Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

INTERNASIONAL

Tragedi Quran di Bagram

Lagi-lagi Al-Quran dibakar dan puluhan orang tewas dalam demonstrasi. Fenomena lama yang terus berulang. Benarkah ketidaksengajaan?

Sejak Amerika Serikat memulai perang melawan teror pada 2001 (yang entah selesai kapan), pelecehan terhadap Al-Quran bukan sekali ini saja terjadi. Dan rentetan peristiwa yang akan menyusul juga sudah jelas. Maka, ketika terdengar kabar bahwa tentara NATO membakar Al-Quran di Afghanistan, hampir semua pengamat politik Amerika Serikat bisa menduga apa yang akan terjadi: ribuan demonstran turun ke jalan, Kedutaan Amerika Serikat dan markas NATO dilempari batu, bom molotov, ditembaki, dan korban bakal berjatuhan.

Memang itulah yang terjadi. Awalnya, Selasa pekan lalu, sekitar pukul 10 pagi, seperti biasa, tentara NATO melakukan tugas rutin membakar sampah. Sampah itu berasal dari truk-truk khusus yang datang ke pangkalan mereka di Bagram, 60 kilometer utara Kabul. Hanya saja, pada hari itu truk sampah NATO juga memuat banyak kantong berisi buku. Dua tentara yang bertugas membakar pun dengan gerakan rutin mengambil kantong dari bak truk, lalu melemparnya ke mesin pembakar sampah.

Beberapa pekerja lokal Afghanistan yang diperbantukan di Bagram penasaran apa gerangan buku yang dibakar. Salah satunya melihat lebih dekat, kaget, kemudian berteriak, "Itu Al-Quran!" "Lalu kami berlari ke mesin pembakar dan melempar helm kami ke arah mereka,'' kata Zabiullah, 22 tahun, salah satu pekerja, kepada New York Times.

Tentara NATO yang bertugas membakar sampah pun mundur. Sedangkan Zabiullah dan para pekerja yang lain berusaha menyelamatkan dua kantong yang telanjur dibuang ke mesin pembakar. Sebagian kantong itu sudah terbakar dan ketika dibuka isinya adalah 10-15 jilid Al-Quran.

Yang terjadi selanjutnya adalah ulangan peristiwa yang sama pada 2005, ketika majalah Newsweek melaporkan bahwa para interogator di Penjara Guantanamo, Kuba, sengaja membuang Al-Quran ke toilet sebagai bagian dari taktik menyiksa tawanan. Dalam hitungan jam, massa mulai berkumpul di dekat Pangkalan Militer Bagram. Teriakan ''Matilah Amerika!'' mulai terdengar. Batu dan bom molotov mulai dilempar, dan menara pengawas pun akhirnya terbakar.

Keesokan harinya, kian banyak demonstran yang berkumpul. Seiring dengan tersiarnya kabar ke seluruh negeri, demonstrasi di kota lain mulai terjadi. Demonstran (entah dari mana mendapatkannya) mulai ada yang melemparkan granat ke pangkalan militer. Tembakan pun dilepaskan, dan akibatnya, sampai Jumat pekan lalu, 25 orang tewas, 23 di antaranya adalah demonstran. Sedangkan dua sisanya adalah tentara Amerika yang justru ditembak orang berseragam tentara. Kantor berita AP melaporkan, setelah menembak, tentara Afghanistan itu segera menyusup ke dalam ratusan demonstran dan menghilang. Hingga kini, identitasnya belum diketahui.

Komandan pasukan Amerika di Afghanistan, Jenderal John. R Allen, bukan orang bodoh. Ia tahu bahwa pembakaran Al-Quran di Afghanistan adalah masalah serius. Karena itu, Selasa siang, hanya beberapa jam setelah para pekerja lokal berlari ke luar pangkalan sambil berteriak-teriak bahwa Al-Quran dibakar, ia segera mengirim rekaman pernyataannya ke ke televisi lokal.

''Saya menyampaikan maaf sebesar-besarnya kepada Presiden Afghanistan, Pemerintah Afghanistan, dan terutama rakyat Afghanistan atas insiden ini,'' katanya. Allen juga menjelaskan bahwa pembakaran itu tidak disengaja. Tentara hanya menjalankan rutinitas membakar sampah dan tidak bisa membedakan apakah buku itu Al-Quran atau bukan.

Namun demonstrasi tidak juga mereda. Bahkan, Kamis keesokan harinya, ketika Obama akhirnya turun tangan dan mengirim pernyataan maaf secara tertulis, demonstrasi terus berlangsung. Sejak Rabu pagi, diperkirakan 2.000 orang ''mengelilingi'' Pangkalan Militer Bagram, menyerang instalasi itu dengan lemparan katapel, batu, dan bom molotov.

Insiden itu juga membuat tentara Jerman meninggalkan kamp mereka di kota Taluqan. Padahal, demonstrasi di kota Taluqan, Provinsi Kunuz, jauh lebih sedikit. Hanya diikuti sekitar 300 orang dan itu pun berlangsung damai. Cuma, pangkalan militer tentara Jerman di Taluqan berlokasi di tengah kota. Karena itu, sebanyak 50 tentara dan semua peralatan ditarik mundur sejauh 70 kilometer ke ibu kota Kunduz.

Menteri Pertahanan Jerman, Stefan Paris, menyatakan bahwa mereka dijadwalkan meninggalkan Taluqan pada akhir Maret. Namun, akibat insiden itu, komandan pasukan di Taluqan menilai akan lebih aman bila tentara Jerman meninggalkan kota Taluqan secepatnya.

Pada saat ini, investigasi atas insiden itu masih berlangsung. Tapi, karena Jenderal Allen telah menyatakan bahwa pembakaran itu bukan kesengajaan, kemungkinan besar tidak ada sanksi bagi tentara yang terlibat. Lagi pula, kalau pembantai 25 warga sipil di Haditha, Irak, yakni Sersan Frank Wuterich, cuma mendapat ''sanksi'' penurunan pangkat menjadi prajurit, sulit mencerna bahwa Amerika akan menghukum tentaranya karena ''hanya'' membakar Al-Quran.

Tapi, benarkah itu ketidaksengajaan? Moazzam Beg, muslim berkebangsaan Inggris yang pernah ditahan di Pangkalan Militer Bagram, di situs cageprisoners.com membantah hal itu. Selama tiga tahun ditahan di Bagram, lalu dipindahkan ke Guantanamo, berulang kali ia menyaksikan perilaku tentara Amerika terhadap Al-Quran.

Ada yang menginjak Al-Quran, memasukkannya ke dalam ember berisi tahi, merobeknya di depan tahanan, dan sebagainya. Mereka juga dilarang membaca Al-Quran dengan suara keras. Bahkan menunjukkan sikap religius mengenai Islam mengundang aksi negatif. ''Saya menyaksikan seseorang tahanan, dipukuli sampai mati, karena para tentara menganggap lucu bahwa tiap kali dipukul, tahanan itu kontan menjerit 'Allah','' tulisnya. Beg juga mengingatkan contoh lain, yakni kasus pada 2008, ketika Jenderal Jeffery Hammond, komandan pasukan Amerika di Baghdad, meminta maaf setelah polisi Irak mendapati para penembak jitu Amerika menggunakan Al-Quran sebagai sasaran tembak di lapangan latihan.

Bisa jadi, memang sulit bagi sebagian tentara Amerika untuk memahami bagaimana tradisi muslim memandang Al-Quran. Di beberapa situs berita di Amerika, masih banyak yang menganggap reaksi muslim atas insiden itu berlebihan. ''Mengapa mereka emosional? Itu kan cuma buku?'' demikian, misalnya, salah satu komentar di situs The Huffington Post.

Karena itu, ada baiknya mengulang pendapat Jenderal David Petraus, mantan komandan pasukan Amerika di Afghanistan (kini Direktur CIA), ketika berang atas rencana pembakaran Al-Quran oleh Pastor Terry Jones asal Florida, September 2010. Petraeus tidak bicara soal tradisi Al-Quran dalam Islam. Ia bicara soal taktik militer. Pemikirannya sederhana. Pembakaran Al-Quran, pertama-tama, adalah masalah keamanan. Ketika Al-Quran dibakar, nyawa tentara Amerika di Afghanistan jadi makin terancam. Sikap bermusuhan makin meningkat dan suatu saat serangan fatal bisa terjadi. ''Soal ini (pembakaran Al-Quran) adalah soal hidup dan mati. Aksi ini bisa membuat nyawa pasukan terancam,'' katanya ketika itu.

Namun Pastor Terry Jones tetap membakar Al-Quran sebagai peringatan sembilan tahun tragedi WTC, meski ia menunda pembakarannya sampai Mei 2011. Seminggu setelah aksi itu, di Afghanistan, demonstran menyerang markas PBB dan mengakibatkan 12 orang tewas --lima demonstran dan tujuh staf PBB.

Basfin Siregar
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 17 / XVIII 1-7 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Ronce
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com