Home   Gatra.com   Log out  
 
User Name Password  
[ Anggota baru | Lupa password ]
Arsip Majalah | Tentang Gobang | Ketentuan | Menu Anggota

LAPORAN KHUSUS

Sjafrie Sjamsoeddin: Kita Negara Besar, Masak Tidak Punya Keunggulan Militer?

Dalam upaya membentuk postur pertahanan militer yang tangguh, profesionalitas dan dukungan peralatan adalah syarat utama. Renstra 2010-2014, Angkatan Darat, Laut, dan Udara akan dimodernisasi.

Konsep minimum essential forces (MEP) memungkinkan kekuatan militer Indonesia berkembang sampai titik kekuatan optimal. Prinsipnya, kekuatan pertahanan akan dikembangkan sesuai dengan bujet atau anggaran yang dimiliki pemerintah. "Semakin makmur kondisi perekonomian, anggaran pertahanan bisa semakin besar," kata Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin.

Sampai 2024, Indonesia diharapkan mampu membangun kekuatan militer yang memiliki daya tangkal ke dalam maupun luar negeri. Dalam rangka itu, Kementerian Pertahanan menetapkan konsep zero growth untuk penambahan personel militer. Diharapkan, dengan tidak adanya penambahan personel, anggaran yang ada dapat dimaksimalkan untuk melakukan revitalisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan industri strategis dalam negeri.

Di ruang kerjanya di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan seluk-beluk MEF kepada reporter Gatra Cavin R. Manuputty, Rabu kemarin. Berikut petikannya:

Bagaimana ancaman yang dihadapi Indonesia ke depan dalam konteks pertahanan?

Soal ancaman, Undang-Undang (UU) Pertahanan dan UU TNI sudah menyebutkan konfigurasi ancaman militer maupun nonmiliter. (Dalam UU TNI, antara lain, disebutkan gerakan separatis bersenjata, terorisme, dan konflik perbatasan --Red.). Di undang-undang itu juga sudah di-breakdown strategi pertahanan.
Apa strategi pertahanan yang akan diterapkan Indonesia dalam menghadapinya?

Peralatan harus disiapkan, yakni yang bisa diperbandingkan. Sekarang kita lihat regional, alat apa yang secara teknologi meningkat digunakan negara-negara tetangga? Itu untuk kepentingan deterrent (penggetar --Red.) dan operasional kita. Kalau bicara mengenai postur pertahanan, ada dua bagian dalam sistem pertahanan kita. Ada sistem pertahanan militer dan nonmiliter. Nah, kita mau fokus dulu pada postur pertahanan militer. Kita sudah buat itu tahun 2007.

Apa prasyarat yang diperlukan untuk membentuk postur pertahanan militer yang tangguh?
Profesionalitas dan dukungan peralatan. Keduanya merupakan bagian dari MEF. Bila kita breakdown, MEF itu terdiri dari empat hal strategis. Pertama, personel, yaitu penataan, peningkatan profesionalitas, dan penambahan keterampilan. Kedua, penataan organisasi sehingga siap operasional. Ketiga, kesiapan alutsista yang up to date dan relevan untuk misinya. Keempat adalah mendukung kegiatan-kegiatan penunjang, misalnya pangkalan dan perumahan.

Bagaimana dengan kesiapan alutsista?

Renstra (Rencana Strategis --Red.) 2010-2014 memastikan Angkatan Darat, Laut, dan Udara akan dimodernisasi.

Kebutuhan modernisasi itu seperti apa?

Ada dua pertimbangan. Pertama, pertimbangan taktis-strategis-teknis yang menjadi porsi TNI. Supaya nanti mereka bisa tentukan perlu peralatan apa. Kemenhan, secara makro, strategi pertahanan harus memperhatikan dua faktor. Internal dan eksternal. Internal, kita harus lihat bahwa TNI harus kuat secara legal. Sisi internal lainnya, yaitu operasional dan organisasi. Kita harus pastikan bahwa modernisasi itu layak operasi dan ada organisasi yang mengawakinya. Misalkan mau beli panser atau tank, itu harus ada yang mengawaki. Jangan beli peralatan tapi nggak ada yang mengoperasikan.

Faktor eksternal?
Harus memperhatikan tuntutan dan tantangan teknologi militer. Dua itulah yang bisa mendudukkan tentara secara selevel. Kita negara besar, masak tidak punya keunggulan militer? Secara makro, kita juga harus melihat bahwa ada korelasi ekonomi, poltik, dan pertahanan militer. Sekarang kita punya kemampuan ekonomi untuk mendukung militer. Dengan demikian, modernisasi peralatan dan profesionalitas prajurit bisa mendukung keunggulan politik.
Jadi, dengan keunggulan militer, kita bisa menaikkan posisi tawar di dunia internasional?

Itu bagian yang normal dari suatu negara. Dengan konsep MEF, kita membangun kekuatan militer yang disesuaikan dengan anggaran. Kalau kekuatan ekonomi meningkat, MEF itu lama-lama menjadi real essential force. MEF, bila dihitung secara strategis, baru bisa selesai pada 2024. Target keuangan pemerintah sampai 2014 itu zero deficit. Jangan sampai membeli perlatan militer, tapi negara defisit.

Apakah daftar belanja yang ada bisa memenuhi MEF?
Sampai 2014, kebutuhan itu masih dalam kerangka MEF. Jangka panjangnya, sampai 2024 kalau ekonomi ini terus baik dan stabil. Pastinya, kesejahteraan rakyat adalah prioritas. Baru setelah itu kebutuhan pertahanan.

Alutsista seperti apa yang dibutuhkan?
Sekarang kami ajukan alutsista prioritas menyangkut usia dan kebutuhan strategis. Misalnya teknologi militer. Kemudian kebutuhan operasional di dalam negeri. Kita kan butuhnya mobilitas. Contohnya, waktu tsunami 2004, kita hanya punya dua Hercules yang bisa terbang. Tapi sekarang, secara bertahap kita punya 21 dari rencana 25 unit.

Bagaimana dengan radar?

Secara nasional, air surveilance kita sebetulnya membutuhkan lebih-kurang 37 radar. Tapi kita baru bisa penuhi 15. Itu juga bagian dari MEF. Untuk radar maritim, kita masih mendapat bantuan dari Amerika Serikat. Selat Malaka sudah ter-cover semua, tapi bagian timur masih butuh perhatian.

Dari segi personel?
Ada satu kebijakan untuk TNI, yaitu rightsizing dan zero growth. Organisasi tidak perlu diperbesar karena otomatis menambah personel. Itu berarti menambah anggaran belanja pegawai dan memperkecil anggaran belanja modal. Itulah gunanya teknologi. Misalkan, tadinya satu alat dioperasikan lima orang. Nah, dengan teknologi, mungkin bisa diperasikan oleh dua orang.
Menyangkut rencana pembelian main battle tank, apakah tidak akan menyebabkan pertambahan personel dan organisasi?

Itu tidak berarti akan ada batalyon main battle tank baru. Tapi dia mengganti peralatan. Dicari batalyon mana yang peralatannya butuh diganti.

Soal rencana penambahan divisi?

Saya tahu, Anda memikirkan penambahan divisi di Irian (Divisi III Kostrad di Sorong --Red.). Itu tidak sesuai dengan kebijakan rightsizing dan zero growth. Maka dievaluasi dan belum dikerjakan.

Terkait rencana penambahan armada F-16, Sukhoi, dan kapal selam?

F-16 itu akan menggantikan satu skuadron F-5. Nggak akan ada tambahan orang. Kapal selam itu proyek strategis. Kita beli tiga kapal selam, mungkin baru benar-benar terealisasi 15 tahun lagi. Nanti, kan lima tahun lagi ada rekrutmen. Yang belum terpikirkan itu teknisinya, sekarang kita rekrut teknisi dari PT PAL. Jadi, saat bikin kapal selam, transfer of technology (TOT) yang berkaitan dengan human resource-nya sudah menempel, karena tidak ada kebijakan pembelian alutsista tanpa TOT.
Jadi, komposisi yang ada sekarang sudah pas?

Dari segi gelar kekuatan, akan ada penyesuaian karena itu bagian dari rightsizing. Misalnya, selama ini kita itu selalu kirim Kostrad untuk menjaga perbatasan. Itu kan tidak efektif. Makanya, TNI akan membuat brigade di perbatasan.

Kapan pembenahan gelar kekuatan itu selesai?
Kalau di Jawa sudah selesai. Sekarang di Irian diadakan brigade. Lalu di tiap kodam akan ada batalyon atau detasemen kavalerinya dan dilengkapi dengan kendaraan tempur Anoa. Jadi infanteri mekanis.

Apakah ada semacam fokus kekuatan berdasarkan pembagian wilayah di Indonesia?
Di Indonesia ini tidak ada yang sifatnya single service operation. Selalu operasi gabungan, trimatra terpadu. Meski kita negara maritim, kita nggak pernah setting satu pertempuran mati-matian di laut, sebab akhirnya akan spektrum perang di darat karena sumber logistik kan dari darat. Yang harus dipikirkan itu perkuatan garis logistik. Jangan sampai bertinju itu hanya peduli petinjunya. Gizinya juga harus diperhitungkan. Saat gizinya terpotong, matilah dia.
ARTIKEL LAIN

Cover Majalah GATRA edisi No 15 / XVIII 16-22 Februari 2012 (Tim Desain/Gatra)
 
RUBRIK

Apa & Siapa
Buku
Ekonomi & Bisnis
Film
Focil
Fotografi
Hukum
Iklan
Ilmu & Teknologi
Internasional
Kesehatan
Kolom
Laporan Khusus
Laporan Utama
Musik
Nasional
Olahraga
Pariwara
Pendidikan
Perspektif
Ragam
Surat & Komentar
Tari
Tatapan
Teropong
 
Created and maintained by Gatra.com