Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

NASIONAL

Pak Menteri Minta Jatah 8%

Mindo Rosalina Manullang menyeret nama Muhaimin Iskandar terkait proyek di Kemenakertrans. Berpotensi menjerat banyak pejabat negara lainnya. Tekanan luar biasa membuat Rosa berubah pikiran.

Sidang dengan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, masih menjadi perhatian publik. Rabu lalu, Mindo Rosalina Manullang alias Rosa, salah satu saksi kunci kasus suap berbagai proyek yang dilakukan kelompok usaha Nazaruddin, kembali dihadirkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Ketua Majelis Hakim, Dharmawati Ningsih, meminta kehadiran Rosalina untuk dikonfrontasikan dengan anggota Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh, yang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap Wisma Atlet, Jakabaring, Palembang.

Rosa, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pemasaran Permai Group, menyebut Angelina mengirim pesan melalui BlackBerry Mesenger yang isinya meminta fee proyek kepadanya. Tetapi Angie mengaku tak pernah mengirim pesan apa pun kepada anak buah Nazaruddin itu. Angie mengaku baru memiliki BlackBerry pada akhir 2010.

Sidang itu mendapat perhatian luar biasa dari media massa karena pengakuan Rosa kemungkinan akan menyeret nama-nama baru. Sayangnya, Rosa berhalangan hadir, dan rencana mengonfrontasikan ucapannya dengan Angie buyar.

Sebelumnya, Rosa melempar teka-teki tentang seorang menteri aktif yang meminta komisi 8% untuk proyek yang ditanganinya. Ia mengungkapkan bahwa posisinya dalam proyek-proyek pemerintah bagaikan sapi perah bagi para pejabat. Melalui pengacaranya, Achmad Rifa'i, ibu dua anak itu mengungkapkan bahwa permintaan fee proyek tersebut bermuara pada tingkat menteri.

Jabatan Rosa yang cukup penting di Permai Group akan menjadi pintu masuk bagi pengungkapan korupsi di beberapa kementerian yang belakangan ini dilanda isu korupsi. Selama ini, telah banyak nama pejabat yang tersengat pengakuan Rosa. Sebagian nama itu sudah menjadi tersangka dan ada pula yang telah divonis.

Sumber Gatra menyebutkan, proyek-proyek yang pernah ditangani wanita kelahiran Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, 2 Februari 1975, itu juga akan menyeret nama-nama penting, termasuk empat menteri aktif.

Strategisnya posisi Rosa dalam pengungkapan berbagai kasus korupsi itu membuat tekanan yang dialaminya sangat tinggi. Dalam persidangan Rabu lalu, wanita berambut sebahu itu kembali mengenakan rompi antipeluru. Berbagai ancaman yang diterimanya di Penjara Pondok Bambu membuatnya dipindahkan ke tempat isolasi di lantai VII gedung Komisi Pemberantasan Korupsi.

***

Di antara banyak orang yang gundah oleh pengakuan Rosa adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Muhaimin Iskandar. Sepanjang pekan lalu, Rosalina mengungkapkan informasi awal bahwa salah satu menteri yang dimintai kesaksiannya di Pengadilan Tipikor itu meminta fee 8% kepadanya. Namun pengakuan Rosa ini masih diartikan bercabang, karena yang telah mendatangi Pengadilan Tipikor ada dua menteri, yaitu Menakertrans Muhaimin Iskandar dan Menpora Andi Mallarangeng.

Sumber Gatra yang mengetahui kasus itu mengungkapkan bahwa jauh sebelumnya Rosa pernah membeberkan cerita ini dalam sebuah kronologi tertulis. Sang sumber menyebutkan bahwa sejak 2010, Rosa diminta Muhammad Nazaruddin untuk mengurus proyek-proyek Permai Group di Kemenakertrans.

Pada Juni 2010, untuk pertama kalinya Rosa dipertemukan dengan Muhaimin Iskandar di rumah dinasnya di kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan. Pada kunjungan malam hari itu, di pihak Rosa ada Nazaruddin dan seorang kerabatnya. Sedangkan di pihak tuan rumah ada Muhaimin Iskandar dan pria bernama Fauzi.

Pada saat itu, menurut Rosa, Muhaimin memperkenalkan Fauzi sebagai stafnya yang menjabat sebagai anggota tim asistensi di Kemenakertrans. Muhaimin meminta semua urusan proyek diselesaikan melalui Fauzi. Pada saat itu, kedatangan Rosa bersama Nazar untuk keperluan meminta proyek Balai Latihan Kerja Internasional (BLKI). Namun pertemuan itu tidak membahas teknis pelaksanaan proyek dan tidak pula menyinggung soal besaran komisi.

Kunjungan malam itu kemudian dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya antara Rosa dan Fauzi di kantor Kemenakertrans, Jalan Kalibata Raya. Di tempat itu, Rosa menerima presentasi tentang proyek-proyek di kementerian ini. Presentasi dilakukan staf Muhaimin yang lain, bernama Sindu Malik. Tetapi penjelasan Sindu lebih fokus pada proyek Dana Percepatan Perimbangan Infrastruktur Daerah (DP2ID).

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Rosa menelepon Fauzi. Ia mengatakan tidak tertarik pada proyek DP2ID, tetapi proyek BLKI, yang saat itu telah masuk Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2011. Fauzi lalu meminta bertemu di Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan. Di tempat ini, Fauzi menyatakan bisa membantu mendapatkan proyek yang diinginkan asalkan ada fee 8% yang dibayar di depan.

Pada awalnya, Permai Group tertarik. Bahkan, setelah itu, sempat ada survei ke luar negeri terkait BLKI. Namun kemudian permintaan nilai commitment fee 8% itu dirasa terlalu tinggi. Rosa meminta nasihat Nazaruddin tentang hal ini, dan mantan Bendahara Demokrat itu menilai angka tersebut terlalu besar.

Ia lalu meminta Rosa menawar agar fee itu dibayar per termin saja. Namun hal itu tidak setujui pihak Kemenakertrans. Fauzi mengatakan, kalau tidak setuju dengan cara yang ditawarkannya, proyek itu akan diberikan kepada pihak lain. Karena tidak bersedia membayar komitmen sejumlah itu di depan, proyek itu kemudian batal dimenangkan Permai Group.

Keterangan Rosa ini mirip dengan keterangan saksi Dhani Nawawi, yang dihadirkan dalam sidang dengan tersangka I Nyoman Suisnaya di Pengadilan Tipikor Jakarta, beberapa waktu sebelumnya. Dhani, yang mengaku mantan staf khusus Presiden Abdurrahman Wahid, menyebut punya komitmen pemberian fee 8% kepada Muhaimin Iskandar.

Pengakuan itu diungkapkannya kepada dua pejabat di Kemenakertrans, yaitu Nyoman Suisnaya dan Dadong Irbarelawan, yang selalu menagih commitment fee 10% dari nilai proyek Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (PPID). Namun, Dhani mengatakan, pembicaraannya itu hanya mencatut nama Muhaimin.

Nyoman adalah Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pengembangan dan Pembinaan Kawasan Transmigrasi (P2KT) Kemenakertrans, sedangkan Dadong Irbarelawan adalah Kepala Bagian Evaluasi, Program, dan Pelaporan Ditjen P2KT. Keduanya diduga menerima uang Rp 1,5 milyar dari PT Alam Jaya Papua.

***

Namun ruang bicara bagi Rosa agaknya akan mendapat gangguan. Seperti pernah diberitakan Gatra, meskipun berada di dalam penjara, Rosa tiga kali mendapat ancaman. Sejak 26 hingga 30 Desember lalu, ia mendapat tiga kali kunjungan dua kerabat Nazaruddin.

Salah satu penasihat hukumnya, Muhammad Iskandar, mengidentifikasi para pengancam yang sering datang malam hari ke sel Rosa adalah NSR dan HSY. Inisial itu identik dengan Nasir dan Hasyim. Nasir adalah Muhammad Nasir, sepupu Nazaruddin yang juga anggota Fraksi Partai Demokrat DPR. Ia pernah tercatat sebagai komisaris dan pemegang saham mayoritas di PT Anak Negeri. Sedangkan Hasyim adalah Mujahidin Nur Hasyim, saudara Nazaruddin yang pernah menjabat sebagai direktur utama di PT Anak Negeri.

Di tengah bahaya yang mengancam Rosa, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) justru akan mencabut perlindungannya. Ketua LPSK, Abdul Haris Semendawai, menyatakan bahwa pihaknya akan meninjau ulang perlindungan terhadap Rosa karena pernyataannya yang menyeret nama-nama menteri akan meningkatkan bahaya atas dirinya. ''Karena Rosa dapat menjadi target serangan balik dari pihak-pihak yang keberatan, maka perlindungan bisa dihentikan,'' ujar Abdul Haris Semendawai.

Pengacara Rosa, Achmad Rifa'i, dalam beberapa kesempatan melepas isu baru bahwa ada menteri aktif yang meminta fee 8% kepada Rosa. Pengakuan itu akan dibuka kliennya, beberapa waktu mendatang. Dengan ancaman dari LPSK itu, Ahmad Rifa'i menilai bahwa itu merupakan salah satu bentuk pembungkaman terhadap hak bicara Rosa. "Niat baik Rosa mestinya direspons positif LPSK, bukannya dipersoalkan atau malah ditutup-tutupi dan bahkan akan mencabut perlindungan," ujar Ahmad Rifa'i.

Puncaknya, Selasa lalu, Rosa tiba-tiba mencabut mandat penasihat hukum dari Ahmad Rifa'i. Putusan ini dinilai Rifa'i sebagai cermin labilnya jiwa Rosa saat tensi ancaman naik ke level tertinggi. Padahal, kata Rifa'i, pagi harinya Rosa masih menyatakan kesenangannya didampingi pengacara yang bebas kooptasi.

Pada surat pencabutan mandat sebagai pengacara, Rosa dalam tulisan tangan menyatakan bahwa dirinya membatalkan mandatnya. Surat itu juga berbunyi, ''Dengan ini saya menyerahkan persoalan kepada LPSK dan KPK.'' Rifa'i menilai teks surat itu secara implisit menunjuk siapa yang telah memberinya pengaruh. "Memangnya LPSK dan KPK berpraktek sebagai pengacara?'' katanya, sengit.

Pemecatan ini adalah yang kedua. Sebelumnya, pada 17 Februari 2012, Rosa pernah melakukan hal yang sama. Tetapi, belum genap sehari, ia kembali meminta Rifa'i menjadi kuasa hukumnya.

Rifa'i menduga, hanya orang kuat yang mampu memberi tekanan hingga menembus dinding tebal KPK, tempat Rosa menjalani isolasi. Bahkan KPK tampak tidak tertarik pada pengakuan Rosa yang menyeret nama menteri itu.

Ketika ditemui Gatra, juru bicara KPK, Johan Budi, enggan berkomentar. ''Lu tanya gue, ya, nggak gue jawablah. Tanya sama Ahmad Rifa'i sono. Kan, dia yang ngelaporin,'' tuturnya sambil berlalu.

Muhaimin Iskandar belum bisa dimintai konfirmasi terkait "nyanyian" Mindo Rosalina Manullang itu. Senin lalu, Gatra menyambangi kantornya di Jalan Kalibata Raya, tapi ia tidak terlihat masuk kantor. Sebelumnya, ia pernah membantah tudingan itu. ''Saya tidak kenal (Rosa), tidak pernah minta (fee)," katanya.

Mujib Rahman, Gandhi Achmad, dan Haris Firdaus

Tsunami Tudingan Mengalir Sampai Jauh
Tembakan Mindo Rosalina Manullang membuat banyak orang limbung. Sebelum nama Menakertrans diusungnya, mantan anak buah Nazaruddin di Permai Group itu juga menyeret banyak nama pejabat penting. Rosa pernah menyeret nama "ketua besar" yang ditengarai sebagai pimpinan Badan Anggaran DPR berinisial MA, Mirwan Amir. Nama ini muncul dalam percakapan BlackBerry Messenger antara Rosa dan Angelina Sondakh terkait proyek pembangunan pusat olahraga di Hambalang, Jawa Barat.

Dalam proyek PPID di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Rosa menyeret nama empat orang dari Kemenakertrans, yaitu Ali Mudhori, Sindu Malik, Nyoman Suisnaya, dan Dadong Irbarelawan. Pengakuannya dalam kasus ini juga menyeret nama anggora DPR, Tamsil Linrung, melalui stafnya bernama Acos.

Rosa pun pernah menyebut nama mantan Jampidsus Kejaksaan Agung, Marwan Effendy, terkait penyidikan proyek di Kementerian Agama. Dalam proyek di Kementerian Agama itu, Direktur Pendidikan Madrasah Departemen Agama, Firdaus Basyuni, juga menjadi korban.

Anggota Komisi III DPR, Aziz Syamsuddin, terseret pula olehnya dalam proyek pembangunan Pusdiklat Kejaksaan Agung di Ceger, Jakarta Timur. Kesaksian Rosa yang bergulung-gulung bagai tsunami itu juga menyeret Kepala Kejaksaan Negeri Makassar, Yusuf Handoko, dalam kasus yang sama.

Semua nama yang pernah disebut Rosa itu tentu saja membantah.

Mujib Rahman
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 17 / XVIII 1-7 Maret 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hiburan
Hukum
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Nasional
Olahraga
Pariwara
Perspektif
Ragam
Ronce
Suplemen
Surat & Komentar
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com