Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

Sang Pengayom Tersandung Narkoba

Diduga terlibat kasus narkoba di Paramount, Medan, AKBP Aprianto dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Direktur Reserse Narkoba Poldasu. Hasil tes urinenya positif. Kini status Aprianto menjadi tersangka.

Setelah sempat dua kali mangkir dari panggilan penyidik, akhirnya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Aprianto Basuki Rahmat datang ke Markas Polda Sumatera Utara (Mapoldasu) di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Senin lalu. Siang itu, sekitar pukul 13.30, perwira menengah yang baru saja dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Direktur Narkoba Poldasu ini diperiksa penyidik dalam status sebagai tersangka kasus penyalahgunaan narkoba.

Pemeriksaan berlangsung di gedung Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba), kantor yang pernah menjadi tempat Aprianto bertugas. Setengah jam kemudian, Aprianto yang didampingi kuasa hukumnya, Marudut Simanjuntak, keluar dari gedung Ditresnarkoba. Raut mukanya tampak tegang. Saat disapa para wartawan, Aprianto enggan berkomentar. Ia hanya melambaikan tangan dan bergegas menuju mobilnya.

Penjelasan perihal pemeriksaan itu meluncur dari mulut Marudut. Menurut Marudut, dalam pemeriksaan itu, Aprianto dicecar dengan 24 pertanyaan oleh penyidik. "Pertanyaannya masih seputar kegiatan AKBP Aprianto pada malam penangkapan Jhonson Jingga dan Sri Agustina di Night Club D' Cure," katanya.

Aprianto ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan hasil gelar perkara internal yang dihadiri para petinggi Poldasu, Rabu pekan lalu. Dalam gelar perkara itu dibahas laporan analisis laboratorium narkotika Poldasu yang menyebutkan, hasil tes urine Aprianto dinyatakan positif mengandung flunitrazepan hydrosiam phetamine. "Flunitrazepan hydrosiam phetamine adalah kandungan narkoba jenis psikotropika happy five (H5)," ungkap Kepala Bidang Humas Poldasu, Kombes Raden Heru Prakoso, kepada Gatra.

Dari informasi yang dikumpulkan Gatra terungkap, kasus yang membelit Aprianto berawal dari kejadian di tempat hiburan malam D'Cure, yang juga dikenal dengan nama Diskotek Paramount di Jalan Merak Jingga, Medan, Minggu malam 12 Februari lalu. Malam itu, sekitar pukul 21.00, Paramount disesaki pengunjung. Di antara para pengunjung yang sedang asyik dugem itu ada Aprianto. Karena tidak sedang bertugas, Aprianto tidak menggunakan seragam polisi. Dia datang bersama seorang perempuan bernama Sri Agustina, 25 tahun. Di tengah entakan house music, Aprianto memanggil Ade Hendrawan, pramusaji diskotek.

Aprinto memang sudah cukup lama mengenal Ade. Tanpa sungkan, Aprianto memerintahkan Ade bilang ke Manajer Paramount, Jhonson Jingga, bahwa dia butuh pil H5. Setelah itu, Ade bergegas ke ruang kerja Jhonson. Kepada bosnya itu, Ade menyampaikan pesan Aprinto tadi. Lalu Jhonson menyerahkan satu papan berisi delapan butir pil H5 kepada Ade untuk diberikan kepada Aprianto. Setelah menerima barang itu, Ade ngeloyor meninggalkan ruang kerja sang bos dan bergegas menemui Aprianto yang sedang duduk di kursi pengunjung. Tanpa banyak bicara, Ade menyerahkan paket itu kepada Aprianto.

Satu jam kemudian, jam kerja Ade habis dan pulang ke rumahnya. Aprianto juga meninggalkan Paramount. Sedangkan Sri masih bertahan di Paramount. Tak lama berselang, sepasukan polisi dari Ditresnarkoba Poldasu melakukan razia narkoba. Dari hasil razia itu, polisi menahan Jhonson dan Sri karena kedapatan mengonsumsi pil H5. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus narkoba, dan dijebloskan ke sel tahanan Ditresnarkoba Poldasu.

Esok harinya, Jhonson menjalani pemeriksaan. Kepada penyidik, Jhonson mengaku bahwa pil H5 itu diperoleh dari anak buahnya, Ade. Berbekal pengakuan ini, Senin sekitar pukul 01.00, rumah Ratnawati Simamora, ibu Ade di Medan Johor, Medan, didatangi sejumlah polisi dari Ditresnarkoba Poldasu. Di antara polisi, ada Jhonson. Kepada Ratna, polisi hanya bilang ingin minta keterangan dari Ade terkait label minuman keras yang dijual di Paramount.

Tanpa curiga, Ratna dan suaminya memberitahu alamat Ade. Bahkan suami-istri itu ikut menemani polisi menuju rumah Ade. Sesampai di rumah Ade, polisi langsung mencokok Ade. Polisi berdalih, Ade terlibat peredaran narkoba di Paramount. Ade protes. Dia berteriak kepada polisi, kenapa dia ditangkap, padahal narkoba itu bukan miliknya. Ia hanya mengikuti perintah Aprianto yang menyuruhnya meminta pil H5 kepada Jhonson.

Mendengar pengakuan anaknya itu, Ratna mempertanyakan keberadaan Aprianto kepada polisi, untuk mengecek silang pengakuan Ade. Namun, saat itu, seorang polisi bilang, Aprianto tidak bisa dimintai keterangan karena sedang menjalani tugas di luar negeri. Usai mendengar jawaban polisi itu, Ratna hanya bisa pasrah menyaksikan anaknya digiring masuk ke mobil polisi dengan kedua tangan diborgol. Rasa penasaran menggelayut di pikiran perempuan paruh baya itu.

Esok harinya, Ratna datang ke gedung Ditresnarkoba Poldasu untuk menengok anaknya yang ditahan. Di ruang tahanan, Ratna meminta Ade berbicara jujur dan mengungkapkan apa adanya. Kepada ibunya, Ade mengaku, selang beberapa jam dia dijebloskan ke sel tahanan, ada orang suruhan Jhonson yang datang menemuinya. Orang itu meminta Ade mengaku kepada polisi bahwa narkoba itu miliknya. Karena merasa narkoba itu bukan miliknya, Ade menolak meladeni orang suruhan tadi.

Setelah orang suruhan Jhonson itu pergi, Ade kembali didatangi orang yang tidak ia kenal. Kepada Ade, orang yang tidak mau menyebut identitasnya itu bilang, sebaiknya Ade mengakui saja narkoba itu miliknya. Ade juga diminta tidak melibatkan Aprianto dalam kasus ini. Lagi-lagi, Ade tidak menggubris permintaan itu. Ade tetap pada pengakuannya bahwa narkoba itu diperoleh dari Jhonson atas permintaan Aprianto.

Dari pengakuan anaknya itu, Ratna mencurigai adanya kejanggalan dalam penanganan perkara ini. Kecurigaan itu makin menguat ketika di kantor polisi, Ratna sempat mendengar pengakuan Sri di hadapan penyidik. Kepada penyidik, Sri mengaku, narkoba yang ia konsumsi diperoleh dari Aprianto. Pengakuan Sri ini mempertebal keyakinan Ratna bahwa Ade tidak bersalah. Ia menduga, anaknya sengaja dijadikan tumbal oleh pihak tertentu untuk menutupi ulah Aprianto.

Menurut sumber Gatra di Poldasu, Ratna yang tidak terima anaknya dijadikan kambing hitam mengadukan kasus ini ke Direktur Reserse Narkoba Poldasu, Kombes Andjar Dewanto. Oleh Andjar, laporan itu ditanggapi secara serius. Andjar memerintahkan pemeriksaan terhadap Aprianto dalam status sebagai saksi. Untuk mempermudah pemeriksaan, mulai 17 Februari lalu jabatan Aprianto sebagai Wakil Direktur Reserse Narkoba Poldasu dicopot melalui surat pencopotan yang ditandatangani Kapoldasu, Irjen Wisjnu Amat Sastro.

Guna melakukan konfirmasi, Gatra menyambangi rumah Ratna, Ahad pekan lalu. Kepada Gatra, Ratna mengaku masih shock atas penangkapan anaknya itu. Namun, ketika Gatra menanyakan soal dugaan anaknya dijadikan tumbal untuk melindungi Aprinto, wajah Ratna berubah masam. "Sudahlah, saya sudah malas membicarakan masalah anak saya dan tolong jangan ditanya-tanya lagi. Soalnya, saya kepala lingkungan di sini. Lagi pula, masalahnya sudah selesai," ucap Ratna dengan nada tinggi kepada Reza Perdana dari Gatra.

Sementara itu, dituding terlibat dalam kasus narkoba di Paramount, pihak Aprianto membantah. Menurut Marudut, kliennya mengakui mengenal tersangka Jhonson dan Sri. Kliennya juga mengakui sempat berada di Paramout, beberapa saat sebelum polisi melakukan razia. Namun, kata Marudut, ketika berada di Paramount, kliennya tidak pernah memerintahkan Ade untuk meminta pil H5 kepada Jhonson. "Kita tunggu saja di pengadilan untuk membuktikannya," tutur Marudut.

Sujud Dwi Pratisto dan Averos Lubis (Medan)
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 18 / XVIII 8-14 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com