Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

SUPLEMEN

Program Studi yang Berdaya Saing

Program Studi disusun berdasarkan kebutuhan. Mulai dari kebutuhan tenaga kerja, tenaga inovasi maupun program studi yang diangkat dari kearifan lokal. Semua ini, untuk mendongkrak daya saing dan kesejahteraan masyarakat.

Ingar-bingar inovasi mobil nasional muncul dari Kota Solo. Adalah Kiat Esemka, yang mewarnai pemberitaan di sejumlah media nasional belakangan ini. Kendaraan roda empat berjenis sport utility vehicle, yang dirakit SMKN 2 Surakarta (Solo), ini merupakan program pembinaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, melalui Direktur Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Memang, program ini telah lama dicanangkan Kemendikbud dengan tujuan untuk memberikan nilai tambah pada keahlian siswa SMK. Melalui program ini, Kemendikbud membina sekitar 23 SMK di Indonesia, dan tahun ini akan menambah 10 SMK binaan baru. Tak hanya melalui pembinaan di tingkat pendidikan menengah, Kemendikbud juga fokus terhadap pendidikan tinggi. Melalui Ditjen Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), regulasi tentang program studi pun ditetapkan.

Beberapa waktu lalu, Ditjen Dikti memberikan mandat kepada Institut Seni Indonesia (ISI), Solo untuk membuka program studi yang diangkat dari kearifan lokal. Yang menarik, dua program studi yang dipilih ISI Solo, yaitu program studi batik (S-1) dan program studi keris dan senjata tradisional (D-IV). Program studi baru ini di bawah jurusan kriya, fakultas seni rupa dan desain. Selain dua program studi ini, ISI Solo juga membuka dua program studi di fakultas yang sama.

Melalui persetujuan dari Dirjen Dikti, pembukaan program studi baru yang diangkat dari kebudayaan daerah juga dilakukan ISI Denpasar. Untuk tahun ini, ISI Denpasar membuka tiga program studi baru. Salah satunya, program studi sendratari klasik, yang terdiri dari pendidikan seni, drama, tari, dan musik.

Salah satu pengajar ISI Denpasar, Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd, mengatakan, lulusan program studi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan guru tabuh dan tari di jenjang pendidikan sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Hal ituberdasarkan kenyataan muatan lokal untuk bidang studi tabuh dan tari Bali di SD, SMP, dan SLTA diajar guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seni.

Inovasi dan Pengembangan Program Studi

Setiap program studi yang digelar berbagai perguruan tinggi, baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) berdasarkan kebutuhan. Kebutuhan ini, selain melihat pada kebutuhan tenaga kerja untuk korporasi, juga kebutuhan yang didasarkan pada kebutuhan masyarakat. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pihak perguruan tinggi mesti cermat melihat setiap kebutuhan. Beragam cara penyelenggara perguruan tinggi untuk menjawabnya, selain dengan membuka program studi baru, pihak perguruan tinggi juga dituntut berinovasi.

Universitas Tarumanegara (Untar) misalnya, universitas yang berada di Jakarta Barat ini melakukan inovasi di program studinya melalui inovasi di tiap fakultas. Inovasi terhadap fakultas, kata Rektor Untar, Dr. Ir. Chairy, SE, MM dilakukan kepada fakultas yang dianggap dapat memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Lebih jauh, Chairy mengatakan, tahun 2012 Untar mengangkat program studi seni rupa dan desain. Alasannya, kata Chairy, masyarakat menganggap Untar mampu menghasilkan lulusan desain interior yang cakap dan kompeten di bidangnya.

''Respon masyarakat terhadap lulusan kami sangat positif dan kami mempunyai kompetensi di bidang itu. Jadi kami ingin kembangkan lebih lanjut,'' kata Chairy. Selain itu, seni rupa dan desain juga sudah mendapat akreditasi A. ''Sangat sedikit PTS yang memiliki program studi seni rupa dan desain dengan akreditasinya A,'' kata Chairy. Respon masyarakat yang baik terhadap fakultas seni rupa dan desain di Untar, lanjut Choiry, terbukti dengan begitu banyak mahasiswa Untar yang sudah dipesan berbagai perusahaan periklanan maupun desain interior, meski belum rampung kuliahnya. ''Apalagi saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan industrialisasi,'' ujarnya.

Lain halnya bagi Bina Sarana dan Informatika (BSI). Kampus yang berdiri sejak 1988 ini, dalam upayanya memajukan kualitas dan menjawab kebutuhan tenaga kerja, melakukan pengembangan program studi. Perguruan tinggi yang pada awalnya, hanya berupa Lembaga Pendidikan Komputer (LPK) ini, lambat laun, atas kepercayaan masyarakat, membuka beragam program akademi dengan program studi yang beragam.

Akademi itu, diantaranya Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK), Akademi Sekretaris & Manajemen (ASM), Akademi Bahasa Asing (ABA), Akademi Komunikasi (AKOM), Akademi Pariwisata (AKPAR), Akademi Keuangam dan Perbankan (AKP), dan Akademi Seni dan Desain (ASD). Tak hanya akademi, BSI juga membangun Universitas BSI di Bandung, Jawa Barat.

Universitas Negeri Juga Berinovasi

Dari deretan universitas negeri, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya termasuk perguruan tinggi negeri yang aktif mengembangkan program studi yang inovatif. Biasanya, program studi yang dibuka adalah program studi untuk tingkat pasca sarjana dan doktoral. Saat ini, misalnya saja, Untar sedang mengembangkan program studi master bidang Ilmu Kedokteran Tropis (IKT). Program Studi yang didirikan pada 2001 ini didirikan untuk mengantisipasi kebutuhan pemerintah (terutama bidang kesehatan) dalam pengembangan SDM berkompeten untuk penanganan penyakit tropis, serta kebutuhan institusi perguruan tinggi dalam pengembangan SDM dengan kompetensi penanganan penyakit tropis secara paripurna.

Pentingnya pengembangan ilmu penyakit tropis di pusat pendidikan, berkaitan dengan meningkatnya masalah penyakit tropis secara global. Selain itu, Unair juga bekerja sama dengan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) berencana membuka program studi pencucian uang. Rencana program studi ini dilihat dari meningkatnya kasus pencucian uang di Indonesia dari tahun ke tahun. Kerja sama antara Unair dengan PPATK ini juga dikembangkan untuk pertukaran ilmu, informasi, riset, dan kepakaran di bidang pencucian uang (money laundry).

Tentu pengembangan dan inovasi dari tiap-tiap universitas, baik negeri maupun swasta ini, tak mengesampingkan aspek kualitas. Meningkatnya kualitas perguruan tinggi, maka lulusan yang dicetak dapat diunggulkan dan memiliki daya saing untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi tinggi.

Arif Sugiono
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 18 / XVIII 8-14 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Astakona
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Hukum
Ikon
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Utama
Lingkungan
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Seni
Seni Rupa
Suplemen
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com