Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Pesona Baru Habaib dari Panggung Zikir

Reputasi habaib melambung kembali lewat pentas majelis zikir-salawat, seiring dengan redupnya model majelis taklim. Wadah alternatif pembenahan kesalehan jamaah. Plus batu ujian komitmen etik sang habib.

Bimbingan habib telah mengubah jalan hidup Santoso, 42 tahun, warga Donohudan, Solo, Jawa Tengah. "Saya tadinya rusak serusak-rusaknya," ujar pria berperawakan gempal dengan tato di tangan itu. Ia pernah masuk penjara 21 kali di Solo, Semarang, dan Jakarta. Kasus apa? "Komplet!" kata bapak dua anak itu kepada Gatra di serambi rumah Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf di Semanggi Kidul, Solo, Senin sore lalu.

Tujuh tahun silam, Santoso ingin tobat. Ia diajak rekannya ikut pengajian Habib Syekh. Mulanya, Santoso malas. Soalnya, tiap ketemu ustad, ia selalu disalahkan gara-gara tak pernah menunaikan salat dan masih minum. Tapi Habib Syekh lain. "Kalau biasanya minum dua botol, sekarang satu setengah botol," kata Santoso menirukan nasihat Habib Syekh.

Setelah Santoso nurut, Habib Syekh minta lagi mengurangi takaran sampai Santoso berhenti menenggak minuman keras. Habib Syekh, kata Santoso, bisa menerima orang apa saja yang punya kemauan berubah. "Sekarang semua preman ngaji-nya sama Habib," tuturnya. Sejak tiga tahun lalu, Santoso dipercaya jadi sopir rombongan hadrah Habib Syekh yang beranggota 20 orang.

Reputasi Habib Syekh, 50 tahun, pengasuh majelis taklim, zikir, dan salawat Ahbaabul Musthofa (AM), Solo, beberapa tahun terakhir, memang menanjak. Pengajian mingguan "Malem Kemis" di rumahnya, yang pada 2005 hanya dihadiri 300-an orang, kini dijubeli 2.500 orang.

Rumah Habib di gang kecil perkampungan padat disesaki jamaah yang mengular dari teras rumah, lapangan badminton di sebelah, sepanjang gang, hingga luber ke jalan luar gang. Di sejumllah kota selain Solo, jamaah AM mencapai 10.000 hingga 20.000 orang.

Saat Gatra bertemu Habib Syekh, Senin lalu, Udin, 30 tahun, staf internal AM, mengatakan bahwa Gatra beruntung bisa bertemu habib. Biasanya superpadat. Sehari sebelum dan esoknya, Habib ke luar kota. Sabtu malam ke Yogya, Ahad ke Kudus, Selasa ke Demak, Rabu-Kamis ke Gresik. Pada 1 Maret ke Yogyakarta, esoknya ke Jepara.

***

Mejelis zikir-salawat dengan kemasan baru yang lebih "full music" dan melek teknologi internet, beberapa tahun terakhir, makin mencuat menjadi panggung baru ekspresi kreatif kepemimpinan habaib dalam gerakan keagamaan. Momentum peringatan Maulid sepanjang Februari itu makin meneguhkan kuatnya pengaruh baru komunitas yang menyatakan diri keturunan Nabi Muhammad SAW itu.

Bila habaib konvenional banyak mengembangkan majelis taklim, sejumlah habib muda kontemporer mengembangkan majelis zikir-salawat plus iringan kasidah yang "easy listening". Bila pada awal reformasi sejumlah habib mengekspresiken perannya dengan memimpin front "nahi mungkar" dengan ikon Front Pembela Islam (FPI), kini sejumlah habib makin eksis dengan panggung majelis zikir yang bercitra teduh.

Penerimaan publik pada model majelis zikir sebelumnya diinisiasi beberapa figur non-habib, seperti Ustad Haryono dan Ustad Arifin Ilham. Kini, ketika para habib menempuh jalur serupa, popularitas tokoh non-habib itu meredup. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tahun ini memperingati Maulid Nabi bergabung dengan Majelis Rasulullah, kelompok zikir pimipinan Habib Munzir Al-Musawa.

Peneliti senior sosial keagamaan, Syafii Mufid, mengutip kelakar di kalangan ulama Jakarta, idza ja'a al-habib dzhaba al-Jawi, bila habib datang maka lewatlah reputasi ulama Jawa (pribumi). Bila di Solo terlihat kenaikan pengaruh majelis zikir Habib Syekh, apalagi di Jabodetabek, tanah kaum Betawi, tempat terbanyak keberadaan keturunan Nabi.

Peringatan Maulid dengan menampilkan habaib terjadwal hampir setiap hari berlangsung di berbagai pelosok Jakarta, meskipun bulan Maulid telah berakhir pada 23 Februari lalu. Sejumlah habib asal Hadramaut pun didatangkan pada sejumlah panggung.

Hal itu terlihat Jumat malam, 24 Februari lalu. Jalan Pengadegan Timur Raya, Jakarta Selatan, ditutup sejak pukul 18.00 sepanjang satu kilometer untuk peringatan Maulid. Ribuan jamaah memadati sekujur jalan. Sejumlah ibu mengajak balitanya. Lokasi pengajian ditata indah. Tenda panjang didirikan. Karpet digelar.

Tiap jamaah diberi buku kecil Simtud Durar, yang berisi bacaan Maulid, salawat, dan doa. Pengajian diawali salat magrib berjamaah. Sekitar pukul 19.45, penceramah yang ditunggu-tunggu tiba: Habib Kadhim bin Ja'far Assegaf asli Hadramaut, Yaman, tempat asal leluhur habaib Nusantara. Ia didampingi Habib Alwi bin Ahmad Syahab dan Habib Ja'far bin Muhammad Assegaf, 90 tahun.

Berceramah dalam bahasa Arab, Habib Kadhim selama 20 menit banyak manyampaikan nasihat standar. Di akhir ceramah, Kadhim mewasiatkan tiga perkara: bersyukur, berbakti kepada kedua orangtua, dan banyak bersalawat. "Keberkahan salawat tidak bisa ditangkap logika. Mereka yang punya masalah akan hilang bila bersalawat," katanya.

Acara itu diakhiri dengan makan malam bersama menu nasi kebuli. Setelah makan, jamaah mulai bubar. Sebagian jamah melirik spanduk berisi foto Tri Wisaksaksana, bakal calon Gubernur Jakarta usungan PKS, di pagar pinggir jalan, yang juga menyerukan banyak salawat.

***

Kehadiran habib asal Yaman juga mewarnai pengajian rutin Senin malam Majelis Rasulullah (MR) di Masjid Almanawwar, Pancoran, Jakarta Selatan, sekitar dua kilometer dari Pengadegan. Majelis pimpinan Habib Munzir itu dihadiri guru sekaligus kakak kelasnya di Hadramaut: Habib Zaid bin Yahya dan Habib Ali bin Abdullah Abubakar Salim. Keduanya memberikan penjelasan hadis Nabi bertema keberkahan Nabi. Pembacaan hadis dilakukan Habib Munzir, diikuti ribuan jamaah.

Kebanyakan jamaah menggunakan peci putih, baju koko putih, dan jaket bertulisan "Majelis Rasulullah". Reporter Gatra M. Gufron Hidayat melaporkan, pengajian itu berlangsung sederhana. Para habib duduk berjejer di bagian depan masjid menghadap jamaah tanpa panggung. Tak ada penyambutan berlebihan ketika Habib Munzir tiba.

Habib Munzir datang menggunakan kursi roda, dipapah beberapa muridnya. "Habibana baru keluar rumah sakit," kata Musthafa, staf MR. Pengajian itu berakhir pukul 22.15. Jamaah pria dan wanita dipisahkan dengan bentangan kain. "Itulah yang membedakan pengajian kami," ujar Musthafa, seperti menyindir majelis sebelah.

Pengajian rutin majelis yang dirintis pada 1998 itu bisa dilihat langsung lewat video dan radio streaming website MR. Habib Munzir juga menerima konsultasi fikih, tauhid, dan tema keagaman lainnya secara online. Baliho, spanduk, dan umbul-umbul majelis ini kerap terlihat di berbagai penjuru Jakarta.

Selain MR, majelis lain yang bermassa besar adalah Nurul Musthofa (Numus) yang berpusat di Ciganjur, Jakarta Selatan, dan Zaadul Muslim Al-Busyro yang bermarkas di Citayam, Depok, Jawa Barat. Bila malam Minggu, jadwal pengajian tiga majelis ini bersusulan. MR berakhir pukul 22.15, Numus selesai pukul 01.30, dan Al-Busyro baru rampung pukul 03.00.

Malam Selasa lalu, bersamaan dengan pengajian rutin MR di Perdatam, Numus menggelar pengajian di Kalibata Utara, hanya selang satu kilometer. Seperti biasa, jalanan lokasi Numus ditutup. Pengelolaan panggung Numus dikenal lebih bergebyar. Bila Habib Hasan bin Ja'far Assegaf, pimpinan Numus tiba, sedan menterengnya merapat sampai dekat panggung dan disambut kembang api serta petasan.

Mengapa banyak orang begitu hormat pada habaib? Testimoni Edhi Wakhidi, 47 tahun, wiraswatawan sukses di Jakarta, bisa mewakili. "Semula, saya anggap keturunan Nabi sudah putus," katanya. Setelah berinteraksi dengan habaib, pencintanya, dan mendengar tafsir surat Al-Kautsar, ia berubah pemahaman bahwa keturunan Nabi tidak putus.

Setelah melewat pergulatan panjang, Edhi kini jadi pencinta dan penyumbang aktivitas habaib. Bagi Edhi, kedekatan dengan habaib dimotivasi keinginan mendekatkan diri pada Nabi. "Saya nggak kenal langsung Rasul. Dengan mencintai keturunan Rasulullah, saya berharap mendapat syafaat Rasulullah," paparnya.

***

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Sayyid Zen bin Umar bin Smith, menilai model majelis zikir dan majelis taklim saling melengkapi. Sebab ilmu tanpa zikir akan hampa, begitu pula sebaliknya. Pesatnya perkembangan jamaah kaum muda, kata Zen, tidak lepas dari kemampuan da'i membaca psikologi anak muda. Penggalangan jamaah untuk zikir dan salawat lebih mudah dibandingkan dengan untuk taklim.

Banyaknya anak muda menjadi jamaah zikir, menurut Zen, lebih baik daripada anak muda menghabiskan waktu dengan kegiatan tak perlu. Tapi, bila tanpa pengelolaan yang baik, bisa berdampak negatif. Misalnya dalam tertib lalu lintas. MR selalu menekankan jamaahnya untuk mengenakan helm. Suara-suara kritis di balik melambungnya majelis zikir ternyata juga bergema di internal habaib.

Rabithah Alawiyah selalu mengimbau habaib muda agar ikhlas, tidak mengultuskan diri dan tidak menjadikan mejelis sebagai profesi. Ia tak menyangkal ada oknum yang menjadikan majelis sebagai lahan bisnis. Menurut Zen, berdakwah tidak perlu memasang potret di pinggir jalan karena terkesan tidak ikhlas.

Dalam hal dana, kata Zen, ada ajaran Habib Ali Husain Al-Attas (Bungur) agar jangan pernah meminta, jangan menolak ketika diberi, dan kalau punya harta jangan disimpan. "Kalau sudah memasang tarif, dakwah itu nggak bener," katanya. Kalaupun diberi hadiah oleh jamaah, kata Zen, harus tidak mengikat. "Kalau ikut partai politik, harus secara pribadi, jangan jual nama habibnya," ujar Zen kepada Ade Faizal Alami dari Gatra.

Panggilan habib, menurut Zen, tidak serta-merta diberikan kepada setiap keturunan Rasulullah, tetapi kepada keturunan yang benar-benar berilmu tinggi dan tawadu. "Sekarang semua orang kalau merasa Alawiyin minta dipanggil habib, terlalu murah," tutur Zen, yang juga bagian dari Alawiyin. Zen mengingatkan, habib juga manusia yang bisa salah. "Kalau cinta kepada dzuriyah Rasul, pada saat benar harus didukung, tapi ketika mereka salah harus diingatkan," ujarnya.

Asrori S. Karni, Haris Firdaus, dan Arif Koes Hernawan (Solo)

***

Dampak Politik Gerakan Habaib
Peneliti senior topik Islam dan Betawi, Abdul Aziz Ahmad, melihat fenomena majelis zikir pimpinan habaib ini sebagai "revitalisasi fungsi keagamaan kaum habaib". Mereka memainkan peran penting dalam perjalanan Islam di Indonesia. "Tapi sempat meredup," katanya. Sebab makin banyak sumber keagamaan di luar jalur habaib. Kunci kekuatan revitalisasi ini, kata Aziz, terletak pada kemampuan habaib muda menampilkan Islam secara nge-pop.

Bagi Aziz, yang lebih penting disimak dari gerakan baru habaib adalah implikasi politiknya. "Pada Pemilu 2009 belum memperlihatkan pengaruh signifikan," ujarnya. "Pemilu 2014 atau pilkada Jakarta bisa jadi momentum untuk melihat pengaruh politik itu," tutur doktor bidang pemikiran politik Islam itu.

Sementara itu, Syafii Mufid, mantan ketua tim peneliti kontroversi makam Mbah Priok, melihat gerakan habaib saat ini dalam konteks kontestasi untuk menaikkan kembali posisi tawar sosial keagamaan mereka. Pada masa penjajahan, keturunan Arab menjadi warga negara sekelas di atas bangsa pribumi. Mereka mendapat kemudahaan akses ekonomi dengan ditempatkan pada pusat perputaran ekonomi.

Posisi demikian juga dinikmati keturunan Cina. Bila keturunan Cina piawai mengembangkan bisnis, keturunan Arab banyak gagal. "Tanahnya habis dibagi warisan," kata Syafii Mufid. "Saat ini, satu-satunya jalan yang bisa dipakai untuk mobilitas vertikal tentu dengan memakai agama," katanya. Dalam kerangka itulah, Habib Rizieq muncul lewat FPI, Habib Munzir melalui Majelis Rasulullah (MR), Habib Hasan dengan Nurul Musthofa (Numus), dan sebagainya.

Bila kalangan habaib menggunakan isu zikir dan salawat, menurut Syafii, keturunan Arab non-habib, seperti Abu Bakar Ba'asyir dan Ja'far Umar Thalib, menggunakan sentimen jihad untuk mengonsolidasi pendukung dan menaikkan posisi tawar sosial keagamaan mereka. Syafii juga melihat, yang menarik dicermati adalah implikasi politik eksperimen gerakan baru habaib ini.

Apa pun dampaknya pada Pemulu 2014 dan pilkada Jakarta 2013, yang jelas pada Pemilu 2009, pendukung SBY membentuk Majelis Zikir SBY Nurussalam. Belakangan ini, Gubernur Jakarta, Fauzi Bowo, membentuk Majelis Zikir Al-Fauz yang diambil dari nama Fauzi.

Dua majelis zikir itu memang tidak menampilkan ikon habib khusus sebagaimana MR dan Numus. Namun, dalam strukturnya, baik majelis zikir SBY maupun Fauzi Bowo sama-sama menempatkan Habib Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang sebagai "imam zikir".

Asrori S. Karni

***

Daya Pikat Habaib Muda
Kemasan nge-pop majelis zikir-salawat asuhan habaib muda model Nurul Musthofa (Numus) memang berhasil menyedot animo generasi muda. Model ini dapat menjawab kebuntuan majelis taklim konvensional asuhan habaib senior yang hanya menyuguhkan kajian kitab klasik yang menjemukan kalangan belia.

Hanya saja, sebagian jamaah remaja yang beranjak dewasa mulai mengeluh. Zikir, salawat, dan kasidahan semata tanpa pendalaman kajian membuat majelis hampa. Tiga mantan jamaah Numus, Nurul Huda, Usman Arai, dan Kahfi, misalnya, dua tahun terakhir pindah ke habib lain yang menyajikan kajian kitab.

Selain faktor taklim, meraka juga risau dengan orientasi pimpinan Numus yang dirasakan cenderung "pasang tarif". Nurul dan Usman memilih mengaji pada Habib Abu Bakar bin Hasan Al-Attas, Tanah Baru, Depok, tiap Ahad sore. Habib yang menolak majelisnya diliput media ini juga jadi tempat mengaji sejumlah pengasuh pesantren di Depok.

Hal itu mirip posisi majelis taklim Habib Ali Kwitang tempo dulu, tempat berguru sejumlah ulama kondang Betawi. Habib Abu Bakar Depok bukan hanya jadi rujukan baru kajian kitab, melainkan juga dikenal tak pernah minta sumbangan jamaah. Sebaliknya, ia sering membantu jamaah miskin. Sebelum mengajar taklim, ia sukses dalam bisnis.

Model majelis taklim bukan hanya tradisi habaib senior. Ada beberapa habib muda yang mengembangkan kajian agama ketimbang sekadar salawatan. Kahfi, mantan jamaah Numus tadi, selepas lulus SMK berguru pada Habib Muhammad Al-Haddad, 28 tahun, di Jalan Pondok Timur Raya, Bekasi Timur.

Pilihan Kahfi cocok dengan Usman. Mantan perintis Numus ini menyatakan, dalam kajian agama, di kalangan habib muda Jakarta saat ini ada dua idola. Habib Muhammad Al-Haddad Bekasi itu dan Habib Fahmi Al-Haddad, 28 tahun, Condet. "Secara keilmuan, habib muda yang paling keren saat ini mereka berdua," kata Usman.

Pemahaman fikih dan akhlak Rasul jadi materi pengajaran dua habib itu. "Sehebat apa pun orang beribadah, kalau nggak ada fikihnya, hasilnya nol," ujar Habib Muhammad. Bukan sekadar 'alim (berilmu), kata Usman, dua habib muda itu dikenal ikhlas.

Usman pernah mau mengundang ceramah, tapi bimbang karena panitia hanya punya bujet honor Rp 100.000. Habib Fahmi mengingatkan Usman agar tidak mempersoalkan honor. "Kalau menetapkan tarif, dakwah bukan lagi tuntunan, melainkan tontonan. Dakwa bukan lagi kewajiban, melainkan berubah jadi profesi," kata Habib Fahmi.

Bagi Usman, itu kejutan. Di tengah sebagian habib cenderung mamasang tarif jutaan rupiah, masih ada habib yang memegang etika dakwah. "Ulama dan guru-guru saya berpesan, kalau dikasih diterima, tapi kalau masang tarif itu haram," ujar Habib Muhammad kepada Taufiqurrohman dari Gatra. Selain tidak pasang tarif, dua habib itu juga mau diundang ke kawasan pedalaman. Dalam sebulan, Habib Muhammad sengaja meluangkan waktu beberapa hari ke desa-desa tertinggal di wilayah Bogor.

Habib Fahmi pernah berdakwah di perbatasan Cianjur dan Sukabumi. Perjalanannya berliku. Setelah naik mobil, dilanjutkan dengan motor, lalu harus berjalan kaki karena motor pun tak bisa melaju. Setiba di lokasi, ia terharu, ribuan orang menunggu kedatangannya.

Ia harus menginap dua malam. Listrik belum masuk. Tak ada pengeras suara. Ada jamaah yang mendengar tausiyah sambil nongkrong di pohon. Setelah itu, ia menggelar tablig akbar di tempat itu, mengundang gubernur, kapolda, dan Menteri Agama. Kampung itu akhirnya banyak memperoleh bantuan.

Habib Fahmi mulai berdakwah pada 2005, di usia 23 tahun, sepulang belajar empat tahun dari Hadramaut, Yaman. Lahir di Condet, Jakarta Timur, pada usia 14 tahun, ia nyantri ke pesantren asuhan Ustad Hasan Baharun di Bangil, Jawa Timur.

Rumah Habib Fahmi berupa petak sederhana, ditinggali bersama istri dan dua putra-putrinya. Di samping rumah, ada kamar kecil untuk pengajian. Rumahnya di gang sempit Ani, Condet, tidak bisa dimasuki mobil. Untuk pengajian, Fahmi ke mana-mana kerap menggunakan sepeda motor.

Selain dakwah, Habib Fahmi berjualan buku dan pakaian muslim, dibantu istrinya. Bersama saudaranya, Fahmi membangun tempat berjualan minyak wangi di Condet. "Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga," katanya.

Asrori S. Karni dan Anthony Djafar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 17 / XVIII 1-7 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Ronce
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com