuhan, perempuan simpanan, dan seks tanpa pernikahan mewarnai kehidupan manusia sejak awal sejarahnya. Mulai cerita para Firaun di Mesir yang memiliki ratusan gundik di luar istri-istrinya yang sah. Lalu ada juga segudang cerita pergundikan yang melibatkan para bangsawan, bahkan raja-raja di Barat. Demikian pula di Timur, kisah-kisah para harem pun merasuki setiap relung istana di Cina, Jepang, dan belahan Asia lainnya. Belakangan, kisah serupa membayangi kehidupan para pemikir besar dan pemuka gereja. Cerita 72 perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan dengan tokoh dari berbagai kalangan itu pun dibeberkan sejarawan Kanada, Elizabeth Abott, dalam buku A History of Mistress. Buku yang mengisahkan cinta terlarang para perempuan dari masa kuno hingga modern ini terbit dalam edisi bahasa Indonesia dengan judul Wanita Simpanan. Berikut cuplikan beberapa kisah asyik-masyuk yang melibatkan nama-nama tokoh, dari pemikir dan wartawan hingga rahib dan bangsawan.

Terkisah percintaan dari dunia intelektual di Jerman, antara filsuf terkemuka Martin Heidegger dengan seorang gadis. Cerita roman dua insan yang sesungguhnya bertentangan secara ideologis itu, menariknya, bertahan walau terasa sangat menyakitkan pada kedua pihak. Martin Heidegger, yang ketika itu berusia 35 tahun --sudah beristri, hidup bahagia, dan anggota Partai Nazi pula-- mengencani Hannah Arendt, yang berdarah Yahudi.

Cerita cinta "terlarang" dua sejoli ini berawal dari dunia kampus: Hannah sebagai mahasiswi sejarah di Universitas Marburg, Martin seorang dosen di jurusan itu. Ia sungguh tertarik masuk universitas itu selepas sekolah menengah. Salah satu alasannya, ya, faktor Heidegger tadi. Ia mendengar bahwa di kelas Heidegger, "Pemikiran sudah hidup kembali; peninggalan masa lalu, yang diyakini telah mati, kembali menjadi pembicaraan," tulis Elizabeth Abott mengutip Hannah.

Bak kata pepatah Jawa "witing tresna jalaran saka kulina", ketertarikan intelektual itu menjadi tempat cinta mereka bersemi. Hannah menjadi mahasiswi kesayangan Heidegger karena kecerdasannya. Gadis yang masih berusia 18 tahun saat masuk Universitas Marburg ini punya daya pikat tersendiri dan modis. Gadis ramping dengan karakter halus, rambut pendek, mata gelap, dan langsung terlihat bukan gadis biasa. Sebaliknya, lelaki itu seorang profesor karismatik di mata para mahasiswanya.

Menurut Abott, hampir dapat dipastikan Heidegger adalah kekasih pertama Hannah. Hubungan mereka yang semula sopan dan ramah, layaknya dosen dan mahasiswi, dalam waktu singkat berubah menjadi keintiman fisik. Sebelumnya, sang profesor juga menjalin hubungan dengan beberapa perempuan. "Dengan pengalaman itu, ia pun mengatur sebuah sistem yang rumit untuk pertemuan-pertemuan rahasia, seringkali di kamar loteng Hannah atau di bangku taman milik mereka," tulis Abott lagi.

Sempat putus hubungan beberapa waktu setelah Hannah diungsikan ke Universitas Heidelberg untuk menjaga reputasi Heidegger. Hannah rupanya sengaja menjauh dari lelaki itu. Mereka kembali bertemu berkat jasa baik Guenther Stern, seorang mahasiswanya yang berdarah Yahudi. Mereka kembali menjalin hubungan gelap dengan segala intensitasnya, dengan kode-kode rahasia, kedipan lampu, hingga surat-surat dan puisi yang penuh gairah. Uniknya, Hannah juga ternyata menjalin hubungan dengan mahasiswa yang dilakukan secara sangat tertutup seperti hubungannya dengan sang profesor.

Kisah dua sejoli itu tetap terbawa hingga detik terakhir hidup mereka. Walau demikian, Hannah sendiri diam-diam sebenarnya telah dua kali menikah dan dua kali pula bercerai. Ia wafat pada 1975 sambil membawa serta cintanya pada Heidegger yang tak pernah pupus, walau ia tahu lelaki itu kerap mengkhianatinya. Hanya terpaut sekitar lima bulan kemudian, Heideger menyusulnya ke alam baka.

Perjalanan Asmara Sepasang Filsuf
Di kalangan pemikir besar, tak hanya Martin Heidegger yang punya cerita romantis dengan perempuan. Filsuf penggagas eksistensialisme asal Prancis, Jean-Paul Sartre, punya kisah sendiri dengan kekasih seumur hidupnya yang tak pernah ia nikahi: Simone de Beauvoir. Kekasih sang filsuf dikenal sebagai tokoh feminisme sekaligus filsuf yang juga terlibat dalam gerakan eksistensialisme Sartre.

Yang menarik, kisah cinta yang mereka rajut tak sekadar pergumulan seksual, melainkan lebih pada pergulatan pemikiran yang boleh dibilang saling mengisi. Setidaknya dalam cara keduanya memandang lembaga perkawinan. Sepanjang 51 tahun berasyik-masyuk, hubungan asmara mereka tak pernah terikat dalam lembaga yang dianggap sakral oleh banyak orang. Sebab, "Lembaga perkawinan hanyalah lembaga kaum borjuis.... Betapa bodohnya mereka yang tunduk pada kebiasaan yang entah dari mana asalnya itu," kata mereka suatu ketika.

Saking menariknya kisah cinta ini, Elizabeth Abott mencatat, banyak penulis biografi masih terus menganalisis dan menafsirkan hubungan keduanya yang tampak begitu rumit. Sebab, tak hanya dengan Simone, Sartre ternyata juga bercinta dengan banyak perempuan lain, termasuk mahasiswinya, tanpa merusak sedikit pun hubungan percintaan mereka. Bagaimana mungkin seorang pejuang kesetaraan perempuan menjalani kehidupan seperti itu?

Elizabeth seperti menemukan rahasianya. Ternyata, menurut dia, Simone dengan sukarela mengambil tempat kedua setelah kekasih Sartre yang lain. Ia mencuplik catatan perempuan itu ihwal kekasih abadinya tersebut. "Sartre persis sama dengan pendamping impian yang aku dambakan sejak berusia 15 tahun. Ia berfungsi ganda, dalam dirinya aku menemukan cita-citaku yang membara dan mendorongku mencapai puncak keberhasilan," tulis dia.

Percintaan mereka tampaknya terikat pada pakta tentang kebebasan dan keterbukaan: tidak seorang pun akan berbohong atau mengungkap apa pun satu sama lain. Mereka sejak awal juga sepakat untuk hidup bersama tanpa harus terikat tali perkawinan. Simone menyambut pakta itu sebagai jaminan bahwa Sartre tidak akan pernah membiarkannya hanyut dalam khayalannya sendiri.

Kisah cinta mereka sempat terputus hingga Simone berusia 30 tahun. Keduanya pun pernah mengalami semacam kegilaan akibat depresi. Kegilaan perempuan itu biasanya dipicu oleh alkohol. Simone biasanya duduk diam dan minum, kemudian mendadak menangis sejadinya. Sartre menyamakan kegilaan akibat tekanan emosi kekasihnya itu dengan skizofrenia.

Sartre juga pernah tenggelam dalam depresi berat dan kegilaan serupa yang dipicu oleh meskalin --sejenis psikotropika yang menyebabkan munculnya halusinasi. Ia dihantui perasaan adanya seekor lobster raksasa yang hendak menerkamnya. Sebelumnya, Sartre merasa gagal meraih sukses yang ia impikan: menjadi filsuf besar.

Simone kemudian membujuknya untuk fokus pada sastra karena ia menganggap sang kekasih tak punya bakat jadi filsuf. Bujukan itu boleh dibilang manjur. Sartre kemudian mencapai sukses seperti yang diinginkannya di dunia sastra. Ia dianugerahi Nobel Sastra pada 1964, kendati ia menolaknya. "Menerima penghargaan itu berarti mengurangi kebebasanku," katanya ketika itu.

Hubungan asmara kedua filsuf ini sangat unik. Bukan hanya Sartre yang berselingkuh dengan perempuan lain, termasuk mahasiswinya bernama Camille Sans dan Wanda. Bahkan ia pernah menjalin cinta dengan aktris Prancis, Dolores Vanetti Ehrenreich. Menurut Abott, Simone juga berhubungan seks dengan banyak laki-laki, bahkan beberapa perempuan. Seorang kekasih Simone adalah pacar mahasiswinya sendiri: Jacques-Laurent Bost.

Simone sangat sensual dan tak mampu menahan keinginan seksnya. Sebaliknya, Sartre tidak pernah percaya bahwa perempuan itu benar-benar bisa menikmati tubuhnya yang pendek dan gemuk. Itu sebabnya, hubungan mereka lebih intens pada pergumulan pemikiran yang dari situ mereka melahirkan banyak karya. Walau demikian, Simone mengakui, "Salah satu keberhasilan yang kucapai dalam hidupku adalah hubunganku dengan Sartre. Hanya satu kali kami bertengkar selama 30 tahun kami hidup serumah dan tidur seranjang."

Cinta Abadi Seorang Wartawati
Kisah asmara dan perselingkuhan juga sesungguhnya banyak mewarnai dunia jurnalistik. Abott mencatat satu di antaranya yang tak kalah romantis dibandingkan dengan perselingkuhan para filsuf, baik Heidegger maupun Sartre. Malah pelakunya, Lillian Ross, menulis kisah cintanya sebagai perempuan simpanan selama 40 tahun dalam memoar yang terbit pada 1998, berjudul Here but Not Here: A Love Story.

Berawal pada 1945, ketika Lillian direkrut menjadi reporter The New Yorker oleh redaktur pelaksana harian itu, William Shawn. Terkesan oleh kemampuannya menyesuaikan diri dalam peliputan berita dan menulis, sang bos rupanya jatuh cinta pada wartawati muda yang memang cantik itu. Waktu itu, Lillian masih berusia 20-an tahun.

"Selama bertahun-tahun, Lillian tidak sadar bagaimana dirinya dan Tuan Shawn, yang ia panggil Bill, perlahan-lahan semakin dekat satu sama lain. Kemudian Bill mulai meletakkan puisi-puisi cinta di meja kerja Lillian. Suatu malam, saat sedang lembur, Bill mengejutkan Lillian dengan menyatakan cintanya," tulis Elizabeth.

Kisah perselingkuhan itu makin dramatis karena Bill telah menikah dan punya anak pula. Sementara hubungan itu makin intim, Bill sendiri tak ingin meninggalkan istrinya, Cecille Lyon, yang merintis karier sebagai komposer. Ia tetap ingin mempertahankan pernikahannya yang telah berusia 22 tahun pada 1950. Tapi ia juga tak sanggup kehilangan kekasih gelapnya itu. Walau demikian, sang istri akhirnya tahu hubungan gelap itu, yang membuat Bill justru merasa kian tersiksa karena Cecille juga memilih tetap mempertahankan pernikahan mereka.

Siksaan perasaan yang sama menghantui Lillian. "Aku tidak bisa berdamai dengan diriku sendiri menjadi wanita simpanan," tulis dia. "Aku tidak merasa seperti itu. Bill berkata padaku bahwa aku adalah istrinya." Tapi, ia sadar, dirinya bukanlah istri Bill. Setiap kali sang kekasih meninggalkan apartemennya, lelaki itu pasti pulang ke rumah menemui Cecille dan kedua anak mereka, Wallace dan Allen.

"Hidup bersama Bill melibatkan urusan rumah tangga di sebuah apartemen yang hanya berjarak beberapa blok dari rumah kekasihnya itu. Bill mendekorasi apartemen, berbelanja, hidup bersama, dan dicintai oleh Lillian, lalu pergi menghabiskan waktu dengan keluarganya, kembali datang dan pergi lagi. Dari kamar tidur yang terpisah di rumahnya, Bill menelepon Lillian saat malam menjelang tidur. Di pagi hari, ia menjemput kekasihnya untuk berangkat ke kantor bersama dan sarapan dengannya. Mereka lalu bertemu lagi untuk makan siang dan kemudian makan malam. Di kantor The New Yorker, mereka adalah rekan kerja," tulis Abott.

Walau tersiksa, keyakinan Lillian pada kekuatan cinta dan pengabdian Bill membuat dirinya bertahan. Lillian menerima kehidupan ganda kekasihnya yang di bawah kendali penjadwalan yang dibuat Cecille. Ia secara sukarela mengubah gaya hidupnya untuk mengakomodasi gaya hidup Bill. Karena sang kekasih tidak suka merokok, minum, dan ngebut, Lillian pun menghentikan kebiasaannya merokok dan minum Martini. Lain dari itu, ia hanya ngebut saat mengemudi sendirian.

Penjadwalan pada hari-hari penting berlaku dalam hubungan mereka. Perayaan Thanksgiving dan Natal menjadi milik Cecille, malam Natal milik Lillian. Setiap kali mereka terpisah pada malam Tahun Baru, Bill meneleponnya tengah malam. Bill pun tak pernah menyebut-nyebut nama Lillian pada kedua anaknya. Yang cukup mengejutkan, setelah dewasa, Allen, anak kedua Bill, justru dapat menerima kehadiran selingkuhan bapaknya ini. Allen bersama Jamaica Kincaid, istrinya yang berprofesi sebagai penulis, menyertakan Lillian dalam kehidupan keluarga mereka.

Kisah cinta ini berakhir sungguh tragis, baik bagi Bill maupun bagi Lillian. Pada Minggu Paskah tahun 1992, Bill terserang infeksi virus. Sejak itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan Bill karena lelaki yang amat dicintainya ini hanya bisa terbaring di ranjang kamar istri sahnya. Lillian bahkan tak bisa ikut merayakan ulang tahun Bill yang ke-85 pada 31 Agustus tahun itu. Sampai akhirnya, pada 9 Desember, ia menelepon ke nomor pribadi Bill. Saat itu, untuk pertama kalinya Cecille menjawab dari seberang sana. "Dia sudah pergi. Dia wafat dalam pelukanku," ujar perempuan itu.

Para Rahib Juga Manusia Biasa
Ada yang cukup mengejutkan di antara kisah-kisah perempuan simpanan yang diungkap Elizabeth Abott dalam bukunya ini. Sejak berabad-abad silam, ternyata sudah ada skandal cinta di kalangan gereja yang telah menerapkan doktrin pembujangan sejak abad ke-4. Ia mencatat nama Rahib Gordianus yang punya kekasih gelap, dan dari hubungan itu lahir anak lelaki yang kemudian terpilih menjadi Paus Agapitus I (946-955). Pada masa yang berdekatan, Paus Yohanes XIII (965-972) juga dikabarkan punya pacar gelap seorang perempuan yang telah bersuami. Skandal serupa, menurut telusurannya, masih terus berlanjut hingga zaman modern.

Ada sejumlah nama di masa lalu yang disebut-sebut sebagai perempuan favorit kepausan, antara lain duet ibu-anak Theodora dan Marozia Theophylact. Nama lain yang dicatat Abott adalah Venozza d'Arignamo dan Giula Farnese. Malah sang penulis memperkirakan, "Saat ini, 20% hingga 30% dari seluruh pendeta Katolik Roma terlibat dalam hubungan seksual yang relatif stabil dengan perempuan."

Lebih mengejutkan lagi, fakta tentang bagaimana pandainya mereka menyembunyikan aib itu dan seberapa seringnya gereja dan jemaat menenggang aib itu. Bahkan Abott menyimpulkan, "Gereja modern benar-benar mendorong dan memfasilitasi hubungan seksual para pendetanya dengan mengabaikan segala hal. Bahkan masalah ini hanya menjadi perhatian bila media membongkarnya," tulis dia.

Salah satu kisah pelanggaran doktrin pembujangan itu menyangkut nama Eamonn Casey, uskup wilayah Kerry, di barat daya Irlandia. Perempuan simpanannya, Annie Murphy, berkebangsaan Amerika Serikat. Sang uskup adalah famili jauh ayah perempuan yang dikenalnya sejak masih berusia tujuh tahun saat berkunjung ke Amerika.

"Pada April 1973, saat Annie sudah tumbuh menjadi seorang perempuan dewasa, ayahnya mengirim dia ke Irlandia dalam pengasuhan Eamonn, untuk memulihkan diri dari gangguan emosional akibat pernikahannya yang gagal. Sang ayah berharap putrinya kembali memperoleh keyakinan pada Tuhan yang sedikit luntur," tulis Abott membuka kisah yang sejak awal diwarnai aib bagi seorang rahib itu.

"Sejak Eamonn menemui Annie di Bandar Udara Internasional Shannon, ia merasa terpesona dan menebarkan pesonanya sendiri. Ia menggoda dan menggenggam tangan Annie. Dalam waktu tiga minggu, mereka melakukan hubungan seks di sebuah rumah pendeta Protestan, yang merupakan kediamannya. Pada malam pertama, Eamonn melepaskan piyama birunya yang pudar dan berdiri, tanpa sehelai benang pun di depan seorang gadis Amerika berusia 24 tahun [ketika itu, sang uskup menginjak usia 45 tahun]," tulis Abott.

Ia juga mencatat kesan Annie ihwal peristiwa ini. "Di sanalah uskup itu berdiri, cintaku, tanpa jubah atau salib atau cincin kependetaan, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Pemain sandiwara yang hebat itu telah menelanjangi dirinya sendiri. Ini Natal paling indah dari Natal yang ada.... Aku menyaksikan keinginan yang luar biasa besar," tulis dia.

Hubungan gelap uskup yang berlangsung cukup lama ini akhirnya berujung kehamilan sang kekasih. Annie melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Peter, yang tak pernah diakui Eamonn sebagai anak kandungnya. Malah perempuan itu dipaksa menandatangani dokumen adopsi yang ditolaknya mentah-mentah. Annie pun pulang ke Amerika dan membesarkan anaknya di sana. Ia sangat kecewa karena tadinya berharap sang uskup bersikap seperti Santo Agustinus, yang dengan bangga mengakui putra hasil hubungan gelapnya dengan seorang perempuan, lalu memberinya nama Adeodatus: Hadiah dari Tuhan!

Dalam upaya membungkam Annie, setidaknya dua kali Eamonn memberi perempuan itu uang dalam jumlah besar. Pertama sekitar US$ 2.000, saat ia mengantarnya ke bandar udara ketika keberangkatan ke Amerika. Lalu ia memberi tunjangan terakhir US$ 125.000, ketika Peter beranjak besar. Belakangan terbukti, dana itu dicuri sang uskup dari kas kegiatan derma kelompok berjuluk Trocaire yang didirikannya. Uskup Eamonn pun akhirnya resmi mengundurkan diri dan melepas jubah kerahibannya segera setelah skandal seks dan keuangan itu terungkap ke umum.

Kejatuhan Komandan di Kamp Nazi
Cerita lain tentang perempuan simpanan cukup kencang berembus di masa Perang Dunia II. Namun kali ini kisah yang dituturkan bukan menyangkut Eva Braun dan Hitler yang sudah basi, tapi tetap saja kerap jadi perbincangan. Terutama karena sosok Hitler memang menarik dan memiliki banyak cerita perselingkuhan di balik kekerasan sikapnya.

Di luar cerita Eva Braun dan Hitler, Abott menelusuri banyak cerita lain di tengah kekejaman yang ditebar Nazi selama Perang Dunia II. Salah satunya yang cukup dramatis adalah kisah kasih perempuan bernama Eleonor Hodys dengan komandan kamp konsentrasi Auschwitz di Polandia, Rudolf Hoss. Eleonor adalah pembantu rumah tangga di rumah sang komandan yang mewah di lingkungan kamp itu.

Sang penulis menduga, Hoss memaksa gadis Italia yang bekas tahanan itu untuk berhubungan seks beberapa bulan setelah bekerja di rumahnya. Setelah itu, ia memindahkannya ke koloni kerja paksa dan menempatkannya di Blok 11 yang terkenal kejam. Itu dilakukan untuk merahasiakan hubungan cintanya dari sang istri, Hedwig Hoss. Secara diam-diam, sang komandan menemui kekasih gelapnya itu di kamp pada malam hari.

Lalu Eleonor kedapatan hamil. Walaupun duduk sebagai komandan Auschwitz, Hoss merasa ngeri juga. Prajurit SS dieksekusi karena melakukan perbuatan serupa. Setidaknya dipecat seperti ia lakukan terhadap bawahannya, Rapportfuhrer Palitsch, yang meniduri tahanan perempuan. Kalau ketahuan ia ayah janin itu, setidaknya ia dipermalukan, dengan penurunan pangkat atau dipindahkan dari kamp itu. Belum lagi perselisihan rumah tangganya bila kasus itu terkuak.

Ia memutuskan, Eleonor harus dienyahkan. Hoss mengurung perempuan yang pernah terbebas dari tuduhan sebagai Yahudi itu di stehbunker, sel yang hanya muat untuk orang sekadar berdiri. "Ukurannya sedikit lebih besar dari setengah meter persegi, gelap, pengap, dan sangat dingin di musim salju. Biasanya stehbunker digunakan untuk melemahkan tahanan sebelum diinterogasi. Tapi tidak untuk Eleonor. Untuk membungkam Eleonor selamanya, ia memerintahkan agar perempuan itu tidak diberi makan --tidak berapa lama kemudian, perempuan itu tewas kelaparan dalam keadaan berdiri," tulis Abott.

Dengan kematian Eleonor, Hoss menyangka dirinya lepas dari masalah. Ternyata tidak, karena Eleonor lebih cerdik. Ia memperjuangkan nasibnya sebelum menemui ajal. Entah bagaimana caranya ia dapat menghubungi opsir SS dan kepala bagian politik, Maximilian Grabner. Ia rupanya tahu sejak bekerja sebagai pembantu rumah tangga bahwa opsir itu musuh Hoss. Sang komandan akhirnya menjalani persidangan militer, dan Grabner menggunakan pengakuan Eleonor untuk kepentingannya sendiri: menjatuhkan Hoss.

Lord Byron dan Tujuh Perempuan
Kisah kasih dan perselingkuhan agaknya sudah umum terjadi di kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan di berbagai belahan dunia. Elizabeth Abott tak luput meneropong kalangan bangsawan dan keluarga Kerajaan Inggris. Ia tak hanya mengungkap lebih dalam lika-liku percintaan Pangeran Charles dengan perempuan simpanannya, Pamela Parker Bowles, yang belakangan justru mendapat tempat terhormat di istana.

Tengok saja cerita panjang perselingkuhan penyair Lord Byron yang memang ganteng itu dengan setidaknya tujuh perempuan. Menurut catatan Abott, perselingkuhan pertamanya adalah dengan perempuan yang sebenarnya sudah bersuami, Lady Caroline Lamb. Layaknya seorang penyair, kisah cinta mereka pun berliku dan dipenuhi emosi. Perempuan itu ternyata sangat mencintai lelaki itu seperti ia mengapresiasi karyanya secara luar biasa.

Abott mencatat nama Claire Clairmont sebagai kekasih gelap Lord Byron lainnya. Perempuan yang masih berusia 18 tahun saat mengenal sang Don Juan itu bertubuh sintal seperti kekasih-kekasih Lord Byron lainnya. Dalam sejumlah referensi, Clairmont disebut sebagai kekasih terakhir penyair aliran romantisme dan politikus Inggris itu. Tapi, rupanya, si penulis berhasil menelusuri cerita lain.

Ia mendapati bahwa Lord Byron juga sempat mengencani Countess Teresa Guiccioli. Perempuan keturunan bangsawan Italia yang tinggal di Ravena ini disebutnya sebagai pacar terakhir lelaki itu. "Teresa sangat cantik, dengan pinggul berisi, pinggang sempit, dan dada penuh yang begitu dipuji Byron," tulis Abott menggambarkan sebagian kelebihan perempuan itu secara fisik.

"Ia juga romantis, tenggelam dalam rayuan dan intrik. Setelah satu tahun menjalani pernikahan yang penuh kewajiban dan tanpa cinta tapi memuaskan secara seksual, tidak dapat dielakkan ia tertarik pada Byron. Begitu juga sebaliknya. Teresa dengan mudah jatuh cinta setelah satu pertemuan pribadi. Keesokan harinya, mereka tidur bersama. Selama empat hari berturut-turut, pasangan ini bertemu dan menjelajahi tubuh mereka satu sama lain," tulis Abott.

Byron sendiri memang menganggap hubungan seksualnya sama penting dengan dunia seni yang ia geluti. Kisah asmaranya dengan Teresa tampaknya mengakhiri petualangan cintanya. Teresa meninggalkan rumah ayahnya, lalu pindah ke kediaman Byron. Di rumah itulah Teresa menghabiskan sisa waktunya. Kisah perempuan ini pun, konon, mengilhami Alexandre Dumas ketika menciptakan salah satu karakter dalam ceritanya yang terkenal, The Count of Monte Cristo.

Erwin Y. Salim

Cover Majalah GATRA edisi No 16 / XIX 21-27 Februari 2013 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Lingkungan
Nasional
Pariwara
Pendidikan
Perilaku
Ragam
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com