Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

HUKUM

Harga untuk Sepasang Bayi

Polres Depok menggagalkan upaya penjualan bayi. Pelaku mengaku tidak terkait dengan sindikat yang terorganisasi. Kemiskinan orangtua menjadi motif utama perdagangan bayi dan anak-anak.

Di sebuah rumah reyot beratap rendah, Anah Sarinah, 27 tahun, merebahkan tubuhnya yang lemas. "Saya masih puyeng sebenarnya," ujar wanita muda yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu. Di Kampung Parung Banteng, Katulampa, Bogor, Jawa Barat, rumah Anah terletak di ujung gang, sehingga bangunan kecil itu nyaris tak tertembus sinar matahari. Di rumah mungil milik Ajum, 66 tahun, ayahnya itu, Anah tinggal bersama kedua orangtua, dua saudara yang sudah berkeluarga, dan dua anaknya.

Anah adalah ibu bayi kembar Ujang-Asep, yang diamankan polisi saat sedang diperdagangkan. Tersangka penjualnya adalah Merry Susilawati, 49 tahun, yang kini berada di tahanan Mapolres Depok. Merry tertangkap tangan sedang menjual dua bayi tersebut dengan harga Rp 40 juta.

Kepada Putri Adityowati dari Gatra, Anah mengisahkan, setelah berumur satu minggu, bayi kembarnya ia berikan kepada Merry melalui tetangga dekatnya, Edah Jubaedah, 52 tahun. Setelah suaminya pergi tidak tentu rimbanya, ia merasa berat menghidupi dua anaknya, Abdurohim, 12 tahun, dan Rahmawati, 7 tahun. Kini, dengan lahirnya si kembar, Anah merasa tak akan mampu lagi.

Kedatangan Merry yang berjanji akan mencarikan ibu adopsi bagi kedua buah hatinya itu membuatnya rela menyerahkan kedua bayi tersebut. Setelah menyerahkannya kepada Merry, Anah mengaku diberi uang Rp 1,8 juta. Ketika ia menanyakan untuk apa uang itu, dijawab oleh Merry: "Ya, anggap saja uang persalinan," kata Anah menirukan Merry. Ia tak menduga, anaknya dijadikan barang dagangan.

Merry ditangkap aparat Polres Depok, pertengahan Februari lalu. Ketika itu, wanita yang pernah bekerja sebagai penjaga toko itu hendak menjual bayi kembar berusia 13 hari di tempat parkir pusat perbelanjaan ITC Depok. Pada awalnya, aparat dari Polsek Limo mendapat informasi bahwa seseorang akan menjual bayi. Setelah ditelusuri, polisi menemukan kontak penjualnya, yaitu Merry Susilowati.

Setelah mendapat informasi cukup, polisi mengontak Merry untuk menawar. Tawaran ini disambut dengan baik oleh Merry dan diaturlah waktu dan tempat transaksi. Untuk meyakinkan Merry, seorang polisi wanita anggota Polsek Limo menyamar sebagai calon pembeli.

Saat kedua pihak bertemu di tempat parkir ITC Depok, terjadi tawar-menawar antara Merry dan pembeli. Keduanya sepakat dengan harga Rp 20 juta untuk seorang bayi atau Rp 40 juta untuk keduanya. Sesaat setelah penyerahan uang, polisi langsung meringkus Merry beserta semua barang buktinya.

Saat itu, Merry datang bersama Edah Jubaedah yang dikenalkannya sebagai ibu kandung bayi. Namun agaknya Edah Jubaedah tidak mengetahui bahwa Merry sedang menjual kedua bayi itu. Kepada polisi yang menyamar sebagai pembeli, Merry berbisik agar tidak menyinggung soal jual-beli dan tidak menyerahkan uang di depan Edah Jubaedah.

Kepala Bagian Operasi Polres Depok, Kompol Suratno, mengungkapkan bahwa dalam perkara ini Merry ditetapkan sebagai tersangka tunggal. Sedangkan Edah Jubaedah dan Anah, ibu kandung bayi, tidak dijadikan sebagai tersangka. "Mereka tahunya mau diadopsi," kata Suratno.

Dalam pemeriksaan lanjutan, Merry mengaku sebelumnya pernah menjual bayi lain pada 2010. Saat itu, Merry hanya mendapat uang Rp 1 juta dari seorang pembeli di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Saat itu, Merry menjual bayi yang diambilnya dari daerah Bojong Gede, Depok, Jawa Barat.

Ardian Tri Harmoko dari pos bantuan hukum advokat Indonesia, yang ditunjuk sebagai pengacara prodeo bagi Merry, mengungkapkan bahwa kliennya bekerja sendirian. "Ia mengaku tidak ada orang di belakang dia," katanya kepada Gatra. Pria yang akrab dipanggil Koko ini menjelaskan, tindakan Merry itu dimotivasi kondisi ekonomi yang pas-pasan.

***

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfah Anshor, menilai perdagangan bayi yang terungkap adalah puncak gunung es. Menurut dia, alasan adopsi sering dipakai sebagai topeng praktek trafficking. Dari pengaduan yang diterima KPAI, terdapat bermacam-macam modus perdagangan anak.

Pertama, modusnya membantu ibu hamil membiayai persalinan dan perawatan, tapi anaknya diminta. Kedua, berpura-pura mengadopsi anak, padahal ada transaksi di dalamnya. Ketiga adalah penculikan. Tujuannya bermacam-macam, ada yang benar-benar untuk dirawat, dikomersialkan untuk mengemis, atau tujuan lainnya, semisal untuk perjualan organ tubuh. "Saya melihat tren ini ada di daerah-daerah perbatasan," katanya kepada M. Diaz Bonny dari Gatra.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait, menilai kasus perdagangan anak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2011, Komnas PA menerima laporan adanya penjualan anak sebanyak 183 kasus, sedangkan pada 2010 ada 108 kasus. Angka itu khusus di wilayah Jabodetabek, sehingga angka untuk nasional pastinya jauh lebih besar. Hingga Maret tahun ini, Komnas PA mendapat laporan sebanyak enam kasus.

Arist menilai, tingginya kasus perdagangan anak ini disebabkan lambannya kinerja kepolisian. "Kinerja kepolisian sangat lamban dilihat dari sedikitnya kasus yang terungkap dibandingkan dengan kasus kehilangan anak," katanya.

Mujib Rahman dan Cavin R. Manuputty

Anak Indonesia Terancam Mafia
International Organisation for Migration (IOM) pernah membeberkan data berdasarkan sebuah survei yang dilakukan pada Maret 2005 hingga Juli 2006 bahwa sebanyak 1.231 warga negara Indonesia menjadi korban bisnis perdagangan orang. Trafficking ini berkedok pengerahan buruh migran, pembantu rumah tangga, dan pekerja seks komersial.

Dalam hal ini, perdagangan manusia mengambil makna yang sangat luas, yaitu sebagai pergerakan manusia lintas batas yang mengandung konotasi pemaksaan, penipuan, dan perdagangan manusia. Bagi kebanyakan negara miskin, trafficking menjadi suatu usaha yang memberikan keuntungan dan omset yang sangat besar bagi pelakunya. Uang yang berputar dalam kegiatan ini mencapai milyaran dolar setiap tahun.

Amerika Sarikat mencatat, setiap tahun ada sekitar 500.000 orang yang melakukan perjalanan lintas batas mengejar "mimpi Amerika". Mereka menjadi korban janji-janji manis pelaku ekspor manusia. Korban terbesar trafficking berasal dari Asia, yakni 225.000 orang, dari Asia Tenggara 115.000 orang, dari bekas Uni Soviet sekitar 100.000 orang, dan dari negara Eropa Timur lainnya sekitar 75.000 orang.

Di Indonesia, perdagangan anak dilaporkan dikoordinasi mafia yang mengeksploitasi mereka untuk mengemis di lampu merah dan mengamen di warung-warung. Indikator lemah dari praktek ini adalah dari hari ke hari jumlah anak-anak jalanan di Jakarta semakin banyak.

Berdasarkan data terakhir tahun 2005 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah anak jalanan di Jakarta mencapai 30.000 orang. Dan diperkirakan jumlah tersebut kini naik hingga 30%. Jumlah anak telantar mencapai 3,3 juta lebih dan balita telantar diperkirakan mencapai lebih dari 1,1 juta.

Saat ini, rumah singgah di Jakarta yang hanya 70 unit tidak ada artinya untuk membina anak-anak jalanan yang ada. Apalagi, saat ini banyak rumah singgah yang tidak beroperasi karena kekurangan biaya operasional.

Mujib Rahman
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 18 / XVIII 8-14 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com