Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN UTAMA

Adu Kuat Calon Penakluk Jakarta

Empat pasang calon Gubernur DKI Jakarta yang diusung partai politik siap maju bersama dua pasang calon independen. Pemainnya tidak hanya dari Jakarta.

Tengah malam Selasa lalu, Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini mendaftarkan diri sebagai pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah Jakarta. Memanfaatkan sisa waktu setengah jam sebelum penutupan, keduanya resmi maju sebagai calon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada pemilu kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta yang dihelat Juli mendatang.

Calon terakhir ini melengkapi jumlah pasangan yang mendaftar menjadi enam pasang. Dua di antaranya masuk melalui jalur independen. Sejak dibuka seminggu lalu, tiga pasang calon dari partai politik mendaftarkan namanya pada jam-jam mendekati tenggat. Hal ini terkait dengan banyaknya nama yang dikocok-kocok partai politik dan gagalnya jalinan koalisi yang dibangun antarpartai besar.

Tanpa koalisi yang signifikan, praktis partai pengusung sangat mengandalkan nilai jual para calon. Berikut ini profil empat kandidat yang maju dari jalur partai politik.

Fauzi Bowo Terbiasa dengan Masalah Jakarta
Dalam sebuah hajatan besar, pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, dideklarasikan Senin lalu. Di markas Fauzi Center, yang kini menjelma menjadi Forum Bersama Jakarta, di kompleks Metropole Megaria, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, ratusan pendukung Fauzi-Nachrowi berteriak, ''Jadi, jadi, jadi!''

Bang Foke, begitu Fauzi Bowo akrab disapa, menyampaikan visi-misi di depan delapan partai pengusungnya, yaitu Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Hanura, Partai Bulan Bintang, Partai Matahari Bangsa, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Kasih Demokrasi Indonesia. ''Kami akan membangun Jakarta sesuai dengan aspirasi masyarakat dan warganya. Jangan ada kata lain selain menang dan sukses,'' teriak pria berkumis tebal itu.

Malam harinya, pasangan ini resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta. Sebagai gubernur petahana (incumbent), Foke mengantongi pengalaman panjang menghadapi sejuta persoalan kota Jakarta, meski kebijakannya tak lepas dari kritik. Pengalamannya membenahi kota metropolitan ini tidak hanya didapatnya saat menjadi orang nomor satu di Ibu Kota selama lima tahun terakhir.

Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai wakil gubernur pada masa kepemimpinan Sutiyoso. Selain itu, ia meniti karier sebagai birokrat sejak 1977 dan pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

Pria kelahiran Jakarta 10 April 1948 ini meraih gelar doktor dalam bidang teknik perencanaan dari Technische Universitat Braunschweig, Jerman. Ia juga pernah mengenyam studi arsitektur di Technische Universitat Kaiserslautern. Jerman. Putra pasangan Djohari Bowo dan Nuraini binti Abdul Manaf ini memulai karier sebagai dosen di Fakultas Teknik Universitas Indonesia sebelum masuk birokrasi.

Fauzi Bowo menikah dengan Sri Hartati, putri mantan asisten pribadi Presiden Soeharto, Jenderal Soedjono Hoemardani. Pasangan ini dikaruniai tiga anak.

Bila menilik hasil sigi yang dilakukan pada penghujung tahun lalu, popularitas Fauzi Bowo masih timbul tenggelam. Survei Opinion Leader yang dirilis pada 4 November lalu hanya menempatkannya di peringkat ketujuh setelah Joko Widodo, Faisal Basri, Fadel Muhammad, Sandiaga S. Uno, Chairul Tanjung, dan Tantowi Yahya.

Penelitian lain yang dirilis pada 26 Desember lalu menunjukkan popularitas Foke yang berada di atas, dengan porsi 94%, mengalahkan Prijanto (65%), Faisal Basri (37%), Hendardji Soepandji (17%), Nachrowi Ramli (16%), Joko Widodo (7%), dan Nono Sampono (4%).

Meskipun popularitasnya masih amat fluktuatif, ia dinilai sebagai salah satu yang terbaik di antara calon-calon yang telah berkampanye sejak awal. Pengamat politik dan peneliti dari Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi, menilai bahwa yang membuat Foke menjadi pilihan bukan karena dirinya terbaik, melainkan karena tidak ada kandidat yang lebih baik.

Di antara empat calon yang ada, Foke tercatat memiliki harta kekayaan terbesar. Ia melaporkan harta kekayaannya pada 31 Mei 2007 dan 26 Juli 2010. Pada 2007, total harta Foke mencapai Rp 33 milyar dan US$ 150.000. Kemudian, pada 2010, harta kekayaannya mencapai Rp 46,93 milyar dan US$ 200.000.

Muhammad Hidayat Nur Wahid Jakarta Butuh Keteladanan
Nama Hidayat Nur Wahid resmi diajukan sebagai calon Gubernur DKI Jakarta oleh PKS pada hari terakhir pendaftaran di KPUD Jakarta. Mantan Ketua MPR ini begitu saja menggusur nama Ketua Dewan Pimpinan Daerah PKS DKI Jakarta, Triwisaksana atau Bang Sani, yang namanya lebih dulu beredar.

Sebelumnya, nama Hidayat Nur Wahid hanya muncul sebagai ban serep. Isu yang berkembang sebelumnya menyebutkan bahwa Hidayat hanya akan dimunculkan bila PKS gagal menjalin koalisi dengan partai lain. Bila benar PKS akan maju sendiri, Bang Sani yang selama ini menjadi orang nomor satu di internal PKS Jakarta akan menjadi pendamping Hidayat. Tetapi, saat pendaftaran hampir ditutup, Selasa lalu, Hidayat menggandeng pengamat ekonomi Didik J. Rachbini. Nama Bang Sani tiba-tiba tidak beredar lagi.

Nama besar Hidayat Nur Wahid dimunculkan sebagai jago karena PKS meyakini alumnus Pesantren Gontor, Ponorogo, itu punya elektabilitas tinggi di Jakarta. Hidayat, yang selama ini mengemban citra agamis, diusung dengan tema pembangunan Jakarta, yang tidak hanya berorientasi pada aspek material, melainkan juga aspek mental.

Pria bernama lengkap Muhammad Hidayat Nur Wahid ini dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, 8 April 1960. Namanya tidak asing lagi di panggung politik nasional. Puncak kariernya di partai politik dicapai tahun 2000, saat terpilih sebagai Presiden PKS untuk masa jabatan lima tahun. Sedangkan di pentas politik nasional, Hidayat mencapai puncak ketika menduduki kursi Ketua MPR periode 2004-2009.

Peraih gelar doktor dari Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, ini menikahi Kastian Indriawati, hingga dikaruniai empat anak. Sepeninggal istri pertama, pria yang kerap tampil berbaju koko itu menikahi dr. Diana Abbas Thalib pada Mei 2008 dan membangun rumah tangga kembali.

Hidayat banyak berkiprah sebagai akademisi sebelum menekuni karier sebagai politikus. Pria yang dikenal sebagai ustad ini sempat aktif mengajar di beberapa universitas, seperti Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Universitas Asy-Syafiiyah, Jakarta.

Hidayat menajdi salah satu pendiri Partai Keadilan dan menjadi motor penting partai berasas Islam ini. Di bawah kepemimpinannya, PKS berhasil melipatgandakan perolehan suara pada Pemilu 2004 sebesar 600% dibandingkan dengan perolehan pada pemilu sebelumnya yang hanya mendapat 1,3% suara nasional.

Peluang Hidayat diyakini cukup besar karena ia pernah mendulang dukungan besar dari warga Jakarta saat terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan DKI Jakarta pada Pemilu 2004. Soliditas kader-kader dan simpatisan PKS di Jakarta menjadi alasan utama besarnya peluang Hidayat. Dalam beberapa pemilu yang pernah digelar, Jakarta menjadi lumbung suara bagi partai ini. Di kota ini, PKS memiliki jaringan kader hingga tingkat RT-RW. Selain karena faktor kader, nama Hidayat Nur Wahid juga dinilai punya nilai jual tinggi bagi pemilih non-PKS.

Usai mendaftarkan diri ke KPUD Jakarta, Hidayat belum berani memberi janji. ''Kami akan ketemu dan mengodok bersama,'' katanya ketika ditanya mengenai programnya. Yang jelas, kata Hidayat, Jakarta membutuhkan keteladanan seorang pemimpin yang bisa menjadi panutan. ''Kalau hanya mengandalkan peran rakyat, buat apa jadi pemimpin?'' ujarnya. Ia mengaku ingin selalu berada di tengah-tengah rakyat untuk terus menyalakan obor semangat masyarakat Jakarta.

Joko Widodo Tetap Mudah Dihubungi
Penunggang mobil Kiat Esemka ini akhirnya resmi menjadi calon Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ir. Joko Widodo atau lebih akrab dipanggil Jokowi menggandeng Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, mantan Bupati Belitung Timur.

Senin sore lalu, pasangan ini datang ke KPUD DKI Jakarta dengan menyewa bus Kopaja butut. Sepasang penantang dari daerah ini resmi mendaftarkan diri untuk berlaga di ring pilkada DKI Jakarta.

Nama Wali Kota Surakarta ini sudah lama muncul sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta. Popularitasnya yang terus naik seiring dengan puluhan penghargaan dalam kepemimpinan daerah yang pernah diraihnya membuat Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, mendukungnya. Karakter kepemimpinan Jokowi yang sangat terbuka dan aspiratif di Solo dinilainya pas diterapkan untuk DKI Jakarta.

Joko Widodo lahir di Surakarta, 21 Juni 1961. Puncak karier yang dicapainya adalah menjadi Wali Kota Kota Surakarta selama dua periode, 2005-2015.

Pria kurus ini meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 1985. Sebelum meniti karier politik, pria murah senyum ini dikenal sebagai pedagang mebel. Tidak adanya latar belakang birokrasi dan pemerintahan membuat banyak orang meragukan saat Jokowi pertama kali memimpin Surakarta.

Namun ternyata banyak terobosan yang diambil olehnya. Di bawah kepemimpinan Jokowi, kota Solo mengalami perubahan pesat dengan branding yang diperkenalkannya, The Spirit of Java. Jokowi dikenal sukses menertibkan pedagang kaki lima dan berbagai macam problem sosial tanpa konflik sedikit pun. Satpol PP di kota Solo menjadi cermin aparat keamanan yang ramah dan persuasif. Semua masalah diselesaikannya dengan turun ke lapangan dan berdialog.

Terobosannya tidak hanya diakui pemerintah dan lembaga riset pemerintahan, melainkan juga media massa. Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari 10 tokoh 2008 oleh majalah Tempo dan menjadi salah satu ikon pimpinan daerah terbaik versi majalah Gatra 2011.

Peluang Jokowi yang diusung PDIP dan Partai Gerindra diyakini cukup besar, karena Jokowi dianggap sebagai figur alternatif untuk mengatasi berbagai persoalan di Jakarta yang kompleks.

Seperti yang telah dilakukan di Solo, Jokowi akan membuat program-program populis untuk pedagang pasar, pedagang kaki lima, dan penghuni kawasan kumuh. ''Bagi mereka, kami pikirkan kebutuhan dasar dulu, seperti kesehatan dan pendidikan,'' katanya kepada Sandika Prihatnala dari Gatra. Ia juga punya perhatian pada tiga hal penting khas Jakarta, yaitu kemacetan, tata ruang, dan banjir.

Ia mengaku akan mempertahankan citra sebagaimana Wali Kota Surakarta yang terbuka, aspiratif, dan mudah dihubungi kapan saja. Jokowi mengaku akan melakukan kampanye hemat sehingga tidak ada beban kampanye yang harus dibayar nantinya. Bersama Ahok, ia berkomitmen untuk tidak jorjoran.

Tentang identitas dirinya yang tidak berbau Betawi sama sekali, Jokowi mengaku tak risau. ''Menurut saya, masyarakat Betawi pintar-pintar dan sangat terbuka. Paling penting adalah program,'' ujarnya.

Alex Noerdin Ke Jakarta Ku Kan Kembali
Berbadan gempal, berkulit kuning dengan wajah yang selalu tampak senyum, Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan periode 2008-2013, ikut berlaga menuju DKI-1. Berpasangan dengan Nono Sampono, mantan Komandan Korps Marinir dan Danjen Akademi TNI ini punya moto: tiga tahun bisa!

Bisa apa? ''Atasi banjir dan macet. Jika gagal, saya akan mundur!'' tutur pria tegap berusia 61 tahun itu kepada Gatra. Persoalan Jakarta bukan hanya banjir dan macet, melainkan juga kerawanan sosial, biaya sekolah, dan kesehatan. ''Untuk kerawanan sosial, kami butuh waktu setahun. Insya Allah, Jakarta akan aman dan nyaman,'' kata calon yang diusung Partai Golkar ini. Biaya kesehatan gratis bagi yang tidak mampu dan sekolah gratis dari tingkat SD-madrasah ibtidaiyah sampai SMA-madrasah aliyah juga akan direalisasikan.

Untuk mengatasi banjir, menurut Alex, harus ada perbaikan dari hulu, tengah, dan hilir. ''Jakarta tidak bisa sendirian, harus ada kerja sama dengan daerah sekitar. Harus ada resapan, dari hulu sampai di tengah Jakarta,'' katanya. Karena itu, selain melakukan penghutanan di daerah hulu, juga akan dibuat resapan-resapan sampai ke Jakarta. Ia pun berancang-ancang membuat 2 juta sumur resapan.

Untuk mengatasi kemacetan, Alex akan menambah jumlah koridor busway, gerbong kereta api, penataan jalan di perlintasan kereta api, dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. ''Semuanya harus terintegrasi,'' ungkapnya.

Jika sekarang APBD DKI Jakarta sebesar Rp 36 trilyun, pada 2015 akan digenjot hingga mencapai Rp 56 trilyun. ''Sebanyak Rp 7 trilyun digunakan untuk mengatasi kemacetan, Rp 1,95 trilyun untuk membebaskan Jakarta dari banjir, dan masalah sosial sebesar Ro 5,6 trilyun,'' kata Alex. Untuk pembenahan Jakarta sampai tahun 2015, dibutuhkan dana Rp 14,5 trilyun yang diambil dari APBD.

''Insya Allah, semua itu akan teratasi pada 2015,'' ujar Alex, yang menjanjikan Jakarta jadi kota layak huni dan berkelanjutan menuju kota berkelas dunia. Alex tidak hendak berjualan kecap dapur. Pengalamannya sebagai Bupati Musi Banyuasin dua periode (2001-2008) dan Gubernur Sumatera Selatan (2008-2013) menjadi bekal utama. Baik sebagai bupati maupun Gubernur Sumatera Selatan, program pendidikan dan berobat gratis terealisasikan.

Ketika kampanye untuk menuju Sumatera Selatan-1, Alex berjanji, dalam 100 hari, semua biaya pendidikan dari SD-madrasah ibtidaiyah sampai SMA-madrasah aliyah dan biaya kesehatan gratis. Janji ini terpenuhi dalam tempo 81 hari. ''Karena itu, kami mendapat rekor Muri sebagai gubernur yang tercepat memenuhi janji kampanye,'' kata Alex sembari menyunggingkan senyum.

Begitu pula pengalamannya dalam membangun sarana dan prasarana untuk SEA Games di Palembang, tahun lalu. ''Waktunya hanya 11 bulan. Banyak yang pesimistis akan selesai. Tapi saya katakan insya Allah, ternyata juga selesai atas izin Allah,'' paparnya.

Suami Hajah Eliza Alex yang dikaruniai tiga anak dan dua cucu ini sangat optimistis bahwa ia bersama Nono Sampono akan mampu mengatasi problema laten kota Jakarta. Bagi Alex, Jakarta bukanlah kota yang asing. Sebab, pada akhir 1970-an, Alex kuliah di dua perguruan tinggi sekaligus. Yakni di Fakultas Teknik Universitas Trisakti (lulus tahun 1980) dan Fakultas Hukum Universitas Katolik Atma Jaya (lulus tahun 1981).

Jika pada 1980-an Alex menyelesaikan pendidikan tingginya di Jakarta, tahun 2012 ini ia kembali ke Jakarta untuk berlaga menuju DKI-1. Ke Jakarta Ku Kan Kembali, judul lagu Koes Plus, menjadi salah satu slogan dalam dalam kampanyenya, Juli mendatang.

Herry Mohammad, Mujib Rahman, dan Anthony Djafar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 20 / XVIII 22-28 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Agama
Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Focil
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Media
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perilaku
Ragam
Ronce
Seni
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com