Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

FILM

Menanti Bunyi Film Fiksi Lingkungan

Tiga puluh tiga film bertema lingkungan diputar di ajang South to South Film Festival 2012. Film-film dokumenter kian memikat. Kualitas film fiksi belum ngangkat

Sembari memangkas kuku putra bungsunya, Muryati meladeni obrolan sang suami, Sudardi. Mereka membahas tentang ladang kentang yang sudah saatnya ditanami. Lalu pembicaraan beralih pada kondisi cuaca yang tidak menentu; hujan berkepanjangan pada musim kemarau dan sebaliknya. Percakapan itu mewakili kebingungan para petani di Desa Genikan yang terletak di kaki Gunung Merbabu, Jawa Tengah.

Kisah tentang perubahan cuaca yang berdampak kegagalan panen itu dipaparkan sutradara Salahuddin Siregar dalam film dokumenter berjudul Negeri di Bawah Kabut (The Land Beneath the Fog). Karya yang menurut sutradaranya makan waktu pengambilan gambar tiga tahun ini diputar sebagai film pembuka dalam South to South Film Festival (dipopulerkan dengan akronim StoS) 2012 di Goethe Institut, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Festival film dua tahunan yang mengambil tema lingkungan ini digelar pada 22-26 Februari lalu di tiga lokasi pemutaran berbeda: Kineforum, Goethe Institute, dan Institut Francais d'Indonésie. Untuk kali keempat penyelenggaraannya ini, StoS mengambil tema "Semangat Tanpa Batas".

Selain Negeri di Bawah Kabut yang tampil sebagai film pembuka, StoS tahun ini juga memutar 32 film lainnya sepanjang festival berlangsung. Dari sejumlah itu, 20 film adalah produksi domestik yang masuk dalam sesi kompetisi (13 untuk kategori dokumenter dan tujuh untuk kategori fiksi). Sisanya diputar sebagai film non-kompetisi, termasuk Negeri di Bawah Kabut. Sesi non-kompetisi ini diramaikan pula oleh film-film produksi luar Indonesia, antara lain Austria, Kanada, Prancis, Vietnam, Filipina, Belgia, Guatemala, dan Rwanda.

Salahuddin Siregar, 33 tahun, yang akrab dipanggil Udin, mengemukakan bahwa dari sekian lama pembuatan Negeri di Bawah Kabut, yang paling makan waktu adalah proses untuk melebur dalam kehidupan para petani kentang di Desa Genikan, Kecamatan Ngablak, Magelang. Khususnya untuk memperoleh gambar-gambar alamiah seputar aktivitas dua keluarga petani kentang yang menjadi subjek filmnya.

Ketelatenan Udin membuahkan hasil yang tidak sekadarnya. Skena kehidupan sehari-hari serta panorama dan lanskap pada Negeri di Bawah Kabut terpapar dalam gambar-gambar yang memikat. Kisah tentang kegagalan panen sebagai dampak perubahan cuaca dalam film berdurasi 105 menit ini tidak dibangun berdasarkan pernyataan atau testimoni narasumber sebagai subjek film, tapi lewat potongan-potongan gambar dan dialog antar-subjek dalam peristiwa sehari-hari.

Pada Desember 2011, Negeri di Bawah Kabut berhasil menyabet Special Jury Prize dalam perhelatan Dubai International Film Festival di Uni Emirat Arab. Pada pembukaan StoS, Rabu dua pekan lalu, sekitar 500 penonton yang jumlahnya melebihi kapasitas GoetheHaus memberikan tepuk tangan meriah pada akhir pemutaran Negeri di Bawah Kabut. "Film ini sangat bagus dan isi pesannya sesuai dengan tema StoS 2012," ujar Redaktur new.rumahfilm.org, Eric Sasono, tentang film besutan Udin itu.

Menurut Direktur Festival Film StoS, Ferdinand Ismail, tema StoS dari tahun ke tahun dibuat berkesinambungan. Jika tema-tema pada tiga penyelenggaraan StoS sebelumnya lebih berorientasi pada aspek festival film, kata Feridinand, tema "Semangat Tanpa Batas" tahun ini lebih sebagai pengarah pada gerakan untuk membuat film bertema lingkungan.

Unsur movement atau pergerakan itu, menurut Ferdinand, tercermin pada sesi Regional Meeting Forum, yang mempertemukan para pembuat film, penyelenggara festival, aktivis media, dan pekerja NGO untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang bagaimana menghadapi tantangan dan mendukung gerakan solidaritas lingkungan melalui film.

Festival kali ini melibatkan sekitar 80 orang panitia dan menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta. "Kami punya aturan main yang sangat ketat mengenai pendanaan. Kami tidak memiliki sponsor dana dari korporasi. Kami lebih menguatkan tentang lembaga yang sama-sama bicara tentang isu lingkungan hidup," kata Ferdinand kepada Flora Libra Yanti dari Gatra.

Penekanan unsur movement sebagai tema StoS tahun ini, di sisi lain, memberi jalan keluar bagi sesi kompetisi film fiksi dari kebuntuan mendapatkan film yang oke. Salah satu juri pada sesi ini, Adrian Jonathan Pasaribu, mengemukakan bahwa film-film fiksi yang ikut kompetisi kali ini kurang "bunyi". Menurut Adrian, para pembuat film fiksi lingkungan masih tidak konsisten dalam menyampaikan isu dan belum lancar menggunakan pendekatan penceritaan, sehingga karya yang dihasilkan tidak terasa utuh.

Dengan pertimbangan itu, StoS 2012 tidak menghasilkan pemenang untuk kategori film fiksi terbaik. Namun, menurut juri lainnya, Catharina Dwihastarini, beberapa film menujukkan upaya penyampaian pesan yang merefleksikan "semangat tanpa batas". Oleh sebab itu, juri lantas memberi penghargaan Special Mention kepada film Jakarta 2012 dan Kalung Sepatu.

Tidak demikian dengan sesi kompetisi film dokumenter. Para juri untuk sesi ini memberi suara bulat untuk film Surat Cinta buat Sang Prada karya sutradara Wenda Maria Imakulatas Tokomonowir sebagai pemenang. Sedangkan untuk kategori dokumenter televisi terbaik, dewan juri yang terdiri dari Arief Ash Shiddiq, Darwin Nugraha, dan Nanang Sujana memilih film Demi Goresan Kapur karya Ari Trismana yang diproduksi DAAI TV.

Sebagai catatan, Ferdinand Ismail mengemukakan bahwa publik yang tidak sempat menonton StoS 2012 tempo hari dapat menghubugi panitia melalui www.stosfest.org untuk mendapatkan copy film-film tertentu yang telah mendapat izin dari rumah produksi dan atau sutradaranya untuk disebarluaskan secara gratis.

Rini, 57 tahun, seorang pencinta film dokumenter yang mengaku menonton semua film dalam StoS 2012 mengatakan, film Demi Goresan Kapur memberinya banyak inspirasi. Jika secara sederhana film lingkungan diformulasikan sebagai medium untuk mengomunikasikan pengetahuan dan mentransfer pengertian tentang persoalan lingkungan hidup kepada khalayak, maka inspirasi seperti apa yang didapat Rini dari film yang mengambil lokasi syuting di Desa Cikoneng, Cisarua, Jawa Barat, itu? "Saya pengen ke sana," jawab Rini.

Bambang Sulistiyo

Cover Majalah GATRA edisi No 18 / XVIII 8-14 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com