Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Aksi Brutal Serdadu Camp Belambay

Tiap bulan, kekerasan dengan korban warga sipil terjadi di Afghanistan. Kali ini, serdadu Amerika membantai penduduk tak bersalah. Memperuncing ketegangan, memantik wacana pengusiran tentara Amerika.

Sinar matahari belum terlihat di langit Panjwai, Kandahar, Ahad lalu. Seorang prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat berpangkat sersan meninggalkan markasnya, Camp Belambay, daerah selatan Provinsi Kandahar, Distrik Panjwai, mengenakan kacamata pengindraan malam, berjalan menuju Balandi dan Alkozai, yang berjarak sekitar setengah kilometer.

Sesampai di sebuah rumah, sersan itu pun masuk dan membidikkan senjata. Sekejap, berondongan senapan otomatis tak memilah korban: lelaki, perempuan, anak-anak, yang saat itu sedang terlelap. Dengan cepat si prajurit beralih dari rumah ke rumah, hingga tiga rumah dimasukinya. Para tetangga yang terbangun tak berani keluar, hanya meringkuk dan berdoa. Sementara itu, si prajurit tak puas hanya menembak. Beberapa mayat dibakar.

Pagi itu, Afghanistan geger. Ada 16 warga menjadi korban kelakuan membabi buta prajurit tadi. Presiden Hamid Karzai mengutuk tindakan itu. "Ini pembantaian, sebuah pembunuhan berencana kepada masyarakat sipil tak berdosa dan tidak bisa dimaafkan,'' ujarnya.

Pejabat Amerika Serikat langung berusaha mencegah krisis semakin dalam. Presiden Barack Obama berjanji akan menyelidiki insiden itu hingga tuntas. Sama seperti ketika kasus pembakaran Al-Quran, beberapa waktu sebelumnya, Obama langsung menelepon Presiden Hamid Karzai untuk menyampaikan belasungkawa.

Dalam siaran persnya di Gedung Putih, Obama menggambarkan pembantaian oleh tentaranya itu sebagai aksi yang tragis dan mengguncang. Obama juga meyakinkan Karzai bahwa ia dan pemerintahannya berkomitmen untuk memberikan sanksi bagi tentara yang melakukan aksi keji tersebut.

Sedangkan si prajurit sadis itu, usai melakukan kekejaman, dikabarkan kembali ke markasnya, lalu menyerahkan diri kepada pihak berwenang, dalam hal ini di bawah komando tentara koalisi, dan kemungkinan akan diadili pihak militer Amerika. Sedangkan pihak parlemen Afghanistan menuntut agar pelaku pembantaian itu diadili di Afghanistan.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri enggan memberikan identitas tentara Amerika itu. Juru bicara pasukan Amerika di Afghanistan, Kolonel Gary Kolb, menyatakan bahwa militer Amerika tidak akan memberikan identitas pelaku sampai yang bersangkutan secara resmi dijatuhi sanksi oleh pengadilan.

Amerika Serikat masih berusaha merahasiakan identitas pelaku karena alasan keamanan. "Saat ini, pelaku ditahan di pusat tahanan militer Amerika Serikat di Kuwait, setelah diterbangkan keluar dari Afghanistan, Rabu sore," ungkap Kolb, seperti dilansir Washington Post, Jumat lalu.

Aksi keji itu, menurut Pemerintah Amerika Serikat, merupakan inisiatif pelaku sendiri dan di luar kewenangan tugas militer Amerika. Meski belum disebut identitasnya secara pasti, si prajurit disebut-sebut pernah mengenyam pelatihan di Markas Gabungan Lewis McCord di Washington.

Markas tentara ini adalah salah satu lembaga militer terbesar di Amerika Serikat, berisi 100.000 personel militer plus tenaga sipil, dan tidak asing dengan skandal. Pada 2010, koran militer Stars and Stripes menyebut Lewis-McChord sebagai markas paling bermasalah di dunia kemiliteran.

Kabar yang dilansir situs The Guardian dan diperoleh dari sumber pejabat militer Amerika Serikat menyebutkan, prajurit tadi telah menghabiskan waktu 11 tahun berdinas di ketentaraan Amerika, menjalani tiga kali tur militer di Irak, dan dikirim ke Afghanistan untuk pertama kalinya pada bulan Desember. Ia berumur 38 tahun, menikah, dan memiliki dua anak.

Sedangkan situs ABC News mensinyalir, prajurit itu menderita cedera trauma otak ringan di masa lalu akibat pemukulan di kepalanya atau kecelakaan mobil. Namun serangkaian pengobatan yang dilakukan di Lewis-McChord menyimpulkan bahwa dia cocok untuk bertugas di medan perang.

ABC News juga melaporkan, tentara itu menjalani pemeriksaan kesehatan mental sebagai prasyarat menjadi penembak jitu dan dinyatakan lulus pada 2008. Dia juga mengikuti evaluasi screening rutin kesehatan perilaku dan dianggap memenuhi kriteria.

Saat kembali ke rumah dari penugasan terakhirnya di Irak, serdadu itu mengalami kesulitan reintegrasi atau pembauran di masyarakat, selain masalah pernikahan. Namun pejabat berwenang menyimpulkan, ia telah melalui masalah itu dengan baik dan dianggap layak untuk dikirim kembali ke Afghanistan.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, menyatakan bahwa prajurit yang melakukan pembantaian terhadap warga sipil Afghanistan itu bisa menghadapi ancaman hukuman mati oleh mahkamah militer di negerinya.

Sedangkan bagi warga Afghanistan, insiden ini tak pelak memantik kembali kemarahan mereka. Ratusan pelajar di Afghanistan bagian timur pada Selasa pekan lalu meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika Serikat dan tentara Amerika. Ini merupakan protes signifikan pertama dalam menanggapi tragedi itu.

Di kota Jalalabad, 80 kilometer sebelah timur Ibu Kota Kabul, ada teriakan "Matilah Amerika!" dan "Kematian bagi tentara yang membunuh warga sipil kita!" Beberapa membawa spanduk yang menyerukan pengadilan yang terbuka bagi pelaku kekejaman itu.

Demonstran lain juga dikabarkan melakukan pembakaran patung Barack Obama. Bahkan milisi Taliban, alasan utama Amerika bercokol di Afghanistan, bersumpah akan membalas dendam aksi barbar itu dengan memburu si tentara keji. Hari Kamis, ratusan warga di kota Qalat juga mengecam aksi pembantaian di Kandahar itu. Selain meneriakkan slogan anti-Amerika, mereka pun menuntut Amerika meninggalkan negara itu.

Insiden itu menimbulkan tanya negara-negara di dunia dan Afghanistan sendiri tentang manfaat misi militer di Afghanistan. Kemungkinan dampak lainnya, menyulitkan upaya strategis dalam mempertahankan kehadiran militer Amerika beserta dukungan keuangannya, setelah pasukan tempur meninggalkan Afghanistan pada 2014.

Tahun ini, tercatat insiden kekerasan yang dilakukan pasukan Amerika terhadap warga sipil Afghanistan hampir terjadi tiap bulan. Bulan Januari, beredar luas video yang menayangkan gambar marinir Amerika mengencingi warga Afghanistan yang diduga sebagai tentara Taliban.

Pada Februari, ketika pasukan Amerika ketahuan membakar Al-Quran, warga bereaksi. Demostrasi digelar di Bagram dan berakhir rusuh. Lebih dari 20 warga Afghanistan tewas dalam kerusuhan itu, sementara enam tentara Amerika ditembak mati pasukan Afghanistan.

Kenyataan ini tentu saja bisa membuat tekanan dari para politikus, baik di Washington maupun Kabul, makin besar. Namun Leon Panetta menyatakan, insiden itu tidak boleh mengubah misi militer negaranya di Afganistan seperti yang direncanakan sebelumnya. ''Ini bagian dari tantangan yang menguji kemampuan Amerika memimpin dan berkomitmen terhadap misinya,'' ujar Panetta.

Mukhlison S. Widodo



Rajam bagi Penyembah Setan
Gaya hidup membunuhmu. Ungkapan yang mewakili situasi Irak akhir-akhir ini, karena setidaknya 14 remaja Irak dirajam hingga tewas dalam tiga minggu terakhir. Mereka kebanyakan anak baru gede (ABG) yang sedang gandrung berdandan dan bergaya emo, tren gaya hidup dari Barat.

Aksi pembantaian itu dimulai sejak Kementerian Dalam Negeri Irak menganggap anak emo sebagai fenomena paham setan yang menyebar melalui sekolah. Mereka didefinisikan sebagai anak-anak yang suka mengenakan celana jins ketat, rambut acak-acakan, kaus hitam bergambar tengkorak, anting di hidung dan lidah, serta gaya aneh lainnya.

Polisi moral Irak juga ikut-ikutan merilis pernyataan di situs Kementerian Dalam Negeri, yang mengutuk fenomena emo di kalangan pemuda Irak dan menyatakan niat untuk menghilangkan tren itu. Langkah ini merupakan bagian dari tindakan keras dan lebih luas pada remaja Irak.

Sumber di kepolisian Irak dan saksi mata mengatakan, ada operasi misterius dalam menargetkan pembantaian remaja emo ini. Korban diserang dengan bata beton tepat di kepala mereka. Pelakunya adalah sekelompok pria bersenjata yang mengenakan pakaian sipil. Diyakini, mereka dari aliran Syiah militan.

Tak hanya yang bergaya emo, kalangan remaja atau pemuda yang dianggap punya orientasi seksual menyimpang bisa menjadi korban. Ini membuat jumlah korban diyakini lebih dari belasan. Menurut Hana al-Bayaty dari Brussels Tribunal, lembaga swadaya masyarakat yang menangani isu Irak, korban telah mencapai 90 hingga 100 orang. ''Yang paling mengganggu tentang ini adalah kebanyakan korban usianya begitu muda,'' katanya.

Aksi pembantaian itu menarik begitu banyak perhatian dan reaksi. Di dalam negeri, ulama Syiah garis keras, Muqtada al-Sadr, menyebut anak emo sebagai pribadi yang bodoh. Meski begitu, Al-Sadr tidak memaafkan kekerasan dan meminta pengikutnya untuk mengakhiri kasus emo itu sesuai dengan koridor hukum.

Sedangkan syekh Syiah paling dihormati di Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, mengatakan Kamis lalu bahwa pembunuhan pemuda emo itu adalah tindakan terorisme dan fenomena buruk bagi eksistensi upaya perdamaian di Irak.

Ulama lain, Ayatollah Mohammed al-Yakoubi, seperti dilaporkan, kantor berita Al-Sumaria, menyatakan bahwa kewajiban agama untuk memberikan pencerahan bagi para pemuda. Dia juga menganggap ada yang membesar-besarkan dugaan pembantaian itu. ''Ada agenda politik yang bertujuan merusak citra mereka yang religius dan memiliki masalah dengan pemerintah saat ini,'' katanya.

Sedangkan dari luar negeri, lembaga seperti Human Rights Watch, Amnesti Internasional, dan Komisi Internasional Hak Asasi Gay dan Lesbian mendesak agar Pemerintah Irak menyelidiki dan mengadili pihak yang bertanggung jawab atas intimidasi dan kekerasan terhadap pemuda Irak itu. "Pemerintah Irak telah memberikan kontribusi terhadap suasana ketakutan dan panik karena tindak kekerasan terhadap aliran emo," kata Joe Stork, Wakil Direktur Human Rights Watch Perwakilan Timur Tengah.

Kementerian Dalam Negeri Irak membantah adanya kaitan pembantaian yang terjadi akhir-akhir ini dengan fenomena emo. Menurut pihak Kementerian Dalam Negeri, pembantaian itu murni terjadi karena unsur balas dendam, sosial, atau kriminal. Pemerintah Irak sendiri sebenarnya sudah melakukan tindakan pencegahan.

Namun polisi Irak, yang secara khusus ditugasi melindungi kaum minoritas, menyatakan bahwa mereka tidak berdaya menghentikan ancaman terhadap kaum gay dan emo. Karena itu, polisi akan bertemu dengan ulama, meminta bantuan agar mengimbau masyarakat tidak membunuh apa yang mereka cap sebagai vampir atau penyembah setan.

Mukhlison S. Widodo
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 20 / XVIII 22-28 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perilaku
Ragam
Ronce
Seni
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com