Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

BUKU

Membedah Jeroan PKS

Sebagai partai yang aslinya eksklusif lalu mencoba menjadi partai inklusif, PKS diibaratkan tengah mendayung di antara dua karang. Eksperimennya baru benar-benar teruji pada Pemilu 2014.

DILEMA PKS: SUARA DAN SYARIAH
Penulis : Burhanuddin Muhtadi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, Maret 2012, xxviii+307 halaman
__________________________________________________________________________________________________________

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang sebelumnya bernama Partai Keadilan (PK), dalam konteks politik Indonesia menjadi fenomena tersendiri. Inilah partai yang lahir dari gerakan Islam (Jamaah Tarbiyah) yang di masa Orde Baru direpresi pemerintah, seperti juga gerakan Islam lainnya. Ketika Orde Baru tumbang, gerakan-gerakan Islam bermunculan. Ada yang tetap menjadi gerakan Islam (apolitis), ada yang menjadi partai politik (politis) seperti PKS.

Keinginan untuk menjadi partai inklusif sebetulnya bukan tanpa alasan. Pengalaman PK di Pemilu 1999 yang hanya meraup 1,3% suara membuatnya tidak bisa ikut pada Pemilu 2004, sehingga PK pun berganti menjadi PKS. Di Pemilu 2004, partai ini meraup 7,34% suara, sehingga berhak ikut pada Pemilu 2009. Di Pemilu 2009, PKS meraup 7,9% suara.

Pemilu 2009 sendiri menjadi ajang eksperimen PKS dan dinilai berhasil. Lonjakan perolehan suara PKS di dua Pemilu terakhir tidak lepas dari strategi politik yang tidak seeksklusif pada 1999. Suara menjadi prioritas dengan tetap menjaga basis tradisionalnya yang konservatif. Strategi inklusif pun bukan tanpa penentangan dari sesepuh partai yang konservatif.

Buku Burhanuddin Muhtadi, yang awalnya merupakan tesis di Australia's National University ini, mencoba melihat PKS dengan menggunakan perspektif gerakan sosial. Mirip dengan yang dilakukan para peneliti Barat, misalnya Quintan Wictorowicz, Charles Kurzman, Carrie Wickham, dan Emmanuel Karegiannis, dalam membedah gerakan salafi, Hizbut Tahrir, dan Ikhwanul Muslimin.

Menurut Burhanuddin, yang menarik dari PKS adalah strategi politiknya yang dilematis. PKS, yang bagaimana pun adalah partai eksklusif, yang mencoba "bertaruh" menjadi partai inklusif (terbuka).

Strategi PKS dengan menjadi partai terbuka secara serius diawali dari Mukernas PKS pada 1-3 Februari 2008 di Bali. Ini disebut-sebut menjadi lompatan sejarah PKS. Logo Mukernas yang mirip pura, nuansa tradisional, dan lokalitas Bali yang mayoritas beragama Hindu, begitu kentara. Pekik takbir yang biasanya mewarnai acara-acara PKS pun seperti hilang. Malah, yang bergemuruh adalah tepuk tangan peserta yang diselingi dengan pekik "merdeka!"

Menurut Burhanuddin, sebagai partai yang dilahirkan dari rahim gerakan dakwah, tarik-menarik kubu harakah dengan hizb (partai) memang tak terhindarkan. Pilihan menjadi partai politik kadangkala memaksa PKS untuk bermain dalam dunia abu-abu yang penuh kompromi, negosiasi, dan godaan kekuasaan. Padahal tidak semua kader bisa "menikmati" langgam politik seperti itu. Terbukti dengan kritik-kritik keras dari sesepuh partai, seperti Abu Ridho, Mashadi, Daud Rasyid, dan Ihsan Tanjung.

PKS, kata Burhanuddin, ibarat mendayung di antara dua karang: memilih strategi partai sebagai representasi basis sosial atau logika kompetisi elektoral. Apabila PKS ingin mengedepankan representasi basis sosial partai, menjadi partai ideologis adalah pilihan tepat. Sebaliknya, bila ingin muncul sebagai pemenang pemilu, pilihan yang paling realistis adalah mengubah orientasi dan perilaku politik PKS menjadi partai inklusif. Tapi, secara teoretis maupun praktis, dua pilihan sebagai partai ideologis atau elektoralis sulit dikompromikan.

Dilema PKS, dari studi Burhanuddin ini, memberikan gambaran pergeseran strategi Islam politik ke arah strategi politik lebih terbuka. Perolehan suara partai-partai ideologis (partai-partai Islam) yang merosot, karena pemilih beralih ke partai-partai nasionalis, menjadi alasan kuat PKS memilih jalan terbuka. Partai-partai berbasis ideologis-eksklusif tampak sepi peminat.

Namun, tidak mudah sebetulnya bagi PKS untuk benar-benar melepaskan diri dari ikatan ideologis, yang memang telah membentuk dan menjadi brand-nya. Eksperimen Pemilu 2009 dengan brand partai terbuka dinilai berhasil mengangkat suara PKS, meski tidak banyak. Menarik ditunggu hasil eksperimen kedua PKS di Pemilu 2014 nanti.

Fajar Kurnianto
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta, tinggal di Depok
------------g -------------
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 23 / XVIII 29 Maret - 4 April 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Multimedia
Nasional
Pariwara
Perspektif
Ragam
Seni Rupa
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com