Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

KESEHATAN

Kulit Mulus Tulang Keropos

Overdosis suplemen vitamin E dapat membahayakan tulang. Juga bisa meningkatkan risiko terkena stroke dan menghambat pembekuan darah

Di usianya yang menginjak 33 tahun, Davina Veronica Hariadi masih cantik dan tampak muda layaknya perempuan berusia 20-an. Kulit perempuan yang berprofesi sebagai model dan aktris itu halus, mulus, dan kencang. Tak terlihat kerutan di wajahnya seperti terjadi pada kebanyakan perempuan yang usianya menginjak kepala tiga.

Apa rahasianya? "Saya rajin mengonsumsi suplemen vitamin E," kata Davina kepada Umaya Khusniah dari Gatra. Wanita kelahiran Jakarta, 20 Oktober 1978, ini rutin mengonsumsi suplemen vitamin E dalam bentuk tablet sejak berusia 25 tahun. Dosisnya, dua tablet sehari. "Setelah tiga bulan, dapat dilanjutkan dengan konsumsi satu kali sehari," tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan suplemen itu, ia menganggarkan biaya Rp 1 juta setiap bulan untuk sekitar 60 tablet. Manfaat suplemen vitamin E ini dirasakan betul oleh Davina. Ia mengaku kerap mendapat pujian dari teman-teman sesama artis soal kesehatan kulitnya. "Sejauh ini sih saya belum merasakan adanya keluhan tertentu dari kebiasaan ini," katanya.

Vitamin E memang bermanfaat bagi kesehatan kulit, terutama dalam menjaga, meningkatkan elastisitas dan kelembapan kulit, serta mencegah proses penuaan dini. Vitamin E juga berkhasiat melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet dan mempercepat proses penyembuhan luka.

Selain itu, yang paling terkenal adalah manfaatnya sebagai antioksidan, yakni membantu melindungi struktur sel yang penting, terutama membran sel, dari kerusakan akibat adanya radikal bebas. Bagi kaum perempuan, vitamin E juga berfungsi mencegah keguguran, kelainan menstruasi, mencegah kemandulan, dan mengurangi depresi pada wanita menopause.

Tak mengherankan jika banyak kaum perempuan seperti Davina yang mengonsumsinya secara teratur. Secara alami, vitamin E banyak terkandung pada bahan makanan yang berminyak atau sayuran, seperti minyak biji gandum, minyak kedelai, minyak jagung, selada, kacang-kacangan, serta buah seperti pisang dan stroberi.

Hanya saja, kini pemenuhan kebutuhan vitamin E lebih banyak dilakukan lewat asupan suplemen ketimbang alamiah. Padahal, konsumsi suplemen vitamin E secara berlebihan mengandung bahaya tertentu. Sebuah riset yang dilakukan para peneliti dari Keio University, Tokyo, baru-baru ini mengungkapkan bahwa kelebihan vitamin E bisa menyebabkan pengeroposan tulang.

Mereka melakukan penelitian terhadap tikus yang diberi asupan vitamin E dosis besar. Hasilnya, tikus yang mendapat dosis vitamin E dalam jumlah besar memiliki massa tulang lebih rendah. Sebaliknya, kesehatan tulang justru membaik pada tikus yang kekurangan vitamin E. Pimpinan penelitian itu, Shu Takeda, menyebut vitamin E bisa memicu pembentukan sel osteoklas, yang berarti lebih banyak tulang yang hilang dibandingkan dengan tulang yang terbentuk.

Menurut Shu, sangat mungkin jika semakin besar kandungan vitamin E dalam suplemen yang dikonsumsi, akan semakin besar pula kemungkinan tulang menjadi rapuh. "Mengingat luasnya penggunaan vitamin E, terutama alfa-tokoferol, sebagai suplemen bagi manusia, diperlukan penelitian yang luas dan terkontrol untuk membahas dampaknya pada tulang manusia," kata Shu, seperti dikutip Mainichi Shimbun.

Sebuah penelitian lain yang dirilis British Medical Journal juga menyebutkan adanya kaitan antara vitamin E dan stroke. Hasil penelitian itu menunjukkan, konsumsi suplemen vitamin E bisa meningkatkan risiko serangan haemorrhagic stroke (akibat pecahnya pembuluh darah) sebanyak 22%. Namun di sisi lain dapat mengurangi risiko ischemic stroke (akibat penyumbatan pembuluh darah) hingga 10%.

Dokter Elia Indrianingsih, MS, SpGK, ahli gizi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), mengakui adanya risiko yang timbul akibat kelebihan dosis vitamin E itu, khususnya yang berupa suplemen. Ia merujuk pada penelitian yang menyebutkan, angka mortalitas pada responden yang mengonsumsi suplemen vitamin E berlebih lebih tinggi daripada yang mengonsumsinya dalam dosis normal.

Hanya saja, menurut Dokter Elia, kasus seperti ini sangat jarang ditemukan di Indonesia. "Yang dominan justru kekurangan vitamin E," katanya. Ia menyatakan, vitamin E adalah vitamin yang larut lemak. Jika ada kelebihan, akan disimpan di jaringan lemak sehingga relatif sulit dikeluarkan dari tubuh.

Jika vitamin E berlebih disimpan pada jaringan lemak dan hati, dalam jumlah tertentu akan menimbulkan toksisitas. Salah stau efeknya adalah mengganggu proses pembekuan darah. Alhasil, risiko terkena stroke juga ada. Dokter Elia menyebutkan, kondisi overdosis vitamin E terjadi jika melebihi 400 IU (international unit).

Sementara itu, angka kecukupan gizi yang dianjuran untuk vitamin E pada orang dewasa sesuai dengan pedoman Widyakarya Pangan dan Gizi tahun 2004 adalah 15 mg/hari. Jumlah itu setara dengan lebih-kurang 22 IU. Menurut Dokter Elia, pada penelitian sebelumnya, sebenarnya 15 mg-1.000 mg vitamin E itu masih normal tanpa menimbulkan efek samping. "Tapi pada penelitian terbaru ditemukan adanya efek lain dari pemakaian vitamin E suplemen dosis tinggi," ujarnya.

Saat merasakan overdosis vitamin E, tubuh akan bereaksi. Reaksi itu, antara lain, berupa gangguan pencernaan, hipertensi, kelemahan otot, refleks tendon hilang, gangguan keseimbangan, kelelahan, payudara lunak, sakit kepala, dan lambat penyembuhan luka. Kadar normal dalam darah adalah apabila angka kadar vitamin E berada pada 6-14 mcg/mL (mikrogram per mililiter).

Menurut Dokter Salim Harris, Ketua Divisi Serebrovaskuler dan Neurosonologi Bagian Saraf FKUI, risiko stroke pada overdosis vitamin E memang terkait erat dengan sifat vitamin E terhadap darah. Vitamin itu memiliki tiga sifat, yaitu melembutkan pembuluh darah, menghindari penggumpalan darah, dan mencegah perlengketan trombosit. Tiga efek ini, menurut Dokter Salim, menyebabkan darah menjadi encer dan peredarannya di otak menjadi lancar.

Dalam kondisi ini, kemungkinan terjadi ischemic stroke memang bisa ditekan. Namun, dalam kondisi tertentu, lancarnya aliran darah ini justru bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak, sehingga risiko terkena haemorrhagic stroke meningkat. "Kapan pecahnya, kalau tiba-tiba tekanan darah tinggi," kata Dokter Salim kepada Jennar Kiansantang dari Gatra.

Meski begitu, menurut Dokter Salim, penggunaan suplemen vitamin E tidak perlu dikhawatirkan. "Vitamin E bukan faktor risiko tunggal penyebab stroke, sehingga memberikan asupan vitamin E bagi tubuh pada dasarnya tetap baik bagi kesehatan," tuturnya.

Sementara itu, ahli gizi pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya, Dr. dr. Sri Adiningsih, MS, MCN, meragukan hasil penelitian para ahli dari Jepang tersebut. Ia menyatakan, riset tentang pengaruh alfa-tokoferol terhadap menurunnya kepadatan tulang jika dikonsumsi berlebih bukanlah hal yang baru. Namun valid atau tidaknya hasil itu pada manusia memang masih menjadi tanda tanya, karena tikus dan manusia memiliki komposisi lemak tubuh yang berbeda.

Pada manusia normal, lemak tubuh berada di bawah 35% dibandingkan dengan massa tubuh. "Pada tikus berbeda, padahal efektivitas dan pengaruh vitamin E juga bergantung pada kadar lemak seseorang," katanya. Selain itu, overdosis vitamin E juga jarang terjadi karena kelebihan itu akan disimpan dalam jaringan lemak. Efek samping bisa terjadi jika jaringan lemak tubuh sudah tidak mampu menyimpan kelebihan beban vitamin E. "Terus terang saya belum mendapatkan informasi yang lengkap tentang hal ini," ujarnya.

M. Agung Riyadi, dan Arief Sujatmiko (Surabaya)



ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 20 / XVIII 22-28 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perilaku
Ragam
Ronce
Seni
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com