Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ASTAKONA

Wayang Kulit Betawi Aroma Sunda

Betawi tak hanya punya kesenian lenong, melainkan juga memiliki kesenian wayang kulit yang konon masuk sejak zaman VOC. Ada pula wayang golek Betawi yang berada di luar pakem pewayangan.

Di depan kompleks makam Mbah Lola di Jalan Kramat Duri, Jakarta Timur, alunan gamelan karawitan Sunda terdengar merdu. Tetabuhan satu set alat gamelan seperti penerus, bonang, saron, dan gong itu melantunkan lagu Kidung Slamet, Jumat malam dua pekan lalu. Suara rebab seakan menandakan alunan tembang itu berasal dari tanah Parahyangan. Apalagi, nyanyian merdu dua pesinden, yaitu Teh Amih dan Teh Erum, menembangkan lagu berbahasa Sunda.

Sekilas, suguhan itu merupakan kreasi seni dari tanah tatar Sunda. Namun ternyata alunan Kidung Slamet itu merupakan pembuka pementasan wayang kulit Betawi dari kelompok asuhan Ki Bonang Surya. Rupanya alunan musik dan pengiring kesenian wayang kulit Betawi itu memang berasal dari daerah Sunda. Namun wayang yang digunakan adalah wayang kulit seperti wayang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lazimnya pementasan wayang kulit, di atas panggung terpasang kelir atau layar putih sebagai media pentas. Di baliknya terpasang lampu pijar kuning sebagai blencong, alat penerangan yang akan menimpa gambar sehingga menghasilkan bayangan wayang kelir. Sebanyak 150 wayang berjejer di sisi kiri dan kanannya.

Pementasan wayang di depan area makam malam itu sangat sederhana. Panggung berukuran 3 x 4 meter didirikan layaknya pada acara 17 Agustusan. Tapi acaranya cukup menarik, terutama bagi kaum tua. Cerita yang dibawakan Bonang adalah Semar Gugat. Di balik kelir, pria kelahiran 1945 itu sudah siap dengan baju hitam dan bendo (blangkon Sunda) bermotif batik.

Begitu tembang Kidung Slamet tuntas, tangan Bonang dengan sigap mengeluarkan wayang gunungan sebagai pembuka cerita. Di awal cerita, Bonang menyuguhkan bagaimana percakapan antara Dorna dan Gendeng Permoni (Betari Durga) membuat rencana jahat. Niat Gendeng Permoni menyamar menjadi Semar bertujuan mewujudkan keinginan Dorna menghancurkan Pandawa.

Pemilihan cerita itu, menurut Bonang, karena momen pementasan kali ini adalah hajat karuhun, dalam arti mengingat leluhur. Cerita Semar Gugat, kata dia, membuat gambaran bahwa jangan melihat orang dari apa yang terlihat. "Yang diangkat orang itu serupa bentuk dan kedudukan, tapi isinya bisa jadi binatang (jahat --Red.)," ujar lelaki yang sejak sekolah rakyat gemar menonton pentas wayang kulit Betawi itu.

***

Pementasan Semar Gugat malam itu merupakan pentas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dari swadaya masyarakat Kramat Duri. Tradisi budaya tahunan yang dilakoni sejak puluhan tahun silam. Bahkan sang dalang tak ingat sudah berapa kali pementasan yang ia gelar di sana. "Tahun ke berape lupa, udeh berpuluh kali. Dari sebelum kawin tahun 1960-an udeh jadi dalang," kata Bonang dengan logat Betawinya.

Namun, sayang, pementasan Bonang malam itu tidak bisa meraih antusiasme penonton yang banyak. Pengamatan Gatra, wayang kulit yang disajikan itu hanya mampu menarik minat sekitar 30 orang, semuanya dari kaum tua, berusia di atas 40-an. Hal itu diakui pula oleh Endon, seorang warga yang menjadi penonton. Menurut pria 60 tahun itu, wayang kulit Betawi kurang diminati anak-anak muda.

Bonang tak menampik kenyataan itu. Ia mengakui, saat ini wayang kulit Betawi yang konon berkembang di Betawi sejak zaman VOC mengalami pengikisan akibat kuatnya kebudayaan luar. Hal ini diamini Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) DKI Jakarta, Rohmad Hadiwijoyo. Ia melihat kenyataan, komunitas wayang kulit Betawi termajinalkan ke wilayah pinggiran Jakarta. "Karena yang suka wayang pindah ke pinggiran, sedangkan Jakarta dihuni pendatang baru," kata Rohmad.

Meski demikian, menurut Rohmad, wayang kulit Betawi masih tetap eksis. Jumlah pendalangnya pun cenderung meningkat dibandingkan dengan sebelumnya. Data Pepadi DKI Jakarta menunjukkan, pada 2008 terdapat 24 dalang dan kini meningkat menjadi 45 dalang. Meski, jumlah sanggarnya berkurang, dari 14 sanggar pada 2008 menjadi 12 sanggar saat ini. Masih lumayanlah.

Birny Birdieni dan Taufik Alwie

Golek Betawi Kreasi Tizar
Betawi juga punya wayang golek. Tapi, jangan heran, wayang golek ala Betawi ini berada di luar pakem penokohan karakter cerita Mahabharata dan Ramayana. Inilah kreasi mutakhir Tizar Purbaya, kreator wayang golek Betawi yang tinggal di Sunter, Jakarta Utara.

Lihatlah para tokoh ciptaan Tizar yang disesuaikan dengan tokoh atau cerita Betawi. Ada Jampang, jagoan asli Betawi yang selalu membela rakyat kecil. Ada tokoh petinggi kompeni, si Manis Jembatan Acol, bahkan tokoh Haji Manom yang gemar merokok. Ada pula wayang Sinchan, sekadar untuk lucu-lucuan agar cerita tak membosankan. Praktis, efek wayang menjadi lebih hidup. Bukan saja karena bervisual tiga dimensi, pengarakterannya pun terlihat tidak kaku dan modern.

Hal itu tidak ada pada kesenian wayang lainnya. "Lewat golek Betawi, saya bisa main semau saya, tidak tergantung pakem," kata Tizar. Pria kelahiran Banten tahun 1950 itu boleh bangga. Sebab, menurut dia, wayang golek Betawi menjadi seni asli yang dibuat di Betawi. Alunan musiknya menggunakan gamelan Betawi, yaitu gambang kromong. Bahasa yang digunakan juga bahasa Betawi, dengan cerita legenda Betawi pula.

Ide membuat wayang golek Betawi ini boleh dikata muncul tanpa disengaja. Pemain teater era 1960-an itu memang berkecimpung sebagai dalang wayang golek Sunda. Namun pria berdarah Betawi-Banten itu membawakan pergelarannya dalam bahasa Indonesia. Di luar itu, ia juga menerima pesanan wayang golek karakter wajah sesuai dengan pesanan di bengkelnya.

"Saya terima order wayang wajah, seperti wajah Presiden George Bush hingga Obama dan Presiden SBY," tutur ayah empat anak itu. Hingga suatu masa, ada pesanan dari orang luar negeri. Ketika kerusuhan tahun 1998, terjadi penjarahan di showroom Tizar, tapi ada beberapa wayang golek yang tidak diambil. Wayang itu adalah wayang wajah bule.

"Mau dijadikan apa wayang muka bule itu? Setelah merenung, ada ide dijadikan orang dalam cerita perang dengan Belanda," ujar Tizar. Terobosan yang ia lakukan adalah melenongkan cerita Betawi melalui media wayang golek. Sebab semua unsur dari sisi gamelan dan cerita sudah ada, tinggal wayangnya yang dibuat.

Namun kesempatan memainkan wayang golek Betawi ini tidak dapat langsung dilakukan Tizar. Kesempatan itu baru muncul ketika ia bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, pada 2001. Keinginan bermain wayang golek Betawi itu ia ajukan kepada Sutiyoso dan direspons secara positif.

Pada 10 April 2001, Tizar pun manggung di galangan kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), Jalan Kakap Nomor 1, Penjaringan, Jakarta Utara. Lakon yang ia bawakan ketika itu adalah cerita si Jampang. Ia tampil selama tiga jam. Sutiyoso bahkan menonton dari awal hingga cerita berakhir. Tidak hanya itu. Para duta besar negara sahabat, para anggota DPRD DKI Jakarta, dan masyarakat seni juga turut menonton.

Pada 2002, Tizar berkesempatan membawa wayang goleknya ke Amerika Serikat untuk diperkenalkan. Tidak hanya ke Amerika Serikat, ia juga merambah beberapa negara Asia. Bahkan 11 kali ia melakukan kunjungan ke Jepang. Ia pun berkunjung ke negara Eropa, seperti Jerman.

Hingga kini, koleksi wayang milik Tizar mencapai ribuan. Tidak hanya di showroom yang ada di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, tempat tinggalnya pun sudah seperti museum aneka wayang. Dari wayang golek purwa, wayang menak Kebumen, wayang suket, cepak Cirebon, hingga wayang potehi dan wayang kulit. Usia wayang itu juga beragam, sampai ratusan tahun.

Birny Birdieni

Cover Majalah GATRA edisi No 18 / XVIII 8-14 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com