Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

ILMU & TEKNOLOGI

Sang Penakluk Api Alternatif

Alat pemadam kebakaran alternatif buatan wong Solo yang mampu bergerak cepat di gang sempit. Efektif memadamkan kebakaran awal.

Kacamata hitam dan kaus merah menyala bertulisan ''Fire Fighter Pawang Geni'' dengan huruf "i" diganti tanda seru (!). Begitulah ''pakaian dinas'' sehari-hari Sri Utomo, 57 tahun. Orang boleh menebak Sri adalah petugas pemadam kebakaran. Tak sepenuhnya benar. Utomo memang pawang geni alias penakluk api, tapi bukan petugas dinas pemadam kebakaran.

Ia bekerja sendirian, berusaha menaklukkan "si raja merah" dengan peranti pemadam kebakaran hasil karya inovatifnya, yang diberi nama Pawang Geni. Inilah alat pemadam api alternatif yang sederhana tapi ekonomis dan tepat guna untuk permukiman padat. Pawang Geni dinilai mampu menanggulangi kobaran api secepat dan sedini mungkin tanpa harus menunggu mobil pemadam kebakaran sampai ke lokasi kejadian.

Maklumlah, jika kebakaran terjadi di permukiman padat, baik di kota besar maupun kecil, mobil tangki air yang gendut itu tentu sulit bergerak. Tubuhnya tak sanggup melewati gang-gang sempit. Di sisi lain, tentu saja amukan "si jago merah" tak dapat diatasi hanya melalui siraman air dari ember warga. ''Pawang Geni dapat digunakan untuk mengatasi kebakaran lebih cepat sebelum unit mobil kebakaran tiba,'' kata Sri Utomo kepada Gatra, Sabtu dua pekan lalu.

Tempat tinggal Sri Utomo di Mijen, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, merupakan kawasan permukiman padat. Ketika terjadi kebakaran pada 2005, korbannya adalah tetangga Sri Utomo sendiri karena kompor minyak tanahnya meledak. ''Rumahnya habis dilalap api. Untunglah, tidak ada korban jiwa,'' katanya.

Setahun kemudian, si jago merah beraksi di kampung sebelah, masih di Kelurahan Sudiroprajan. Kebakaran kali ini diduga terjadi karena korsleting listrik. Seperti kejadian kebakaran pertama, ''Unit pemadam kebakaran datang terlambat,'' ujarnya.

Rentetan bencana itulah yang membuat Sri terpacu menciptakan Pawang Geni. Awalnya, Sri mengaku, yang terpikir dalam benaknya menciptakan peralatan semprotan air dengan meniru cara kerja alat suntik. ''Saya teringat ketika kecil sering main semprot-semprotan air dengan batang bambu,'' katanya.

Semprotan itu dibuat dari bambu yang dilubangi pada kedua ujungnya. Salah satu pangkalnya diberi klep yang terbuat dari kain gombal. ''Pada saat klep ditarik, air tersedot masuk, mirip alat suntik,'' kata Sri Utomo. Ia percaya, alat semprotan air ini lumayan efektif mengatasi kebakaran.

Tahap berikutnya, Sri menerapkan metode kinerja yang disebutnya ''pompa tekan aksi ganda''. Seperti namanya, pompa ini menyedot dan menekan air keluar dalam waktu bersamaan. Prinsip kerjanya mirip dengan pompa tangan yang sering digunakan untuk membuat sumur bor.

Namun Pawang Geni menggunakan dua pompa sekaligus. Ketika pompa sebelah kanan ditekan untuk menyemprotkan air, maka pompa di sebelah kiri otomatis naik menyedot air. ''Jadi, cara kerja ini diharapkan lebih efektif memadamkan api,'' ungkapnya. Air yang disemprotkan Pawang Geni, menurut dia, dapat mencapai jarak 20 meter dengan debit semburan mencapai 1,6 liter per detik.

Pawang Geni juga dilengkapi dengan drum air berkapasitas 200 liter, selang pemadam kebakaran sepanjang 20 meter dengan diameter 1,5 inci. Pawang Geni pun diberi roda dan standar agar lebih stabil ketika beraksi. Dengan dimensi 120 x 60 x 130 cm, ia percaya, Pawang Geni dapat bergerak lincah di gang sempit menuju sasaran. ''Saya sudah riset, Pawang Geni gampang masuk ke jalan-jalan kampung,'' katanya.

Seluruh biaya pembuatan Pawang Geni mencapai Rp 6,5 juta dengan bantuan dana Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Sri mengajukan proposal sejak 2008, tapi baru terealisasi pada 2010 lewat program Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sudiroprajan. ''Itu Pawang Geni pertama yang dibuat,'' ia menambahkan.

Alat ini dapat dioperasikan minimal oleh tiga orang. Seorang memegang nosel pemadam kebakaran, dua orang lainnya bertugas memompa air. Semprotan terjauh itu dapat terjadi bila kekuatan pompaan sekitar 50 kilogram disamakan dengan bobot rata-rata orang yang bertindak sebagai pemompa. Teknologi Pawang Geni, menurut Sri, memang simpel. ''Ini teknologi Flintstone,'' kata Sri Utomo sembari tersenyum, merujuk pada film kartun tentang zaman batu itu.

Sejauh ini, menurut Sri Utomo, Pawang Geni ciptaannya belum pernah beraksi dalam kebakaran sesungguhnya. Tapi, dari hasil simulasi kebakaran yang diadakan, kinerja Pawang Geni cukup memuaskan. ''Pawang Geni sanggup memadamkan kebakaran tahap awal dengan sekitar 15 kali pompa,'' tuturnya.

Kepala Seksi Manajemen dan Penanggulangan Kebakaran Dinas Pekerjaan Umum Kota Solo, Rohadi Poerwanto, menyatakan bahwa Pawang Geni memang lebih efektif memadamkan kejadian kebakaran tahap awal. ''Besar kecilnya api memang sangat berpengaruh terhadap perangkat pemadam yang digunakan,'' kata Rohadi.

Jika ada hal yang perlu dibenahi dari Pawang Geni, tutur Rohadi, adalah masalah pasokan air. ''Kalau sumber airnya tak siap atau habis, bisa sangat repot,'' katanya. Tentu harus menunggu petugas pemadam kebakaran. Walau begitu, ''Kreativitas menciptakan Pawang Geni karena itu harus dihormati,'' ujar Rohadi.Betapa tidak, bencana kebakaran banyak terjadi. Menurut catatan Rohadi, selama 2010 saja terjadi 96 kali kebakaran dan 80 kali kebakaran pada 2011 di seluruh Kota Solo.

Sri mengakui, Pawang Geni memang harus lebih disempurnakan. Apalagi, memadamkan api tentu tak bisa sendirian. Sebab itulah, Sri berangan-angan membentuk Masana atau Masyarakat Siaga Bencana di kawasan Sudiroprajan. ''Ini mirip Tagana atau Taruna Siaga Bencana ketika menghadapi letusan Merapi dulu,'' kata Sri Utomo.

Masana inilah yang nanti bersiaga dengan Pawang Geni. Jadi, setiap satu kelurahan, misalnya Kelurahan Sudiroprajan yang memiliki 8 RW dan 35 RT, setidaknya harus siaga dengan minimal tiga unit Pawang Geni. ''Ini tergantung luas dan padatnya kelurahan yang ada,'' Sri Utomo menjelaskan.

Pada tiap-tiap RT mesti disiapkan wadah cadangan air. Wujudnya seperti drum Pawang Geni, lengkap dengan trolinya, tapi tanpa pompa tekan. Tiap drum cadangan ini dapat segera dihubungkan dengan unit utama Pawang Geni yang dilengkapi dengan pompa dan selang air. Bayangkan saja, jika 35 RT di Sudiroprajan memiliki satu drum cadangan air, ''Berarti total ada sekitar 7.000 liter air. Ini lebih dari tangki mobil pemadam yang hanya 6.000 liter,'' kata Sri Utomo.

Ayah empat anak itu juga terus menyempurnakan ciptaannya. Rencananya, Pawang Geni dilengkapi dengan dua pompa ganda lagi. Berari ada empat pompa yang bekerja. Sri Utomo juga mengaku sedang mendesain agar Pawang Geni dapat digerakkan dengan sepeda motor.

Pemerintah Kota Solo pun menaruh perhatian pada Pawang Geni. Mereka memesan dua unit Pawang Geni lagi, yang umumnya digunakan untuk keperluan pameran teknologi. Karya inovasi Sri Utomo ini dinilai dapat menggugah minat masyarakat untuk terus berkarya. Kini Sri siap memasarkan Pawang Geni seharga Rp 10 juta-Rp 11 juta per unit. ''Untungnya masuk kas LPMK,'' katanya.

Nur Hidayat dan Arif Koes Hernawan
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 17 / XVIII 1-7 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Ronce
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com